Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Malam berikutnya…
Rumah orang tua Rania yang biasanya sunyi senyap, tiba‑tiba menjadi pusat perhatian saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pagar, disusul kendaraan lain berisi kotak‑kotak besar berbalut kain indah.
Para tetangga yang kebetulan melihat kedatangan mobil-mobil itu mulai berbisik satu sama lain.
“Lihat itu… tamu siapa ya?”
“Pasti orang penting sekali, mobilnya mewah begini.”
“Anaknya Pak Hasan itu kan sudah ada jadi janda. Mungkin aja ada yang mau lamar lagi.”
Di dalam rumah, Rania duduk di samping ibunya sambil meremas ujung bajunya. Sejak sore wanita itu sudah berada di rumah orang tuanya, dan memberitahukan kepada mereka akan kedatangan keluarga Mahendra. Kedua orang tua Rania yang mendengar anaknya akan dilamar oleh keluarga konglomerat tentu saja merasa gembira. Sikapnya yang biasanya dingin dan ketus kepada Rania berubah drastis menjadi sosok orang tua penyayang.
Tidak lama kemudian, dari pintu yang memang sengaja dibuka lebar terdengar ucapan salam.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam… silakan masuk, silakan,” jawab ayahnya buru‑buru menyambut kedatangan tamu istimewanya.
Melihat Tuan Aksara dan Bu Soraya berdiri sopan di depan sana, wajah ayah dan ibunya Rania tampak benar-benar gembira. Padahal tadinya mereka berpikir bahwa Rania sedang berbohong.
“Maaf rumah kami sederhana sekali ya… silakan duduk.”
Beberapa orang ikut membawa kotak‑kotak ke ruang tamu — berisi perhiasan, kain halus, buah‑buahan, hingga perlengkapan ibadah yang indah. Mata ibu Rania terbelalak takjub.
“Ya ampun… ini semua untuk kami?”
Bu Soraya tersenyum lembut. “Hanya tanda sedikit kesungguhan hati kami, Ibu.”
Setelah berbasa‑basa sejenak, Tuan Aksara menegakkan badan sedikit. “Kedatangan kami ke sini adalah karena ingin meminang Rania untuk menjadi pendamping hidup putra kami, Alvino. Semoga Bapak dan Ibu berkenan merestuinya.”
Wajah ayah Rania langsung bersinar gembira. “Tentu saja… kami sangat bersyukur sekali mendengarnya.”
Bu Siti, ibunya Rania yang biasanya bersikap ketus dan masa bodoh, bahkan malam ini melingkarkan tangannya di bahu Rania, bersikap layaknya seorang ibu yang sangat mencintai putrinya.
Rania tersenyum getir. Kedua orang tuanya selalu hanya bisa bersikap baik padanya jika dirasa dirinya membawa keuntungan. Jika tidak, maka mereka hanya akan bersikap dingin dan cuek. Bahkan sama sekali tidak peduli apakah dia bahagia atau tidak. Bahkan saat dirinya sedang terluka pun mereka berdua sama sekali tidak peduli.
Suasana mulai akrab, sampai ayahnya tiba‑tiba menghela napas panjang dan menundukkan wajah.
“Tuan Aksara… kami ini hanya orang biasa. Sebenarnya kami ingin sekali mengadakan pesta pantas untuk anak kami… tapi apa daya, kami tidak memiliki biaya yang cukup.”
“Benar sekali. Untuk makan sehari‑hari saja pas‑pasan, apalagi mengadakan acara besar. Rasanya….” Bu Siti menjeda kata-katanya sambil mengusap matanya yang berkaca‑kaca.
Rania menoleh sambil menggelengkan kepalanya lemah, dadanya terasa sesak. Padahal Ayah dan ibunya memiliki usaha meskipun tidak sebanding dengan pengusaha besar. Ditambah lagi dia selalu menyisihkan sebagian gajinya dan diberikan kepada ibunya. Tapi kenapa, mereka selalu saja seperti orang yang sengaja menjual kesedihan?
“Kami sungguh malu mengatakannya,” lanjut pak Hasan lagi.
“Pak Hasan dan Bu Siti tidak usah khawatir," ucap Tuan Aksara tegas. "Sejak awal kami sudah berniat untuk menanggung seluruh biaya persiapan sampai hari bahagia nanti. Jadi, Bapak dan Ibu tidak usah memikirkan apa pun.”
“Benarkah, Tuan?” seru Pak Hasan dan Bu Siti hampir bersamaan. Mata kedua orang itu langsung berbinar cerah.
“Tentu saja. Kami hanya mengharapkan doa dan restu kalian berdua.”
“Pasti… kami pasti merestui!” jawab Pak Hasan antusias, lalu saling pandang dengan Bu Siti yang juga tersenyum lebar.
Rania menggigit bibir pelan. Wajahnya tertunduk menahan rasa malu yang benar-benar menghantam harga dirinya. Ia merasa dijual secara terang-terangan oleh kedua orang tuanya.
“Kalau begitu, acara pernikahan kita tetapkan saja satu bulan dari sekarang.” Tuan Aksara menutup pembicaraan, seolah sama sekali tidak peduli dengan apa yang baru saja ia lihat.
*
*
*
Beberapa hari setelah acara lamaran keluarga Mahendra...
Kabar pertunangan Rania dan Alvino menyebar begitu cepat. Seperti api yang melahap daun-daun kering di musim gugur.
Awalnya hanya menjadi bahan pembicaraan di lingkungan Mahendra Grup. Beberapa karyawan berdesak-desakan di pantry kantor.
“Beneran ya Mbak Rania bakal jadi istri Pak Alvino?”
“Iya loh, aku juga dengar dari beberapa atasan!”
Dan beberapa hari berikutnya, berita itu sudah sampai ke telinga keluarga Pratama. Di kalangan sosialita wanita, bisik-bisik mulai terdengar.
“Kalian tahu nggak, menantu yang beberapa bulan lalu diceraikan oleh keluarga Pratama? Sekarang malah bakal jadi menantu keluarga Mahendra!”
“Kamu dengar dari mana?"
"Iya, hoax pasti itu.”
"Kalian tidak percaya? Anakku kerja di perusahaan Mahendra. Dan dia dengar langsung dari kepala divisinya. Kabarnya nanti pas pernikahan, seluruh karyawan diminta hadir tidak boleh membawa amplop. Hanya diminta kehadiran dan doa restu saja."
“Wah... Sultan sejati memang beda!"
Di ruang keluarga rumah keluarga Pratama...
Bu Ratih baru saja meletakkan cangkir tehnya ketika salah seorang kerabat datang membawa kabar. Wanita itu terengah-engah seperti baru saja berlari jauh.
“Ratih... kamu sudah dengar belum?” tanya wanita itu langsung duduk di kursi tempat di hadapan bu Ratih.
“Dengar apa? Aku baru saja pulang periksa dari dokter kandungan bersama menantuku,” jawab Bu Ratih sambil menyeka tangan di roknya.
“Rania.”
Bu Ratih langsung mengernyit. Alisnya yang tebal terangkat ke atas. “Memangnya kenapa dengan perempuan mandul itu?”
“Dia dilamar keluarga Mahendra.”
Deg!
“Apa?!" Cangkir di tangan Bu Ratih hampir terlepas. Ia harus cepat menopangnya dengan telapak tangan lainnya.
"Berita ini sudah menyebar di kalangan sosialita. Katanya... satu bulan lagi keluarga Mahendra akan menggelar pesta pernikahan.
“Mustahil!” Wajah Bu Ratih berubah merah padam. Pipinya membesar karena kemarahan. “Mana mungkin keluarga Mahendra mau menerima perempuan mandul seperti dia? Putra mereka hanya satu, mereka butuh keturunan untuk melanjutkan pewaris?”
Kerabat itu mengangkat bahu, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tapi kenyataannya berita yang beredar seperti itu. Di kalangan pengusaha sudah ramai. Bahkan sudah ada yang melihat mereka belanja perlengkapan pernikahan.”
“Kurang ajar!” Bu Ratih mengepalkan tangan kuat-kuat. Kuku nya mencubit kulit telapak tangannya. “Wanita itu benar-benar licik! Baru beberapa bulan saja jadi janda, sudah gatal cari jalan pintas.”
Brak!
"Aaa…!!!”
Bu Ratih berteriak kencang sambil membanting cangkir ke atas meja. Suara pecahan porselen membuat semua orang di rumah tersentak. Beling-beling kecil porselen berserakan di atas permukaan meja kayu dan sebagian jatuh ke atas lantai.
Di lantai atas...
Angelina yang baru saja ingin membaringkan tubuhnya setelah pulang dari rumah sakit bersama ibu mertuanya buru-buru turun. “Ada apa, Bu? Kenapa berteriak begitu keras?”
Bu Ratih menatap menantunya itu dengan wajah murka. Matanya menyala seperti bara api. “Rania akan menikah dengan Alvino Mahendra.”
“Apa?” Bibir Angelina terbuka lebar. “Alvino Mahendra? Saudara sepupu Mas Arga?”
Saking terkejutnya, wajah wanita itu sampai berubah pucat. Kaki nya tidak bisa bergerak sama sekali. Pria tampan pewaris tunggal keluarga Mahendra, yang statusnya berada jauh di atas Arga, kenapa pemilih Rania sebagai istrinya?
“Bagaimana bisa?”
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.