Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Keduanya saling menatap dengan tatapan permusuhan yang sangat kekanak-kanakan.
"Lepaskan garpumu Dewa, aku yang akan menyuapi Lula udang ini," ancam Cakra menekan suaranya.
Dewa mendecih pelan dan sama sekali tidak mau menarik garpunya.
"Enak saja, tanganmu itu jorok tadi kau habis memegang bola basket kan?" bantah Dewa tajam.
"Aku sudah cuci tangan pakai sabun stroberi lima kali! Minggir kau bocah SMP," omel Cakra tidak mau kalah.
Trang.
Kedua garpu itu saling beradu di atas piring saji menghasilkan suara gesekan besi yang nyaring.
Arini memijat keningnya merasa lelah melihat kelakuan dua anak remajanya itu.
"Kalian berdua hentikan, udangnya masih banyak di piring lain," tegur Arini mencoba sabar.
"Tidak bisa Ma, ini udang yang ukurannya paling sempurna untuk mulut Lula," elak Dewa dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.
Lula menatap kedua kakaknya itu dengan wajah bingung sambil menggigit ujung sendoknya.
"Kak Cakra sama Kak Dewa jangan bertengkar, nanti udangnya sedih karena ditusuk dua kali," tegur Lula polos.
Bastian yang duduk di seberang mereka hanya menggelengkan kepala melihat tingkah bodoh adik-adiknya.
Di saat Cakra dan Dewa masih sibuk berdebat mempertahankan udang itu.
Adrian dengan tenang mengambil sebuah udang besar dari piring yang berbeda.
Pria berdasi itu mengupas kulit udangnya dengan sangat rapi dan cekatan menggunakan pisau garpu.
Setelah bersih, Adrian menyodorkan udang itu langsung ke depan mulut Lula.
"Buka mulutmu cerewet, jangan pedulikan dua orang bodoh yang sedang bertengkar itu," perintah Adrian lembut.
Aam. Lula langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan memakan udang dari tangan Adrian dengan lahap.
"Nyam nyam nyam, udangnya manis sekali Kak Adrian," puji Lula dengan pipi yang menggembung lucu.
Adrian mengambil selembar tisu dan mengusap sudut bibir Lula yang terkena bumbu madu.
Cakra dan Dewa langsung menjatuhkan garpu mereka secara bersamaan dengan wajah kecewa berat.
Mereka merasa kalah telak dari kakak tertua mereka yang selalu bergerak cepat tanpa banyak bicara.
"Kak Adrian curang, sengaja memanfaatkan situasi saat kami sedang sibuk adu mulut," protes Cakra tidak terima.
Dewa mendecih lalu membuang muka ke arah jendela dengan raut wajah sangat kesal.
"Cih, dasar pria tua tukang cari muka," gumam Dewa sangat pelan agar tidak terdengar ayahnya.
Baskoro tertawa terbahak-bahak melihat persaingan konyol anak-anak laki-lakinya itu.
"Kalian ini kalau urusan cari perhatian adik saja cepat, giliran disuruh belajar malah malas," sindir Baskoro sambil tertawa.
Makan malam itu dilanjutkan dengan suasana yang sangat ramai, berisik, namun penuh kehangatan.
Lula menceritakan tentang teman-teman barunya di sekolah dan kumbang Riko yang sakit perut.
Cakra sesekali mencuri kesempatan menyuapkan potongan daging ke mulut Lula saat Adrian sedang minum.
Bahkan Bastian yang biasanya sangat kaku dan logis diam-diam menuangkan banyak susu cokelat ke gelas Lula.
Lula merasa perutnya sangat kenyang karena kelima pria di rumah ini terus menyuruhnya makan.
"Lula sudah kenyang, perut Lula bisa meledak kalau diisi lagi," tolak Lula sambil memegangi perut buncitnya.
Arini tertawa dan akhirnya membersihkan meja makan dibantu oleh para pelayan.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Lula sudah selesai mandi dan memakai piyama bergambar beruang kesukaannya.
Dia berbaring di kasurnya yang sangat empuk sambil memeluk boneka beruang ratusan juta dari Adrian.
Tok tok tok.
Pintu kamar diketuk pelan dari luar sebelum akhirnya terbuka perlahan.
Arini berjalan masuk ke dalam kamar membawa sebuah buku cerita bergambar yang cukup tebal.
"Anak cantik sudah siap untuk tidur?" sapa Arini sambil duduk di tepi ranjang.
Lula mengangguk pelan karena matanya sudah mulai terasa sangat berat akibat kekenyangan.
"Mama mau bacakan cerita untuk Lula ya?" tanya Lula berharap sambil merapatkan selimutnya.
Arini membuka halaman pertama buku cerita itu yang menampilkan gambar kastil besar.
"Tentu saja, malam ini Mama mau cerita tentang seorang putri kecil yang punya empat ksatria pelindung," jawab Arini sambil tersenyum.
Lula tertawa pelan mendengar judul cerita yang terdengar sangat tidak asing itu.
"Ksatrianya pasti Kak Adrian yang pakai jas, Kak Bastian pakai kacamata, Kak Cakra yang berisik, sama Kak Dewa yang galak ya Ma?" tebak Lula pintar.
Arini mengelus rambut hitam Lula dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
"Iya sayang, mereka berempat adalah ksatria yang akan selalu menjagamu sampai kamu tumbuh dewasa nanti," bisik Arini lembut.
Lula merasa hatinya sangat hangat dan tenang mendengarnya.
Sejak pagi tadi, dia sama sekali tidak melihat asap abu-abu atau kabut hitam kemerahan di dalam rumah ini.
Semua yang ada di sekelilingnya hanyalah cahaya putih terang yang dipenuhi dengan cinta dan kedamaian.
"Lula sayang Kakak semua, Lula juga sayang Mama sama Papa," gumam Lula sebelum matanya benar-benar tertutup.
Arini mencium kening putri bungsunya itu dengan sangat lama.
"Kami jauh lebih menyayangimu, malaikat kecil," balas Arini pelan agar tidak membangunkan Lula.
Arini mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur kecil berbentuk bintang.
Lula kini terlelap dalam tidurnya yang sangat nyenyak tanpa ada rasa takut kelaparan lagi.
Dalam mimpinya, dia bermain kejar-kejaran dengan keempat kakaknya di sebuah taman yang penuh dengan bunga matahari.
Mulai hari ini, hidup Lula sebagai Lula Ayodhya yang sesungguhnya benar-benar telah dimulai.
Statusnya bukan lagi sekadar anak jalanan yang dipungut karena belas kasihan.
Dia adalah pusat gravitasi baru yang berhasil menyatukan hati seluruh anggota keluarga Ayodhya.
Dan keempat kakak laki-lakinya akan memastikan dunia mengetahui bahwa adik kecil mereka tidak boleh disakiti oleh siapapun.