Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Tradisi Kertas dan Pena
Pukul enam pagi, alarm di setiap kamar asrama SMA Garuda Nusantara berbunyi dengan nada yang lembut namun persisten. Senara sudah bangun satu jam sebelumnya. Ia tidak berani menggunakan shower otomatis yang memiliki belasan tombol suhu, jadi ia mandi secepat mungkin dengan pengaturan standar yang sudah ada.
Ia mengenakan seragam barunya. Kemeja putih sutranya terasa sangat halus di kulit, dan jas biru navy-nya pas menyelimuti tubuhnya yang ramping. Saat ia berkaca, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gadis di cermin itu tampak seperti putri dari kalangan elit, namun saat ia melihat tangannya yang masih memiliki bekas luka kecil akibat membantu ibunya memotong sayur, ia teringat siapa dia sebenarnya.
Senara mengambil tasnya. Ia sengaja tidak membawa tablet sekolah yang disediakan di meja. Sebagai gantinya, ia membawa sebuah tas kain berisi beberapa buku catatan tebal dan kotak pensil usang.
"Nara! Ayo berangkat!" Rika sudah menunggu di depan pintu kamar 302. Gadis itu tampak sangat modern dengan tablet di tangan dan earbuds nirkabel di telinganya. "Kamu nggak bawa tablet? Semua materi kan ada di Cloud sekolah."
Senara tersenyum canggung. "Aku... aku lebih nyaman pakai buku, Rika. Takut layarnya pecah kalau kubawa-bawa."
Rika tertawa kecil. "Kamu lucu banget sih. Layarnya itu Gorilla Glass terbaru, Nara. Nggak bakal pecah cuma karena jatuh. Tapi ya sudahlah, yuk!"
Gedung akademik SMA Garuda adalah mahakarya arsitektur. Ruang kelasnya tidak memiliki papan tulis kapur; seluruh dinding depan adalah layar proyektor interaktif. Meja siswa merupakan stasiun kerja digital yang terintegrasi.
Senara duduk di barisan tengah, mencoba tidak terlihat gugup saat melihat teman-teman sekelasnya yang sibuk menyinkronkan perangkat mereka ke meja. Di barisan paling belakang, Bima duduk dengan santai. Ia tidak menggunakan tablet; ia menggunakan jam tangan pintar yang memproyeksikan layar holografis kecil di atas mejanya. Matanya langsung tertuju pada Senara yang sedang mengeluarkan buku catatan fisik dan sebuah pensil kayu yang harus diraut manual.
Beberapa siswa di sekitar Senara mulai berbisik sambil melirik pensil kayunya. Bagi mereka, melihat pensil kayu di kelas ini seperti melihat fosil hidup di tengah laboratorium modern.
"Selamat pagi, semuanya," suara tegas terdengar dari depan.
Seorang pria dengan rambut perak dan kacamata tebal masuk. Namanya Dr. Aris, guru Fisika sekaligus kepala kurikulum. Ia dikenal sebagai "Sang Pemangkas"—orang yang bertanggung jawab menyeleksi siapa yang layak bertahan di Garuda.
"Kita tidak akan melakukan perkenalan yang membosankan," ujar Dr. Aris tanpa basa-basi. "Di sekolah ini, kemampuan bicara kalian tidak sepenting kemampuan logika kalian. Di meja kalian sudah muncul sebuah soal. Sebuah kasus dinamika fluida tingkat lanjut dengan variabel yang terus berubah secara real-time."
Layar di meja-meja mulai menyala. Bima dengan lincah menyentuh layarnya, memasukkan rumus-rumus kompleks ke dalam kalkulator grafisnya.
"Kalian punya waktu lima belas menit," lanjut Dr. Aris. "Gunakan alat apa pun yang kalian punya. Sistem akan mencatat siapa yang mengirimkan jawaban paling cepat dan akurat."
Suasana kelas menjadi sangat hening, hanya terdengar suara ketukan jari di atas layar kaca. Bima mengerutkan kening. Soalnya sengaja dibuat menjebak; ada gangguan algoritma yang membuat angka-angkanya sedikit bergeser setiap tiga detik. Perangkat digital yang terlalu canggih justru akan mengalami lag karena mencoba memproses perubahan data yang terlalu cepat.
Senara menatap layar di mejanya. Ia tidak menyentuh fitur kalkulator di sana. Ia justru menatap angka-angka yang bergerak itu dengan mata yang sangat fokus, seolah-olah ia sedang membaca kode yang tersembunyi.
Satu menit berlalu. Senara menunduk, dan mulailah pensil kayunya menari di atas kertas buram.
Sret... sret... sret...
Suara gesekan pensil Senara di tengah keheningan kelas yang menggunakan layar sentuh terdengar sangat menonjol. Bima melirik ke arah Senara. Ia melihat tangan gadis itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Senara tidak menghitung satu per satu; ia seolah-olah sudah tahu hasil akhirnya dan hanya menuliskan pembuktiannya.
Di menit ketujuh, Bima masih berkutat dengan sinkronisasi datanya yang terhambat oleh update otomatis sistem Wijaya Tech di sekolah itu. "Sial, kenapa lambat sekali?" gumamnya pelan.
Di menit kedelapan, Senara meletakkan pensilnya. Ia mengangkat tangannya dengan sopan.
"Ya, Senara?" Dr. Aris menoleh, tampak terkejut. "Ada masalah dengan mejamu?"
"Tidak, Pak. Saya sudah selesai," jawab Senara tenang.
Seluruh kelas berhenti bergerak. Mereka menatap Senara dengan tatapan tidak percaya. Bima bahkan sampai menghentikan ketukannya di layar.
"Selesai? Kamu bahkan tidak menggunakan simulasi grafis," Dr. Aris berjalan mendekat. Ia melihat kertas buram Senara yang penuh dengan coretan angka yang rapi namun sangat padat. "Kamu menghitung variabel dinamis ini secara manual?"
"Saya memecah polanya, Pak. Variabelnya memang berubah, tapi perubahannya mengikuti deret Fibonacci yang dimodifikasi. Jadi saya hanya perlu menghitung angka dasarnya," jelas Senara sesederhana mungkin.
Dr. Aris mengambil kertas itu, matanya membelalak. "Jawabanmu... tepat hingga lima angka di belakang koma. Dan kamu melakukannya dua kali lebih cepat dari komputer sekolah."
Bima mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa panas menjalar di dadanya. Ia baru saja mengirimkan jawabannya di menit kesepuluh, dan hasilnya pun masih memiliki selisih pembulatan karena ia terlalu mengandalkan algoritma kalkulator.
"Luar biasa," gumam Dr. Aris. "Sepertinya kita punya siswi yang otaknya bekerja lebih efisien daripada prosesor quantum."
Saat jam istirahat, Senara menjadi pusat perhatian. Namun, ia justru merasa tidak nyaman. Ia segera pergi ke perpustakaan, mencari sudut paling sepi untuk memakan bekal roti yang ia bawa dari asrama.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Bima muncul, berdiri di depan mejanya dengan wajah yang sulit dibaca.
"Deret Fibonacci yang dimodifikasi?" Bima mengulang kata-kata Senara. "Itu pola yang sangat spesifik. Bahkan aku butuh waktu tiga menit hanya untuk menyadari adanya pola itu, dan kau sudah menyelesaikannya di kertas?"
Senara tidak mendongak dari bukunya. "Mungkin karena aku tidak terbiasa pakai alat canggih, Bima. Kalau di Blok 4 kita salah hitung saat beli beras, kita tidak punya tombol undo. Otakku sudah terbiasa untuk tidak boleh salah di percobaan pertama."
Bima menarik kursi dan duduk di depan Senara. "Jangan beri aku alasan kemiskinan lagi, Senara. Apa yang kau lakukan tadi bukan sekadar 'terbiasa'. Kau seolah-olah tahu bagaimana mesin itu berpikir."
Senara akhirnya menatap Bima. "Mesin itu dibuat oleh manusia, Bima. Kalau kita tahu cara manusia berpikir, kita tahu cara mesin bekerja. Bukan begitu prinsip perusahaan ayahmu?"
Skakmat. Bima terdiam. Kalimat Senara sangat masuk akal bagi seorang jenius, namun tetap tidak membuktikan bahwa dia adalah seorang hacker. Bima merasa seperti sedang mengejar bayangan di dalam ruangan yang penuh cermin.
"Aku akan memberitahumu satu hal," bisik Bima. "Besok ada tes praktikum di laboratorium robotika. Di sana, kau tidak bisa hanya pakai pensil dan kertas. Kau harus berinteraksi dengan sistem secara langsung. Kita lihat, apakah kau masih bisa sesumbar dengan 'pola manual'-mu itu."
Senara hanya mengangguk pelan. "Aku akan mencoba yang terbaik, Bima. Tapi jangan kecewa jika 'cara manual'-ku tetap lebih cepat dari robot-robotmu."
Bima pergi dengan rasa penasaran yang semakin membuncah. Ia segera kembali ke kamarnya, membuka laptop pribadinya, dan masuk ke sistem rekaman CCTV kelas Fisika tadi. Ia memutar ulang video Senara saat mengerjakan soal.
Ia memperbesar gambar tangan Senara yang sedang menulis. Ia menghitung kecepatan gerak pensilnya.
"Tidak mungkin," gumam Bima. "Kecepatan motoriknya... sinkron dengan kecepatan matanya membaca data di layar. Ini bukan sekadar pintar. Dia punya kemampuan pemrosesan data yang hampir... mekanis."
Bima kemudian melihat ke log keamanan jaringan sekolah. Tetap tidak ada aktivitas dari kamar Senara. Ponselnya mati, mejanya offline.
"Kau benar-benar membuatku gila, Senara," desis Bima. "Kalau kau memang tidak punya perangkat, berarti 'alat'-nya adalah dirimu sendiri."
Bima mulai menyusun rencana baru. Jika Senara tidak mau masuk ke dalam jaringan, maka Bima yang akan membawa "jaringan" itu kepada Senara. Ia akan memaksa Senara menggunakan teknologi dalam praktikum besok, sebuah lingkungan yang sudah ia modifikasi dengan spyware tingkat tinggi untuk merekam setiap aktivitas saraf dan ketukan jari Senara.
"Besok akan lebih sulit," bisik Senara pada dirinya sendiri.
Ia menatap robot biru di rak bukunya, satu-satunya benda yang ia kenali dengan baik di ruangan yang serba asing ini. Senara menghela napas panjang, ia merasa lelah karena harus terus-menerus menyesuaikan diri. Di sekolah ini, semua orang tampak begitu mahir dengan teknologi, sementara ia harus belajar semuanya dari nol—mulai dari cara menyalakan lampu hingga cara mengirim tugas lewat portal digital yang membingungkan.
"Aku harus belajar lebih giat lagi," gumamnya pelan. "Kalau aku terus-terusan ketinggalan soal cara pakai alat-alat ini, aku bisa malu di depan guru."
Senara mematikan lampu kamarnya setelah memastikan posisinya benar. Ia menarik selimutnya, merasa bahwa tantangan terbesarnya di SMA Garuda bukan hanya soal rumus fisika, tapi bagaimana ia bisa bertahan hidup di tengah-tengah kecanggihan yang membuatnya merasa seperti orang asing. Ia menutup mata, berharap besok ia tidak melakukan kesalahan memalukan lagi saat harus menyentuh komputer di laboratorium.