NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7: Aku tidak boleh menyerah

Aroma kayu manis dan seduhan teh hangat membubung pelan di area ruang keluarga. Matahari senja menggantung samar di balik jendela kaca besar, membiaskan warna jingga kemerahan yang perlahan meredup menembus dinding-dinding rumah.

Namun, kehangatan warna langit sore itu tak sedikit pun sanggup mencairkan ketegangan dingin yang menggantung tebal di dalam rumah.

Ayu menuntun Moana melangkah masuk dari arah pintu depan sehabis jalan-jalan di lingkungan komplek. Langkah kaki kecil Moana terdengar ringan, tetapi pegangan tangannya pada jemari Ayu masih melekat erat.

Kejadian di taman komplek saat Bu Siska dan ibu-ibu lainnya melemparkan sindiran tajam masih menyisakan denyut nyeri yang samar di ulu hati Ayu. Meski begitu, Ayu berusaha sekuat tenaga menampilkan wajah tenang dan teduh demi Moana.

"Bibi..." panggil Ayu lembut saat melihat Bibi Minah berjalan terburu-buru dari arah lorong dapur.

"Eh, Bu Ayu, Neng Moana..." Bibi Minah menyambut hangat, lalu pandangannya turun ke arah wajah Ayu yang tampak agak pucat. "Ibu tidak apa-apa? Wajah Bu Ayu kelihatan lelah sekali."

"Gak apa-apa, Bi. Cuma agak hangat aja cuacanya di luar tadi," jawab Ayu seraya mengulas senyum tipis. "Mas Yoga sudah pulang, Bi?"

"Belum, Bu. Tadi Pak Yoga sempat telepon, katanya ada rapat mendadak sama klien proyek, jadi agak terlambat pulangnya," jelas Bibi Minah pelan. "Oh iya, Bu... Non Lea sama Den Kenzo tadi sudah pulang sekolah. Tapi... ya begitu, langsung masuk kamar masing-masing. Non Lea malah kunci pintunya rapat-rapat."

Ayu mengangguk paham. Ada rasa kecewa yang menyelusup pelan, namun ia buru-buru mengusirnya. "Baiklah, Bi. Terima kasih ya. Tolong siapkan cemilan buah potong buat Moana ya, Bi."

"Siap, Bu Ayu."

Ayu membawa Moana naik ke lantai dua untuk berganti pakaian. Setelah memastikan Moana duduk nyaman di kamar mainnya sambil mewarnai gambar, Ayu melangkah menyusuri lorong lantai dua yang hening.

Langkah kakinya terhenti tepat di depan dua pintu yang saling berhadapan yaitu kamar Kenzo dan kamar Lea.

Ayu menatap pintu kayu bernuansa merah muda milik Lea. Ia teringat kejadian semalam saat sup panas mengotori lantai dan membakar kulit tangannya.

Lengan kirinya yang terbalut kassa tipis masih terasa nyut-nyutan jika terbentur. Namun, sebagai seorang ibu tiri yang berniat tulus merangkul keluarga ini, Ayu tahu ia tidak boleh menyerah hanya karena gertakan pertama.

Beberapa saat kemudian...

Tok... tok... tok.

Ayu mengetuk pintu kamar Lea dengan pelan dan sopan.

"Lea... Ini Ibu," panggil Ayu dengan suara selembut mungkin. "Ibu bawakan susu hangat dan biskuit. Kalau Lea haus atau mau cerita soal sekolah, Ibu ada di luar..."

Namun tidak ada jawaban.

Ayu menghela napas panjang, dan mencoba tidak berkecil hati. "Ibu taruh di meja kecil samping pintu ya, Lea. Nanti diminum ya..."

Tepat saat Ayu hendak berbalik, pintu kamar di seberang yakni kamar Kenzo, terbuka perlahan dan menampakkan Kenzo yang berdiri di ambang pintu.

Remaja enam belas tahun itu sudah berganti pakaian dengan kaos polos hitam dan celana pendek santai. Earphone nirkabel menyangkut di lehernya, sementara matanya yang tajam menatap Ayu dengan tatapan dingin, datar, dan penuh jarak.

"Gak usah buang-buang waktu, Tante," ujar Kenzo singkat dengan nada suara yang sangat datar.

Ayu pun menoleh dan menatap anak sulung suaminya itu. Dengan berusaha mengulas senyum hangat ia berkata, "Kenzo... Sudah makan siang belum? Di bawah ada lauk yang Ibu siapkan tadi pagi—"

"Aku udah makan di luar sama temen-temen," potong Kenzo tanpa beban. Tangan kanannya bertumpu pada bingkai pintu. "Dan soal Lea... Tante gak usah sok perhatian sama dia. Lea itu gak suka sama orang asing yang tiba-tiba sok ngatur di rumah ini."

Kalimat 'orang asing' yang keluar dari mulut Kenzo menghantam dada Ayu cukup keras. Rasa perihnya nyaris menyamai luka bakar di tangannya.

"Kenzo, Ibu tidak berniat mengatur atau mencampuri urusan kalian," sahut Ayu mencoba meluruskan dengan suara yang tetap terjaga tenang. "Ibu cuma ingin kalian merasa ada yang memperhatikan. Ibu tahu kalian rindu dengan almarhumah Mama kalian. Ibu tidak akan pernah berusaha mengambil posisi beliau. Ibu cuma mau ada di sini untuk mendampingi kalian dan Mas Yoga."

Kenzo terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang renyah namun menyakitkan. Ia lalu memiringkan kepalanya sedikit, dan menatap Ayu dari atas ke bawah.

"Mendampingi Papa?" Kenzo mengulang kata-kata Ayu dengan nada menyindir. "Tante itu masih muda. Umur Tante paling cuma beda berapa tahun dari aku. Di luar sana, orang-orang pada ngomongin Tante, ngomongin Papa. Apa Tante gak sadar kalau pernikahan ini cuma bikin Papa jadi bahan gunjingan?"

Ayu membeku. Ucapan Kenzo persis seperti apa yang dikatakan Bu Siska di taman tadi pagi. Ternyata, gosip dan bisik-bisik tetangga itu tidak hanya sampai ke telinganya, tetapi juga sudah melukai perasaan anak-anak remaja ini.

"Kenzo... Apa pun yang orang lain katakan di luar sana, itu tidak benar," tegas Ayu, seraya menatap lurus ke dalam mata Kenzo. "Ibu menerima lamaran Papa kalian karena rasa hormat dan ketulusan. Bukan karena harta, bukan karena hal lain."

"Terserah Tante mau ngomong apa," balas Kenzo cuek. "Tapi buat aku dan Lea, Tante tetap cuma guru privat Moana yang kebetulan dapet keberuntungan dinikahi Papa. Jangan harap rumah ini bakal terasa kayak keluarga bahagia cuma karena Tante rajin masak nasi uduk tiap pagi."

BAM!

Kenzo menutup pintu kamarnya dengan keras, meninggalkan Ayu yang berdiri terpaku di tengah lorong yang sepi.

Ayu memejamkan matanya rapat-rapat. Ia meremas jemarinya sendiri, dan merasakan setetes air mata hangat menetes melewati pipinya. Namun, dengan cepat ia mengusap air mata itu menggunakan ujung jilbabnya. Ia tidak boleh menangis. Ia harus kuat.

Malam makin larut ketika suara raungan mesin mobil Yoga terdengar memasuki pelataran rumah. Jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul delapan malam.

Yoga melangkah masuk dengan wajah yang diliputi garis-garis kelelahan yang pekat. Tas kerja kulitnya terikat di tangan kanan, sementara dasinya sudah sedikit dikendurkan dari kerah kemejanya.

Namun, begitu matanya menangkap sosok Ayu yang sedang merapikan taplak meja makan di ruang tengah, wajah lelah pria empat puluh tahun itu mendadak melunak.

"Ayu..." sapa Yoga dengan suara serak yang hangat.

Ayu langsung menoleh dan menyambut kehadiran sang suami dengan senyuman yang cantik. Ia kemudian melangkah mendekati Yoga, dan menyambut tas kerja yang dipegang suaminya, lalu mencium punggung tangan Yoga dengan penuh takzim.

"Selamat malam, Mas Yoga. Capek ya?" tanya Ayu perhatian.

Yoga menatap wajah istrinya, meraih jemari Ayu dan menggenggamnya dengan erat. "Lumayan, Ayu. Rapat sama investor tadi memakan waktu lama sekali. Maaf ya, aku pulang terlambat lagi."

"Tidak apa-apa, Mas. Mas kerja kan buat keluarga," balas Ayu. "Mas mau mandi dulu atau langsung makan malam? Makanan sudah saya panaskan."

"Mandi sebentar ya, biar segar," ujar Yoga. Matanya kemudian melirik ke sekeliling ruang tengah yang sepi. "Anak-anak mana? Sudah pada tidur?"

Raut wajah Ayu sedikit berubah, namun ia dengan cepat menyembunyikannya. "Moana baru saja tertidur setengah jam yang lalu, tadi capek habis main di taman. Kalau Kenzo sama Lea... mereka ada di kamar masing-masing, sepertinya sedang belajar buat besok."

Yoga menghela napas pendek, seraya mengangguk-angguk. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Ayu, Kenzo, dan Lea sepanjang hari itu.

Namun Ayu sengaja memilih menyimpan rapat-rapat insiden di taman dan penolakan Kenzo sore tadi. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Yoga yang sudah menumpuk akibat urusan pekerjaan.

Setengah jam kemudian, Yoga turun ke meja makan setelah menyegarkan diri. Ia mengenakan kaos santai berwarna abu-abu dan celana panjang kain.

Ayu melayaninya dengan sangat telaten, menyendokkan nasi hangat, menuangkan sup, dan meletakkan segelas air putih di samping piringnya.

Yoga mengunyah makanannya dengan nikmat. "Masakanmu selalu enak, Ayu. Rumah ini rasanya hidup lagi sejak ada kamu."

Ayu yang duduk di samping Yoga hanya tersenyum manis. "Terima kasih, Mas. Kalau Mas suka, saya senang."

"Ayu..." Yoga meletakkan sendoknya sejenak, dan menatap mata istrinya dengan dalam. "Soal kejadian semalam... dan soal anak-anak. Aku tahu ini tidak mudah buat kamu. Kenzo dan Lea masih sangat keras kepala. Tapi aku janji, weekend nanti aku bakal ajak kita semua jalan-jalan keluar, biar mereka bisa lebih terbuka sama kamu."

Ayu menyentuh tangan Yoga di atas meja, dan mengusapnya dengan lembut. "Mas Yoga tidak usah memaksakan diri. Proses seperti ini tidak bisa di instan kan, Mas. Butuh waktu dan kesabaran. Asalkan Mas Yoga selalu ada di samping saya dan mendukung saya, saya sanggup menghadapi segalanya."

Yoga menatap Ayu dengan pandangan sarat kekaguman dan rasa syukur yang teramat dalam. Pria itu menyadari betapa beruntungnya ia memiliki wanita semuda dan berhati emas Ayu sebagai pendamping hidupnya.

"Terima kasih, Ayu... Kamu adalah anugerah terbesar buat aku dan anak-anak," bisik Yoga penuh haru.

Di balik dinding ruang makan, di dekat belokan tangga yang gelap, sosok Lea berdiri diam dalam sembunyi. Gadis remaja itu mendengarkan setiap percakapan antara ayahnya dan ibu tirinya. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, sementara matanya menatap benci ke arah kehangatan yang tercipta di meja makan itu.

"Aku gak bakal biarkan wanita itu merebut Papa sepenuhnya," bisik Lea dalam hatinya dengan penuh dendam sebelum perlahan berbalik dan melangkah naik kembali ke kamarnya tanpa suara.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!