Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Jumat Kliwon
Tak seorang pun di paviliun itu bergerak selama dua detik yang terasa seperti seabad.
Lalu Wirabhaya berbalik dan menatap Gajah Mada. Bukan sebagai bawahan kepada atasan, melainkan sebagai seorang lelaki yang tak lagi peduli pada protokol. "Mahapatih. Saya butuh izin untuk membawa orang dan kuda."
"Kau sudah punya." Gajah Mada merogoh sabuknya dan melemparkan sebuah lencana tembaga kecil berukir sinar matahari. "Itu perintah tertulis atas namaku. Siapa pun yang menghalangimu, anggap mereka menghalangiku."
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih." Wajah Gajah Mada keras. "Bawa dia pulang. Dan Wirabhaya..."
"Ya?"
"Aku mulai paham mengapa kau menyembunyikannya. Aku tak akan bertanya sekarang. Tapi kau berutang penjelasan." Matanya beralih pada Hayam Wuruk. "Baginda, hamba akan menahan Tabib itu di istana sebagai tamu kehormatan. Dengan penjagaan. Dia tidak akan bisa mengarahkan siapa pun malam ini."
Hayam Wuruk mengangguk cepat, wajahnya pucat tapi tegas. Ia menoleh pada Raka. "Pergilah. Aku akan baik-baik saja."
"Baginda..."
"Pergi!" bentak raja muda itu, lalu melembut. "Tolong. Jangan biarkan dia terluka. Aku sudah cukup melihat orang yang tak bersalah menderita."
Raka tak bisa menjawab. Ia hanya membungkuk dalam-dalam, lalu berlari mengejar Wirabhaya.
Mpu Kalandara menunggu di gerbang istana, jubah putihnya berkibar tertiup angin malam. Ia sudah mendengar semuanya dari Tarub. Tanpa membuang waktu, ia menarik sesuatu dari balik jubah dan menyodorkannya pada Raka.
Bata merah kecil itu.
"Bawa ini," katanya. "Ia akan bergetar kalau gerbang dekat. Semakin keras getarannya, semakin dekat."
"Mpu tidak ikut?"
"Aku terlalu tua untuk menunggang kuda sepanjang malam. Dan seseorang harus tinggal untuk mengawasi Hendar." Mpu Kalandara menatapnya serius. "Dengarkan aku, Raka. Aku sudah menghitung ulang pasaran sejak tadi. Malam ini adalah Jumat Kliwon."
Raka merasakan perutnya jatuh. "Malam ini?"
"Tiga puluh lima hari sejak malam kau tiba. Hampir tepat." Mpu mengatupkan rahang. "Gerbang itu akan terbuka lagi malam ini, jam tiga lewat sepuluh. Dan kalau Hendar tahu cara memaksanya terbuka, dia hanya butuh satu hal: gadis bercincin matahari."
"Dia sudah punya Sekar."
"Itu yang kutakutkan."
Raka menggenggam bata itu erat-erat. Hangat, berdenyut pelan di telapak tangannya, seperti makhluk hidup yang baru terbangun.
"Aku akan menyelamatkannya," katanya.
"Aku tahu." Mpu Kalandara menepuk bahunya. "Pergilah. Dan jangan lupakan apa yang kukatakan di pertapaan: pengetahuan tanpa pengertian bisa membunuh. Pakai kepalamu, bukan hanya hatimu."
Kampung Pandean masih berasap ketika mereka tiba.
Bengkel Landep hampir rata dengan tanah, balok-balok kayu hangus berserakan, tungku batanya runtuh separuh. Orang-orang kampung berdiri berkelompok di kejauhan, wajah mereka pucat dan bisu. Dua jasad tertutup kain di bawah pohon nangka, dan Raka tidak berani melihat mereka terlalu lama.
Landep terbaring di atas tikar di rumah tetangga, lengan dan separuh dadanya dibalut kain basah penuh luka bakar. Napasnya tersengal, tapi matanya terbuka dan masih tajam. Begitu melihat Wirabhaya, ia berusaha bangkit.
"Jangan bergerak, Paman," kata Wirabhaya, berlutut di sampingnya.
"Mereka membawanya." Suara Landep serak seperti pasir. "Aku sudah berusaha menahan mereka, Gusti. Tapi mereka terlalu banyak."
"Aku tahu."
"Anggada." Landep terbatuk. "Dia yang memimpin. Tapi..." Ia berhenti, mengatur napas. "Tapi aku melihat sesuatu, Gusti. Waktu dia menyeret Sekar keluar, dia menangis."
Wirabhaya menegang. "Menangis?"
"Air matanya mengalir. Dia tak bersuara. Tapi aku melihatnya." Landep menatap langit-langit, wajahnya kosong. "Dia tak ingin melakukannya. Tapi dia tetap melakukannya."
Hening yang pahit menyelimuti ruangan.
"Ke mana mereka membawanya?" tanya Raka.
"Timur. Ke arah..." Landep mengernyit, mencoba mengingat. "Aku dengar salah seorang menyebut 'tungku tua'. Tapi aku tak tahu itu di mana."
"Aku tahu."
Semua menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang anak lelaki kurus dengan wajah sembab, gemetar tapi tegak. Jaka. Ia rupanya mengikuti Tarub dari pasanggrahan tanpa ada yang menyadari.
"Aku tahu di mana tungku tua itu," katanya, suaranya parau. "Itu tempat ayahku dulu membuat gerabah, di dekat desa kami. Sudah tiga tahun ditinggalkan. Tapi beberapa pekan lalu, tuan asing itu datang dan menyewanya dengan perak. Dia tinggal di sana sebelum pindah ke kota."
Wirabhaya menatapnya. "Kau yakin?"
"Aku yang mengantarnya, Gusti." Jaka menelan ludah. "Dan aku... aku merasa sangat bersalah. Tolong, biarkan aku menebusnya."
Wirabhaya menatap anak itu beberapa saat, lalu mengangguk. "Naik ke kudaku."
Mereka berpacu menembus malam.
Lima kuda, lima penunggang: Wirabhaya di depan dengan Jaka di belakangnya, Raka dan Tarub di tengah, dan dua prajurit setia Wirabhaya menjaga bagian belakang. Jalan setapak yang sempit membelah sawah dan hutan bambu, diterangi bulan separuh yang menggantung rendah di langit. Angin dingin menampar wajah Raka, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, ia tak lagi merasa canggung di atas pelana. Ia hanya menunduk, memeluk leher kuda, dan berdoa dalam hati agar mereka tidak terlambat.
Bata merah di sakunya mulai bergetar.
Awalnya halus, seperti denyut nadi. Lalu semakin kuat, semakin cepat, seakan menanggapi sesuatu yang makin dekat. Raka menekannya ke dada, merasakan panasnya merambat melalui kain bajunya.
Menjelang tengah malam, mereka tiba di sebuah bukit kecil yang menghadap lembah. Wirabhaya mengangkat tangan, dan semua kuda berhenti.
"Di sana," bisik Jaka, menunjuk.
Di dasar lembah, di antara pepohonan jati yang berjajar rapat, berdiri sebuah bangunan besar beratap rendah dengan cerobong bata menjulang di satu sisinya. Cahaya obor menyala di sekelilingnya, dan di halaman depan, belasan bayangan bergerak-gerak.
Raka mengangkat tangannya ke dada. Bata di sakunya kini bergetar begitu keras sampai terasa menyakitkan.
"Gusti," bisik Tarub, menunjuk ke halaman. "Lihat itu."
Di tengah halaman, di bawah cahaya obor, belasan orang sedang menyusun sesuatu dari batu bata merah. Tumpukan demi tumpukan, dipasang rapi membentuk dua pilar tinggi dengan celah di tengah, belahan yang sama persis dengan gapura yang dulu Raka lihat di gang Laweyan.
Dan di bawah pilar itu, terikat pada sebuah tiang kayu, duduk seorang gadis berkain cokelat.
Sekar.
Raka merasakan seluruh darahnya berpusat di dadanya. Bata di sakunya menyala hangat, hangat seperti api.
Jam tiga lewat sepuluh tinggal beberapa jam lagi.
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹