"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Manisan untuk Putra Mahkota
Kotak bambu itu masih terbuka di lantai, dan tiga potong manisan kelapa berwarna merah muda tergeletak di sampingnya, separuh tergigit.
Dyah Ayu melihatnya lebih dulu, sebelum ia melihat anak itu. Kotak anyaman bambu kecil, diikat dengan pita kain hijau, dengan secarik lontar terselip di bawah pitanya. Tulisan di lontar itu rapi, aksara Kawi yang dibuat dengan hati-hati.
Dari Paviliun Srigading, untuk Raden Anom. Tanda damai.
Ia tidak pernah mengirim apa pun kepada Putra Mahkota.
***
Bilik Raden Anom berada di sayap barat Kedaton Dalam, dua lorong dari bilik tempat Tabib Keraton merawat lengan Dyah Ayu sejak siang. Ia mendengar jeritan pengasuh itu ketika tabib baru saja selesai membalut bilur-bilur rengas di lengannya dengan daun pisang dan minyak kelapa.
Tabib itu berlari lebih dulu. Dyah Ayu menyusul di belakangnya, dengan balutan yang belum diikat.
Anak lelaki itu terbaring di atas kasur kecil berlapis sutra biru. Tubuhnya yang mungil kaku, punggungnya melengkung, dan kedua tangannya mencakar udara. Wajahnya merah padam. Pengasuhnya, perempuan setengah baya berwajah bulat, berlutut di samping kasur sambil menangis dan memanggil-manggil namanya.
Tabib Keraton menahan bahu anak itu ke kasur. Tangannya gemetar.
"Kejangnya sudah berapa lama?"
"Sejak ia selesai makan manisan," isak pengasuh itu. "Mula-mula ia tertawa-tawa sendiri. Katanya ada kupu-kupu besar di langit-langit. Lalu ia mulai menggaruk lehernya. Lalu..."
Dyah Ayu berlutut di sisi lain kasur. Ia menyibak rambut anak itu dari dahinya. Kulitnya panas dan kering seperti tanah kemarau. Ia membuka kelopak mata kiri anak itu dengan ujung ibu jarinya.
Bulatan hitam di tengah matanya melebar hampir menutupi seluruh bagian yang berwarna. Mata itu tidak fokus. Bergerak ke sana kemari, mengejar sesuatu yang tidak ada.
Ia menyentuh bibir anak itu. Kering, pecah. Lidahnya tebal.
Di bawah bau manisan kelapa dan gula aren di napas anak itu, ada sesuatu yang lain. Samar, pahit, apak.
Ia mengenalnya. Ia sudah menciumnya di asap dupa pelataran candi, di dasar padupan perunggu, di jarum-jarum tembaga yang ia gosok dengan abu sekam di Srigading.
"Kecubung," ucapnya.
***
Pintu bilik terbanting ke dinding sebelum Tabib Keraton sempat menjawab.
Gusti Prabaswari berdiri di ambang pintu. Ia tidak mengenakan mahkota, tidak mengenakan perhiasan. Rambutnya setengah terlepas dari gelungnya, dan kain sutra putihnya kusut, seolah ia berlari dari Paviliun Permaisuri melintasi seluruh Keputren tanpa berhenti. Di belakangnya, Nyi Ageng Rukmi dan empat Prajurit Estri dengan belati terhunus. Dua penjaga Sayap Dalam berdiri di belakang mereka, ragu, tidak tahu harus menahan siapa.
Mata Permaisuri melihat anak di atas kasur. Lalu kotak bambu di lantai. Lalu lontar kecil di bawah pitanya.
Lalu Dyah Ayu, yang berlutut di samping putranya.
"Jauhkan dia." Suaranya keluar sebagai desisan, hampir tanpa suara. Lalu meledak. "Jauhkan dia dari anakku!"
Dua Prajurit Estri melangkah maju.
"Kalau mereka menyentuhku," ucap Dyah Ayu tanpa mengangkat wajahnya dari anak itu, "putra Gusti akan berhenti bernapas sebelum mereka sempat menyeretku sampai ke pintu."
Kedua prajurit itu berhenti. Mereka menoleh ke arah Permaisuri.
Prabaswari menatap Dyah Ayu. Dadanya naik-turun dengan cepat di balik kain sutra. Wajahnya putih, matanya merah, dan untuk pertama kalinya Dyah Ayu tidak bisa membaca apa pun di wajah itu selain ketakutan seorang ibu.
"Kau mengirim manisan itu."
"Hamba tidak mengirim apa pun. Gusti bisa memenggal hamba besok pagi kalau Gusti mau." Dyah Ayu menoleh ke arah pengasuh yang masih berlutut di samping kasur. "Arang. Arang kayu dari tungku dapur, yang paling halus, tumbuk sampai seperti tepung. Dan air kelapa hijau, sebanyak yang bisa kau bawa. Lari."
Pengasuh itu tidak bergerak. Ia menatap Permaisuri, menunggu.
Prabaswari tidak menjawab. Ia berdiri di ambang pintu, tangannya mencengkeram kusen sampai kukunya menggores kayu.
Di atas kasur, tubuh Raden Anom mengejang lagi. Lebih keras. Kepalanya terdorong ke belakang, dan dari mulutnya keluar bunyi yang tidak seharusnya keluar dari tenggorokan seorang anak.
"Lari!" bentak Prabaswari kepada pengasuh itu.
Perempuan itu melesat keluar.
***
Ada kendil berisi air garam di sudut bilik, sisa dari pengasuh yang membersihkan luka lutut anak itu kemarin sore. Dyah Ayu menyambarnya.
"Tahan kakinya."
Tabib Keraton menahan bahu. Dyah Ayu menyangga kepala anak itu di pangkuannya, memiringkannya ke samping. Lalu ia menoleh ke ambang pintu.
"Gusti. Tahan kakinya. Kalau ia menendang saat hamba menuangkan ini, ia akan tersedak."
Prabaswari menatapnya sejenak. Lalu ia melepaskan kusen pintu dan berlari ke kasur. Ia berlutut di ujungnya dan mencengkeram kedua pergelangan kaki putranya. Kain sutranya yang putih kusut terhampar di lantai di sekitarnya.
Dyah Ayu menuangkan air garam ke mulut anak itu. Sedikit demi sedikit, menekan dagunya, memaksa tenggorokan kecil itu menelan. Raden Anom tersedak, terbatuk, separuh air itu meleleh keluar dari sudut bibirnya.
Lagi.
Anak itu meronta. Kakinya menendang, dan Prabaswari menahannya dengan seluruh berat tubuhnya, wajahnya menempel di lutut putranya.
Lagi.
Bilur-bilur rengas di lengan Dyah Ayu pecah di bawah balutan yang tidak terikat. Ia merasakan cairan hangat mengalir ke pergelangan tangannya. Ia tidak berhenti.
Lalu tubuh kecil itu melengkung ke depan, dan Raden Anom muntah. Manisan kelapa yang belum tercerna, merah muda dan lengket, tumpah ke lantai di samping kasur bersama air garam. Baunya pahit dan manis sekaligus.
Pengasuh itu kembali dengan napas terengah. Di tangan kanannya, mangkuk tanah liat berisi serbuk hitam halus. Di tangan kirinya, sebutir kelapa hijau yang sudah dilubangi.
Dyah Ayu mengaduk arang ke dalam air kelapa dengan jarinya sendiri sampai cairan itu menjadi kelabu keruh. Ia memaksakannya ke mulut anak itu. Sesendok. Lalu sesendok lagi. Raden Anom muntah sekali lagi, dan sekali lagi, sampai yang keluar hanya air bening bercampur serbuk hitam.
Lalu tubuhnya melemas.
Kejangnya berhenti. Punggungnya yang melengkung jatuh kembali ke kasur. Napasnya masih cepat dan dangkal, tetapi teratur. Kulitnya yang tadi kering mulai lembap oleh keringat.
Tabib Keraton menekan dua jari di leher anak itu. Ia menutup matanya, menghitung. Lalu ia mengangguk.
Prabaswari masih berlutut di ujung kasur, memeluk kaki putranya. Ia tidak bergerak. Bahunya bergetar tanpa suara.
***
Dyah Ayu duduk bersandar di tiang kasur. Lengannya berdenyut, panas, dan basah. Ia menatap lantai, menatap muntahan merah muda dan noda arang di atas papan jati.
Ia melihat pohon kemuning di sisi barat Keputren. Kendil tanah liat kecil yang dikuburkan para brahmana. Asap dupa yang naik lurus ke langit tanpa angin. Ia menutup jendela Srigading pagi itu, dan ia tidak pernah membukanya lagi ke arah barat.
Ia membersihkan jarum-jarum itu. Ia menggosoknya dua kali. Ia tahu itu tidak cukup.
Kali ini, setidaknya, ia sampai tepat waktu.
Sesuatu menyentuh jemarinya yang tergeletak di atas seprai.
Ia menunduk. Tangan kecil yang panas dan lengket menggenggam jari telunjuknya. Raden Anom membuka matanya. Bulatan hitam di tengahnya masih terlalu lebar, tetapi kini mata itu menatap sesuatu. Menatapnya.
"Tanganmu," bisik anak itu. Suaranya serak, kecil. "Tanganmu berdarah."
Dyah Ayu melihat lengannya sendiri. Bilur-bilur rengas yang pecah meninggalkan jejak merah muda di balutan daun pisang.
"Digigit semut api," ucapnya. "Banyak sekali. Semut-semut di Kedaton ini galak."
Anak itu menatap lengannya dengan serius. "Kakek bilang kau penyihir dari timur."
"Kakekmu benar."
Raden Anom berkedip.
"Kalau aku penyihir," lanjut Dyah Ayu, merendahkan suaranya seperti sedang membagi rahasia, "aku sudah menyihir semua manisan di keraton ini supaya rasanya seperti jengkol. Supaya tidak ada anak kecil yang mau memakannya lagi."
Bibir anak itu yang pecah-pecah membuka sedikit. Lalu keluar bunyi kecil dari tenggorokannya. Tawa, lemah, terputus oleh batuk. Ia menggenggam jari Dyah Ayu lebih erat.
"Aku tidak suka jengkol."
"Itu sebabnya sihirnya berhasil."
Anak itu memejamkan matanya. Genggamannya tidak terlepas. Dalam beberapa saat, napasnya memanjang, dan ia tertidur, dengan jemari kecil masih melingkar di jari telunjuk perempuan yang dibenci ibunya.
***
Prabaswari mengangkat wajahnya dari lutut putranya.
Ia menatap tangan anak itu, yang menggenggam jari Dyah Ayu. Ia menatap lengan Dyah Ayu yang berdarah. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada yang keluar. Untuk waktu yang lama, kedua perempuan itu hanya saling menatap dari ujung ke ujung kasur kecil itu, dengan seorang anak yang tertidur di antara mereka.
Dyah Ayu tidak menarik tangannya.
Langkah kaki berat terdengar di lorong. Lurah Lembu Peteng muncul di ambang pintu, napasnya terengah. Di belakangnya, dua prajurit Sayap Dalam menyeret seorang gadis bertubuh kecil dengan kemben biru polos. Tangan gadis itu terikat di belakang punggungnya. Wajahnya basah oleh air mata, dan rambutnya kusut, penuh serpihan lumut.
Sekar.
"Kami menangkapnya di halaman belakang Srigading," ucap Lembu Peteng, tanpa menunggu ditanya. "Ia sudah membuka tutup sumur dan sedang menuruni tali. Ia hampir sampai ke bawah."
Sekar jatuh berlutut di lantai bilik. Matanya menatap anak yang tertidur di atas kasur, lalu kotak bambu di lantai, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat.
"Hamba tidak tahu," isaknya. "Hamba bersumpah, hamba tidak tahu itu untuk Raden. Ia bilang manisan itu untuk Gusti Selir. Ia bilang hamba cukup menaruhnya di dapur Srigading. Lalu seseorang menulis lontar itu dan mengirimkannya ke Kedaton tanpa sepengetahuan hamba."
"Siapa yang memberimu manisan itu?" tanya Lembu Peteng.
Sekar menatap lantai. Lalu ia mengangkat wajahnya. Bukan ke arah Lurah itu. Ke arah Permaisuri.
"Nenek tua yang mengunyah sirih," bisiknya. "Nyai Ganggeng. Ia tidak pernah pulang ke Kawi, Gusti. Sejak malam boneka itu dibuat, ia tidak pernah keluar dari bilik dupa di belakang paviliun Gusti sendiri. Hamba mengantarkan nasi untuknya setiap malam."
Seluruh warna yang tersisa di wajah Prabaswari menghilang.
Ia melepaskan kaki putranya perlahan. Ia berdiri, terhuyung sedikit, dan menatap gadis yang berlutut di lantai itu seolah gadis itu baru saja berbicara dalam bahasa yang tidak ia mengerti.
"Itu tidak mungkin," ucapnya. Suaranya kecil dan datar. "Aku menyuruhnya pulang tujuh hari lalu. Rukmi sendiri yang mengantarnya ke Gerbang Selatan."
Ia menoleh perlahan ke belakang, ke arah perempuan tegap dengan bekas luka di alis yang berdiri di ambang pintu.
Nyi Ageng Rukmi tidak menjawab. Ia menunduk, dan tangannya yang memegang belati turun ke sisi tubuhnya.
"Rukmi," ucap Prabaswari, lebih pelan. "Siapa yang menyuruhmu membawanya kembali?"
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..