Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~08
Firman nampak terdiam sejenak sampai pada akhirnya memberanikan diri menatap wanita itu. "Marni, meskipun sudah satu tahun berlalu tapi perasaan mas masih sama seperti dulu." ucapnya mengawali pembicaraannya.
Marni langsung mengernyitkan dahinya. "Aku tidak mengerti maksudmu apa mas?" sahutnya menanggapi.
"Mas, masih menyukaimu." tegas Firman dengan keyakinannya.
Marni sedikit terkejut mendengarnya, antara senang dan juga sedih menjadi satu. Ia merasa senang karena rupanya perasaan pria itu tetap sama seperti setahun yang lalu dan itu tandanya pria tersebut tipe pria setia, namun ia juga sekaligus sedih karena ia merasa tak layak mendapatkan cinta pria itu, selain sadar diri karena derajat mereka berbeda ia pun juga merasa tak pantas bersanding dengan lelaki alim sepertinya karena ia sudah kotor.
Kini Marni nampak tertunduk lesu. "Maaf mas, aku harus segera membantu ibu berberes rumah." sahutnya mengalihkan pembicaraan lantas berlalu dari hadapan pria itu begitu saja.
"Apa sudah ada seorang pria yang kamu suka, Marni?" ucap Firman tiba-tiba hingga menghentikan langkah wanita itu.
"Hm," angguk wanita itu tanpa menatapnya lantas kembali melanjutkan langkahnya dengan sedikit cepat.
"Kamu yang aku suka mas, tapi apakah kamu bisa menerima keadaanku saat ini? bahkan mungkin saat kamu mengetahui pekerjaanku tidak hanya kamu tapi semua pria akan menjauh." gumamnya dengan wajah sendunya.
Firman yang melihat kepergiannya nampak kecewa karena lagi-lagi ia di tolaknya, ia tahu perasaan tak bisa dipaksa tapi ia sudah berusaha keras untuk menjadi pria mapan dan mandiri karena ia tahu jika suatu saat kedua orang tuanya tidak menyetujui pilihannya maka ia bisa menghidupi anak istrinya seorang diri.
Marni memang bukan dari keluarga sederajat dengannya, tapi ia kagum dengan kepribadian wanita itu yang berbeda dengan kebanyakan gadis diluar sana yang mudah terbawa oleh arus namun wanita itu berbeda dan ia yakin Marni cocok menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.
"Aku tidak akan menyerah Marni, karena aku benar-benar tulus dengan perasaanku." imbuh pria itu lagi lantas berlalu pergi setelah wanita itu hilang dari pandangannya.
Kini Marni yang baru masuk pekarangan rumahnya dikagetkan oleh keberadaan Joko yang sedang memanaskan motornya di halamannya, keduanya pun tak sengaja berpandangan dan Marni segera menyapa pria itu karena mereka memang sudah bertetangga lama sejak pria tersebut menikah dengan Astuti tetangganya.
"Mas, sudah pulang?" ucapnya dengan sopan.
Joko nampak terpaku menatapnya, entah kenapa ingatannya tiba-tiba melayang pada malam itu dimana ia bertemu seorang wanita yang sangat mirip dengan wanita itu di tempat karaoke namun penampilan mereka sangat berbeda seratus delapan puluh derajat. Wanita di tempat karaoke itu terlihat sangat liar dengan rambut cokelat, dandanan menor dan pakaian seksi sedangkan Marni tetangganya itu terlihat sangat alim dengan pakaian longgar dan juga hijab menutupi kepalanya.
"Ah mungkin hanya mirip saja lagipula nama wanita itu Maria bukan Marni," gumamnya mengingkari spekulasinya tersebut.
"Iya Marni, baru semalam mas pulang." sahutnya menanggapi.
"Kata Astuti kamu juga baru kemarin ya pulang, bagaimana di kota apa betah disana?" imbuhnya lagi berbasa-basi, ia tak menyangka gadis kecil itu kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
"Betah mas ini nanti setelah hari raya juga kembali lagi," sahut Marni menanggapi.
"Memang kerja di cafe daerah mana siapa tahu mas lewat dan bisa mampir?" tanya Joko lagi.
"Eh itu mas ..." ucapan Marni tiba-tiba menggantung ketika Astuti keluar dari rumahnya dengan daster favoritnya serta rambut basah yang sengaja ia kibas-kibaskan seakan ingin menunjukkan jika semalam mereka telah melakukan ibadah suami istri.
"Bisa ga tidak menggatal sama suami orang?" ucapnya bernada sindiran menatap ke arah Marni sembari melangkah mendekati suaminya itu.
"Maaf mbak," Marni pun segera berlalu masuk ke dalam rumahnya karena tak ingin ribut dan pasti akan menimbulkan fitnah apalagi saat pagi hari seperti ini banyak warga yang lewat untuk pergi beraktivitas.
"Dasar gatal tidak yang muda yang setengah matang pun mau diembat," gerutu Astuti dengan kesal.
"Ga boleh begitu sama tetangga dek, mas cuma menyapanya saja." nasihat Joko menengahinya.
"Jadi mas Joko membelanya? apa mentang-mentang Marni lebih cantik? lebih putih dan lebih langsing begitu? ingat mas badanku seperti ini juga karena sudah melahirkan kedua anakmu," sewot Astuti dengan kesal lantas menghentakkan kakinya masuk kembali ke dalam rumahnya.
Sedangkan Joko nampak menggeleng kecil menatapnya, setiap kali bertengkar istrinya selalu menyalahkan dirinya tak perduli apapun masalahnya dan mengenai bentuk badannya harusnya wanita itu introspeksi diri kenapa tidak terawat padahal diluar sana banyak istri orang yang menyempatkan waktu merawat badannya entah dengan berdandan atau sekedar olahraga 30menit sehari.
Jika seperti ini terus ia semakin tak betah tinggal di rumah karena pulang bukannya untuk melepaskan lelah dengan kenyamanan rumah dan istri sedap dipandang mata malah bikin panas hati saja, jika saja ia bukan suami yang bertanggung jawab ia tak mempermasalahkannya tapi ia sudah merasa memberikan penghidupan yang layak pada keluarga kecilnya itu.
"Mbak Marni, tadi ada salam dari mas Sapri buat mbak." ucap Marwan siang itu saat baru pulang dari sekolah.
Marni yang sedang membantu ayahnya mengecat rumahnya pun langsung menatapnya. "Mas Sapri siapa? pacarnya mbak Jule ya?" ucapnya menanggapi lantas kembali menyapukan kuas ke atas dinding kayu rumahnya itu.
"Mereka sudah lama putus orang mbak Julenya selingkuh," sahut Marwan yang kini nampak duduk di kursi kayu lawas sembari melepaskan sepatunya.
"Oh," Marni sedikit terkejut karena setahunya dulu mereka ingin menikah tapi ternyata sudah putus.
Sapri adalah salah satu pemuda di kampungnya, pekerjaannya sehari-hari mengurus bengkel keluarganya, orangnya sedikit tengil berbanding terbalik dengan Firman yang sangat alim.
"Kok oh doang mba, kalau mbak menikah dengan mas Sapri aku bisa kapan saja modif motorku dengan gratis kan lumayan." tukas Marwan namun Marni hanya menggeleng kecil menanggapinya.
"Mbak belum mau menikah," tegasnya lantas kembali membantu ayahnya mengecat rumahnya.
"Bagaimana kalau dengan mas Insanul mbak, dia juga titip salam untuk mbak." ujar Marwan lagi yang sepertinya sedang sibuk mencarikan jodoh kakaknya itu dan tentu saja juga harus bermanfaat untuknya.
"Mas insanul bukankah sudah menikah dengan mbak Mawa?" sahut Marni sembari fokus dengan pekerjaannya itu.
"Sudah pisah mbak kan mas Insanul selingkuh sama mbak Inaroh tapi mereka sudah putus dan sekarang mas Insanul duren alias duda keren kaya lagi mbak punya mobil kapan lagi kita diajak jalan-jalan pakai mobil." seloroh sang adik.
"Sudah-sudah mbak pusing lagipula mbak belum mau menikah." potong Marni, rupanya setahun meninggalkan kampungnya banyak sekali kejadian yang terlewatkan olehnya.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu