Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
Layla memutuskan untuk sedikit lebih berani, saat ini kelas sudah kosong, Layla masih diam di tempatnya begitu pula dengan Teo yang duduk di belakangnya, Layla sungguh putus asa dengan semua ini, dengan jantung yang menggebu dan tangan yang gemetar saling bertautan, Layla memberanikan dirinya membuka suara untuk pertama kalinya.
“ Sebenarnya.. apa yang kau inginkan?!” Tanya Layla, suara nya sangat pelan di tengah kelas yang sudah sunyi ini.
Selang beberapa detik tidak ada jawaban, suara kreetttt dari kursi dan meja yang bergeser membuat Layla semakin khawatir, Layla bahkan berpikir, apakah ini keputusan yang tepat?!.
Teo berdiri di depannya dan membalikkan kursi yang ada di hadapannya menghadap ke arah Layla.
Teo duduk dengan santai, dia tersenyum tipis sembari mengulur kan tangannya “Sanstreo, panggil aja Teo” katanya, suaranya kecil namun terdengar sangar.
Layla bingung, tangan Teo masih menggantung, sedangkan Layla menunggu jawaban atas ucapannya tadi.
“Kenapa? Emang ga boleh kenalan doang?” Tanya Teo lagi dengan tangannya yang masih menggantung di hadapan Layla.
“Layla..” Layla meraih tangan Teo sekilas dan langsung melepaskan tangannya setelah dia menyebut namanya.
“Jadi.. selama ini kamu ngerasa ke ganggu ya..” tanya Teo, membuat Layla sedikit mendongak ke arah depan, mata mereka bertemu satu sama lainnya.
“Bukannya wajar ya..” tanya Teo lagi.
“Maksudnya..” jawab Layla bingung.
“Bukannya wajar kalo suka sama orang itu harus berusaha! Paling enggak kan harus tau orang itu kalo ada yang suka?!” Teo berbicara santai, berbeda dengan Layla yang bergemuruh di dalam dadanya.
Ujung bibir Teo terangkat, entah apa maksud dari peringai wajahnya yang tak bisa Layla ungkapkan atau artikan, namun menurutnya itu seperti menatap ejek kepadanya.
Walaupun tidak di katakan secara langsung, bukankah itu artinya Teo baru saja mengisyaratkan bahwa dia menyukai nya?! Namun peringai wajahnya yang sulit di artikan membuat Layla merasa takut dan tertekan.
Bagaimana mungkin sebuah pengakuan suka bisa terasa seperti mengintimidasi?! Cara Teo mengatakan nya tanpa senyuman tulus, tanpa ada binar di matanya, hanya berbalut seringai dingin yang sulit Layla artikan, kasihan kah… atau mungkin ada maksud lainnya?.
Bagi Layla, Teo itu seperti seorang predator yang baru saja mengumumkan bahwa dia menyukai buruannya.
Rasa takut menjalar di sekujur tubuh Layla saat tangan Teobyang terulur dan dengan sengaja melepas kacamata yang Layla pakai, Tatapan Teo yang tak terbaca itu justru memperlebar jurang ketidakberdayaan di dalam dirinya.
Layla merasa terperangkap, seharusnya dari awal dia diam saja dan tidak merespons lelaki ini!.
Dari awal Layla memang tidak yakin, mana mungkin ada seseorang yang menerimanya di tengah keterpurukan yang Layla rasakan, namun insting Layla seolah menjerit menyadarkan dirinya bahwa pria di hadapannya adalah bahaya nyata yang mungkin akan terjadi.
“kenapa wajahmu pucat Layla?” Tanya Teo melihat Layla yang hanya diam mematung.
Layla meremas jemarinya sendiri, berusaha mencari kekuatan di tengah badai mental yang menghantam nya tiba-tiba, Layla meraih kasar kacamatanya dan langsung mengontrol kursi rodanya untuk pergi meninggalkan ruangan itu, sebelum benar-benar pergi samar samar Layla mendengar Teo yang berbicara di belakangnya.
”Terimakasih sudah membukakan pintu Layla” ucapan Teo tidak Layla hiraukan.
Tubuh Layla seperti tersengat listrik saking ngerinya menghadapi Teo, untung saja wajahnya tampan kalau jelek itu pasti sudah langsung membunuh tanpa menyentuh Layla.
Keesokan harinya, Teo semakin gencar mendekatinya, bahkan sampai membuat Layla kewalahan dan menjadi pusat perhatian banyak orang, Layla tidak suka dengan kondisi saat ini, fakta bahwa Layla harus bergantung pada kursi roda membuat gerak fisiknya terbatas, dan Teo memanfaatkan celah itu dengan cerdik dan menjadikan nya sebagai kesempatan yang sempurna.
Anehnya Teo seperti ketua atau pemimpin di mana pun dia berada, Teo seperti titik pusat atau atasan dari beberapa orang yang selalu ada di sekitarnya, mereka seperti membuat perundungan terhadap Layla dengan cara diam dan berpura-pura tidak melihat saat Teo yang terus mendekatinya, bahkan setelah hari itu hampir setiap hari Teo melakukan hal yang sama, mengganggu nya.
Pagi itu, Teo berjalan dengan langkah santai mengikuti Layla di sisi kursi rodanya. Dia membawakan buku-buku Layla yang dari awal sudah Layla larang namun tak di hiraukan, sesekali dia sengaja memperlambat langkahnya sendiri agar tetap sejajar dengan Layla, lalu memberikan perhatian perhatian kecil yang membuat Layla terasa semakin tercekik! Ini bahkan bukan lagi zaman SMA yang seperti cinta monyet sedang bersemi, namun Teo seolah tidak peduli dia hanya melakukan kesenangannya tanpa menghiraukan di sekitarnya yang membuat orang semakin tidak suka terhadap Layla.
Layla benci menjadi pusat perhatian, tidak seperti dulu saat dia dengan senang nya berjalan,berlari dan melompat sesuka hatinya, kini dia menjadi bahan bisik-bisik dan hal yang paling Layla benci adalah kenyataan bahwa dia tidak bisa memutar kursi rodanya untuk berlari kencang menjauh dari lelaki ini.
“Teo! Stop, Aku bisa sendiri!” Desis Layla setengah berbisik, jari jemarinya mencengkeram erat roda kursinya hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha mendorong lebih cepat namun tenaganya tak sebanding dengan Leo yang bersikukuh ingin mendorong kursi roda Layla.
Teo hanya terkekeh pelan seolah hal ini lucu “Kenapa harus buru-buru, Layla? Menikmati perhatian orang lain bersama dengan ku tidak seburuk itu kan?” Ucap Teo santai.
Seringai tipis yang tak terbaca itu kembali muncul, membuat Layla merasa semakin terpojok di atas kursi rodanya sendiri.
Hari ini begitu berat, sama seperti hari hari sebelumnya, setelah kejadian hari itu Teo semakin gencar bahkan dinding pembatas yang susah payah Layla bangun hancur seketika, tatapan mata kebencian semakin banyak tertoreh ke arahnya, entah apa yang akan terjadi hari esok, melihat hari ini saja sudah membuat Layla lelah dan tidak bisa berpikir jernih, tubuhnya kaku namun begetar di sepanjang waktu saat Teo ada di dekatnya, Layla merasakan perasaan cemas dan khawatir dengan hari ini atau pun esok atau hari hari yang akan datang.
jujur saja Layla merasa menyesal, andai saja dia diam saja tidak menghiraukan apa pun dan menjaga jarak seperti yang selama ini dia lakukan, andai saja… andai saja hari itu Layla bisa menahan nya sedikit lebih lama mungkin saja hal ini bisa ia cegah.
Layla merasa hal buruk akan terjadi besok, minggu besok, bulan besok, atau mungkin sampai hari yang Layla sendiri pun tidak tau kapan akan berakhir nya, masa studi Layla hanya satu tahun lagi, jadi sedikit lebih bersabar mungkin akan meringankan segalanya.
Jujur saja , semuanya terasa semakin memuakkan!.