NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Rumah Yang Menampung Luka

Pintu rumah Aruna terbuka bahkan sebelum Mira sempat mengetuk untuk kedua kalinya.

Aruna berdiri di sana tanpa banyak kata. Mata mereka bertemu. Dan seperti bendungan yang pecah… Mira langsung memeluknya.

Tangisnya bukan lagi tertahan. Bukan lagi rapi. Tangis itu keluar liar, berat, seperti seseorang yang baru sadar seluruh hidupnya barusan runtuh.

“Aku pulang… tapi bukan karena menang…” suara Mira terputus di bahu Aruna. “Aku pulang karena nggak punya apa-apa lagi…”

Aruna memeluk lebih erat. Tangannya mengusap punggung sahabatnya pelan.

“Nggak apa-apa… kalau semua hancur… mulai aja dari sini lagi.”

Kalimat sederhana itu justru membuat Mira menangis lebih keras.

Di belakang mereka, tiga pasang mata kecil mengintip dari ruang tengah.

Anak kembar tiga Aruna berdiri berjejer seperti pasukan kecil yang bingung harus melakukan apa saat melihat orang dewasa menangis.

Anak perempuan yang paling lembut hatinya mendekat duluan. Ia menarik ujung baju Mira pelan.

“Tante… sakit ya?”

Pertanyaan polos itu menembus pertahanan terakhir Mira.

Ia berlutut, memeluk anak kecil itu tanpa bicara. Tangisnya kembali pecah… tapi kali ini berbeda. Lebih hangat. Lebih manusia.

“Aku nggak apa-apa…” bisiknya, walau suaranya penuh luka.

Aruna menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ada sesuatu yang perih… sekaligus indah. Dua orang yang sama-sama pernah ditinggalkan… saling menemukan tempat bertahan.

Malam itu mereka makan bersama. Tapi tidak ada yang benar-benar makan.

Mira duduk di meja dengan tangan menggenggam sendok… tapi tak bergerak. Tatapannya kosong ke piring.

Aruna duduk di depannya.

“Mir…” suaranya pelan.

Mira tersenyum tipis tanpa menatap. “Aku gagal ya…”

Aruna langsung menggeleng. “Jangan bilang gitu.”

“Aku ninggalin semuanya dulu demi dia,” lanjut Mira lirih. “Aku percaya dia rumah. Aku percaya aku dicintai.”

Sunyi memenuhi ruang makan.

“Ternyata aku cuma… pilihan sementara.”

Kata terakhir itu keluar hampir tanpa suara.

Anak-anak yang tidak sepenuhnya mengerti suasana… mendekat pelan. Salah satu dari mereka menyelipkan potongan ayam ke piring Mira.

“Tante makan… biar kuat.”

Kalimat kecil itu membuat Mira menutup wajahnya. Bahunya bergetar.

Ia makan bukan karena lapar… tapi karena tidak ingin mengecewakan tangan kecil yang berusaha menolongnya.

Malam semakin larut.

Anak-anak sudah tidur. Rumah sunyi. Hanya suara jam dinding dan sesekali tarikan napas berat.

Mira duduk di sofa, memeluk lututnya. Aruna duduk di samping tanpa banyak bicara.

Beberapa luka memang tidak perlu dijelaskan. Cukup ditemani.

“Aku takut tidur…” bisik Mira tiba-tiba. “Kalau aku tidur… besoknya tetap sakit.”

Aruna menatapnya lama.

“Kalau sakitnya belum pergi… ya kita temenin sampai capek sendiri.”

Mira menoleh. Air matanya jatuh lagi.

“Kenapa kamu masih nerima aku… padahal dulu aku yang pergi duluan?”

Aruna tersenyum tipis, pahit tapi hangat.

“Karena aku tahu rasanya ditinggal tanpa penjelasan. Aku nggak mau kamu ngerasain sendirian.”

Hening panjang.

“Aku pikir aku kuat…” Mira berbisik. “Ternyata aku cuma tahan… bukan sembuh.”

Aruna menggenggam tangannya.

“Nangis itu bukan lemah, Mir. Itu cara hati bilang dia masih hidup.”

Tangis Mira kembali pecah. Tapi kali ini ia tidak menahan. Ia membiarkan dirinya hancur sepenuhnya… untuk pertama kalinya.

Di kamar lain, Arka berdiri di ambang pintu, menyaksikan dari jauh tanpa mengganggu. Wajahnya tenang, tapi matanya berat.

Ia tidak banyak bicara malam itu. Tapi sebelum kembali ke kamar, ia meninggalkan secangkir teh hangat di meja dekat Mira.

Tanpa kata.

Tanpa suara.

Hanya kehadiran yang diam-diam peduli.

Mira menatap cangkir itu lama. Uap hangat naik perlahan. Untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan itu… ada sesuatu yang terasa tidak dingin.

Ia menggenggam cangkir itu dengan kedua tangan.

Hangatnya kecil… tapi nyata.

Dan di dalam dada yang retak itu… muncul perasaan asing.

Bukan bahagia.

Belum.

Tapi… tidak sepenuhnya hancur lagi.

Di rumah itu, malam menampung air mata tanpa menghakimi.

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya runtuh…

Mira tidak merasa sendirian.

Mira tidak langsung pergi tidur malam itu.

Ia duduk lama di ruang tamu, memeluk cangkir yang sudah tak lagi mengepulkan uap. Tangannya masih menggenggamnya seolah itu satu-satunya benda yang memastikan ia benar-benar ada di sini, bukan di tempat yang sama sekali berbeda… tempat di mana ia masih percaya hidupnya utuh.

Aruna kembali dari dapur membawa selimut tipis. Tanpa banyak kata, ia menyampirkannya ke bahu Mira.

“Kedinginan?” tanya Aruna pelan.

Mira menggeleng, tapi tetap menarik selimut itu mendekap tubuhnya.

“Bukan dingin… cuma kosong,” jawabnya lirih.

Aruna duduk di samping, tidak mencoba mengisi kekosongan itu dengan kata-kata bijak. Ia tahu… beberapa ruang memang tidak bisa diisi orang lain. Hanya waktu dan keberanian untuk bertahan yang bisa pelan-pelan menutupnya.

Beberapa menit berlalu tanpa suara.

Lalu Mira bicara lagi.

“Aku inget hari aku nikah dulu…” suaranya pelan, seperti bicara pada kenangan sendiri. “Aku pikir aku akhirnya punya tempat pulang.”

Aruna menatapnya, tidak memotong.

“Aku bangga… aku bahagia… aku yakin hidupku mulai.” Mira tersenyum pahit. “Ternyata itu cuma awal dari kehilangan yang lebih besar.”

Tangannya gemetar sedikit saat meletakkan cangkir.

“Aku bukan cuma kehilangan suami… aku kehilangan diriku yang dulu percaya.”

Kalimat itu jatuh pelan… tapi berat.

Aruna menggenggam tangan Mira lebih erat.

“Kamu nggak hilang,” bisiknya. “Kamu cuma luka.”

Mira menatapnya, mata basah tapi tidak lagi liar seperti tadi.

“Kalau luka ini nggak sembuh?”

“Kita rawat bareng.”

Tidak dramatis. Tidak berjanji hal mustahil. Tapi justru itu yang membuat Mira menunduk dan menangis lagi… lebih pelan, lebih dalam.

Di kamar atas, suara langkah kecil terdengar.

Pintu terbuka sedikit. Anak perempuan Aruna muncul dengan rambut berantakan dan mata setengah mengantuk.

“Bunda…” suaranya serak tidur. “Tante belum tidur?”

Aruna tersenyum lembut. “Belum, sayang.”

Anak kecil itu turun perlahan, memeluk boneka kesayangannya. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa ragu memanjat sofa dan duduk di samping Mira.

Ia menatap wajah Mira lama.

Lalu meletakkan bonekanya di pangkuan Mira.

“Ini temenin Tante.”

Mira menatap boneka itu seperti benda paling rapuh di dunia. Tangannya gemetar saat menerimanya.

“Kenapa dikasih ke Tante?”

Anak kecil itu menguap.

“Kalau sedih… peluk aja. Biar nggak sendirian.”

Kalimat sederhana itu menghancurkan sisa pertahanan yang Mira miliki. Ia memeluk boneka itu… lalu tanpa sadar memeluk anak kecil di sampingnya juga.

Tangisnya tidak keras.

Tapi dalam.

Tangis seseorang yang akhirnya diizinkan rapuh.

Aruna menutup mata sesaat, menahan air mata sendiri.

Di ambang pintu, Arka kembali berdiri tanpa suara. Ia melihat pemandangan itu dengan dada sesak… tapi juga hangat. Rumah yang dulu hanya tempat berlindung bagi satu luka… kini menampung luka lain.

Dan tidak ada yang merasa menjadi beban.

Arka berjalan mendekat pelan.

Ia berjongkok di depan anak kecil itu.

“Udah waktunya tidur lagi,” bisiknya lembut.

Anak itu mengangguk, tapi sebelum turun ia menepuk pelan lengan Mira.

“Tante nggak boleh hilang ya…”

Mira mengangguk cepat, air matanya jatuh lagi.

“Iya… Tante di sini.”

Arka menggendong anak itu kembali ke kamar. Saat kembali, ia tidak langsung duduk. Ia berdiri beberapa langkah dari sofa.

“Makan sedikit besok pagi,” katanya pelan kepada Mira. “Tubuh juga perlu tahu kamu masih mau hidup.”

Bukan kalimat indah.

Tapi jujur.

Dan justru itu yang membuat Mira mengangguk tanpa berpikir.

Setelah Arka pergi, ruang tamu kembali sunyi.

Namun sunyi itu tidak lagi terasa seperti jurang.

Mira menyandarkan kepalanya ke bahu Aruna.

“Terima kasih… udah nggak nanya kenapa aku bertahan terlalu lama.”

Aruna tersenyum tipis.

“Kadang orang bertahan bukan karena bodoh… tapi karena berharap.”

Mira memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya runtuh… napasnya tidak terasa sesak.

Luka itu belum sembuh.

Kepercayaan itu belum kembali.

Tapi di rumah itu… ia menemukan sesuatu yang lebih sederhana dari kebahagiaan.

Tempat untuk hancur tanpa diusir.

Tempat untuk diam tanpa disalahkan.

Dan malam itu, di antara sisa tangis dan pelukan kecil yang tulus…

Mira akhirnya tertidur.

Bukan karena lelah.

Tapi karena hatinya… untuk pertama kalinya… merasa aman.

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!