Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7. Melawan Sakit
Temannya mengangguk, meski raut wajahnya jelas menunjukkan ketidakpercayaan. Setelah dia pergi, Dea bergegas masuk ke dalam toilet.
Ia mengunci salah satu bilik, lalu menyandarkan punggung ke pintu. Napasnya memburu karena serangan panik. Ia mencoba mengaturnya kembali dengan menarik napas dengan dalam dan perlahan.
Dari luar, terdengar percakapan dua orang perempuan.
“Aku dengar, pada malam ia menikah dengan Tuan Elden, pria itu langsung pergi.”
“Iya, gara-gara itu dia stres. Baru dinikahi, sudah ditinggal.”
“Hm, biar tahu rasa. Makanya, sesama koas itu tidak perlu sombong dan merasa paling pintar dibandingkan yang lain.”
“Wajar, sih, dia begitu. Dia kan mahasiswa kesayangan Profesor Adam.”
“Makanya Stella suka kesel melihatnya.”
Dea mendengar seluruh percakapan mereka. Ada nama Stella yang disebut-sebut. Seorang mahasiswi yang selalu saja menunjukkan amarah kepada Dea.
Dea memejamkan mata. “Kamu datang ke sini untuk masa depanmu,” bisiknya.
Ia meraih tisu dan mengusap wajahnya. “Bukan untuk mereka.”
Setelah meluruskan punggung, Dea mengambil tasnya, lalu keluar dari toilet.
Apa yang terjadi saat ini belum bisa disebut kemenangan besar. Bahkan, ia belum sanggup mengikuti seluruh kegiatan sepenuhnya. Beberapa kali ia meminta izin untuk beristirahat.
Namun, ketika malam tiba, ia membuka buku catatannya dan menyelesaikan satu halaman materi yang tertunda.
Hanya satu halaman yang selesai. Namun, halaman itu berhasil dikerjakannya berkat usahanya sendiri.
"Untuk sementara, itu sudah cukup," gumamnya membesarkan hati.
.
.
Adityo mulai mengajaknya menjalani konsultasi psikologis setiap akhir pekan.
Pada pertemuan pertama, Dea duduk di ujung sofa dengan kedua tangan saling menggenggam. Ia menjawab pertanyaan seperlunya, menghindari beberapa topik, dan beberapa kali meminta waktu sebelum melanjutkan pembicaraan.
Ketika sesi berakhir, ia keluar dengan wajah kaku.
Adityo yang menunggu di lorong segera berdiri. “Bagaimana?”
Dea menggeleng. “Tidak tahu.”
“Kamu mau makan dulu?”
“Tidak lapar.”
“Pulang?”
Dea mengangguk.
.
.
Malam itu, ketika kecemasan kembali datang, Dea mencoba mengingat apa yang dipelajarinya selama sesi konsultasi.
Ia menyebutkan benda-benda yang terlihat di kamarnya, merasakan telapak kakinya menapak lantai, lalu menarik napas perlahan.
Cara itu memang tidak langsung berhasil. Namun, ia terus mengulanginya hingga beberapa kali.
Ketika akhirnya dadanya terasa sedikit lebih lapang, Dea duduk di tepi ranjang dan menangis diam-diam.
.
.
Minggu demi minggu berlalu. Dea mulai membiasakan diri memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya kerap ia abaikan.
Ia kembali berusaha makan dengan teratur sebelum perutnya terasa perih. Ia juga perlahan belajar menemukan kembali dirinya yang sempat hilang.
Ada hari-hari ketika ia bisa mengikuti kegiatan koas dengan cukup baik. Namun, ada pula hari ketika suara pintu yang dibanting membuatnya kehilangan konsentrasi selama berjam-jam.
Pada hari-hari buruk itu, Dea masih sering menyalahkan dirinya sendiri.
Bedanya, kini ia mulai belajar mengenali kapan pikirannya sedang menyeretnya kembali ke masa lalu.
Ia juga mulai mengurangi ketergantungannya pada Adityo. Bukan karena tidak mempercayainya, melainkan karena Dea ingin kembali berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Adityo memahami hal itu. Ketika Dea menolak diantar ke kampus, ia menyerahkan helm kepadanya.
“Kalau ada masalah, hubungi aku.”
Dea menerima helm itu, lalu mengangguk.
Adityo membuka pintu mobilnya. “Hati-hati di jalan.”
Ia tidak memberikan banyak nasihat. Tidak pula menuntut Dea untuk terus bergantung kepadanya. Ia tahu, Dea yang dikenalnya selama ini adalah perempuan yang mampu berjuang, meski saat ini sedang berusaha mengumpulkan kembali kekuatannya.
Dea menaiki sepeda motornya dan berangkat.
Sepanjang perjalanan, rasa takut beberapa kali muncul. Tangannya sempat mengencang pada setang ketika sebuah mobil mendadak berpindah jalur.
Namun, akhirnya ia berhasil tiba di kampus. Saat pulang pun, ia sampai di rumah dengan selamat.
Hal sederhana itu membuat tekadnya untuk melawan luka yang tak terlihat semakin kuat.
“Aku pasti bisa,” gumamnya.
.
.
Waktu terus berjalan. Minggu demi minggu dilaluinya sambil berusaha menghadapi trauma yang masih kerap muncul dalam ingatannya. Namun, perlahan, ia mulai belajar menemukan cara untuk menenangkan dirinya sendiri.
Pada suatu pagi, perut Dea mendadak bergejolak hebat. Ia bergegas menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya ke dalam kloset.
Ia berlutut cukup lama, menunggu rasa mualnya mereda. Setelah membasuh mulut, ia bangkit dan menatap wajahnya yang pucat pasi di cermin.
Beberapa hari terakhir, ia memang lebih cepat merasa lelah. Ia mengira jadwal koas yang padat hingga malam dan pola tidurnya yang tidak teratur menjadi penyebabnya.
Namun, pagi itu terasa berbeda.
Aroma nasi yang baru matang dari dapur kembali membuat perutnya bergejolak. Dea menutup hidung, menjauh dari sumber aroma itu, lalu duduk di tepi ranjang.
Pikirannya bergerak cepat. Ingatan tentang malam itu muncul begitu saja.
Ia segera meraih ponsel dan membuka catatan siklus menstruasinya.
Matanya terpaku pada tanggal yang tertera di layar.
“Bukan! Bukan itu,” bisiknya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
.
.
Menjelang siang, rasa mual itu kembali menyerangnya ketika ia sedang mencatat keluhan seorang pasien rawat inap. Kali ini, Dea terpaksa meminta izin untuk pulang lebih awal.
Namun, seseorang yang semenjak tadi memperhatikannya dengan tatapan sinis segera melontarkan sindiran.
“Enak sekali ya, jadi kesayangan Profesor Adam. Bisa pulang sesuka hati,” ujar Stella sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Dea masih menutup mulutnya, berusaha menahan rasa mual yang begitu menyiksa.
Ia tidak menjawab sindiran Stella. Setelah meminta izin kepada pihak yang berwenang, Dea segera meninggalkan ruangan dan berjalan menuju parkiran.
Satu alis Stella terangkat ketika melihat Dea pergi tanpa menanggapi ucapannya.
“Dia benar-benar mencurigakan,” gumamnya.
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella