NovelToon NovelToon
Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Action
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: PERTEMUAN TAK TERDUGA DAN BISIK-BISIK

Bangunan SMA SMA Garuda Bangsa berdiri megah di kawasan elite Jakarta Pusat. Untuk ukuran gadis yang tumbuh di pinggiran kota dengan segala keterbatasan, melangkah memasuki koridor sekolah bergengsi ini membuat dada Clara diliputi rasa canggung yang luar biasa.

Ia mengenakan seragam putih-abu-abu berpotongan rapi yang dibelikan oleh Arsen. Meski fisiknya masih sedikit pucat akibat anemia, polesan tipis di wajahnya menyamarkan kelelahan yang selama ini bersarang.

"Dengar," suara Arsen memecah keheningan saat mereka berjalan beriringan di koridor. Arsen melangkah dengan percaya diri, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Di sekolah, jangan pernah bertingkah seolah kamu tahu rahasia rumahku. Tapi ingat, kamu tetap milikku. Paham?"

Clara menunduk, mengangguk pelan. "Paham, Tuan Muda Arsen."

"Jangan panggil aku Tuan Muda di sini. Panggil Arsen," potongnya dingin sebelum melangkah lebih dulu memasuki kelas 12-A.

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid pindahan baru," ujar Pak Hendra, wali kelas 12-A. "Silakan perkenalkan dirimu."

Clara berdiri di depan kelas. Puluhan pasang mata menatapnya dengan rasa ingin tahu. Di barisan belakang dekat jendela, Arsen duduk bersandar dengan tatapan tajam yang tak pernah lepas darinya.

"S-selamat pagi semuanya. Nama saya Clara. Mohon bantuannya," bisik Clara pelan.

"Clara?!"

Sebuah suara penuh terkejut terdengar dari barisan tengah. Seorang siswa bertubuh jangkung berdiri dengan mata membelalak tak percaya.

Dada Clara berdegup kencang. "Dion?"

Dion—teman sekolah lamanya yang dulu memberinya informasi pekerjaan di tempat karaoke—kini berdiri di sana. Ternyata, kepindahan ayah Dion ke Jakarta membuat Dion juga harus berpindah ke sekolah yang sama persis secara tidak sengaja.

"Kamu... kok bisa ada di sini?" tanya Dion refleks, melangkah mendekat dengan raut khawatir. "Gimana keadaanmu? Kemarin kamu mendadak menghilang dari karaoke, aku nyariin kamu sampai—"

Brak!

Suara ketukan pulpen Arsen yang dihantamkan ke atas meja memotong kalimat Dion secara kasar. Suasana kelas mendadak hening. Aura dingin menyerbak dari sudut belakang.

Arsen menatap Dion dengan manik mata sehitam jelaga. "Bisa diam? Suaramu mengganggu."

Dion mengepalkan tangan, merasakan ancaman terselubung dari ucapan Arsen, namun ia memilih kembali ke kursinya demi keselamatan Clara.

Saat jam istirahat tiba, Clara memilih duduk diam di mejanya. Efek pendingin ruangan di kelas mulai membuat tubuhnya yang tak tahan dingin menggigil pelan. Lucunya, beberapa meter di belakangnya, Arsen juga tampak menurunkan suhu AC dengan raut wajah gusar karena alasan yang sama.

Dion menghampiri meja Clara seraya menyodorkan kotak susu hangat. "Clara, kamu gapapa? Wajahmu masih pucat. Beneran kamu gak apa-apa pindah ke sini?"

"Aku gak apa-apa, Dion. Makasih ya," cicit Clara canggung, sadar bahwa sepasang mata di belakangnya sedang mengawasi mereka bagai predator.

Tak jauh dari mereka, dua orang siswi berbisik-bisik sambil memperhatikan Clara dan Arsen bergantian.

"Eh, lu ngeh gak sih?" bisik siswi berambut panjang. "Coba deh lu liat mukanya Clara pas lagi natap ke samping."

"Kenapa emangnya?"

"Mata sama bentuk bibirnya... kok mirip banget sama Arsen ya? Apalagi pas lagi cemberut atau datar gitu. Garis mukanya cetakan banget."

"Ah, masa sih? Beda jauh kali, Arsen kan tajam, Clara kelihatan lembut gitu. Paling cuma kebetulan aja."

Arsen yang memiliki pendengaran tajam samar-samar mendengar bisik-bisik itu. Jemarinya yang mengetuk meja terhenti sejenak. Ia melirik wajah Clara yang sedang berbicara dengan Dion.

Mirip denganku? Konyol, batin Arsen acuh.

Namun saat Arsen melihat jemari Dion menyentuh pundak Clara untuk menenangkan gadis itu, sebuah dorongan amarah yang hebat mendadak membakar dadanya. Arsen bangkit berdiri dari kursinya, melangkah lebar menghampiri meja Clara, dan menarik lengan gadis itu secara paksa dari hadapan Dion.

"Ikut gue," cetus Arsen dingin tanpa membiarkan Dion memprotes.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!