Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Satria memberi instruksi tanpa ekspresi, lalu kembali bekerja. Dia tidak tertarik pada basa-basi, jadi kesannya selalu sangat serius.
"Baik, saya mengerti." Sana duduk di kursinya dan melirik sekilas ke sekeliling. Dia agak kecewa.
Dia membayangkan kantor itu ramai, penuh rekan kerja yang mengobrol dan bercanda. Tapi ruang sekretaris yang luas itu hanya dihuni dirinya dan Satria.
Jujur saja, suasana dingin dan sunyi itu membuatnya tidak nyaman, karena dia biasanya suka berada di tengah banyak orang. Dia mencoba mencari bahan obrolan dengan Satria.
"Pak Satria, sudah berapa lama Bapak bekerja di perusahaan ini?"
"..."
"Pak Satria, pekerjaan saya ke depan hanya menganalisis dan merapikan data, ya?"
"..."
Setelah beberapa kali bertanya, Sana menyerah dan merasa dirinya hanya mempermalukan diri sendiri. Satria yang serius itu bukan hanya irit bicara, tapi sama sekali tidak bersuara.
Sana diam-diam memutar bola mata. Dia sadar pilihannya salah. Seharusnya dia tidak memutuskan bergabung hanya karena ingin bertemu Raksa, tanpa mempertimbangkan bahwa suasana kerjanya sesuram ini.
Kring... kring...
Tiba-tiba keheningan ruang sekretaris pecah oleh dering telepon. Satria mengangkatnya dengan tenang, menjawab "hm, hm" beberapa kali, lalu menutupnya.
Kali ini Sana belajar dari kesalahan. Meski penasaran siapa yang menelepon, dia memutuskan tidak mengulangi kekeliruan yang sama.
"Mbak Aelsana, saya keluar sebentar."
Wajahnya tetap tanpa ekspresi. Tapi anehnya, ada kilatan di mata Satria, memperlihatkan sedikit kegembiraan yang tidak sempat dia sembunyikan.
"Hm!" Sana menjawab singkat. Karena tidak perlu banyak bicara, dia merasa tidak perlu terlalu antusias.
Sana menghargai perlakuan yang adil. Dia meniru ekspresi datar Satria, menunduk menekuni laporan dan data, dan menjawab seperlunya.
Satria tidak terlalu memperhatikan reaksi Sana. Dia tampak terburu-buru. Setelah cepat-cepat mematikan komputer, dia keluar dari ruang sekretaris.
Di mejanya, Sana mendengar pintu lift terbuka dan tertutup. Ekspresi datar yang dia paksakan langsung runtuh. Dia memang tidak pernah bisa menjaga wajah serius terlalu lama.
Untung Satria pergi. Setidaknya mereka tidak perlu saling diam di ruang sekretaris yang dinginnya bikin tidak nyaman. Sana tidak mau Satria membeku di tengah udara panas bulan Juli.
Memikirkan itu, Sana menghela napas lega. Dia menenangkan diri dan melanjutkan pekerjaan, mulai pulih dari suasana hati buruk di hari pertamanya.
Tapi Sana tidak menyangka, orang lain yang bisa mengacaukan suasana hatinya akan masuk ke ruang sekretaris saat itu juga.
※※※
"Dia keluar?"
Raksa masuk ke ruang sekretaris sekitar sepuluh menit setelah Satria pergi.
"Iya, baru saja keluar. Obligasi perusahaan dan pinjaman yayasan yang tersisa dipakai untuk menutup ekuitas pemegang saham yang tersisa..."
Sana menjawab tanpa berpikir panjang, tidak sadar ada yang masuk. Dia sedang tenggelam menganalisis tumpukan ketentuan pinjaman dan menjawab begitu saja.
Apa dia bilang akan ke mana?
Raksa berdiri di tempat Satria tadi. Dia melihat komputer Satria sudah mati, lalu mengetuk meja dengan jari sambil berpikir.
"Tidak." Sana menjawab pertanyaan itu dengan kesal, masih belum sadar siapa yang bicara, dan terus menganalisis data.
Dia memeriksa laporan keuangan Hanggara Group dengan teliti, tapi makin lama makin bingung. Perusahaan ini jelas beroperasi sangat baik. Kenapa ada begitu banyak piutang macet yang janggal?
"Kamu menemukan sesuatu yang aneh?" Melihat Sana sama sekali tidak menyadari kehadirannya, Raksa langsung mendekat dan bicara padanya.
"Minggir, jangan menghalangi cahaya... Ah! Pak Raksa?!"
Cahaya di mejanya tiba-tiba meredup, tertutup bayangan besar. Baru saat itu Sana mendongak dan sadar Raksa berdiri di depannya.
"Saya harus memberimu penghargaan karena kerja kerasmu, atau menghukummu karena kurang waspada?" Raksa tampak berada dalam suasana hati yang baik sambil membolak-balik laporan masalah yang disusun Sana.