Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Cahaya lampu gantung bernuansa warm white memantul lembut di atas lantai marmer Lumina Bakehouse, menciptakan suasana hangat dan elegan di dalam toko kue milik Alana. Musik instrumental piano mengalun pelan dari sudut ruangan, menyatu dengan kesibukan pagi yang mulai merayap. Tempat ini adalah ruang aman bagi Alana sebuah tempat di mana dia bukan sekadar bayangan di rumah mewah Gema, melainkan seorang pemilik yang berkuasa penuh atas setiap detail keindahan di dalamnya.
Alana mendorong pintu kaca toko, melangkah masuk seraya mengembuskan napas panjang. Dia mencoba menanggalkan seluruh beban dingin yang baru saja dia lewati di dalam mobil bersama Gema.
"Selamat pagi, Bu Alana!" sapa sebuah suara ceria dari balik konter.
Maya kepala koki Lumina Bakehouse yang mengenakan apron cokelat rapi langsung menyambutnya dengan senyuman hangat. Maya adalah sosok kepercayaan Alana, orang yang paling paham bagaimana dedikasi Alana dalam membangun toko ini dari nol.
"Pagi, Maya," balas Alana. Dia berusaha memasang raut wajah sesegar mungkin, lalu melangkah ke area belakang untuk menggantungkan tas dan mengenakan apron khususnya.
Namun, saat Alana kembali ke area meja racik utama, mata tajam Maya menatapnya penuh selidik. Maya menghentikan tangannya yang sedang menata nampan baking sheet.
"Bu Alana... wajah Ibu kelihatan pucat banget hari ini," ucap Maya dengan nada cemas. Maya melangkah mendekat, memperhatikan lingkaran hitam tipis dan bibir Alana yang agak menyelimuti rona wajahnya. "Ibu lagi sakit? Mau saya buatkan teh herbal hangat?"
Alana tertegun sejenak, refleks meraba pipinya sendiri. Efek dari asam lambungnya yang bergejolak hebat sejak semalam dipadu stres emosional akibat sikap dingin Gema memang tidak bisa dibohongi. Namun, Alana dengan cepat mengulas senyum tipis untuk menenangkan kepala kokinya.
"Nggak apa-apa, Maya. Cuma agak kurang tidur saja semalam karena harus menemani Tania," alibi Alana berbohong halus. "Tania kan hari ini mulai masuk sekolah kelas satu SD, jadi dia agak heboh dan rewel semalam."
Padahal, kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. Semalam, Alana bahkan tidak menemani Tania tidur. Pikirannya yang kalut, rasa kesepian yang menggerogoti dada, serta perih di lambungnya membuat Alana menghabiskan malam sendirian di kamar tamu meratapi takdir pernikahan hampa yang harus dia jalani demi Tania. Dia terpaksa menjual nama Tania agar Maya tidak bertanya lebih jauh tentang masalah pribadinya.
Maya mengangguk-angguk percaya, raut wajahnya melunak. "Oh, pantas saja! Anak kelas satu SD memang lagi lucu-lucunya ya, Bu. Tadi pagi diantar Pak Gema juga ke sekolah?"
"Iya, diantar berdua tadi," jawab Alana singkat, memilih untuk memotong topik tentang suaminya. "Bagaimana persiapan pesanan pastry untuk katering sore nanti? Semuanya lancar?"
"Lancar, Bu Alana! Choux pastry sama tartlet buahnya sudah selesai dipanggang. Tim dapur tinggal selesaikan dekorasi krimnya saja," lapor Maya profesional.
"Baguslah. Kalau begitu, biar saya yang selesaikan pesanan birthday cake hari ini," kata Alana seraya mengambil mangkuk adonan stainless steel.
Namun, tepat saat Alana hendak mengaduk adonan, sebuah gelombang rasa sakit yang amat sangat mendadak menghantam ulu hatinya.
Sreeek!
Rasa perih itu datang menghujam, melilit dinding lambungnya yang kosong bagaikan cengkeraman jemari besi. Alana tercekik napasnya sendiri. Kedua tangannya yang memegang pinggiran meja besi serta merta mencengkeram erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mata Alana terpejam rapat, menahan rasa ngilu yang luar biasa hebat.
"Jangan sekarang... tolong jangan di depan Maya..." batin Alana memohon pada tubuhnya yang kian melemah.
Keringat dingin mulai bermunculan di dahi dan lehernya. Pandangan Alana sempat mendadak berkunang-kunang karena rasa mual yang menjejali tenggorokannya. Tubuhnya yang belum diisi makanan padat sejak kemarin malam kini benar-benar memberontak akibat stres tinggi.
"Bu Alana? Ibu kenapa?" suara Maya terdengar panik. Maya yang tadinya hendak mengambil timbangan digital langsung meletakkan alatnya dan bergeser mendekati Alana.
Alana mencoba menarik napas dalam-dalam memaksa paru-parunya bekerja meski perutnya terasa bagai dibakar lalu dengan perlahan mengendalikan posisi tubuhnya kembali tegak. Dia menatap Maya seraya mengulas senyum yang dipaksakan.
"Saya... tidak apa-apa, Maya. Cuma pusing sebentar karena kaget mendadak berdiri," kilah Alana lagi, meski suaranya terdengar agak bergetar dan parau.
"Beneran tidak apa-apa, Bu? Tapi wajah Bu Alana beneran pucat banget, seperti orang mau pingsan," desak Maya penuh keprihatinan. Maya memegang lengan Alana, merasakan jemari majikannya yang teraba begitu dingin. "Mending Bu Alana istirahat dulu di ruangan belakang. Pesanan kue ultah biar saya yang pegang."
"Jangan, Maya. Kamu harus tetap fokus sama pesanan katering," potong Alana lembut namun menolak dengan tegas. Dia menyapu keringat dingin di pelipisnya. "Saya benar-benar tidak apa-apa. Ini cuma maag ringan. Saya cuma butuh minum air hangat."
Dengan langkah yang diusahakan tetap tenang meski kakinya agak gemetar, Alana berjalan menuju pantri kecil di sudut dapur. Dia menuangkan air hangat ke dalam gelas kaca, lalu menyesapnya perlahan-lahan. Cairan hangat itu membasahi kerongkongannya, memberi sedikit rasa nyaman yang sementara pada lambungnya yang masih bergejolak.
Alana menyandarkan punggungnya pada lemari penyimpanan, menunduk menatap cangkirnya.
Di dalam toko kue yang indah ini, Alana merasa begitu ringkih. Di rumah, dia harus memasang topeng sebagai istri yang tidak punya rasa sakit di hadapan Gema. Di depan Tania, dia harus berpura-pura menjadi Bunda yang paling ceria dan sempurna. Dan di Lumina Bakehouse, dia harus tetap terlihat sebagai pemilik toko yang profesional dan kuat.
Tidak ada satu pun sudut di dunia ini di mana Alana diperbolehkan untuk mengaku bahwa dia sedang hancur dan kesakitan.
BZZZ.
Ponsel di dalam saku apron Alana bergetar singkat.
Jantung Alana mendadak berdesir. Ada secuil harapan konyol di lubuk hatinya bahwa pesan itu dari Gema mungkin sekadar menanyakan apakah maagnya sudah membaik atau memastikan dia sudah makan. Alana merogoh sakunya dengan cepat.
Namun, begitu layar ponsel menyala, harapan itu langsung pudar tak berbekas.
Pesan itu datang dari sekretaris pribadi Gema di kantor.
"Selamat pagi, Bu Alana. Menginfokan bahwa Pak Gema akan berangkat menuju Surabaya pukul 13.00 WIB siang ini untuk agenda dinas selama 4 hari. Segala keperluan rumah tangga bisa dikoordinasikan melalui kantor. Terima kasih."
Alana menatap layar datar itu dengan senyum samar yang amat pahit. Tentu saja. Gema tidak pernah mau membuang waktu untuk mengirim pesan pribadi padanya. Segala hal selalu disampaikan lewat perantara formal, seolah Alana hanyalah seorang manajer rumah tangga yang perlu diberi pemberitahuan dinas.
"Bu Alana... ini saya buatkan teh chamomile hangat campur sedikit madu. Biar perutnya agak enakan," suara Maya memecah lamunan Alana. Maya berdiri di sampingnya sambil menyodorkan cangkir keramik.
Alana mengerjap, menyimpan ponselnya kembali ke saku apron, lalu menerima cangkir itu. Rasa hangat keramik membelai jemarinya yang dingin.
"Terima kasih banyak ya, Maya. Kamu selalu perhatian," ucap Alana tulus, menatap Maya dengan binar mata haru.
"Sama-sama, Bu. Bu Alana jangan terlalu memaksakan diri ya. Kalau merasa benar-benar tidak kuat, langsung panggil saya. Jangan ditahan sendirian," tutur Maya dengan nada hangat yang begitu menenangkan.
Alana menyesap teh hangat itu perlahan. Rasa manis madu dan aroma chamomile pelan-pelan meredakan tegang pada otot-otot perutnya. Dia memejamkan mata, meresapi perhatian sederhana dari kepala kokinya sebuah kehangatan yang justru tidak pernah dia dapatkan dari suaminya sendiri.
Rasa sakit di perutnya belum sepenuhnya sirna, tetapi Alana kembali menegakkan bahunya. Dia mengembuskan napas panjang, mengusir kabut duka yang sempat singgah. Masih ada kue yang harus dihias, toko yang harus dijalankan, dan sore nanti ada Tania yang menunggu sambutan hangatnya pulang dari sekolah.
Alana tidak boleh runtuh sekarang. Dia mengembalikan cangkir tehnya, tersenyum pada Maya, lalu melangkah kembali menuju meja adonan dengan keteguhan hati yang baru.
kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.
sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅