Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Menunggu Badai
Tiga hari terasa seperti tiga tahun bagi Arlan dan Adelia. Apartemen mereka, yang biasanya menjadi tempat perlindungan, kini terasa seperti ruang tunggu rumah sakit yang mencekam. Angka-angka proyeksi keuntungan melayang-layang di kepala Adelia, sementara Arlan menghabiskan waktunya dengan berjalan mondar-mandir dari ruang tengah ke dapur, lalu kembali lagi, matanya terpaku pada ponsel yang tak kunjung berdering.
"Kopi lagi, Arlan?" tanya Adelia lembut pada pagi hari kedua. Ia sendiri sudah menghabiskan empat cangkir, padahal baru pukul sepuluh pagi.
"Tidak, Adel. Nanti jantungku copot sebelum GlobalStream memberi jawaban," sahut Arlan, suaranya parau. Ia duduk di sofa, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.
"Bagaimana kalau mereka menolak? Bagaimana kalau kita dianggap terlalu hijau?"
Adelia duduk di sampingnya, mengambil tangan Arlan dan menggenggamnya erat. Tangan pria itu dingin meski cuaca Jakarta sedang panas-panasnya. "Arlan, lihat aku."
Arlan menoleh. "Presentasi kita sempurna. Kamu memukau mereka dengan visi artistikmu, dan aku... yah, aku membuat angka-angkanya masuk akal. Kita melakukan yang terbaik."
"Tapi dunia ini tidak selalu adil, Adel," balas Arlan getir. "Ayahku dulu selalu bilang, 'Yang terbaik saja tidak cukup, kamu harus menjadi yang paling licik'."
"Dan lihat di mana Ayahmu sekarang?" Adelia menatap tajam, mengingatkan. "Di penjara. Karena dia licik, bukan karena dia terbaik. Kita berbeda, Arlan. Kita membangun A&A Pictures dengan integritas. Itu akan membuahkan hasil."
Arlan tersenyum lemah, menghargai optimisme Adelia. Ia bersandar di bahu Adelia, menutup matanya sejenak. "Aku takut, Adel. Bukan takut miskin. Aku takut proyek ini gagal dan aku tidak bisa membahagiakanmu. Aku tidak bisa memberikan studio yang aman untukmu."
Adelia mengusap rambut Arlan. "Aku tidak butuh studio mewah untuk bahagia, Arlan. Aku butuh kamu yang sehat, kamu yang tidak gila kerja, dan kita yang bersama. Kalau pun proyek ini gagal, kita masih punya studio, kita masih punya satu sama lain."
Namun, di dalam hatinya, Adelia tahu betapa hancurnya Arlan jika kesempatan ini hilang. Ini bukan sekadar uang; ini adalah pengakuan atas bakat Arlan yang selama ini tertimbun oleh bayang-bayang ayahnya.
Hari ketiga berlalu dengan lambat. Mereka tidak bekerja di studio, membiarkan tim menangani proyek-proyek kecil yang tersisa.
Sore harinya, badai melanda Jakarta, seolah mencerminkan kekacauan emosi di dalam diri mereka. Arlan menatap hujan dari balik jendela apartemen, sementara Adelia mencoba fokus membaca novel, meski matanya terus melirik ponsel setiap beberapa menit.
Pukul 17:00. Pukul 18:00. Pukul 19:00.
"Mereka tidak akan menelepon hari ini," ujar Arlan akhirnya, suaranya terdengar putus asa. Ia berjalan menuju dapur, berniat menyeduh kopi lagi, melupakan janjinya.
Saat ponsel Arlan bergetar di atas meja makan, suaranya memecah keheningan apartemen yang sunyi. Layar ponsel menampilkan nomor tak dikenal dengan kode internasional.
Arlan membeku. Adelia langsung berdiri, mendekati Arlan. "Angkat, Arlan."
Arlan menarik napas dalam-dalam, menekan tombol hijau, dan mengaktifkan speaker. "Halo, ini Arlan."
"Mr. Arlan? Ini Evelyn dari GlobalStream," suara di seberang sana terdengar tenang namun tegas.
Arlan dan Adelia bertukar pandang. "Ya, Ms. Evelyn?"
"Kami telah meninjau proposal Anda bersama tim kreatif dan direksi pusat." Jeda sejenak membuat jantung Arlan seolah berhenti berdetak. "Kami memutuskan... untuk menyetujui proyek film Detak Jakarta: The Movie."
Arlan terduduk di kursi makan, seolah kakinya lemas seketika. Adelia menutup mulutnya dengan tangan, menahan tangis bahagia.
"Namun," lanjut Evelyn, "ada syarat yang harus dipenuhi. Kami ingin struktur anggaran diubah, mengurangi biaya pascaproduksi dan dialihkan ke pemasaran. Dan kami butuh naskah final dalam satu bulan, bukan dua bulan seperti yang direncanakan."
Kebahagiaan Arlan sedikit surut mendengar persyaratan itu. Satu bulan untuk naskah final? Itu artinya mereka harus bekerja dua kali lipat lebih keras.
"Ms. Evelyn," Arlan mencoba negosiasi, menatap Adelia yang memberi isyarat setuju. "Satu bulan terlalu riskan untuk kualitas naskah final. Bagaimana kalau enam minggu? Kami menjamin pemasaran yang efektif dengan anggaran yang ada."
"Empat puluh hari," balas Evelyn tegas. "Itu penawaran terakhir kami. Jika setuju, tim hukum kami akan mengirim kontrak besok pagi."
Arlan menatap Adelia. Adelia mengangguk pelan, memberikan dukungan. "Kami setuju, Ms. Evelyn. Terima kasih atas kesempatan ini."
"Sampai jumpa di kontrak, Mr. Arlan."
Panggilan terputus.
Arlan menatap ponselnya, lalu menatap Adelia. Ia berdiri dan memeluk Adelia erat, mengangkatnya dari lantai. "Kita berhasil, Adel! Kita mendapatkan layar lebar!"
Adelia tertawa bahagia, air mata menetes di pipinya. "Kita berhasil, Arlan! Tapi empat puluh hari... kita harus bekerja seperti orang gila lagi."
Arlan melepaskan pelukannya, menatap wajah Adelia dengan penuh arti. "Kita akan bekerja keras, tapi kali ini... kita akan melakukannya dengan cerdas. Dan kita tidak akan melanggar janji lagi untuk istirahat. Aku tidak mau kamu sakit."
Kabar gembira itu segera disebarkan ke tim A&A Pictures. Studio yang tadinya lesu langsung meledak dalam perayaan. Namun, di balik perayaan itu, Adelia tahu tantangan sesungguhnya baru dimulai.
Malam itu, mereka merayakan dengan makan malam di restoran mewah, kali ini tanpa rasa cemas yang menghantui. Mereka memesan sampanye terbaik, merayakan kemenangan atas GlobalStream, atas sabotase Pak Surya, dan atas perjuangan panjang mereka melawan masa lalu.
"Tadi itu gila, ya?" ujar Adelia sambil menikmati makanannya. "Masa-masa kita kejar-kejaran dengan waktu, melawan Pak Surya, sampai hampir bangkrut."
Arlan menatap Adelia, tatapannya melembut. "Iya. Tapi aku tidak akan menukar masa-masa itu dengan apapun. Karena dari masa-masa itu, aku tahu seberapa besar arti kamu dalam hidupku, Adel."
Adelia tersenyum malu-malu. "Dan aku tahu seberapa besarnya impianmu, sutradara Naga."
Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan di tepi sungai yang tenang, menikmati angin malam Jakarta yang sudah mereda setelah badai. Arlan merangkul pinggang Adelia, membimbingnya berjalan.
"Adel," panggil Arlan pelan.
"Ya?"
"Aku tahu kita tadi janji akan istirahat. Tapi setelah naskah ini selesai... bagaimana kalau kita pergi ke Bali? Hanya berdua. Tanpa ponsel, tanpa studio."
Adelia tertegun, lalu tersenyum lebar. "Ide yang luar biasa, Arlan. Aku akan catat itu di agenda pekerjaan kita: Liburan ke Bali."
Mereka tahu bahwa meskipun proyek film layar lebar ini akan menjadi puncak karier mereka, keseimbangan hidup adalah yang terpenting. Namun, jalan menuju Bali masih panjang, dan empat puluh hari ke depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi stamina, kreativitas, dan hubungan mereka.
Arlan menatap bintang-bintang yang mulai terlihat setelah hujan. Ia merasa siap menghadapi apapun, asalkan Adelia ada di sisinya.
"Ayo pulang, Adel. Kita punya banyak pekerjaan untuk besok."
Adelia tertawa. "Tadi katanya tidak mau melanggar janji istirahat?"
"Ini pengecualian, Nyonya Besar," ujar Arlan nakal. "Ini demi masa depan kita."
Mereka masuk ke dalam taksi, siap menghadapi badai tantangan berikutnya, karena mereka tahu, mereka akan menghadapinya bersama.