Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klien Baru
Pradipta sedang berada di kantor PRADA TRACE. Dia kembali mendapatkan klien yang akan menggunakan jasa PRADA TRACE. Tidak tanggung-tanggung, pria itu mendapat tiga klien sekaligus.
Gilang dan Giana masuk ke dalam bus. Mereka langsung menuju meja rapat. Di sana, Pradipta sudah siap untuk memberi tauh siapa klien mereka kali ini.
“Aku dapat klien lagi. Bukan satu, tapi tiga orang sekaligus,” ujar Pradipta membuka rapat.
“Wow, keren,” ujar Gilang. “Tapi, apa kita bisa ngerjain tiga kasus sekaligus?” tanya Gilang sangsi.
“Kita coba aja dulu. Klien pertama kita, Bu Rini. Anaknya hilang sejak dua minggu yang lalu. Dia udah lapor ke polisi, tapi masih belum ada hasil.
Nama anaknya Alma Yustika, usianya 24 tahun. Alma pemilik salon kecantikan. Selama Alma menghilang, tidak ada telepon dari siapa pun. Itu artinya perempuan itu nggak diculik dengan motif uang.”
Pradipta memperlihatkan foto Alma dan tempat kerjanya. Dia juga memperlihatkan dua orang karyawan Alma, beberapa teman dan pelanggan setia salon kecantikannya.
“Klien kedua, namanya Ibu Nelly. Anaknya bernama Jelita, usianya masih 18 tahun. Anaknya hilang setelah merayakan pesta perpisahan di sekolahnya.
Sampai hari ini, Jelita sudah hilang selama sepuluh hari. Sama seperti kasus Alma, nggak ada telepon atau apa pun. Pasti dia juga bukan korban penculikan untuk uang tebusan.”
Kali ini, Pradipta memperlihatkan foto Jelita, sekolahnya, para guru, dan beberapa temannya. Selain itu, pria itu memperlihatkan foto seorang pria.
“Ini namanya Pak Jeje. Dia adalah ayah Jelita. Bu Nelly dan Pak Jeje sudah bercerai. Kita harus menyelidiki orang ini juga.”
Gilang langsung meminta Prisa dan Jung Kook memperhatikan dengan saksama foto-foto yang ditunjukkan oleh Pradipta.
“Klien ketiga kita namanya Bu Danti. Anaknya hilang sejak empat hari lalu. Namanya Anjani, usianya baru dua puluh tahun.
Anjani nggak pernah pulang ke rumah sejak kerja kelompok dengan teman-temannya. Menurut pengakuan temannya, dia sudah mengantarkan Anjani sampai ke dekat gedung apartemen perempuan itu tinggal.
Tapi ternyata, Anjani nggak pernah sampai ke rumah.”
Gilang dan Giana memperhatikan dengan saksama foto-foto yang diperlihatkan Pradipta. Kasus mereka kali ini sepertinya lebih sulit dari kasus Arga.
“Apa mungkin mereka diculik oleh orang yang sama?”
“Itu masih harus kita selidiki dulu. Aku sudah memetakan tempat tinggal ketiganya.”
Tampilan layar berubah menjadi peta kota Bandung. Pradipta menandai tempat tinggal para perempuan yang menghilang.
Ketiganya tinggal di tempat berbeda, tetapi masih berada dalam satu kecamatan. Jarak dari tempat satu dan tempat lain pun tidak terlalu berjauhan.
“Kalau begini, kemungkinan penculiknya orang yang sama. Lingkup wilayahnya masih satu kecamatan,” ujar Gilang.
“Bisa jadi. Makanya, aku minta Prisa dan Jung Kook mencari ke sekitar lokasi. Siapa tahu teman mereka ada yang melihat saat mereka diculik.”
“Kalian dengar sendiri, kan? Buruan pergi,” perintah Gilang pada dua makhluk astral yang selalu bersamanya.
Tanpa diperintah dua kali, Jung Kook dan Prisa langsung menghilang.
“Gi, seperti biasa, tugas kamu memantau media sosial mereka. Coba lihat apakah ada orang-orang yang berkomentar mencurigakan.”
“Siap,” jawab Giana bersemangat. Gadis itu langsung kembali ke meja kerjanya dan segera mengerjakan tugas yang diberikan Pradipta.
Giana senang sekali diajak bergabung dengan PRADA TRACE. Kegiatan mereka mencari dan melacak orang hilang, sekilas terlihat seperti pekerjaan polisi.
Dulu, Giana bercita-cita menjadi polwan, tetapi sayang, cita-citanya tidak kesampaian karena tinggi badannya tidak mencukupi.
“Lang, kamu coba datangi kediaman ketiga klien kita. Coba kamu tanya orang-orang di sekitar tempat tinggal mereka. Siapa tahu ada informasi yang bisa membantu menemukan mereka.”
“Wokeh. Aku pergi sekarang,” jawab Gilang seraya bangkit dari duduknya.
“Kamu mau bawa mobil?” tawar Pradipta.
“Abang jangan ngeledek. Tuh mobil mau gue dorong?” tanya Gilang dengan kesal. Pradipta hanya terkekeh mendengar jawaban Gilang.
“Makanya gue bilang juga apa, belajar nyetir. Dari dulu gue suruh, susah banget.”
“Nanti kalau kasus ini selesai, gue belajar nyetir,” jawab Gilang seraya keluar dari bus.
Giana yang sedang berkonsentrasi dengan laptopnya terkejut ketika Pradipta sudah berada di sampingnya. Jantungnya berdetak tak karuan saat beradu pandang dengan pria itu.
Namun, seperti biasa, Pradipta hanya bersikap biasa. Pria itu mulai tenggelam dalam pekerjaannya.
***
Gilang menghentikan kendaraannya di depan rumah klien pertama mereka. Setelah membunyikan bel, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu. Setelah Gilang memperkenalkan dirinya, pria itu dipersilakan masuk.
“Jadi, kamu dari PRADA TRACE?” tanya Rini.
“Iya, Bu. Maaf, apa sebelum hilang, Alma pernah punya masalah dengan orang lain?”
“Setahu Ibu, nggak. Dia nggak pernah punya masalah sama siapa pun.”
“Apa Alma punya pacar?” tanya Gilang lagi. Gayanya sudah seperti polisi yang menanyai saksi kejahatan.
“Punya, tapi tinggalnya nggak di Bandung. Ibu juga belum pernah ketemu dengannya, jadi nggak tahu orangnya yang mana.”
“Apa ada yang pernah lihat pacarnya Alma?”
“Kalau nggak salah, pacarnya pernah datang ke salonnya Alma.”
“Salonnya di mana, Bu?”
“Di depan kompleks. Makanya Alma selalu pergi dan pulang jalan kaki. Soalnya jaraknya juga nggak jauh.”
“Oh yang nama salonnya, Alma Beauty Salon, bukan?” Tadi saat sedang menuju rumah Rini, Gilang sempat melihat salon tersebut.
“Iya, itu namanya.”
“Kalau gitu, saya ke sana ya, Bu. Siapa tahu, saya bisa dapat informasi dari pegawainya.”
“Perlu saya antar?”
“Nggak usah, Bu. Saya bukan anak TK yang harus diantar, hehehe ….”
Rini ikutan tertawa mendengar ucapan Gilang. Mungkin ini pertama kalinya ada orang yang bisa membuatnya tertawa. Sejak Alma menghilang, Rini lebih banyak diam dan hanya bermurung saja.
Gilang segera meninggalkan kediaman Rini. Pria itu menjalankan kendaraannya dengan lambat. Dia melihat-lihat jalan menuju kediaman Rini.
Sisi trotoar yang ada di kompleks perumahan ini ditumbuhi pohon besar. Jarak antarlampu penerangan pun cukup jauh. Tidak ada kamera CCTV yang terpasang di sini.
Jadi, kejahatan cukup mungkin terjadi di sini.
Tak berapa lama kemudian, Gilang tiba di salon milik Alma. Keadaan salon itu tampak sepi. Dua pegawainya tampak sedang duduk berbincang.
“Permisi,” ujar Gilang sambil membuka pintu.
Melihat kedatangan Gilang, kedua pegawai itu langsung menghentikan pembicaraan. Keduanya langsung menyambut pengunjung salon itu.
“Siang, Kak. Mau potong rambut, creambath atau perawatan wajah?” tawar salah satu pegawai.
“Eh, nggak.” Gilang langsung mengeluarkan kartu namanya, lalu memberikannya kepada kedua pegawai itu. “Saya ke sini mau tanya-tanya soal Alma.”
“Mbak Alma,” gumam salah satu pegawai. Wajah kedua pegawai itu langsung berubah sendu saat mendengar nama Alma disebut. Mereka seperti anak ayam yang kehilangan induknya sejak Alma menghilang.
“Begini, Mbak. Kata Bu Rini, Alma itu punya pacar dan katanya pacarnya itu pernah ke sini. Apa kalian tahu siapa pacarnya Alma?”
“Tahu, Kak. Namanya Ruben. Dia pernah ke sini dua kali.”
“Belakangnya pakai Onsu, nggak?” kelakar Gilang.
“Kakak bisa aja,” jawab kedua pegawai itu sambil tersenyum.
“Kalian ada fotonya, nggak?” tanya Gilang lagi.
“Ada, Kak. Sebentar, ya.”
Salah satu pegawai langsung mencari foto Ruben. Sambil menunggu foto itu didapat, Gilang berbincang dengan pegawai yang satu lagi.
“Sebelumnya, kamu pernah melihat orang mencurigakan yang berkeliaran di salon ini?”
“Ehm … nggak ada kayaknya, Kak. Tapi … pernah ada kejadian heboh di sini.”
“Kejadian apa?”
“Dua hari sebelum Mbak Alma hilang, dia bilang pernah diikuti laki-laki pas pulang ke rumah. Pas Mbak Alma berbalik, eh laki-laki itu malah nurunin celananya, ngelihatin burungnya.”
***
Nah, sama nih dengan kasus di apartemen Anjani
semoga neng Giana baik baik aja 🙏