Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Pukul 12.48 WIB
Jalur Linggarjati Kilometer Tiga
Di kilometer tiga, jalur mulai menunjukkan sifat aslinya.
Tanjakan yang sebelumnya landai berubah menjadi lebih curam. Langkah mereka otomatis memendek, napas mulai terasa lebih berat. Akar-akar pohon yang semula kecil kini menjadi rintangan yang harus dilewati dengan hati-hati. Tanah pun berubah lembap, sisa hujan dua hari lalu masih terasa di beberapa bagian jalur yang tertutup bayangan pepohonan.
Irama napas mereka mulai berbeda satu sama lain.
“Yazid,” panggil Salsabilla dari tengah barisan. Suaranya terdengar sedikit lelah. “Lo bilang ini jalur paling banyak pendaki. Maksudnya paling ramah atau paling banyak yang nekat?”
“Bisa dua-duanya,” jawab Yazid santai tanpa menoleh.
“Itu bukan jawaban yang menenangkan.”
“Gue juga nggak janji bakal nenangin.”
Salsabilla menoleh ke belakang. “Zidan, masih hidup?”
Zidan mengangkat satu jempol. “Masih. Tapi kaki kiri gue kayaknya udah pengen pulang duluan.”
Rehan tertawa kecil. Entah kenapa, di jalur seperti ini, tawa terasa lebih mudah keluar.
Di sebuah percabangan kecil, Yazid berhenti. Dua jalur terlihat hampir sama, tapi hanya satu yang benar. Ia memperhatikan tanda panah kecil di batang pohon yang catnya sudah berlapis-lapis.
“Kiri,” katanya akhirnya.
“Yakin?” tanya Rehan.
“Tandanya bilang begitu.”
Tanpa ragu, Yazid melangkah lebih dulu.
Runa sempat mengeluarkan notebook kecilnya, mencatat sesuatu dengan cepat sebelum kembali menyimpannya. Tidak ada yang bertanya.
Pukul 13.15 WIB
Jalur Linggarjati Kilometer Empat
Kilometer empat datang tanpa peringatan.
Tidak ada papan tanda. Tidak ada batas jelas. Hanya perubahan perlahan pada jalur tanah menjadi lebih merah, lebih basah, dan sulit ditebak. Hujan sebelumnya membuat permukaan tanah tampak padat, padahal mudah ambles ketika diinjak.
Akar-akar besar muncul di mana-mana, saling bersilangan seperti tangga alami. Beberapa membantu, beberapa justru menjebak.
Yazid memperlambat langkah.
“Hati-hati mulai sini,” katanya tenang. “Injak yang kelihatan padat. Kalau ragu, tes dulu. Trekking pole buat keseimbangan, bukan sandaran.”
“Ini baru kilometer empat…” gumam Salsabilla. “Masih ada empat kilo lagi.”
“Empat koma sekian,” koreksi Runa.
“Runa…”
“Informasi harus akurat.”
Mereka berjalan lebih pelan. Percakapan berkurang, fokus berpindah ke setiap langkah.
Rehan mulai membungkuk mengikuti kemiringan tanjakan. Runa menjaga ritme langkah kecil yang konsisten. Salsabilla menyimpan kameranya kedua tangannya kini lebih dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan.
Zidan berjalan dengan konsentrasi penuh. Napasnya mulai berat, tapi masih terkontrol. Ia mengingat saran dokter: tarik napas dalam, perlahan, jangan terburu-buru.
Dia bisa.
Sepuluh langkah. Lima belas. Dua puluh.
Kakinya menginjak permukaan yang tampak kokoh.
Ternyata tidak.
Tanah lembek di bawah lapisan daun langsung ambles. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Zidan jatuh.
Lutut kanannya menghantam akar pohon. Tangannya refleks menahan tubuh di tanah basah. Trekking pole di tangannya sedikit tertekuk.
Semua terjadi cepat.
“ZI!” Salsabilla langsung berbalik.
“Gue oke,” kata Zidan cepat sambil mencoba bangkit.
Namun napasnya sempat tersendat. Sesak kecil muncul tiba-tiba.
Ia menutup mata sebentar, mengatur napas. Tarik pelan. Tahan. Hembuskan perlahan.
Sekali. Dua kali.
Dadanya kembali lega.
Yazid sudah berada di sampingnya.
“Duduk dulu,” katanya tenang tapi tegas.
“Gue bisa jalan”
“Duduk.”
Zidan akhirnya menurut dan duduk di akar pohon.
Yang lain mendekat tanpa panik. Runa langsung mengeluarkan P3K. Rehan memeriksa lututnya. Salsabilla hanya berdiri diam kameranya sempat terangkat, lalu diturunkan lagi.
Tidak semua momen harus direkam.
Beberapa cukup disaksikan.
“Napas lo,” ujar Yazid pelan.
“Udah aman,” jawab Zidan.
“Inhaler.”
Zidan menghela napas, lalu mengeluarkan inhaler biru dari tasnya. Dua semprotan. Menahan napas beberapa detik.
Tidak ada yang berkomentar. Mereka hanya menunggu.
Runa membersihkan luka di lututnya dan menutupnya dengan kasa.
“Sakit?” tanyanya.
“Antiseptiknya doang.”
“Itu berarti bekerja.”
“Hebat sekali.”
Beberapa menit kemudian, Zidan berdiri lagi. Trekking pole-nya masih bisa dipakai setelah diperbaiki sedikit.
“Gue bisa lanjut.”
“Gue tahu,” kata Yazid. “Tapi dari sini kita jalan lebih pelan. Dan lo di belakang gue.”
“Yaz ”
“Bukan negosiasi.”
Zidan terdiam, lalu mengangguk kecil. “…Oke.”
Mereka kembali berjalan.
Lebih lambat. Lebih hati-hati.
Dan untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, Zidan tidak lagi berpura-pura kuat sendirian.
Tidak ada yang membuatnya merasa lemah karenanya.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪