Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Aku tersentak, buru-buru menarik napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dadaku. Dengan gerakan secepat yang kubisa, aku menekan tombol daya ponsel agar layarnya mati, lalu menyembunyikan benda pipih itu ke bawah bantal rumah sakit. Aku memaksakan segaris senyuman tipis, mencoba mengusir kabut kelam yang baru saja dikirimkan oleh Kak Aaron.
"Ah, tidak apa-apa, Olivia. Kakak tidak apa-apa," ucapku, berusaha keras membuat nada suaraku terdengar seringan mungkin agar tidak memancing kecurigaannya.
Olivia memicingkan sepasang mata bulatnya, menatapku dengan penuh selidik. "Masa, sih? Tapi tadi raut wajah Kak Bella mendadak pucat sekali setelah melihat layar HP. Memangnya itu pesan dari siapa, Kak? Apa Kak Charles mengirim pesan makian lagi?"
Aku menggeleng pelan, lalu terkekeh hambar untuk mencairkan suasana. "Bukan, Olivia. Kamu ini ada-ada saja. Itu... itu tadi hanya pesan dari operator seluler."
"Operator?" kerut kening Olivia semakin dalam, tampak tidak sepenuhnya percaya.
"Iya, pesan otomatis yang isinya menawarkan paket internet malam," kebohonganku meluncur begitu saja dengan lancar dari ujung lidah. Aku mengulurkan tangan kanan-ku, mencubit pelan hidung kecil Olivia hingga ia mengaduh pelan. "Makanya Kakak melamun karena merasa terganggu di tengah-tengah obrolan seru kita. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Ayo, di mana tadi potongan apel manis mirip Olivia yang mau Kakak makan?"
Mendengar godaan narsis yang kukembalikan padanya, fokus Olivia seketika teralih. Rasa cemas di wajah polosnya langsung menguap, digantikan oleh senyuman lebar yang kembali menghiasi bibirnya. Ia dengan riang kembali menyodorkan piring buah ke hadapanku, melupakan kejanggalan yang baru saja terjadi.
Sembari menerima potongan apel dari tangan hangat adikku, aku memalingkan wajah sekilas menatap jendela kamar rawat yang menampilkan langit pagi.
Di bawah bantal ini, pesan dari Kak Aaron terasa seperti belati yang terus menusuk jiwaku secara terselubung. Aku terpaksa berbohong karena aku tahu, jika Olivia sampai membaca pesan itu, ia pasti akan kembali berteriak marah dan memicu pertengkaran baru dengan Kak Aaron. Biarlah rasa sesak dan luka akibat salah paham ini kutelan sendiri dalam kesunyian, sebagaimana aku terbiasa menanggung siksaan kutukan di gudang lantai tiga selama belasan tahun ini. Yang terpenting bagiku sekarang adalah menjaga agar senyum manis di wajah bintang keberuntungan keluarga kami ini tidak ikut memudar.
Di ruang kerja lantai teratas gedung Adipta Group, keheningan yang dingin kembali menguasai atmosfer. Ethan duduk di balik meja eksekutifnya yang megah. Di hadapannya, tumpukan laporan kuartal perusahaan yang kemarin sengaja ditinggalkannya kini telah tersusun rapi. Namun, fokus pria itu sama sekali tidak berada di atas lembaran kertas putih tersebut.
Pandangan Ethan lurus menatap kaca besar yang menampilkan lanskap kota yang padat. Tangannya yang besar meremas sebuah bolpoin perak dengan amat erat.
Setiap kali ia memejamkan mata, ingatan tentang malam tragis dua hari lalu kembali memburu pikirannya. Suara napas Bella yang putus-putus di telepon, tubuh ringkih adiknya yang limbung dan ambruk di lantai marmer, hingga tangisan histeris Olivia di restoran mewah. Semua itu bergulung menjadi satu, menciptakan badai penyesalan yang belum pernah Ethan rasakan seumur hidupnya.
Selama belasan tahun, ia memimpin keluarga dengan prinsip bahwa mengisolasi Bella di gudang lantai tiga adalah tindakan paling logis untuk memutus rantai ramalan kematian. Namun, penjelasan dokter kemarin—tentang lambung Bella yang rusak menahun karena menahan lapar di sepertiga malam dan paru-paru yang meradang akibat udara lembap—telah menampar harga diri Ethan sebagai seorang kakak sulung.
Mereka tidak sedang memutus kutukan. Mereka sedang membunuh Bella secara perlahan atas nama ketakutan mereka sendiri.
Rasa bersalah itu kian menghimpit dada Ethan ketika ia mengingat kebohongan yang baru saja ia ucapkan kepada Charles dan Aaron. Ia mengaku sedang berada di luar kota untuk urusan pribadi yang sangat penting, padahal ia sedang mati-matian menyembunyikan Bella yang baru saja merangkak kembali dari ambang maut.
Ethan mengembuskan napas berat. Ia meletakkan bolpoin peraknya dengan dentingan pelan, lalu merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel. Jemarinya bergerak ragu di atas layar digital, sebelum akhirnya menekan tombol panggil ke nomor kontak nama "Aaron".
Ponsel itu ditempelkannya ke telinga. Detak jantung Ethan bertalu-talu tidak keruan, menanti nada sambung yang berputar lambat. Sebagai kepala keluarga Adipta, ia sadar kebohongan ini tidak bisa bertahan lama. Ia harus mulai meluruskan kesalahpahaman kejam yang selama ini dipercayai oleh adik-adik laki-lakinya, sebelum kebencian Charles dan Aaron benar-benar menghancurkan sisa-sisa kesempatan kedua yang berhasil dicuri Bella dari takdir kematiannya.
Tut... Tut...
"Ya, Kak Ethan?" suara bariton Aaron dari seberang telepon akhirnya memecah keheningan ruang kerja, membawa ketegangan baru yang siap meledak di antara kedua bersaudara tersebut.
"Ya, Kak Ethan?" suara bariton Aaron dari seberang telepon akhirnya memecah keheningan ruang kerja.
Ethan tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Rahangnya mengatup rapat, dan guratan tegas di dahinya kembali dalam. Firasatnya yang tajam sebagai seorang kakak sulung mendadak menangkap ada sesuatu yang tidak beres setelah ia meninggalkan rumah sakit tadi.
"Aaron," panggil Ethan, suara baritonnya mendadak merendah, dingin, dan dipenuhi nada intimidasi yang sangat kuat. "Jawab aku dengan jujur. Apakah kamu baru saja mengirimkan pesan kejam lagi pada Bella?"
Keheningan yang mencekam langsung melanda sambungan telepon itu selama beberapa detik. Di seberang sana, Aaron tampak tersentak kaget. Ia tidak menyangka kakak tertuanya—yang biasanya paling acuh dan selalu mendukung keputusan untuk menjauhkan Bella—tiba-tiba menelepon hanya untuk menanyakan hal sensitif seperti ini.
"K-Kak Ethan tahu dari mana?" tanya Aaron gagap, suaranya terdengar sedikit salah tingkah. Namun, rasa gengsi dan sisa-sisa doktrin kebencian masa lalu dengan cepat membuat nadanya kembali meninggi. "Memangnya salah kalau aku menegurnya? Charles bilang anak itu masuk rumah sakit lagi setelah kemarin membuat aksi mogok makan. Aku hanya memperingatkannya agar tidak egois dan berhenti menyusahkan keluarga ini dengan drama mencari perhatiannya!"
Drama mencari perhatian?
Mendengar pembelaan Aaron yang dipenuhi salah paham itu, dada Ethan mendadak terasa begitu sesak dihantam rasa bersalah yang teramat sangat. Tangan kirinya yang bebas mengepal kuat di atas meja kerja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jaga ucapanmu, Aaron!" bentak Ethan tegas, memotong kalimat adiknya tanpa ampun. Suaranya yang menggelegar seketika memantul di dinding ruang kerjanya yang kedap suara. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi pada Bella malam kemarin! Dia tidak sedang bersandiwara, dan dia tidak sedang mogok makan!"
Aaron tertegun di seberang telepon, terbungkam oleh amarah Kak Ethan yang belum pernah ia dengar sebelumnya. "Kak... ada apa denganmu? Kenapa Kakak mendadak membela anak pembawa sial itu?"
"Dia murni sakit karena lambungnya sudah rusak menahun, Aaron! Tubuhnya mengalami malnutrisi parah akibat bertahun-tahun kita kurung di gudang lantai tiga yang dingin!" seru Ethan, suaranya mulai bergetar menahan luapan emosi dan air mata penyesalan yang mendesak di sudut matanya. "Dan malam kemarin... malam kemarin saat kita membiarkannya sendirian menahan sakit di rumah, itu adalah hari ulang tahunnya. Dia memasak semua makanan kesukaan kita hanya karena ingin makan bersama keluarganya untuk sekali saja.
Keesokan harinya, pancaran sinar matahari pagi kembali menerobos masuk melalui celah gorden kamar rawatku. Di dekat brankar, aku melihat Kak Ethan sedang berdiri mendengarkan penjelasan dari dokter paruh baya yang sejak kemarin menanganiku. Wajah kakak sulungku itu tampak teramat tegang, seolah sedang bersiap mendengarkan keputusan paling krusial.
"Pak Ethan, berdasarkan hasil pemeriksaan mendalam, dinding lambung Nona Besar sudah mengalami kerusakan yang sangat parah," ucap sang dokter dengan nada suara yang sarat akan keprihatinan. "Pada titik ini, hanya meminum obat saja tidak akan memengaruhi apa pun. Nona Besar harus dirawat secara intensif dan proses perawatannya kemungkinan besar akan memakan waktu yang cukup lama."
Mendengar penuturan itu, rahang Kak Ethan mengatup rapat. Namun, tanpa ragu sedikit pun, ia langsung menyahut dengan suara baritonnya yang tegas.
"Berapa pun biaya pengobatannya, tidak masalah, Dok. Lakukan apa saja, asalkan adik saya bisa sembuh total dan tidak perlu merasakan sakit lagi," ucap Kak Ethan penuh penekanan.
Dokter itu mengangguk takzim. "Baik, Pak Ethan."
Setelah terdiam sejenak untuk menetralkan gemuruh di dadanya, Kak Ethan kembali mengajukan pertanyaan. "Dan... kalau boleh tahu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk seluruh proses pengobatan ini, Dok?"
"Tiga minggu kemungkinan besar tidak akan cukup," jelas sang dokter sembari melirik papan klip medis di tangannya. "Kemungkinan kurang lebih membutuhkan waktu dua bulan perawatan secara intensif di rumah sakit ini, supaya kondisi organ dalamnya bisa pulih dan sembuh total."
"Baik, Dok. Lakukanlah yang terbaik untuk kesembuhan adik saya. Soal seluruh biaya rumah sakit, Dokter tidak perlu khawatir sama sekali," ucap Kak Ethan mantap. Sisa-sisa rasa bersalah karena telah mengurungku selama belasan tahun di gudang lantai tiga, tampaknya membuat pria angkuh ini rela menyerahkan seluruh kekayaannya demi menebus kesalahannya.
"Baik, Pak Ethan. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk menyiapkan jadwal terapi dan obat-obatan baru untuk Nona Bella," ucap sang dokter ramah, sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan dan menutup pintu kaca dengan rapat.
Aku yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka dari atas brankar hanya bisa terpaku diam. Dua bulan bukan waktu yang sebentar. Namun, melihat bagaimana Kak Ethan berdiri tegak di sana dan berjanji akan menanggung apa pun demi kesembuhanku, membuat setitik kehangatan yang asing perlahan-lahan mengalir, membasahi relung hatiku yang selama ini gersang.
Setelah kepergian sang dokter, Kak Ethan berjalan mendekati meja nakas untuk mengambil nampan makanan. Ia membawakannya ke hadapanku dengan gerakan yang sangat hati-hati.
"Ini ada bubur. Makanlah selagi masih hangat," ucap Kak Ethan pelan.
"Baik. Terima kasih banyak, Kak," jawabku tulus sambil menerima mangkuk bubur tersebut dengan kedua tangan yang masih terasa sedikit lemas.
Kak Ethan hanya mengangguk samar. Sebuah senyuman tipis yang teramat langka terukir di bibirnya sebelum ia membalikkan badan. Ia melangkah menuju sofa di sudut ruangan, duduk menyandarkan punggungnya di sana, lalu kembali membuka laptop untuk memeriksa beberapa laporan perusahaan yang sempat tertunda.
Keheningan yang menenangkan merayap selama beberapa saat selagi aku menikmati bubur pemberian Kak Ethan. Suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian di dalam kamar rawat ini. Ketika suapan terakhirku hampir selesai, Kak Ethan tiba-tiba mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan menatapku lurus.
"Semua yang dikatakan dokter tadi... kamu mengingatnya, kan?" tanya Kak Ethan dengan nada suara yang teramat serius.
Aku meletakkan mangkuk kosong itu di atas meja, lalu mendongak menatap mata elangnya. "Iya, Kak. Aku mengingatnya."
"Jangan pernah kamu lupakan apa yang dokter katakan," lanjut Kak Ethan penuh penekanan. Sorot matanya memancarkan rasa khawatir dan protektif yang amat mendalam, menepis jauh-jauh sisa keangkuhannya di masa lalu. "Jaga kesehatanmu mulai sekarang. Dan kalau terjadi sesuatu pada tubuhmu, sekecil apa pun itu, segera katakan padaku."
Mendengar rentetan kalimat panjang yang sarat akan kepedulian itu, dadaku mendadak terasa begitu hangat. Air mata haru yang sempat mendesak kini kugantikan dengan sebuah senyuman lebar.
"Baik, Kak," ucapku tulus.
"Kalau begitu Kakak pergi dulu, masih ada rapat dengan klien dari Amerika. Kamu di sini dulu, ya," ucap Kak Ethan sambil berbenah dan merapikan dokumen-dokumennya dari atas sofa.
"Baik, Kak," jawabku tulus dengan segaris senyuman.
"Kalau ada apa-apa, segera kabari aku," pesan Kak Ethan sekali lagi penuh penekanan sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari kamar rawatku.
Setelah pintu kaca itu tertutup rapat, aku menyandarkan punggungku pada bantal brankar yang empuk, menatap langit-langit ruangan dengan perasaan yang membubung hangat.
Kenyataannya, jadwal Kak Ethan sebagai Direktur Utama memang teramat padat. Setelah hari pertama cuti itu, ia hanya bisa datang berkunjung pada saat sore hari. Waktunya sangat singkat, hanya satu jam saja ia menemaniku sebelum akhirnya harus langsung pergi lagi untuk urusan bisnis.
Meski begitu, aku sudah merasa sangat bahagia.
Setidaknya dia sudah peduli padaku ..., bisikku lirih dalam hati. Aku mengingat kembali bayangan masa lalu yang kelam. Tidak seperti dulu, saat ia selalu menatapku dengan mata elangnya yang dingin penuh penghakiman dari koridor lantai dua.
Selama bertahun-tahun hidup dikurung di dalam gudang lantai tiga, momen kebersamaan yang hangat seperti ini adalah hal yang mustahil sekaligus jarang terjadi. Namun sekarang, perhatian kecil yang konstan dari Kak Ethan setiap sore sudah lebih dari cukup untuk membuat hatiku yang gersang kembali berbunga. Aku merasa tidak lagi menjadi anak pembawa sial yang dibuang, melainkan seorang adik yang kembali diharapkan kehadirannya di dunia ini.
Tepat pada saat aku membetulkan letak selimut dan bersiap untuk beristirahat, tiba-tiba keheningan kamar rawatku pecah oleh sebuah suara cempreng yang teramat familier dari arah pintu.
"Kak Bella! Adikmu yang paling manis dan baik hati datang untuk menjenguk dan menemani Kakak di sini!" seru Olivia dengan nada cemprengnya yang khas.
Ia menerobos masuk ke dalam ruangan sambil menjinjing sebuah tas kecil, lalu berjalan setengah berlari menghampiri brankarku. Wajahnya yang ceria langsung membuat atmosfer kamar yang tadinya sunyi mendadak penuh energi.
Suara tawa kecil spontan lolos dari bibirku begitu melihat tingkah ajaib adik bungsuku itu. Rasa kantuk yang sempat menyerang mataku seketika menguap, digantikan oleh kehangatan murni yang selalu berhasil ia bawa ke dalam hidupku yang sepi.
"Kamu ini ada-ada saja, Olivia," ucapku di sela-sela tawa, menatap wajah polosnya yang kini sudah duduk nyaman di kursi besi samping tempat tidurku.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~