NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Retakan di Balik Topeng Sang Tirani

Malam bergeser lambat di dalam ruang kerja pribadi Duke Killian. Angin malam yang berembus dari celah jendela besar membawa aroma dingin salju yang mulai turun di luar kediaman Duke. Di dalam ruangan, keheningan terasa begitu pekat, seolah-olah sang waktu sendiri enggan mengusik dua jiwa yang tengah duduk saling berhadapan di dekat perapian.

Elena mengeratkan jemarinya di atas gaun beludru berwarna hijau zamrud yang ia kenakan. Gaun itu indah, namun bagi Elena, pakaian ini tak lebih dari zirah untuk menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu liar. Di depannya, Killian duduk dengan santai, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu ek yang kokoh. Sepasang mata merah darah milik pria itu menatap Elena tanpa kedip, menyelidiki setiap ekspresi mikro yang mungkin lolos dari wajah sang Nona Muda.

"Kau tampak tegang, Elena," suara Killian memecah keheningan, berat dan rendah, bergema di dinding-dinding batu ruangan. "Apakah aliansi yang kau tawarkan mulai terasa seperti jerat leher bagi dirimu sendiri?"

Elena menarik napas dalam-dalam, memaksakan seulas senyum tenang di bibirnya. Topeng kenaifan yang dulu ia pakai saat bersama Gavin telah hancur total, digantikan oleh ketenangan dingin seorang wanita yang telah mencicipi neraka.

"Tentu saja tidak, Yang Mulia," jawab Elena, suaranya terdengar stabil meskipun ada badai yang berkecamuk di dadanya. "Saya hanya sedang mengagumi betapa rapinya bidak-bidak catur yang telah Anda susun di perbatasan barat. Gavin sama sekali tidak menyadari bahwa jalur pasokan logistik utamanya kini berada di bawah kendali Anda."

Killian terkekeh kecil, sebuah suara tanpa humor yang terdengar berbahaya namun entah bagaimana memiliki daya pikat yang mematikan. Ia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua siku di atas meja, memperpendek jarak di antara mereka. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau samar zat besi dan parfum musk menguar dari tubuh sang Duke, membuat Elena refleks menahan napas.

"Gavin adalah pria yang bodoh, Elena. Dia terlalu sibuk merayakan takhta barunya dan memeluk adik tirimu yang licik itu hingga lupa melihat ke bawah kaki mereka. Tanah yang mereka pijak sebenarnya sudah mulai runtuh," ujar Killian, matanya berkilat penuh kekejaman. "Namun, yang membuatku penasaran bukan seberapa bodohnya Gavin. Yang membuatku penasaran adalah bagaimana seorang Nona Muda yang terkenal lemah lembut dan penurut seperti dirimu, tiba-tiba bisa mengetahui rahasia militer yang bahkan tidak diketahui oleh badan intelijen kekaisaran."

Pertanyaan itu adalah jebakan. Elena tahu betul itu. Killian adalah seorang tirani berdarah dingin bukan tanpa alasan; dia tidak pernah memercayai siapa pun sepenuhnya, termasuk sekutu rahasianya.

Elena menatap lurus ke dalam manik mata Killian. Di dalam ingatan masa depannya—masa depan yang dipenuhi darah dan api—Killian adalah sosok yang menghancurkan Gavin tanpa ampun setelah Elena tewas di sel bawah tanah. Killian bukan orang baik, tetapi dia adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan cukup besar untuk membalikkan takdir terkutuk ini.

"Ada beberapa hal di dunia ini yang tidak memerlukan penjelasan, Yang Mulia," ucap Elena perlahan. "Cukuplah bagi Anda mengetahui bahwa musuh dari musuh Anda adalah sekutu terbaik Anda. Saya menyerahkan seluruh informasi mengenai kelemahan Gavin kepada Anda, dan sebagai gantinya, Anda memberikan perlindungan hukum bagi keluarga saya dari intrik istana."

Killian terdiam sejenak. Dia mengamati jemari Elena yang sedikit bergetar. Tirani itu berdiri, melangkah perlahan mengitari meja hingga posisinya kini berada tepat di belakang kursi Elena. Kehadirannya begitu mengintimidasi, seolah-olah seekor predator sedang mengitari mangsanya yang terpojok.

"Perlindungan?" Killian berbisik tepat di samping telinga Elena. Sentuhan napas hangatnya kontras dengan hawa dingin yang menguar dari luar jendela. "Kau meminta perlindungan dariku, seorang pria yang dijuluki monster oleh seluruh kekaisaran. Tidakkah kau takut, Elena, jika pada akhirnya aku yang akan mengisap habis darahmu setelah urusan kita dengan Gavin selesai?"

Elena merasakan bulu kuduknya meremang. Naluri dasarnya menjerit untuk segera bangkit dan menjauh dari pria ini. Namun, bayangan putranya yang masih kecil menjerit di tengah kobaran api, serta rasa sakit yang membakar kulitnya saat berada di sel bawah tanah, seketika menghapus semua rasa takutnya pada Killian. Ketakutan terbesar Elena bukanlah kematian; ketakutan terbesarnya adalah melihat para pengkhianat itu tersenyum di atas penderitaannya sekali lagi.

Elena memutar tubuhnya sedikit, mendongak untuk menatap langsung wajah Killian yang hanya berjarak beberapa jengkal darinya.

"Jika saya harus menjadi santapan monster demi melihat Gavin dan adik tiri saya memohon ampunan di lantai penjara yang dingin, maka saya akan dengan senang hati menyerahkan diri saya kepada Anda, Duke Killian," tegas Elena. Matanya memancarkan api balas dendam yang begitu pekat, sesuatu yang jarang sekali dilihat Killian pada wanita bangsawan kelas atas.

Killian terpaku sejenak. Untuk pertama kalinya, sang tirani mendapati dirinya terpesona oleh kegelapan yang tersimpan di dalam jiwa seorang wanita. Elena bukanlah domba penurut seperti yang dirumorkan orang-orang. Di balik kulitnya yang seputih porselen dan wajahnya yang anggun, wanita ini menyimpan monster yang jauh lebih mengerikan dari apa yang bisa dibayangkan oleh Gavin.

Perlahan, Killian mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam. Ibu jarinya menyentuh dagu Elena, mengangkatnya sedikit dengan kelembutan yang terasa asing dan aneh bagi seorang pria kasar seperti dirinya.

"Sangat bagus," gumam Killian, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang tulus, seolah-olah dia baru saja menemukan mainan baru yang paling berharga. "Aku menyukai mata itu, Elena. Jangan pernah kehilangan sorot mata penuh kebencian itu saat kau berada di dekatku. Itu membuatmu terlihat... jauh lebih hidup."

Elena tidak menolak sentuhan itu, meskipun jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau pecah. Aliansi ini berbahaya. Berjalan bersama Killian ibarat menari di atas mata pisau yang tajam. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat dirinya hancur berkeping-keping. Namun, demi pembalasan dendamnya, Elena rela mempertaruhkan segalanya.

Killian melepaskan cengkeramannya pada dagu Elena, lalu melangkah kembali ke mejanya. Dia mengambil sebuah gulungan dokumen resmi yang berlambang segel lilin merah berbentuk kepala serigala—lambang resmi keluarga Duchy Killian.

"Ini adalah draf kontrak aliansi kita yang baru. Aku telah menambahkan klausul mengenai jaminan keselamatan untuk aset-aset keuangan keluargamu," kata Killian sambil menyodorkan gulungan itu ke hadapan Elena. "Besok pagi, Gavin akan mengadakan pesta perburuan tahunan di hutan kekaisaran. Dia pasti akan membawa adik tirimu, Yuliana, bersamanya."

Elena menerima gulungan itu, jarinya meraba permukaan kertas perkamen yang kasar. Mendengar nama Yuliana membuat darahnya kembali mendidih. Di kehidupan pertamanya, Yuliana adalah orang yang berdiri di depan sel penjaranya dengan senyuman kemenangan, memegang obor yang akhirnya membakar tubuh Elena hidup-hidup.

"Saya tahu tentang pesta perburuan itu," sahut Elena, matanya menyipit kejam. "Gavin berencana untuk membuat sebuah 'kecelakaan' yang akan melukai ayah saya, sehingga posisi kepala keluarga bisa dialihkan kepada paman saya yang memihak padanya."

"Dan apa yang akan kau lakukan untuk mencegahnya?" tanya Killian, tertarik dengan rencana wanita di depannya.

Elena berdiri dari kursinya, memberikan penghormatan formal yang sempurna ala bangsawan tinggi. Gulungan kontrak di tangannya digenggam erat, seolah-olah itu adalah senjata pertama yang akan ia hunjamkan ke jantung musuh-musuhnya.

"Saya tidak akan mencegah kecelakaan itu, Yang Mulia," jawab Elena tenang, membuat Killian sedikit menaikkan sebelah alisnya. "Saya justru akan memastikan kecelakaan itu terjadi, namun targetnya bukan ayah saya. Besok, Gavin sendiri yang akan merasakan bagaimana rasanya menjadi buruan di hutannya sendiri."

Killian menatap Elena dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kilat kepuasan dan antisipasi yang terpancar dari mata merahnya. Aliansi ini memang dimulai karena kepentingan bersama, namun Killian mulai menyadari bahwa kehadiran Elena di sisinya mungkin akan membawa hiburan yang jauh lebih besar dari yang ia duga sebelumnya.

"Kalau begitu, aku akan menantikan pertunjukanmu besok, Nona Muda," ucap Killian sebagai penutup pertemuan malam itu.

Elena mengangguk pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Duke. Begitu pintu kayu besar itu tertutup di belakangnya, Elena bersandar pada dinding lorong yang dingin. Dia memejamkan mata, membiarkan napasnya yang tertahan keluar dalam satu helahan panjang.

Langkah pertama telah berhasil diambil. Duke Killian telah resmi berada di pihaknya. Sambil menatap lorong kastil yang panjang dan remang-remang, Elena berbisik dalam hati, bersumpah demi sisa jiwanya yang telah hancur.

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!