NovelToon NovelToon
Kau Rebut Kekasihku, Ku Nikahi Ayahmu

Kau Rebut Kekasihku, Ku Nikahi Ayahmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Anak Genius / Pengantin Pengganti
Popularitas:649.8k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

"Nikahi aku Om!"

Di hari yang seharusnya menjadi gerbang kebebasannya, Auryn Athaya Wiguna justru ditinggalkan di pelaminan. Calon suaminya kabur bersama seorang gadis remaja, meninggalkan noda malu yang tak terhapuskan bagi keluarga Wiguna. Namun, saat dunia seolah runtuh, Auryn melihat sebuah peluang di tengah kerumunan tamu, Keandra Mahessa, ayah dari gadis yang menghancurkan pernikahannya.

"Putrimu membawa kabur calon suamiku. Jadi, Om harus bertanggung jawab!"

Tanpa bantahan, pria matang berusia 38 tahun itu mengiyakan. Dengan mahar seadanya dan tatapan yang sulit dibaca, Keandra menarik Auryn ke dalam ikatan suci yang tak terduga. Bagi Auryn, pernikahan ini adalah senjata. Jika Leandra Mahessa merebut kekasihnya, maka ia akan merebut posisi tertinggi di hidup Lea, menjadi ibu tirinya.

"Kamu merebut kekasihku, maka akan kubuat hidupmu seperti neraka, Lea." Namun, Auryn tak menyadari bahwa menikahi Keandra berarti masuk ke dalam sangkar emas milik pria yang jauh lebih berbahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Yang Kacau

Auryn Athaya Wiguna berdiri terpaku di depan cermin besar yang memantulkan sosok wanita cantik berusia 22 tahun. Gaun putih berbahan brokat halus itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, menjuntai indah hingga ke lantai. Sehelai kain lace transparan tersemat di rambutnya yang disanggul modern, memberikan kesan suci sekaligus rapuh. Di tangannya, seikat buket mawar putih segar digenggam erat, hingga jemarinya memutih karena tekanan.

Matanya menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan yang berkecamuk. Detak jantungnya berpacu liar, bukan hanya karena euforia pernikahan, melainkan karena beban status yang akan segera berganti. Baginya, pernikahan ini bukan sekadar penyatuan cinta, melainkan sebuah gerbang pelarian. Ia ingin keluar dari rumah yang selama ini terasa seperti penjara emosional, jauh dari bayang-bayang ayahnya yang dominan. Ia ingin memiliki kehidupannya sendiri, menentukan arah langkahnya tanpa perlu mendengar dikte dari siapa pun.

"Sudah siap?"

Suara berat itu memecah keheningan kamar. Auryn menoleh pelan. Di ambang pintu, berdiri Danni Wiguna, pria paruh baya berkacamata dengan setelan jas formal yang kaku. Ekspresinya datar, bahkan cenderung tidak bahagia. Tidak ada binar bangga di mata sang ayah saat melihat putrinya akan melangkah ke pelaminan.

Auryn membalas tatapan itu dengan tatapan cuek, sebuah mekanisme pertahanan diri yang sudah ia bangun bertahun-tahun. "Ya, aku siap Pi," balasnya pendek.

Danni melangkah masuk, tangannya bersedekap di dada. "Papi tanya sekali lagi, kamu benar-benar yakin menikah di usia semuda ini? Dengan pria yang baru kamu kenal tiga bulan dan bahkan pekerjaannya hanya karyawan kontrak? Apa yang kamu harapkan dari masa depan seperti itu, Auryn?"

Suara Danni penuh dengan nada meremehkan yang terselubung dalam kedok kekhawatiran. Ia tidak pernah menyetujui hubungan ini sejak awal. Baginya, calon suami Auryn hanyalah kerikil kecil yang tidak level dengan keluarga Wiguna.

Namun, Auryn justru mendongak, menunjukkan raut wajah yang mantap dan keras kepala. "Aku sudah yakin, Pi. Lagian, dengan aku menikah, bukankah ini solusi terbaik untuk Papi? Tak ada lagi anak yang keras kepala di rumah ini. Tak ada lagi anak yang selalu menambah masalah keluarga, dan tak ada lagi anak yang membuat Papi stres setiap hari karena tidak bisa diatur. Bukankah itu yang Papi inginkan?"

Kalimat itu menghunus tajam. Danni menatap putrinya dengan sorot mata yang mengeras. "Papi menegurmu selama ini agar kamu menjadi anak yang baik, Auryn! Agar kamu punya tata krama dan masa depan yang jelas!"

Auryn memutar bola matanya malas, sebuah gestur yang selalu memancing amarah Danni. "Anak baik Papi kan hanya Bang Pandu dan Aneth. Biasanya anak kedua memang jarang dipedulikan, cuma dianggap sebagai pembawa masalah atau pelengkap penderita. Jadi, biarkan aku pergi dengan caraku sendiri."

"Kamu—"

"Mas, jangan lagi ribut-ribut! Penghulu sudah datang. Ayo, Auryn, semua orang sudah menunggu." Maya, ibu Auryn muncul di balik pintu dengan wajah cemas. Ia segera menengahi sebelum perang mulut itu meledak menjadi badai. Maya tahu betul, suami dan putrinya memiliki ego yang sama besarnya, seperti dua batu karang yang saling beradu.

"Gandeng tangan Papi," bisik Maya memperingatkan putrinya dengan tatapan memohon.

Auryn menghela napas kasar. Meski hatinya menolak, ia tidak ingin menciptakan keributan di depan para tamu. Dengan gerakan kaku, lengannya meraih pergelangan tangan ayahnya—tangan yang bahkan ia lupa kapan terakhir kali merangkulnya dengan kasih sayang. Keduanya terdiam dalam kebisuan yang menyesakkan. Danni kemudian memegang telapak tangan Auryn, sebuah formalitas yang terasa dingin.

Mereka mulai berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga rumah mewah keluarga Wiguna. Di lantai bawah, dekorasi bunga-bunga putih dan kursi-kursi yang tertata rapi menyambut mereka. Kamera fotografer mulai menjepret, mengabadikan momen yang terlihat indah dari luar. Auryn memaksakan senyum ramah saat melihat teman-temannya. Dua sahabat baiknya, Jovita dan Gea, melambaikan tangan dengan antusias.

"Auryn OMG! Kamu cantik bangeeeet!" pekik keduanya bersamaan saat Auryn melintas di dekat mereka.

Auryn tersenyum tipis. Ia diarahkan untuk duduk di kursi di hadapan penghulu. Para tamu sudah duduk tenang, dan keluarga inti berdiri di sekeliling area akad. Namun, keheningan yang seharusnya sakral itu perlahan berubah menjadi ketegangan yang aneh.

Menit berlalu. Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit.

"Dimana pengantin prianya?" tanya penghulu dengan raut wajah bingung sembari melirik jam tangannya.

Danni menoleh, menatap putrinya yang kini mulai sibuk dengan ponsel di balik buket bunganya. "Auryn, mana calon suamimu? Hubungi dia, kenapa siang sekali datangnya? Ini sudah lewat jadwal!" bisik Danni dengan nada tertahan yang penuh penekanan.

"Aku ... aku lagi berusaha menghubunginya, Pi. Tapi nomornya tidak aktif," ucap Auryn panik. Jantungnya kini berdegup karena ketakutan, bukan lagi karena gugup.

"Kok bisa? Coba hubungi lagi! Jangan main-main, Auryn!" tegur Danni.

"Tetap tidak aktif!" Auryn mulai gemetar. Wajahnya yang tadi cantik merona kini memucat, berganti dengan semburat merah karena menahan malu dan cemas. Para tamu mulai berbisik-bisik. Suasana menjadi gaduh dengan spekulasi yang tidak enak didengar.

Danni yang merasa harga dirinya dipertaruhkan, merasa sangat malu. Akhirnya, tanpa mempedulikan pandangan orang, ia meraih tangan Auryn dengan kasar dan membawanya pergi ke ruangan belakang, menjauh dari kerumunan.

Maya segera menyusul dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh kedua anak mereka yang lain. Setelah sampai di ruang keluarga yang tertutup, Danni melepaskan tangan Auryn dan berbalik dengan emosi yang meledak.

"Kamu gimana sih?! Kenapa dia tidak bisa dihubungi? Keluarga besar dan tamu penting sudah datang! Rekan kerja Papi juga ada di sana! Kamu mau buat malu keluarga?! Kenapa sih kamu sukanya bikin malu keluarga kita?! Gak bisa sekali saja kamu buat Papi bangga!" sentak Danni. Suaranya menggelegar di ruangan itu.

Air mata Auryn luruh seketika. Perasaannya sesak, seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Namun, di tengah kehancurannya, ia tetap menatap tajam sang ayah. "Aku memang bisanya buat malu Papi dan Mami saja! Aku juga tidak tahu! Kalian pikir, aku mau kejadian seperti ini? Enggak! Enggak ada yang mau kejadian ini!"

Dalam keadaan seperti ini pun, sang ayah tetap memojokkannya membuat Auryn tak bisa apapun selain berteriak panik.

_____________________________________

Haloooo, berjumpa lagi di karya baruku😍 semoga suka ceritanya yah, ini agak santai kok tapi konflik tetap kuat. Sebenarnya mau rilis yang cerita konflik berat, tapi banyak ngundang emosi. Penulisnya juga ikutan emosi🤣 jadi tunda dulu yah😆

Ini cerita baru yah, bukan cerita turunan oke🫣 jangan lupa dukungannya kawan😍

1
Hnnyamn
up nya mana ni thorrrr
Kamsan Putra
duhhhh kok belum up thorrr...intip intip terus ini...(tor monitor ketua)😄😄😄
Mey Abimanyu
lagi nunggu moment ternyata leak hamil trus di tinggal sama digta , trus cuma ua yg peduli sama di leak² Ponorogo 🤣😆😆
olyv
diihhh lele
olyv
sokooor lea
olyv
😂😂😂😂
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
💪💪💪💪
Maharani Rani
lanjutttt
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
💪💪💪💪
Cicih Sophiana
om klo mau bilang ke rumah Auryn bilang dong. .
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
💪💪💪💪💪
Dwi Winarni Wina
keander didik lea dengan jangan memanjakan terus, biar lea bisa menghormati/menghargai orang lebih tua...jangan sampai lea hamidun pergaulan bebas...

boleh memanjakan lea tapi jangan berlebihan....
Humaira
pecahkan aja sekalian, biar hilang pening nya Kean... 😂😂😂😂😂😏😏
❤️Rizka Aulia ❤️
suka alur ceritanya yg bagus ,aku tunggu up datenya lagi kak Author
❤️Rizka Aulia ❤️
aku terakhir merasakan kasih sayang seorang papa waktu aku kelas 1 -2 SMP (2002) karna setelah itu aku gak merasakanmya lagi karna mama dan papaku berpisah .
Shee_👚
g usah di pegangin aja itu kepala, jedotin aja itu kelapa biar pecah sekalian, terus end kan lebih bagus🤭
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
sleepyhead
yup somehow, bisa dibilang benar tor, tp kembali lg itu jg tergantung pada individu dan situasi.
Biasanya anak yg kekurangan perhatian dari ayah maybe lebih rentan mencari validasi dari pria lain ya, tapi itu jg jarang selalu terjadi.
Faktor lain keki lingkungan, or pengalaman hidup, and then kepribadian juga mempengaruhi siih yor menurut gua yaak heheheh 🤭
sleepyhead
kamar mandi selalu menjadi saksi bisu 🤣
Hindra Cechen
up lg dong thor🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!