Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Gua terlarang itu lebih dalam daripada yang Lin Feng bayangkan. Mulut guanya sempit, ditutupi lumut hitam dan akar-akar kering yang menjalar seperti urat naga yang mati. Begitu ia melangkah masuk, udara langsung terasa panas—bukan panas lembab seperti di luar, melainkan panas kering yang menusuk tulang, seolah ada sesuatu yang masih bernapas di dalam sana.
Langkahnya pelan. Cahaya bulan yang menyusup dari mulut gua hanya bertahan beberapa meter, setelah itu kegelapan menelan segalanya. Lin Feng mengeluarkan batu api kecil dari saku—benda murahan yang biasa digunakan pelayan untuk menyalakan obor. Batu itu berderak pelan, memunculkan nyala oranye kecil yang bergetar lemah.
Api itu seolah takut masuk lebih dalam.
Lin Feng terus berjalan. Kakinya menginjak kerikil yang terasa hangat, bahkan panas. Bau belerang samar-samar menyengat hidung. Di dinding gua terlihat bekas hangus—garis-garis hitam yang melengkung seperti bekas sikat api raksasa. Konon, ribuan tahun lalu, pertempuran besar terjadi di sini. Seorang dewa api melawan seratus dewa lain, dan api itu begitu ganas hingga membakar udara itu sendiri. Setelah pertempuran usai, api padam… dan gua ini disegel selamanya.
Tapi malam ini, segel itu terasa rapuh.
Lin Feng berhenti. Di depannya, lorong menyempit menjadi celah sempit yang hanya bisa dilewati satu orang. Di balik celah itu, terdengar suara… desis. Seperti api yang bernapas pelan.
Ia menelan ludah. Rasa takut ada, tapi amarah yang membakar dadanya jauh lebih kuat.
“Dengan apa lagi aku bisa kehilangan?” gumamnya pada dirinya sendiri.
Ia memasukkan tubuhnya ke celah itu. Batu-batu tajam menggores lengan dan bahunya, tapi ia tak peduli. Darah menetes, tapi panas di dalam gua seolah langsung menguapkan rasa sakit itu.
Begitu ia keluar dari celah, pandangannya terbuka.
Sebuah ruangan besar, luasnya seperti aula utama keluarga Lin. Langit-langitnya tinggi, ditopang pilar-pilar batu yang retak dan hangus. Di tengah ruangan, terdapat danau lava yang sudah mengeras—permukaannya hitam legam, tapi retakan-retakan merah samar masih terlihat, seperti urat darah yang hampir mati. Di tengah danau itu, berdiri sebuah altar batu obsidian setinggi tiga meter. Di atas altar, tergeletak… sebuah bola api kecil, seukuran kepalan tangan anak kecil.
Bola itu tidak bergerak. Tapi Lin Feng bisa merasakan—bola itu hidup.
Ia melangkah mendekat. Setiap langkah membuat lantai batu bergetar pelan. Panas semakin menyengat, tapi anehnya… tubuhnya tidak terbakar. Kulitnya justru terasa hangat, nyaman, seolah api itu mengenalinya.
Saat jaraknya tinggal dua langkah dari altar, bola api itu tiba-tiba bergetar.
Cahaya merah menyala lembut, lalu membesar. Dari dalam bola itu, muncul sepasang mata—mata berwarna emas cair, penuh usia dan kekuatan yang tak terbayangkan.
Suara itu datang—bukan dari mulut, bukan dari udara, melainkan langsung di dalam kepala Lin Feng.
“Anak manusia… kau berani masuk ke tempat kematianku.”
Lin Feng terpaku. Tubuhnya gemetar, tapi bukan karena takut. Ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar balik, seperti magnet yang menemukan kutubnya.
“Aku… aku tidak punya tempat lain untuk pergi,” jawabnya dengan suara serak. “Di luar sana, mereka bilang aku sampah. Mereka bilang aku tak layak hidup. Jika ini tempat kematian… mungkin ini tempat yang tepat bagiku.”
Mata emas itu memicing.
“Kebencianmu… murni sekali. Seperti api yang baru lahir, belum ternoda oleh aturan dunia.”
Bola api itu melayang perlahan meninggalkan altar, mendekati wajah Lin Feng. Panasnya begitu kuat hingga rambutnya mulai berasap, tapi ia tidak mundur.
“Aku adalah Yan Di Shen Zun… atau yang tersisa dariku. Ribuan tahun lalu, aku membakar sembilan langit. Aku membakar dewa-dewa, membakar bintang-bintang, membakar nasib itu sendiri. Tapi pada akhirnya… aku pun dibakar oleh pengkhianatan. Jiwa ini hanyalah sisa terakhir, terperangkap di lautan abu ini.”
Lin Feng menatap bola api itu tanpa berkedip.
“Kenapa kau bicara padaku?”
“Karena kau adalah wadah yang sempurna.”
Lin Feng tertawa kecil—tawa pahit.
“Wadah? Dantianku rusak. Meridianku mati. Aku bahkan tidak bisa menyerap setetes qi pun.”
“Justru karena itu,” suara Yan Di Shen Zun bergema lebih dalam, “dantianmu bukan lagi tungku biasa. Ia adalah lubang hitam api. Ia bisa menelan segala nyala… dan melahirkannya kembali dalam bentuk yang lebih murni, lebih ganas.”
Bola api itu menyentuh dada Lin Feng.
Rasa sakit yang luar biasa meledak.
Seolah seluruh tubuhnya dibakar dari dalam. Darahnya mendidih. Tulang-tulangnya berderit. Meridian yang tersumbat itu seperti dibelah paksa oleh pedang api. Lin Feng jatuh berlutut, berteriak tanpa suara. Matanya memerah, air mata menguap sebelum sempat jatuh.
Tapi di tengah rasa sakit itu… ada sesuatu yang lahir.
Bara kecil di dadanya—bara dendam yang selama ini ia pendam—tiba-tiba meledak menjadi nyala yang sesungguhnya.
Api merah gelap menyala di sekitar tubuhnya, membentuk lingkaran pelindung. Panas gua yang tadinya menyiksa kini terasa seperti pelukan hangat.
Yan Di Shen Zun tertawa—tawa yang menggetarkan seluruh gua.
“Bagus… sangat bagus! Dantian rusakmu kini menjadi **Tungku Api Abadi**! Mulai saat ini, setiap api yang kau serap—api biasa, api roh, api surgawi, bahkan api karma—akan menjadi bahan bakarmu! Kau tidak lagi bergantung pada qi langit dan bumi. Kau adalah sumber api itu sendiri!”
Lin Feng terengah-engah. Rasa sakit perlahan surut, digantikan oleh kekuatan yang asing namun… familiar.
Ia mengangkat tangan kanannya.
Di telapak tangannya, muncul setitik api merah gelap. Api itu tidak berkedip seperti api biasa. Ia berputar pelan, seperti mata yang hidup, menatapnya kembali.
“Apa… ini?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Itu adalah percikan pertamamu. Namanya **Api Kebencian Primordial**. Semakin besar kebencian dan dendammu, semakin kuat api ini. Tapi ingat… api ini juga bisa membakarmu sendiri jika kau kehilangan kendali.”
Lin Feng mengepalkan tangan. Api itu meresap kembali ke dalam kulitnya, menghilang tanpa bekas.
Ia berdiri perlahan. Tubuhnya terasa ringan. Meridian yang tadinya tersumbat kini terasa seperti sungai lava yang mengalir deras. Dantiannya—yang dulu hancur—kini berdenyut seperti jantung api.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyanya pada bola api yang kini melayang di depan wajahnya.
“Bangkit. Balas. Bakar.”
Yan Di Shen Zun berputar pelan.
“Aku akan mengajarkanmu tiga teknik pertama. Teknik dasar dari warisan Api Abadi:
**Langkah Api Bayangan** – gerakan tubuhmu akan meninggalkan bayangan api yang membingungkan musuh.
**Telapak Api Menghancurkan Tulang** – satu pukulan bisa membakar tulang hingga menjadi abu dari dalam.
**Napas Api Jiwa** – kau bisa menyerap api dari musuh yang kau kalahkan, menjadikannya kekuatanmu sendiri.”
Lin Feng mengangguk pelan. Matanya tidak lagi kosong. Di dalamnya, ada nyala yang belum pernah ada sebelumnya.
“Aku akan kembali ke keluarga Lin,” katanya pelan. “Bukan sebagai sampah. Bukan sebagai pelayan. Tapi sebagai api yang akan membakar mereka semua.”
Bola api itu tertawa lagi.
“Bagus. Tapi ingat satu hal, anak manusia… jalan api adalah jalan kesendirian. Semakin tinggi kau naik, semakin banyak yang ingin memadamkanmu. Termasuk… dirimu sendiri.”
Lin Feng tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah mulut gua.
Di luar sana, fajar hampir menyingsing.
Dan bersama fajar itu, seorang Tuan Muda Sampah mulai berjalan keluar dari kegelapan—dengan api di dadanya, dan dendam di matanya.