Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Bab 1 : Malam Yang Salah

Aluna sebenarnya sudah rebahan ketika ponselnya bergetar keras di samping bantal.

“Luna…,” suara Aruna di seberang sana terdengar serak dan putus-putus. “Aku nggak bisa masuk kerja. Badanku panas banget. Kayaknya aku tumbang.”

Aluna duduk, mengusap wajahnya. Jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam.

“Kamu ga ke dokter?”

“Udah. Tapi aku masih pusing. Luna… bisa nggak kamu gantiin aku? Cuma malam ini. Tolong.”

Aluna terdiam. Ia tahu betul kerja di hotel itu bukan main-main. Tapi Aruna bukan sekadar teman kerja. Mereka sudah seperti saudara—sama-sama yatim piatu, sama-sama jatuh bangun dari nol.

“Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku siapin diri sekarang.”

“Serius? Ya Tuhan, makasih, Luna. Aku utang nyawa.”

Aluna tersenyum tipis. “Istirahat yang bener. Jangan mikirin apa-apa.”

Telepon ditutup. Aluna bangkit, mandi cepat, lalu mengenakan seragam pelayan hotel yang masih tergantung rapi—seragam Aruna.

Ia sama sekali tidak tahu… keputusan kecil itu akan mengubah seluruh hidupnya.

 

Hotel Arvella selalu terlihat berbeda di malam hari. Sunyi, dingin, dan terasa mahal. Aluna mendorong troli minuman menyusuri lorong lantai dua belas. Hak sepatunya beradu pelan dengan lantai marmer.

Lorong lantai dua belas Hotel Arvella terasa dingin dan sepi. Aluna mendorong troli minuman sambil menghafal nomor kamar.

“Suite 1208,” gumamnya.

Ia mengetuk pintu sekali.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi. Lebih keras.

Tok. Tok. Tok.

Tiba-tiba pintu terbuka—dan sebelum Aluna sempat mundur, lengannya ditarik keras ke dalam.

“HEY—!”

Tubuhnya terbanting ke dinding. Troli jatuh. Botol-botol beradu keras di lantai. Pintu ditutup dengan hentakan yang membuat jantung Aluna hampir copot.

“LEPASIN SAYA!” Aluna meronta, menendang, memukul sebisanya.

Pria itu jauh lebih kuat. Tangannya menekan lengan Aluna ke atas, napasnya berat dan panas. Tatapannya liar, tidak fokus.

“DIAM!” bentaknya rendah.

Aluna menjerit. Air mata jatuh bukan karena lemah—tapi karena takut.

"Lepaskan saya Tuan, saya mohon." ucap Aluna dan sekuat tenaga menyadarkan pria itu. Aluna hampir saja kehabisan nafas dalam pelukan pria itu.

Pria itu lalu menarik tagan Aruna ke arah kasur dan mengungkungnya di bawah tubuhnya. kedua kaki menjepit dan mengunci paha gadis malang itu sehingga kesulitan untuk bergerak dan memberontak.

"tolooongggg tuann.. lepaskan saya.."

Teriakan dan permohonan Aruna tidak dapat menyadarkan pria itu.

Tiba-tiba pria itu mencium mulut Aruna secara brutal dan kasar

"diamlah bict. Tenang dan nikmati saja."

" mmmmpppphhhh.....mmmmppppphhhh..."

Aruna terus memberontak dan ingin memberontak di selah ciuman pria itu. Tapi pria itu tidak memberikan kesempatan kepada Aruna. Sementara kedua tangan pria itu memengangi kedua tangan Aruna dan membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali.

Aruna suda putus asa, cairan bening terus mengalir dari matanya. Dia berharap ini hanya mimpi. Tapi sepertinya itu mustahil. Aruna terus berdoa di dalam hati. Paling tidak pengelolah hotel akan datang ke kamar ini untuk memeriksa pekerjaannya.

dengan rakus pria itu melumat bibir Aruna.

Aruna sudah lemas kehabisan tenGa karena memberontak.

pria itu suda menghentikan ciuman di bibir Aruna dan turun keleher. Pria itu juga membuka paksa pakaian Aruna hingga bajunya sobek. Dan nampaklah dua gundukan di dada Aruna

Pria itu kemudian meremas kedua dada Aruna dan menghisapnya dengan kasar.

pria itu suda kehilangan kendari atas dirinya dari pengaruh obat laknat itu.

Dia terua bergerilya di badan Aruna tanpa menghiraukan tangis Aruna.

"tolong jangan lakukan itu tuan." lirih Aruna dengan Isak tangisnya.

Tapi laki-laki itu tidak mendengarnya.

Kemudian laki-laki ituwnckba membobol kewanitan Aruna dengan paksa. Hingga dengan hentakan kuat pusaka pria itu masuk kedalam kewanitaan Aruna.

"awww..sakit..tolong...hentikan.." lirih Aruna dengan air mata yang terus mengalir.

"sebentar lagi baby kamu akan ketagihan. Nikmatilah"..

Aruna memejamkan mata menahan sakit.

nafas pria itu membutuhkan dan terus bergerak maju mundur dengan cepat tanpa menghiraukan permohonan Aruna. Kringanya suda bercucuran dan bafasnya terengah engah.

"ahhh...ahhhh...ahhhh sabar lah sebentar lagi" ucap pria itu dengan mempercepat gerakannya kembali

"hentikan tuan, sakitt...."

"ahhhhh.aaahhhh...ini nikmat sekalih"...

Aruna terus menangis di sela gempuran pria itu tidak ada rasa nikmat yang dirasakan cuman rasa sakit. Penyesalan. Dan rasa trauma.

Tapi pria itu tidak menghiraukan Aruna dia terus memompa dan membalik badan Aruna hingga beberapa gaya yang dilakukan

Badan Aruna suda lemas dengan permainan pria itu .

"ahhhhh...." lengu pria itu setelah menumpahkan semua cairan kentalnya di dalam perut Aruna. Dia membuang semua cairannya di rahim Aruna tanpa memikirkan sebab akibatnya.

pria itu kemudian melepaskan Aruna dan kemudian tertidur di samping Aruna dengan nyenyak.

Aruna terus menangis, meratapi nasibnya, merutuki kebodohannya yang tidak bisa melawan sama sekali. Seluru badanga gemetar dan susah untuk berjalan.

Aruna segera memakai pakaian pria itu karena pakainnya suda dirobek.

Episodes
1 Bab 1 : Malam Yang Salah
2 Bab 2 : Kontrakan Yang Sunyi
3 Bab 3 : Pagi Yang Terlambat
4 Bab 4 : Beberapa Minggu Kemudian
5 Bab 5 : Kota Kecil Rahasia Besar
6 Bab 6 : Luka Yang Belum Sembuh
7 Bab 7 : Detik Yang Mengubah Segalanya
8 Bab 8 : 5 tahun kemudian
9 Bab 9 : Tiga Denyut Satu Rahasia
10 Bab 10 : Tiga Jejak
11 Bab 11 : Kami Lahir Tanpa Namamu
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29 Ikatan Diam - Diam
30 Bab 30 Malam Pertama
31 Bab 31 : Rumah Baru
32 Bab 32 : Hari Pertama Yang Benar-Benar Utuh
33 Bab 33 : Retak Yang Tak Terduga (Bab Mira)
34 Bab 34 : Rumah Yang Menampung Luka
35 Bab 35 : Pagi Setelah Luka
36 Bab 36 : Ketika Masa Lalu Mengetuk Lintu
37 Bab 37 : Orang Baru
38 Bab 38 : Langkah Kecil Yang Terlihat
39 Bab 39 :
40 Bab 40 :
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43 : Cara Mereka Melindungi
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49 : malam yang hagant 21+
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70 Langkah Menuju Masa Depan
71 Bab 71
72 Bab 72
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1 : Malam Yang Salah
2
Bab 2 : Kontrakan Yang Sunyi
3
Bab 3 : Pagi Yang Terlambat
4
Bab 4 : Beberapa Minggu Kemudian
5
Bab 5 : Kota Kecil Rahasia Besar
6
Bab 6 : Luka Yang Belum Sembuh
7
Bab 7 : Detik Yang Mengubah Segalanya
8
Bab 8 : 5 tahun kemudian
9
Bab 9 : Tiga Denyut Satu Rahasia
10
Bab 10 : Tiga Jejak
11
Bab 11 : Kami Lahir Tanpa Namamu
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29 Ikatan Diam - Diam
30
Bab 30 Malam Pertama
31
Bab 31 : Rumah Baru
32
Bab 32 : Hari Pertama Yang Benar-Benar Utuh
33
Bab 33 : Retak Yang Tak Terduga (Bab Mira)
34
Bab 34 : Rumah Yang Menampung Luka
35
Bab 35 : Pagi Setelah Luka
36
Bab 36 : Ketika Masa Lalu Mengetuk Lintu
37
Bab 37 : Orang Baru
38
Bab 38 : Langkah Kecil Yang Terlihat
39
Bab 39 :
40
Bab 40 :
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43 : Cara Mereka Melindungi
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49 : malam yang hagant 21+
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70 Langkah Menuju Masa Depan
71
Bab 71
72
Bab 72

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!