"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Siang itu, pintu ruangan Jena diketuk dua kali.
“Masuk,” jawab Jena tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Pintu terbuka. Pak Andika muncul di ambang pintu dengan wajah serius. Meski mereka bekerja di kantor yang sama, kehadiran pria itu di ruangan Jena, bisa di bilang sangat langka. Papanya tidak akan mendatanginya tanpa ada sesuatu yang penting.
“Papa mau bicara.”
Jena menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak itu, karena tak mungkin Papanya datang untuk mengajaknya makan siang bersama.
Pak Andika menarik kursi di depan meja kerja putrinya. “Papa sudah menemukan calon suami untuk kamu.”
Jena langsung mengangkat wajah. “Calon suami?”
“Namanya Angga, anak teman bisnis Papa. Keluarganya baik, pendidikannya bagus, pekerjaannya juga mapan. Dia lulusan S3 di US. Usianya dua tahun di atas kamu. Sama-sama dewasa, mapan, sepertinya sangat cocok."
Jena terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil karena tidak percaya. “Papa serius?”
“Papa tidak pernah bercanda soal masa depan kamu.”
“Aku nggak mau menikah.” Jawaban itu meluncur begitu saja.
Pak Andika membuang nafas kasar. "Ayolah Jen, kamu bukan anak kecil lagi. Mau nunggu apa lagi?"
“Gak nunggu apa-apa, tapi karena aku memang tidak mau. Sesederhana itu.”
“Jena, umur kamu sudah—”
“Papa,” potong Jena cepat. "Aku tahu umurku, jadi gak usah disebutin. Aku juga tahu bagaimana caranya mengatur hidupku sendiri, jadi Papa tak perlu sibuk ngurusin hidupku."
Pak Andika menghela napas panjang. “Papa cuma ingin kamu punya keluarga.”
“Aku sudah punya keluarga kok, Pah, walau isinya cuma aku dan Mama."
"Jena!" Andika meninggikan suara.
"Emang ada yang salah? Coba katakan kalau iya, dimana salahnya?" Jena tersenyum simpul. "Apa pernah, dalam satu minggu, Papa 3 atau 4 hari di rumah? Paling banyak cuma dua hari, Pah. Itu pun akhir-akhir ini. Dulu, bahkan Papa bisa hanya pulang sehari dalam dua minggu." Ia tersenyum getir. Masa-masa berat dan menyakiti itu sudah lewat, tapi ia tak bisa lupa.
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Andika menatap putrinya cukup lama, ada rasa bersalah di sorot matanya. Kalimat itu memang menyakitkan karena ada benarnya.
“Aku bahkan sempat merasa, udah gak punya Papa,” lanjut Jena, suaranya lebih pelan. “Tapi sekarang, Papa tiba-tiba datang dan meminta aku menikah dengan orang yang bahkan belum pernah aku kenal. Pah, Papa gak berhak ngatur hidup aku."
Pak Andika menarik nafas dalam, kedua tangannya mencengkeram pinggiran kursi. Ia tahu seperti apa watak Jena, hampir mirip dengannya, keras. “Angga laki-laki baik.” Ia mencoba bicara lebih santai, lebih pelan.
“Aku tidak peduli dia baik atau tidak." Jena kembali fokus pada laptopnya. "Lagian aku gak cinta sama dia."
“Cinta bisa tumbuh setelah menikah.”
Jena menggeleng. “Aku nggak mau mempertaruhkan hidupku dengan kalimat seperti itu, karena gak selalu kayak gitu."
Pak Andika bersandar di kursinya. Ada satu alasan lain yang sejak tadi sebenarnya ingin ia sampaikan.
“Jen, Papa ingin punya cucu laki-laki.”
Jena mengalihkan pandangan dari laptop menuju Papanya, menatap tak percaya.“Jadi itu alasannya?” Ia menghela nafas panjang, selalu itu. Dulu nikah lagi, alasannya itu, sekarang nyuruh dia nikah, juga itu alasannya. Muak.
“Papa sudah dua kali menikah." Pak Andika menghela nafas berat. “Tiga anak Papa semuanya perempuan. Papa ingin sekali punya keturunan laki-laki."
Jena hampir tidak percaya mendengarnya. “Jadi Papa memilihkan suami untukku cuma karena ingin cucu laki-laki?”
“Bukan cuma itu, tapi itu salah satu alasannya. Mama kamu ngadu ke Papa, khawatir kamu belum menikah sampai sekarang."
Jena menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kenapa Mama khawatir? Aku baik-baik saja.”
“Namanya juga orang tua, khawatir dengan anaknya. Orang tua gak akan selalu hidup, selalu mendampingi kamu. Kami sebagai orang tua, akan lebih tenang kalau kamu sudah punya pasangan hidup."
"Hahaha, lucu." Jena malah ngakak. "Andai saja Nenek dan Kakek masih hidup, alih-alih tenang anaknya punya pendamping, yang ada mereka menyesal telah menikahkan Mama dan Papa, mending putri mereka single seumur hidup daripada setiap hari disakiti."
Andika menelan ludah susah payah, selalu saja ada cara Jena membalikkan ucapannya.
“Kalau masalahnya soal keturunan laki-laki, kenapa gak Papa saja yang menikah lagi?"
Pak Andika langsung menatap putrinya. “Apa? Gila kamu!"
Jena mendadak terdiam, sebuah ide gila baru saja muncul di kepalanya. Matanya perlahan menyipit, kemudian sudut bibirnya terangkat.
“Pah…”
“Apa lagi?”
“Aku punya teman.”
Pak Andika mulai curiga. “Teman apa?”
“Dia janda, punya satu anak. Suaminya sudah meninggal.”
Pak Andika mengerutkan dahi. “Terus?”
“Cantik, masih muda.”
“Jena…”
“Masih seumuran aku.”
“Jangan aneh-aneh kamu!" Andika mulai tak nyaman.
Jena justru semakin santai. “Kenapa Papa gak menikah aja dengannya. Hitung-hitung Papa membantu menghidupi anak yatim. Gede loh Pah pahalanya. Siapa tahu karena kebaikan Papa, Allah langsung menghadiahi anak laki-laki buat Papa."
“Jangan gila kamu!” Pak Andika memijat pelipisnya, kepalanya mendadak pusing. Dia kesini untuk menyuruh Jena nikah, kenapa jadi dia yang disuruh nikah. “Papa sudah cukup gila dengan punya dua istri!”
Jena menahan tawa, dalam hati bersorak gembira. Rasain, mampus!
“Papa sedang menyuruh kamu menikah, bukan sedang mencari istri ketiga!” Andika mendengus.
“Jena cuma ngasih solusi, Pah."
“Beda urusan!”
“Kenapa beda?”
Pak Andika menatap Jena tak percaya. Sementara Jena kini malah semakin bersemangat.
“Kayak lirik lagu. Kalau istri tua merajuk, balik ke rumah istri muda. Kalau dua-duanya merajuk, ana kawin tiga." Habis nyanyi, Jena ngakak brutal.
“Jena!” Andika melotot.
Jena masih saja terkikik. “Lagian dalam agama boleh punya istri sampai 4, Papa kan baru punya dua. Masih ada kesempatan. Kali ini, Jena restuin Papa nikah lagi. Mama kayaknya juga ngrestuin. Mama sayang sama anaknya Aline, sering nitip duit, katanya sedekah anak yatim. Pah, Rasulullah kalau nikah lagi, tujuannya juga buat bantu kayak gini, nikahin janda, bukan malah nikahin LC kayak Papa." Ia memutar kedua bola matanya malas.
“Cukup! Papa menyuruh kamu menikah, kenapa sekarang malah Papa yang disuruh menikah?!”
Jena menunduk, menahan tawa agar tak kembali lepas. Belum apa-apa, dia sudah membayangkan wajah Juwita, istri kedua Papanya itu. Dia pasti tantrum kalau suaminya menikah lagi. Tapi...setidaknya itu balasan yang setimpal, agar dia tahu bagaimana perasaan Mamanya dulu. Siapa tahu nanti Papanya bucin sama Aline, terus nyeraiin Juwita.
“Makanya, Pah. Jangan terlalu ikut campur urusan jodoh anak. Pakai nyuruh aku nikah, Papa sendiri gak mau disuruh nikah lagi."
Pak Andika menggeleng-gelengkan kepala. “Anak macam apa kamu ini?”
Jena tersenyum puas. “Anak Papa, yang kata orang, wajah dan sifatnya, sama persis kayak Papa. Udah deh, mending Papa keluar, Jena banyak kerjaan. Papa bilang, 6 tahun lagi mau pensiun, yang otomatis, semua kerjaan jatuh ke Jena, gak mungkinkan, ke adik tiri Jena yang bahkan namanya gak tercatat sebagai anak Papa di KK? Yang bener emang Papa nikah lagi, nikmati masa tua sama istri muda. Bayangin dulu Pah, pasti enak."
Pak Andika mendengus, lalu berdiri. “Sudah. Papa tidak mau debat lagi.”
Jena menyandarkan punggung, menyilangkan tangan di dada. “Bagus.”
“Sabtu nanti, ikut Papa dinner."
Jena langsung menegakkan badan, menatapnya curiga. “Dinner?"
“Papa mau memperkenalkan kamu dengan Angga.”
“Pah…” Jena langsung teriak. Ah, ternyata dia salah, kirain tadi Papanya sudah nyerah.
“Tidak ada penolakan. Kamu datang, duduk, ngobrol. Setelah itu terserah kamu.”
Jena mendengus. “Kalau aku tetap nggak mau?”
“Kalau kamu tidak cocok dengan Angga…” Pak Andika berhenti sejenak. “Kamu bisa menikah dengan Dion.”
“Dion?" Nama itu terasa seperti sesuatu yang pernah ia dengar. “Dion… keponakannya Juwita?”
Pak Andika mengangguk santai. “Iya, kenapa?"
Jena langsung membelalakkan mata.
Pak Andika justru terlihat semakin yakin dengan pilihannya. “Dia anaknya pekerja keras. Rajin, ulet, sabar. Papa sudah mengenalnya cukup lama. Menurut Papa, dia cocok untuk kamu.”
Jena langsung menggeleng keras. “Tidak! Sampai mati pun aku gak akan mau. Amit-amit aku masuk ke dalam keluarga pelakor itu. Najis!"
“Jena!”
“Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang masih satu keluarga dengan pelakor!"Jena mengepalkan kedua telapak tangan.
"Jadi kalau memang seperti itu, pilihannya hanya tinggal Angga. Sabtu malam kamu harus datang, titik!"
Jena mendengus.
Andika memundurkan kursi, lalu melangkah menuju pintu.
"Pah!" panggil Jena sebelum Papanya sempat keluar. "Ok, aku mau nikah, tapi syaratnya, Papa juga harus nikah lagi. Kita nikah bareng!"
"Ngawur!" Andika menarik gagang pintu, lalu keluar.
bukan karena cerita orang lain tapi dia mengalami sendiri, dan melihat ibunya tersakiti karena perbuatan bapaknya😭
G bakal selingkuh karena dia udah lama suka sama kamu.
Mau g yah si Jenna????