Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Dibalik Gelombang
Kawasan Medan Baru menyambut mereka dengan deretan pepohonan mahoni tua yang rindang dan rumah-rumah bergaya kolonial yang teduh namun terasing. Minibus tua milik Maya melaju pelan, melintasi jalanan beraspal mulus hingga berhenti di depan sebuah rumah tua berpintu kayu jati tinggi dengan halaman luas yang terlantar.
Rumah itu bernomor 18. Rumput liar tumbuh tinggi di celah-celah paving block, dan pagar besinya yang menghitam tampak digembok rapat dari dalam.
"Ini rumahnya?" tanya Faris sembari menatap bangunan tua yang tampak suram di balik rindangnya pepohonan.
"Ya. Profesor Bahri mengasingkan diri di sini sejak mengundurkan diri secara mendadak dari kampus belasan tahun lalu," jawab Maya. Ia mematikan mesin mobil, merogoh jok belakang, dan membawa kotak besi timbal berisi ponsel tombol terkutuk itu di dalam tas ranselnya.
Maya berjalan menuju pagar, mengetuk selot besi berkarat itu beberapa kali. Suara dentangan besi bergema di halaman yang sepi.
"Profesor Bahri! Ini Maya, putri dari mendiang Irfan!" teriak Maya seraya menempelkan wajahnya di sela pagar besi.
Hening sejenak. Hanya suara gumpalan daun mahoni yang berguguran diterpa angin pagi. Namun beberapa saat kemudian, tirai jendela lantai satu rumah tua itu tersingkap pelan. Sebuah wajah keriput dengan rambut putih berantakan dan kacamata tebal mengintip dari balik kaca yang berdebu.
Pintu utama rumah terbuka berdecit. Seorang pria tua bertubuh bungkuk dengan kemeja lusuh melangkah keluar perlahan, memegang sebuah tongkat kayu. Matanya yang cekung menatap Maya dan Faris dengan pandangan curiga sekaligus gelisah.
"Pergi dari sini... Aku tak menerima tamu," suara pria tua itu parau, bergetar ketakutan.
"Kami membawa kode dari ruko Jalan Sutomo, Prof!" potong Maya cepat sebelum pria itu berbalik. "Saluran 0000 kembali aktif semalam. Dan kali ini kodenya mengalami transmisi pasif!"
Langkah Profesor Bahri mendadak terhenti. Pria tua itu membeku di tengah halaman, tongkat kayunya bergetar hebat. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap tas ransel yang digendong Maya dengan raut wajah horor yang sangat nyata.
"Kalian... kalian membawanya ke sini?" bisiknya hysteris.
"Kotak ini terlapis timbal tebal, terisolasi total dari sinyal luar," tegas Maya. "Tapi kami butuh jawaban, Prof. Sebelum jaringan ini menyebar lagi ke seluruh kota!"
Profesor Bahri menelan ludah, dadanya naik-turun memburu napas. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan tergesa-gesa membuka gembok pagar, lalu memberi isyarat dengan tangannya agar mereka segera masuk ke dalam rumah.
Interior rumah Profesor Bahri terasa sangat lembap dan berbau kertas tua bercampur aroma kemenyan yang samar. Dinding-dinding lorong tertutup rapat oleh rak buku raksasa yang sarat dengan literatur fisika kuantum, buku-buku teknik elektro lama, serta manuskrip-manuskrip kuno beraksara Batak dan Arab gundul yang dilapisi plastik tebal.
Profesor Bahri menggiring mereka ke dalam sebuah ruang kerja yang remang-remang di bagian belakang rumah. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu besar dipenuhi papan sirkuit terbakar, tabung hampa udara tua, dan manuskrip kertas merang yang menguning.
"Duduk," perintah Profesor Bahri pendek. Ia mengunci pintu ruang kerja rapat-rapat, lalu duduk di kursi goyangnya dengan napas terengah.
Faris dan Maya duduk di sofa kulit yang sudah retak-retak. Faris memperhatikan leher Profesor Bahri—di sana, di balik kerah kemeja lusuhnya, tampak bekas luka parut kehitaman berbentuk cengkeraman jari, persis seperti luka memar yang ada di leher Faris.
"Anda juga pernah tersambung dengannya..." gumam Faris pelan.
Profesor Bahri menatap Faris, matanya yang redup memperlihatkan trauma mendalam. "Tiga puluh tahun lalu, Nak. Saat aku masih terlalu sombong dan percaya bahwa semua sains bisa menjelaskan hal gaib."
Maya meletakkan kotak besi timbal di atas meja kayu. "Ceritakan pada kami yang sebenarnya, Prof. Di arsip Jalan Sutomo, nama Anda tercantum sebagai penyokong dana eksperimen Hendra tahun 1998."
Profesor Bahri tertawa pahit, suara tawa yang kering dan menyedihkan.
"Hendra adalah mahasiswaku yang paling jenius," kata Profesor Bahri, suaranya menerawang ke masa lalu. "Dia tidak puas hanya mempelajari gelombang elektromagnetik biasa. Dia terobsesi dengan gagasan bahwa alam gaib—dunia roh dan iblis—sebenarnya berada di dimensi frekuensi yang sama dengan gelombang radio, hanya saja bergetar di spektrum Extremely Low Frequency (ELF) yang tak tertangkap telinga manusia."
Pria tua itu bangkit, meraih sebuah manuskrip tua dari rak kayu dan membukanya di depan Maya dan Faris. Lembaran kertas itu berisi skema sirkuit pemancar radio yang digambar tangan, namun di sekeliling rumitnya komponen resistor dan kapasitor, terukir rajah-rajah mistis kuno dan simbol-simbol simetris yang mengerikan.
"Sains sendiri tidak cukup untuk membuka gerbang itu," lanjut Profesor Bahri dengan bisikan tertahan. "Hendra menggabungkan arsitektur pemancar radio digital modern dengan ritual Begu Ganjang kuno—ritual pemanggilan roh pelindung berdarah yang biasa digunakan untuk mencari kekayaan atau kekuasaan di tanah Sumatra masa lalu. Hendra menumbalkan darahnya sendiri dan mengukir mantra penjerat jiwa di atas piringan tembaga pemancar utama."
Faris merasa mual mendengarnya. "Jadi... entitas di balik 0000 itu bukan sekadar gelombang radio?"
"Bukan," jawab Profesor Bahri tegas. "Itu adalah entitas iblis kuno yang berhasil diikat oleh Hendra ke dalam bentuk kode frekuensi digital. Saluran 0000 adalah 'nama panggilan' ghaib bagi iblis tersebut. Ketika angka 0000 ditekan pada jam dua pagi—jam di mana batas dimensi alam ghaib dan bumi berada di titik tertipis—mantra digital itu terpicu, dan entitas itu memakai jaringan komunikasi untuk memangsa jiwa."
"Lalu kenapa kodenya berubah menjadi transmisi pasif sekarang?" desak Maya, menunjuk kotak timbal di atas meja.
Profesor Bahri menatap kotak itu dengan penuh ketakutan.
"Karena kalian hanya memotong kabel pemancarnya, bukan memusnahkan piringan tembaga berajak yang menjadi 'jantung' mantra tersebut!" kata Profesor Bahri. "Iblis itu kini telah beradaptasi. Kode pasif itu adalah spora digital. Begitu kotak itu dibuka di dekat menara pemancar seluler modern (BTS), kode itu akan menginfeksi seluruh jaringan seluler Medan hanya dalam hitungan detik."
Faris mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Di mana piringan tembaga itu sekarang?"
Profesor Bahri memalingkan pandangannya ke jendela yang mengarah ke bagian belakang rumahnya. "Hendra menguburnya di bawah fondasi bekas menara pemancar lama di ruko Jalan Sutomo... di dalam sumur tua yang sudah ditutup semen."
Tiba-tiba, lampu bohlam di ruang kerja Profesor Bahri berkedip-kedip liar.
Bzzzzzt!
Meskipun kotak besi timbal itu masih terkunci rapat di atas meja, alat-alat penerima sinyal tua dan tabung hampa udara di sekeliling ruangan Profesor Bahri mendadak menyala satu per satu, meletupkan percikan api kecil dan suara ketukan kuku berirama yang amat sangat dikenal Faris:
Tek... tek... tek...
Dari dalam dinding-dinding kayu rumah tua itu, suara bisikan basah berembus serentak dari belasan sudut:
"Terima kasih telah memberitahuku di mana jantungku berada..."
Profesor Bahri membelalakkan mata histeris. "Tidak... tidak! Dia melacak posisi kita lewat memar di lehermu, Faris!"