Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Hasil pertama.
Gajian pertama adalah momen yang terasa sakral bagi siapa pun, namun bagi Nana, angka yang tertera di saldo rekeningnya pagi ini memiliki arti yang jauh lebih dalam daripada sekadar nominal rupiah. Itu adalah bukti kemerdekaannya. Itu adalah bayaran untuk setiap tetes keringat, setiap jam lembur hingga matanya merah, dan setiap luka batin yang ia ubah menjadi goresan seni di Stellar Komik Studio.
"Nana! Lihat ini!" Gani berseru dari meja kerjanya, memutar layar monitornya ke arah Nana. Seri kita masuk peringkat tiga besar di kategori New Release. Komentarnya gila, mereka semua membicarakan gaya line art-mu yang katanya 'menghujam jiwa'."
Nana mendekat, membaca beberapa komentar pembaca dengan jantung yang berdebar kencang.
> Garis gambarnya terasa sangat nyata, seolah-olah artist-nya tahu betul rasanya dikhianati.
> Detail adegan persidangannya gila, ini pasti risetnya tidak main-main!
Nana tersenyum, kali ini dengan rasa bangga yang tulus pada dirinya sendiri. Ia teringat sepuluh menit berharga yang diberikan Aska di kafetaria tempo hari. Tanpa ketegasan pria itu dalam memberikan informasi hukum, adegan yang dipuji netizen ini tidak akan pernah ada.
"Gani, aku mau keluar sebentar saat jam makan siang," ujar Nana sambil menyambar tasnya.
"Mau merayakan gaji pertama? Jangan lupa traktir aku kopi besok," sahut Gani tanpa menoleh, jemarinya sibuk memberikan warna pada sketsa Nana berikutnya.
Tujuan Nana siang itu adalah pusat perbelanjaan kelas atas di jantung kota. Ia ingin membelikan sesuatu untuk Aska. Bukan sebagai upaya untuk merayu, melainkan sebagai bentuk apresiasi yang tulus. Namun, begitu ia melangkah masuk ke butik-butik yang menjajarkan barang-barang bermerek, langkah Nana melambat.
Ia melihat sepasang cufflinks perak yang harganya setara dengan setengah gaji pertamanya. Ia melihat dasi sutra dengan motif elegan yang harganya cukup untuk membayar sewa apartemennya selama sebulan. Nana mendadak merasa minder. Selera Aska sangat tinggi; pria itu terbiasa dengan barang-barang terbaik, sementara apa yang dimiliki Nana saat ini barulah langkah awal.
Apa yang bisa kuberikan pada pria yang sudah memiliki segalanya? batin Nana.
Setelah berkeliling selama satu jam, Nana akhirnya berhenti di sebuah toko alat tulis mewah yang memiliki kesan klasik. Matanya tertuju pada sebuah fountain pen (pena celup) buatan tangan dari kayu ek tua dengan ujung emas. Pena itu elegan, kokoh, dan terlihat sangat profesional, persis seperti karakter Aska.
"Pena ini memiliki filosofi tentang keteguhan," ujar pelayan toko seolah bisa membaca pikiran Nana. "Semakin lama dipakai, kayunya akan menyesuaikan dengan genggaman pemiliknya."
Nana mengangguk. "Aku ambil yang ini."
Sore harinya, di rumah keluarga Tusi, suasana justru terasa mendung meskipun matahari bersinar terik. Tris baru saja pulang dari rumah sakit dan kini duduk di ruang tengah dengan wajah yang masih kuyu. Ia berharap kepulangannya akan disambut dengan hidangan spesial atau perhatian berlebih seperti biasanya.
Namun, ia justru mendapati ibunya sedang asyik menonton video di ponsel bersama Ria.
"Lihat ini, Ria! Ini benar-benar gambaran Nana?" tanya Tusi dengan suara penuh kekaguman.
"Iya, Tante. Ini komik yang sedang dikerjakan Nana. Bagus, kan? Penontonnya sudah ratusan ribu dalam sehari. Temanku di studio bilang Nana itu aset berharga mereka sekarang," jawab Ria dengan nada bangga yang sengaja dikeraskan agar Tris mendengar.
Tris mendengus, mencoba mengabaikan rasa panas di dadanya. "Cuma gambar orang dipotong-potong begitu apa bagusnya? Norak."
Tusi menoleh, menatap putra bungsunya dengan tatapan yang kini jauh lebih kritis. "Tris, kau itu baru pulang sakit bukannya sadar malah tambah pahit. Kau tahu tidak? Kemarin Aska bilang dia kagum karena Nana bisa riset sampai sedalam itu. Aska saja memuji, masa kau yang tunangannya, maksud Ibu mantan tunangannya, malah menghina?"
Tris tersentak. "Bang Aska memuji dia?"
"Iya. Aska bilang Nana punya potensi besar karena dia tipe orang yang mau belajar, bukan tipe orang yang cuma tahu cara mengeluh," tambah Ria sambil melirik Tris dengan tajam.
Tris terdiam, tangannya meremas bantal sofa. Posisi "anak kesayangan" dan "orang penting" di rumah ini perlahan mulai bergeser. Selama ini ia merasa paling hebat karena memiliki tunangan yang bisa ia suruh-suruh dan sahabat cantik yang memujanya. Sekarang? Tunangannya berubah menjadi wanita mandiri yang dipuji kakaknya, sementara sahabat cantiknya, Elli, bahkan tidak menelepon sejak ia terakhir datang.
Pukul tujuh malam, Nana berdiri di depan pintu apartemen Aska. Ia ragu sejenak. Ia tahu Aska sangat menjaga privasinya, namun Ria tadi memberitahunya bahwa Aska sedang ada di rumah untuk menyelesaikan berkas kasus baru.
Nana menarik napas panjang dan menekan bel.
Pintu terbuka beberapa saat kemudian. Aska muncul dengan pakaian santai; hanya kaos hitam polos dan celana kain, namun auranya tetap membuat Nana ingin berdiri tegak secara otomatis. Rambut pria itu sedikit berantakan, dan kacamata bacanya masih bertengger di hidung.
"Nana? Ada apa?" tanya Aska, matanya memindai kotak kecil di tangan Nana.
"Maaf mengganggu malam-malam, Bang. Aku... aku baru dapat honor pertama," ujar Nana sambil menyodorkan kotak itu. "Ini tanda terima kasih karena sudah membantuku dengan riset hukum kemarin. Tanpa penjelasan Abang, komikku tidak akan sesukses ini."
Aska menaikkan sebelah alisnya. Ia menerima kotak itu dan membukanya. Matanya menatap pena kayu ek itu dengan diam selama beberapa detik.
"Ini mahal," komentar Aska singkat.
"Tidak semahal waktu Abang," balas Nana cepat. "Dan ini bukan soal harga. Pena ini punya filosofi tentang keteguhan. Aku pikir itu sangat cocok dengan Abang."
Aska menatap pena itu, lalu menatap Nana. Ia melihat binar di mata gadis itu, binar yang sama yang ia lihat di kafe kemarin. Binar milik seseorang yang sedang berlari mengejar ketertinggalan.
"Masuklah sebentar. Aku tidak suka menerima tamu di ambang pintu," ujar Aska sambil berbalik masuk.
Nana tertegun, namun ia segera mengikuti langkah Aska. Ini adalah pertama kalinya ia diizinkan masuk ke ruang pribadi Aska sejak ia bukan lagi "bagian dari keluarga Tris". Apartemen Aska sangat minimalis, sangat rapi, dan penuh dengan rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit.
"Duduk," perintah Aska sambil menuju ke meja kerjanya yang dipenuhi dokumen. "Aku tidak punya teh atau camilan. Kalau kau haus, ambil air mineral di kulkas sendiri."
Nana duduk di kursi tamu, merasa sangat kecil di tengah kemegahan intelektual ruangan itu. "Terima kasih, Bang. Aku tidak akan lama. Aku tahu Abang sibuk."
Aska duduk di kursi kerjanya, mengambil pena pemberian Nana, dan mencoba menggoreskannya di atas kertas kosong. Alirannya mulus. Ia mengangguk kecil.
"Kau tahu, Nana?" Aska menatapnya dari balik kacamata. "Dalam hidup ini, orang yang sukses bukan mereka yang paling pintar, tapi mereka yang tahu cara membalas budi tanpa harus merendahkan harga diri. Pena ini kuterima. Tapi bukan berarti kau bisa sering-sering datang ke sini hanya untuk memberi hadiah."
Nana tersenyum, kali ini senyumnya terasa sangat lega. "Aku mengerti, Bang. Aku datang ke sini bukan untuk mencari perhatian, tapi untuk menunjukkan bahwa aku bukan lagi Nana yang dulu Abang temukan berantakan di apartemen."
Nana berdiri, bersiap untuk pamit. Namun, sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti dan menatap punggung Aska sekali lagi.
"Bang ... suatu hari nanti, aku akan membeli pena yang jauh lebih bagus dari itu dengan hasil karyaku sendiri yang sudah mendunia. Sampai saat itu, tolong jangan buang pena itu, ya?"
Aska tidak menjawab, ia hanya kembali fokus pada dokumennya. Namun, setelah pintu apartemen tertutup pelan, Aska meletakkan pena mewahnya yang biasa ia pakai dan meletakkan pena pemberian Nana di posisi paling depan di atas mejanya.
Aska menyeringai tipis. "Mengejar langkahku, ya? Kita lihat seberapa cepat kau bisa berlari, Nana."
Bersambung....