NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33: Lestari Ikut Bersama Kami

Setelah perdebatan cukup panjang, Lestari akhirnya tetap ikut bersama kami. Ia duduk di bangku belakang mobil.

Aku menyetir, kedua tanganku mencengkeram setir lebih erat dari biasa. Jefry duduk di sebelahku, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.

Suara radio terdengar dengan volume kecil, seperti backsound di tengah keheningan.

Keputusan ini akhirnya diambil dengan beberapa pertimbangan. Aku masih teringat bagaimana Jeje melarang keras, “Kamu ngapain sih ikut campur?”

“Aku cuma mau bantu, masa nggak boleh?” dalihnya.

Jeje kemudian menyinggung soal tanggung jawab Lestari di restoran tidak bisa ditinggalkan.

Tapi rupanya Lestari sudah mempersiapkan rencana ini dengan matang. “Aku udah bilang kok ke Bu Sully, beliau mengizinkan. Malah dia sangat setuju sama keputusanku ini.”

Wajahnya terlihat sangat serius. Hingga membuat aku heran, kenapa ia seperti terlalu memaksakan keinginan untuk ikut.

“Pokoknya aku nggak izinin. Kamu di sini aja, biarkan mereka urus masalahnya sendiri. Kamu nggak perlu terlibat,” tegas Jeje.

Namun sayang Lestari tidak bergeming. Ia tetap pada pendirian.

Alasan yang diucapkan Lestari mulai terdengar masuk akal, ia ingin membantu Shinta.

Kami semua laki-laki.

Ada hal-hal terlalu sensitif. Perawatan tertentu, tidak pantas, atau tak nyaman, jika dilakukan oleh kami. Kehadiran Lestari terasa logis.

Itulah kenapa kami sepakat menyetujui, begitu juga dengan Jefry.

Tapi sejak mobil melaju meninggalkan restoran, sesuatu terasa janggal, seakan ada yang tidak beres.

Aku sesekali melihat ke kaca spion.

Lestari duduk tegak, kedua tangan di pangkuan. Mata menatap lurus kedepan, bukan ke luar jendela. Aku tidak melihat ada ekspresi di wajahnya.

“Nuhun ya, Teh. Udah mau ikut bantuin kita,” sapaku sopan.

Menoleh pelan, Lestari hanya merespon dengan senyum tipis. Jefry tetap diam seperti tak ingin terlibat dalam percakapan.

Mobil terus melaju, semakin dekat ke rumah sakit.

Pikiranku kembali melayang. Aku meyakini ada alasan lain kenapa Lestari memaksa untuk ikut.

Rahasia yang hanya diketahui olehnya.

Tapi aku berusaha tetap berpikir positif. Kalaupun benar ada maksud lain, aku percaya itu adalah hal baik bagi kami.

Setiba di rumah sakit, kami berjalan cepat menuju ruangan Shinta. Lorong terlihat ramai seperti biasa. Suasana bersih yang hanya bisa kita temukan di rumah sakit.

Begitu pintu dibuka, Lestari melangkah lebih dulu. Hendra terkejut karena kedatangan Lestari.

Tanpa aba-aba, ia mendekati ranjang Shinta, berdiri tepat di sisi kepala. Aku, Jefry, dan Hendra berhenti beberapa langkah di belakang, seperti ada garis tak kasatmata melarang kami mendekat.

Lestari mengangkat salah satu tangannya.

Dua jari telunjuk dan tengah menempel di dahi Shinta, tepat di antara alis.

Aku memperhatikan seksama.

Ada sesuatu dengan cara ia berdiri. Terlalu fokus, seakan tenggelam bersama Shinta yang masih belum sadar.

Matanya terpejam, alis mulai mengernyit, seperti sedang menahan tekanan dari arah tak mampu kami lihat. Bibir bergerak, mengucapkan kata-kata tak terdengar jelas. Bukan doa yang ku kenal. Ia menggunakan bahasa tidak bisa ku mengerti.

Kami hanya bisa saling pandang. Hendra berbisik, “Dia ngapain?”

Aku menggeleng pelan. Jefry mendekat, berdiri tepat di belakangnya.

Beberapa saat telah lewat. Lalu, darah menetes.

Awalnya hanya sedikit warna merah terlihat di bawah hidung Lestari. Tapi kemudian mengalir lebih deras.

Ia mimisan.

“Teh?” ucapku pelan memanggil namanya.

Lestari tidak bergerak. Tangan tetap menempel di dahi Shinta dengan mata masih terpejam.

Detik selanjutnya, Lestari tiba-tiba terpental ke belakang.

Lestari menghantam Jefry dengan keras hingga keduanya hampir jatuh.

Ruangan mendadak riuh oleh suara langkah kami, berseru panik.

Nafas Lestari memburu, darah masih mengalir dari hidung hingga membasahi bibir. Ia langsung mengusapnya kasar, lalu berusaha berdiri tegak dengan susah payah.

“Jangan lama-lama,” kata Lestari lemah, suara serak, tapi tersirat sebuah keharusan tak terbantah. “Kondisi Shinta sudah.. parah.”

Jefry refleks merespons, “Maksudnya?”

“Waktu dia nggak banyak, kita harus segera,” jawab Lestari, menatap kami satu per-satu. “Cepat bawa dia ke apartemen kemarin.”

Kami semua terpaku dengan ucapan Lestari.

“Ayo cepat! Urus kepulangan dia!,” lanjutnya. “Sekarang!”

“O-oke,” Jefry tersadar dari lamunan.

Aku diminta untuk segera mengurus administrasi rumah sakit, sedangkan Hendra disuruh agar mengambil kursi roda.

Tidak ada yang membantah.

Walaupun masih bingung, tapi tak tahu kenapa, kami langsung menuruti arahan Lestari. Mungkin karena apapun yang barusan kami lihat sudah melampaui logika.

Proses administrasi berjalan cepat. Aku bahkan tidak perlu mengantri.

Begitu nama Damar disebut oleh perawat, para staf rumah sakit memproses dengan nada hormat. Semua biaya telah ditanggung, tanpa ada banyak pertanyaan.

Aku hanya diminta menandatangani beberapa dokumen pertanggungjawaban saja.

Tak butuh waktu lama, Shinta sudah berada di atas kursi roda. Jefry mendorong dibantu oleh Lestari memegangi kepala Shinta. Aku juga ikut bantu menahan pundaknya.

Sedangkan Hendra mengambil mobil untuk standby di lobi rumah sakit.

Ketika Shinta didorong keluar, satu pikiran langsung menguasai pikiranku. Kami tidak sedang memulangkan orang sakit.

Kami sedang mengantar sesuatu, kembali ke tempat asalnya.

Hendra menurunkan kami di lobi apartemen Spring Town. Mesin mobil masih hidup ketika Jefry akan membopong tubuh Shinta turun.

“Pelan-pelan, Bang” ucap Hendra mengingatkan.

Aku membantu agar Jefry bisa menurunkan Shinta dari mobil.

Shinta terlihat gontai, untung saja karena badan yang kecil membuat Jefry mudah mengangkatnya.

“Gua parkir mobil dulu ya,” kata Hendra setelah aku menutup pintu usai Jefry berhasil menggendong Shinta dengan kedua tangan.

Tanpa menunggu lagi, Hendra menancap gas mobil untuk parkir di area basement apartemen.

Lestari sudah turun lebih dulu tengah menatap sekeliling lobi dengan wajah murung. Sorot mata bukan seperti orang baru datang, melainkan seperti seseorang yang mengenang.

Aku menangkap sesuatu di ekspresinya.

Kesedihan.

Seakan ia tahu betul bagaimana tempat ini pernah menjadi saksi pembantaian. Bagaimana jeritan pernah terjebak di antara lantai-lantai beton ini, lalu membusuk bersama waktu.

“Kenapa, Teh?” tanyaku penasaran.

Lestari hanya menggelengkan kepala. Mungkin ia tidak mau memberitahu.

Bersama Lestari, aku dan Jefry membawa Shinta masuk ke dalam lobi. Langkah kami cepat, nyaris tergesa. Beberapa orang lewat menatap dengan heran.

“Permisi,” kataku memecah keheningan sempat tercipta walau sesaat.

Mereka tersenyum tipis, antara mau dan tidak.

Saat ini kami sudah berada di depan lift. Tak lama, pintu terbuka disertai bunyi dengung berat.

Tapi belum sempat masuk, aku melihat seseorang yang sedang berlari dari lobi.

Dayat.

Ia berhenti, menatap kami dari kejauhan. Wajahnya seperti tidak percaya bahwa kami kembali lagi. Seragam sekuriti yang digunakan tampak kusut.

Tatapan Dayat beralih tertuju pada Shinta, lalu pada Lestari.

Dan terakhir menatapku.

Entah apa yang kini sedang ia pikirkan. Dayat tidak berkata apapun, hanya berdiri disana.

Aku mengangguk pelan ke arahnya, Dayat tak membalas.

Ia hanya terus menatap kami, sampai aku melihat pandangannya kosong, seakan kami bukan orang yang ia kenal.

“Gas, ayo!” kata Jefry, ternyata ia sudah masuk ke dalam lift.

Tidak ada waktu untuk saling sapa, aku melangkahkan kaki sambil kembali menganggukkan kepala ke Dayat meski ia tetap tak merespon.

Pintu mulai menutup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!