NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 : Es Yang Bisa DiMakan

Perguruan Tianlan kembali diselimuti kabut tipis seolah kejadian menghebohkan malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Atap-atap paviliun masih basah oleh embun, burung-burung kecil mulai beterbangan di antara pepohonan bambu, dan para murid kembali menjalankan kegiatan mereka seperti biasa. Hanya saja, halaman utama perguruan masih memiliki beberapa bagian yang tertutup lapisan es akibat kekuatan Shen Rui yang sama sekali belum bisa dikendalikan.

Di salah satu paviliun belakang, Shen Rui duduk bersila di depan baskom kayu sambil menatap air dengan wajah serius. Di sampingnya, Shen Yuan sedang membaca kitab mengenai dasar-dasar pengendalian energi spiritual. Sejak pagi, Yuan sudah membaca hampir separuh kitab tersebut, sedangkan Rui belum berhasil melakukan apa pun selain menguap sebanyak tujuh kali.

“Yuan,” panggil Rui akhirnya.

“Hmm.”

“Kalau air ini kubekukan, bisa dimakan tidak?”

Tangan Yuan yang sedang membalik halaman berhenti.

Ia perlahan menurunkan kitabnya dan menatap adiknya.

“Apa?”

Rui menunjuk baskom di depannya. “Aku kepikiran sesuatu.”

“Itu biasanya pertanda buruk.”

“Aku sedang belajar elemen es.”

“Kau bahkan belum berhasil mengendalikannya.”

“Justru itu. Kalau berhasil, kita bisa membuat makanan.”

Yuan menatapnya selama beberapa detik, kemudian kembali membaca.

“Lakukan sesukamu.”

Rui tersenyum puas. “Nah, itu baru kakak yang mendukung.”

“Aku tidak mendukung.”

“Terlambat.”

Rui mengangkat kedua tangannya di atas baskom. Ia memejamkan mata dengan sangat serius, menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba mengingat apa yang dilakukan tetua perguruan malam sebelumnya. Energi spiritual seharusnya mengalir dari pusat tubuh menuju telapak tangan, kemudian diarahkan sesuai kehendak penggunanya.

Setidaknya begitu yang tertulis di kitab.

Masalahnya, Rui hanya membaca dua halaman.

Dan dua halaman itu pun tidak selesai karena ia mengantuk.

“Salju...” gumamnya sambil berkonsentrasi. “Aku ingin salju.”

Tidak terjadi apa-apa.

Rui membuka satu mata.

“Kenapa tidak keluar?”

Yuan masih membaca. “Mungkin elemenmu sedang malas.”

Rui langsung menoleh. “Elemen juga bisa malas?”

“Kalau mengikuti pemiliknya, mungkin.”

Rui terdiam.

“Yuan.”

“Apa?”

“Barusan kau mengejekku?”

“Tidak.”

“Jelas-jelas iya.”

“Kalau kau merasa tersinggung, berarti kau sadar.”

Rui mendengus, kemudian kembali berkonsentrasi. Kali ini ia mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya. Rambutnya mulai berantakan tertiup angin dingin yang muncul entah dari mana. Permukaan air di baskom perlahan membeku, mula-mula hanya bagian tengah, kemudian menyebar ke seluruh permukaan.

Mata Rui langsung berbinar.

“Berhasil!”

Yuan menutup kitabnya.

“Jangan terlalu senang.”

“Kenapa?”

“Lihat tanganmu.”

Rui menunduk.

Jari-jarinya sudah membeku.

“...Oh.”

“Berhenti.”

“Aku tidak tahu caranya.”

“Rui.”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Yuan segera berdiri dan mencoba membantu, tetapi sebelum sempat melakukan apa pun, lapisan es di dalam baskom tiba-tiba pecah. Potongan-potongan es kecil melayang ke udara seperti kristal, kemudian jatuh kembali ke dalam baskom.

Rui memandangi semuanya dengan kagum.

“Cantik.”

Yuan mengangguk pelan.

“Ya.”

Rui mengambil salah satu potongan es dengan kedua jarinya.

Kemudian ia memasukkannya ke mulut.

Yuan langsung menatapnya.

“Kau melakukan apa?”

Rui mengunyah.

“Kriuk.”

“...”

“Kriuk.”

“Rui.”

“Hmm?”

“Kenapa kau makan itu?”

Rui mengangkat bahu. “Kan es.”

“Itu bukan makanan.”

“Belum tentu.”

Yuan menghela napas.

Namun beberapa detik kemudian, Rui mengambil mangkuk kecil, menaruh beberapa potongan es di dalamnya, lalu menambahkan buah yang kebetulan tersedia di meja.

Ia menatap hasil karyanya dengan bangga.

“Lihat.”

Yuan menatap mangkuk tersebut.

“Apa itu?”

“Makanan.”

“Namanya?”

Rui berpikir cukup lama.

“Es buah.”

Yuan memijat pelipisnya.

“Itu memang nama makanan.”

Rui langsung tersenyum. “Berarti aku jenius.”

“Kau membekukan air.”

“Tapi airnya jadi makanan.”

“Tidak.”

“Sudah jelas iya.”

“Tidak.”

“Yuan.”

“Tidak.”

Rui mengambil sendok.

“Kalau aku makan dan tidak mati, berarti benar.”

Ia menyendok es tersebut lalu memasukkannya ke mulut.

Matanya langsung membesar.

“Enak!”

Yuan menatapnya tanpa ekspresi.

Rui segera mengambil mangkuk lain dan membuat porsi kedua. Kali ini ia menambahkan lebih banyak buah, sedikit madu, dan entah dari mana mendapatkan bunga kecil berwarna putih.

“Ini lebih bagus.”

“Dari mana kau mendapatkan madu?”

“Dapur.”

“Kau mengambilnya?”

“Meminjam.”

“Tanpa izin?”

Rui terdiam.

“...Aku lupa.”

Yuan baru hendak mengatakan sesuatu ketika suara langkah kaki terdengar dari luar paviliun.

lagi-lagi gadis yang sama itu datang.

Usianya sebaya dengan mereka, kini dia mengenakan jubah murid berwarna putih kebiruan. Rambut panjangnya diikat sederhana, tetapi wajahnya memiliki ekspresi polos yang membuatnya terlihat seperti orang yang bahkan tidak akan curiga jika ada ular tidur di dalam tasnya.

Ia menatap Rui.

Kemudian menatap mangkuk.

Kemudian menatap Yuan.

“Boleh makan?”

Rui langsung mengangguk.

“Boleh.”

Yuan menoleh tajam.

“Rui.”

“Apa?”

“Itu makanan buat kita.”

“Kan masih banyak.”

Gadis itu duduk begitu saja di samping Rui tanpa merasa sungkan.

“Terima kasih.”

Rui menyerahkan mangkuk kepadanya.

Gadis itu mencicipi satu sendok.

Matanya berbinar.

“Enak.”

Rui tersenyum bangga.

“Aku yang buat.”

“Hebat.”

Yuan menatap keduanya.

Ia mulai merasa ada sesuatu yang salah.

Dua orang paling merepotkan di perguruan ternyata baru saja bertemu.

Dan mereka tampaknya langsung cocok.

“Namaku Lin Yue,” kata gadis itu dengan polos.

“Shen Rui.”

“Shen Yuan.”

Lin Yue mengangguk.

Kemudian ia menunjuk tangan Rui yang masih mengeluarkan hawa dingin.

“Bisa buat lagi?”

Rui langsung mengangguk.

“Bisa.”

Yuan berdiri.

“Jangan.”

Namun terlambat.

Rui sudah mengangkat tangannya.

Cahaya biru muncul.

Angin dingin berputar.

Lin Yue mendekat karena penasaran.

“Wah...”

“Jangan terlalu dekat,” ujar Yuan.

Rui mencoba mengendalikan kekuatannya seperti sebelumnya. Kali ini ia berhasil membuat kepingan es kecil berbentuk bunga.

Ia tersenyum lebar.

“Lihat!”

Lin Yue ikut tersenyum.

Namun sesaat kemudian, sebuah suara retakan terdengar dari atas.

Keduanya mendongak.

Sebuah bongkahan es besar jatuh dari atap.

“Eh?”

BOOM!

Ketiga orang itu terdiam.

Rui menatap bongkahan es tersebut.

Lin Yue juga menatapnya.

Yuan menutup mata.

“Aku sudah bilang jangan.”

Rui menggaruk kepalanya.

“Setidaknya sekarang ada es lebih banyak.”

Lin Yue mengangguk polos.

“Benar.”

Yuan menatap mereka berdua dengan tatapan kosong.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke Perguruan Tianlan, ia menyadari bahwa masalah terbesar dalam hidupnya mungkin bukan makhluk gaib.

Melainkan dua orang bodoh yang kebetulan sangat menyukai es.

Dan tepat ketika Rui hendak mengambil bongkahan es itu untuk dijadikan makanan, suara raungan terdengar dari kejauhan.

Lin Yue terkejut.

Matanya membesar.

“Apa itu?”

Rui juga menoleh.

“Entahlah.”

Raungan kedua terdengar lebih dekat.

Lin Yue langsung pucat.

“Aku takut.”

Rui menatapnya.

“Kau takut?”

Lin Yue mengangguk.

Kemudian, tanpa peringatan, tubuhnya langsung limbung.

Bruk.

Ia pingsan.

Rui membeku.

Yuan juga terdiam.

Mereka berdua menatap Lin Yue yang sudah tergeletak di lantai.

Rui berkedip.

“Dia pingsan.”

“Aku melihatnya.”

“Cepat juga.”

“Rui.”

“Hmm?”

“Jangan bilang apa-apa.”

Rui mengangguk.

Namun setelah beberapa detik, ia berbisik pelan.

“Dia lucu.”

Yuan menatapnya tajam.

“Diam.”

***

Like yaaaaa aku tungguin di gentengggg

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!