Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Dengan kualitas Liu Mengting—penampilan, kecerdasan, dan pembawaannya—ia justru hanya berada pada peringkat C. Fakta ini membuat Zhang Yuze merasa sulit mempercayainya. Jika Liu Mengting saja baru mencapai tingkat C, lalu seperti apa perempuan dengan peringkat B, A, atau bahkan S? Pikiran itu membuat imajinasinya melayang jauh. Rasa penasaran dan harapan bercampur menjadi satu, membakar semangatnya dari dalam.
Terlebih lagi, ia menyadari bahwa dirinya memikul misi untuk “menaklukkan” begitu banyak wanita luar biasa demi mengumpulkan Energi Iman. Semakin ia memikirkannya, semakin darahnya bergejolak. Sebuah dunia baru seakan terbentang luas di hadapannya, penuh kemungkinan dan godaan.
Di saat Zhang Yuze larut dalam khayalan, suara Roh Kitab tiba-tiba terdengar di benaknya, lembut namun sarat makna.
“Tingkat kedetailan informasi bergantung pada seberapa besar afeksi pihak lain terhadapmu. Semakin dalam afeksi seseorang, semakin lengkap data yang dapat ditampilkan. Namun perlu kau ingat, Cermin Pusaka Dewa hanya dapat mengumpulkan Energi Iman dari satu orang satu kali saja. Jadi, jangan berpikir jalanmu ke depan akan selalu mudah.”
Zhang Yuze tersentak. Ekspresinya langsung berubah.
“Apa? Hanya sekali?” serunya dalam hati dengan cemas. “Kalau begitu, meskipun wanita yang ku dekati nanti memiliki Point Afeksi hingga seribu terhadapku, aku tidak akan mendapatkan Energi Iman lagi?”
“Pada dasarnya memang demikian,” jawab Roh Kitab dengan nada tenang. “Hukum Afeksi telah membatasi hal itu. Kemampuan-kemampuan berikutnya jauh lebih praktis dan… menyimpang, jauh melampaui apa yang bisa kau bayangkan sekarang. Energi yang dibutuhkan pun akan semakin besar. Karena itu, kau harus bekerja lebih keras.”
Nada suara Roh Kitab terdengar seolah menggoda, namun juga mengandung peringatan yang tidak bisa diabaikan.
Zhang Yuze mengangguk pelan. Ia sepenuhnya mempercayai kata-kata Roh Kitab. Bahkan kemampuan dasar yang telah ia aktifkan saja sudah terasa luar biasa—nyaris tak masuk akal. Jika itu baru tahap awal, bagaimana dengan kemampuan tingkat lanjut di masa depan? Sekadar membayangkannya saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang. Ia bahkan berharap memiliki ratusan ribu poin Energi Iman saat ini juga. Betapa menyenangkannya itu.
Namun, setelah euforia itu mereda, perasaan murung perlahan menyelinap. Untuk sementara waktu, ia belum menemukan cara lain yang lebih baik. Menghela napas panjang, Zhang Yuze keluar dari kamarnya.
Di ruang tamu, ia melihat ibunya duduk dengan wajah letih. Sorot matanya tampak redup, jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Zhang Yuze segera memahami bahwa ibunya kemungkinan besar sedang menghadapi masalah di tempat kerja.
Ibunya, He Xiuying, baru saja menjabat sebagai wakil kepala kantor polisi di Kantor Polisi Beitong. Meski jabatan itu tergolong pimpinan, kedudukannya masih rapuh. Banyak orang mengincar posisinya, dan bila ia tidak mampu menunjukkan prestasi nyata, atasan di atas tentu tidak akan puas.
Tekanan kerja itu membuat ibunya sangat sibuk. Sering kali ia tidak pulang hingga larut malam, bahkan ada hari-hari ketika mereka nyaris tak sempat bertemu. Menyadari hal itu, hati Zhang Yuze terasa perih. Ia paham betul bahwa meskipun kedua orang tuanya adalah kader negara, mereka tidak memiliki “penopang” di belakang. Ditambah lagi, keduanya adalah tipe pekerja keras yang lebih mementingkan hasil nyata daripada menjilat atasan. Akibatnya, jalan untuk naik lebih tinggi terasa jauh lebih sulit.
“Yuze,” suara He Xiuying terdengar pelan namun sarat kelelahan. Ia duduk di sofa, menghela napas, lalu menatap putranya dengan mata penuh harap. “Ujian masuk perguruan tinggi sudah semakin dekat. Ibu tidak punya banyak waktu untuk mengurusmu. Tapi kau harus sadar diri. Jangan membuat kami khawatir lagi. Ibu tidak menuntutmu masuk universitas ternama. Asal kau bisa masuk perguruan tinggi diploma, itu sudah cukup membuat kami lega.”
Pada saat itu, He Xiuying bukanlah sosok polisi wanita yang tegas dan disegani di luar sana. Ia hanyalah seorang ibu biasa, seperti ibu-ibu lainnya, yang berharap anaknya kelak dapat hidup dengan baik.
Dari tatapan penuh perhatian itu, Zhang Yuze merasakan kasih sayang yang begitu dalam. Seketika, rasa bersalah membanjiri hatinya. Dahulu, bukankah ia pernah menjadi kebanggaan ayah dan ibunya? Namun kemudian, akibat sebuah kecelakaan, prestasinya merosot tajam. Sejak itu, di tengah kesibukan pekerjaan, orang tuanya masih harus memikirkan masa depannya. Demi membangkitkan semangatnya kembali, mereka telah memutar otak tanpa henti. Rambut putih di pelipis mereka bertambah sebelum waktunya—semua karena dirinya.
“Bu, aku tidak akan mengecewakanmu,” ucap Zhang Yuze dengan suara mantap. Ia duduk di samping ibunya dan memegang bahunya dengan lembut.
Meski ujian masuk perguruan tinggi sudah dekat, masih ada beberapa bulan tersisa. Selama ia bisa segera mengaktifkan kemampuan Pengembangan Daya Otak, daya ingat dan kecerdasannya pasti akan meningkat pesat. Ia mengambil jurusan ilmu sosial; dengan hafalan yang kuat saja, seharusnya ia mampu memenuhi harapan ibunya.
Ekspresi He Xiuying melunak. Ia mengusap pipi Zhang Yuze dengan penuh kasih.
“Ayahmu belum pulang beberapa hari ini. Besok hari Minggu, kau tidak perlu ke sekolah. Kita bisa berkumpul sekeluarga. Ibu akan belanja dan memasak makanan enak.”
“Baik, Bu,” jawab Zhang Yuze dengan senyum tulus. Mendengar itu, hatinya terasa hangat. Ia memang sudah lama tidak bertemu ayahnya dan sangat merindukannya.
Malam itu, Zhang Yuze menghabiskan waktu dengan tekun melatih Seni Sejati Naga Tersembunyi. Ia memahami bahwa teknik ini adalah fondasi bagi seluruh kemampuan supranaturalnya di masa depan. Tanpa kondisi fisik yang kuat, tubuhnya tidak akan mampu menahan penggunaan kekuatan tersebut.
Berkat Energi Inti Sejati yang telah terbentuk, kecepatan latihannya meningkat drastis. Jika sebelumnya satu siklus peredaran energi memakan waktu tiga menit, kini hanya satu menit saja. Sepanjang malam ia berlatih tanpa henti. Anehya, ia tidak merasa lelah sedikit pun. Justru sebaliknya, tubuh dan pikirannya terasa segar. Ia bahkan mulai mempertimbangkan kemungkinan mengganti tidur dengan kultivasi.
Keesokan harinya, ayahnya, Zhang Yaoguo, benar-benar pulang. Wajahnya tampak lelah oleh perjalanan dan pekerjaan, namun kebahagiaan tetap menyelimuti keluarga itu. Melihat wajah ayahnya yang sedikit tirus karena kesibukan, hati Zhang Yuze terenyuh. Ia segera mengambilkan semangkuk nasi dan menyodorkannya.
Zhang Yaoguo tertegun. Ia tidak menyangka putranya, yang selama ini membuatnya begitu banyak khawatir, tiba-tiba menjadi begitu perhatian. Perasaan lega mengalir di dadanya, seakan beban pekerjaan yang menumpuk selama ini mendadak sirna. Ia bahkan tanpa sadar menambah satu mangkuk nasi lagi.
Melihat pemandangan itu, He Xiuying tersenyum bahagia. Sudah lama sekali keluarga kecil mereka tidak merasakan kehangatan dan keceriaan seperti ini.
Untuk sesaat, rumah itu dipenuhi tawa dan ketenangan—sebuah jeda singkat sebelum badai besar kehidupan kembali menggulung.