NovelToon NovelToon
Kami Yang Tak Dianggap

Kami Yang Tak Dianggap

Status: tamat
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Pihak Ketiga / Dendam Kesumat / Angst / Keluarga / Tamat
Popularitas:611.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Arabella seorang anak perempuan yang menyimpan dendam terhadap sang Ayah, hal itu diawali sejak sang Ayah ketahuan selingkuh di tempat umum, Ara kecil berharap ayahnya akan memilih dirinya, namun ternyata sang ayah malah memilih wanita lain dan sempat memaki istrinya karena menjambak rambut selingkuhannya itu.

Kejadian pahit ini disaksikan langsung oleh anak berusia 8 tahun, sejak saat itu rasa sayang Ara terhadap ayahnya berubah menjadi dendam.

Mampukah Arabella membalaskan semua rasa sakit yang di derita oleh ibunya??
Nantikan kisah selanjutnya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Malam itu udara rumah sakit terasa dingin menusuk, seolah seluruh dunia ikut diam bersama rahasia yang baru saja terbuka.

Ara terbaring di ranjang sebelah, matanya tertutup rapat, tapi pikirannya bekerja terlalu cepat untuk sekadar tidur.

Ia memutar kembali kata-kata Rafli dan Sena di kepalanya

 “Kecocokan hampir seratus persen… saudara kandung…”

Deg.

Jantungnya berdentum keras di dada. Nafasnya tersengal pelan. Ia menggenggam selimut erat, mencoba menenangkan diri. Tapi semakin ia menahan, semakin jelas bayangan masa lalu itu muncul.

“Saudara kandung? Naira?” bisiknya nyaris tanpa suara. Matanya membuka perlahan. Pandangannya jatuh ke arah ranjang kecil di sebelah, tempat Naira tidur dengan selang infus yang masih menempel di tangan mungilnya.

“Kalau benar kamu adikku…” ia menatap wajah polos itu dalam-dalam, “berarti… Ika dan Papa ....” Kalimatnya menggantung, tenggorokannya tercekat.

Ada perih yang ia kenal betul di sana. Perih karena pengkhianatan. Karena pernah tahu, dulu ibunya Sena terluka karena Ika dan Dirga. Dan kini, seolah tak cukup, mereka juga telah menyakiti seorang anak kecil?

Ara mengusap air matanya dengan kasar.

Tidak. Ia tidak boleh lemah kali ini.

Jika benar Naira adalah bagian dari keluarganya, ia harus tahu kebenarannya.

Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa matahari sudah mulai bersinar, Arkan dan Ara sudah mulai bersiap-siap untuk pulang. Sementara Sena masih setia menjaga Naira, dengan pikiran yang sulit untuk diungkapkan.

  Arkan mulai melangkah dan mendekat ke arah sahabatnya itu. "Nai ... aku sekolah dulu ya, kamu harus semangat biar cepat sembuh," ucap Arkan.

  "Aku pasti sembuh Bang, temani aku ya," pinta anak kecil itu dengan polos.

  "Aku selalu temani kamu Naira, kan aku sudah pernah janji, akan melindungimu dari orang-orang yang mau jahati kamu," ujar Arkan.

 Seketika hati Sena menjadi terenyuh, melihat ketulusan kedua anak kecil itu, ingin rasanya ia mengeluarkan air matanya, namun tidak bisa karena hatinya tidak sanggup. "Ya Allah mereka begitu tulus, bahkan semisal terbukti Naira anak Ika dan Mas Dirga ... hati ini tidak kuasa untuk membencinya, aku benar-benar menyayangi Naira," gumamnya dengan lirih.

  Tanpa Sena sadari Ara yang ada dibelakangnya nampak mendekat, dan mengelus pundak ibunya.

  Sena menoleh ke belakang, dan Ara pun tersenyum. "Kita harus sayangi dia, karena sebenarnya dia juga korban," bisik anak sulungnya.

  Sena menatap bangga anaknya itu, meskipun hidup penuh dengan luka, Ara masih bisa bersikap dengan bijak. "Nak kamu dengar?" tanya Sena.

  Ara hanya mengangguk tanpa berkata apapun, lalu gadis cantik itu mulai mengajak adiknya dan tak lupa berpamitan kepada Naira.

  "Arkan ayo kita berangkat," ajak Ara, lalu berhenti di depan ranjang Naira sebentar. "Nai ... Kakak tinggal dulu ya, nanti selesai ke kampus Kakak kesini lagi jagain Nai," ucap Ara.

  Anak kecil itu tersenyum lepas meskipun dalam keadaan sakit. "Makasih banyak Kak Ara, Nai Sayang sekali sama Kakak," sahutnya dengan nada masih lemas.

 "Iya Sayang, kakak juga sayang banget sama Nai," ucap Ara sambil mencium kening anak itu.

  Setelah berpamitan Ara langsung menggandeng tangan adiknya itu untuk keluar dari ruang inap itu, di tengah-tengah lorong rumah sakit Arkan sempat melangkah dengan ragu. "Kak," ucapnya sambil menarik tangan kakaknya.

  "Kenapa Dek, kok berhenti," sahut Ara.

  "Aku takut," ujar Arkan.

   "Takut kenapa?"

  "Nanti ibunya Naira datang lagi dan aku gak mau dikejar-kejar lagi seperti kemarin.

Ara menatap adiknya dengan lembut, lalu merunduk agar sejajar dengan tinggi Arkan. Ia mengelus kepala bocah itu perlahan.

“Nggak apa-apa, Dek. Ibu Naira nggak akan bisa ganggu kamu lagi. Sekarang Naira dijaga sama Mama dan Dokter Rafli. Aman, ya?”

“Tapi kemarin Ibu itu marah banget, Kak. Matanya serem,” ujar Arkan dengan nada kecil, seperti masih teringat kejadian mengerikan itu.

Ara menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri juga. “Kadang orang yang banyak salah suka takut kehilangan sesuatu, Dek. Tapi kita nggak usah takut. Ada aku, ada Mama, ada Tuhan yang jagain.”

Arkan mengangguk pelan, matanya menatap lantai putih rumah sakit sebelum akhirnya berkata lirih, “Aku cuma pengin Naira nggak sedih lagi, Kak. Dia sering mimpi buruk.”

Ara menatapnya dalam, hatinya menghangat. Anak sekecil Arkan bisa sepeka itu terhadap perasaan orang lain. Ia lalu tersenyum, menepuk pelan bahu adiknya.

“Makanya, kamu harus jadi kuat, biar Naira bisa ikut kuat juga.”

Mereka pun melanjutkan langkah keluar dari koridor rumah sakit. Bau antiseptik perlahan berganti dengan udara pagi yang segar. Cahaya matahari menembus dedaunan, membuat embun di rerumputan berkilau lembut.

Ara memegang tangan Arkan erat-erat, menuntunnya menyeberangi jalan menuju halte. Mobil-mobil berlalu dengan suara klakson bersahutan, namun di antara hiruk pikuk itu, keduanya tetap berjalan berdampingan dalam diam yang hangat.

Sesampainya di halte, Ara melirik jam di pergelangan tangannya. “Masih sempat. Bus sekolah kamu sebentar lagi datang.”

Arkan mengangguk, masih menatap lurus ke depan. “Kak, nanti Kakak beneran ke rumah sakit lagi kan?”

“Tentu,” jawab Ara lembut. “Kakak janji. Setelah kelas siang selesai, Kakak langsung ke sana. Naira pasti senang kalau lihat kamu juga datang.”

Arkan tersenyum tipis, lalu menunduk sambil memainkan resleting tasnya. “Aku mau beliin dia cokelat nanti. Katanya Naira suka cokelat.”

Ara tersenyum semakin lebar, meski di balik senyumnya tersimpan getir yang tak ingin ia tunjukkan. “Boleh. Tapi nanti Kakak temenin belinya, ya.”

Tak lama kemudian, bus sekolah berhenti di depan mereka. Arkan menaiki tangga bus dengan langkah kecil, lalu menoleh ke kakaknya. “Kak Ara hati-hati ya di kampus.”

“Iya, kamu juga. Jangan lupa sarapan roti yang Kakak masukin ke tasmu,” jawab Ara sambil melambaikan tangan.

Bus perlahan melaju meninggalkan halte, sementara Ara masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah yang sama hingga kendaraan itu hilang di tikungan. Angin pagi berhembus lembut, menerpa wajahnya yang tampak memendam sesuatu.

“Adik kecil itu bukan cuma sahabatmu, Kan,” gumamnya lirih. “Mungkin… dia benar-benar bagian dari kita.”

Seketika angin berhembus lebih kencang, membuat ujung rambut Ara menari pelan di udara. Ia memejamkan mata sesaat, seolah berdoa dalam hati.

“Ya Tuhan, kalau semua ini benar… tolong beri aku kekuatan untuk tahu semuanya tanpa membenci siapa pun.”

Setelah itu, Ara pun melangkah pergi, menyusuri trotoar menuju arah kampus. Di setiap langkahnya, tekad itu semakin menguat tekad untuk menemukan kebenaran, walau itu berarti harus membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

"Selesai kelas aku ingin mendatangi langsung rumah ibunya Naira," ucap Ara ketika sudah sampai di depan ruang kelasnya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Singkat cerita kelas sudah selesai matahari semakin naik keatas, dengan langkah tergesa Ara mulai menaiki ojek online yang sudah ia pesan.

Jalan Melati. masuk gang Kenari, itulah alamat yang baru saja ia dapat dawi seorang teman yang kebetulan satu gang dengan rumah Naira. Suara motor meraung, kencang seperti tekad Ara yang sudah bulat untuk menyelidiki sebuah hal yang menurutnya ganjil.

Beberapa menit kemudian, Ara sampai di gang tersebut, ia pun langsung membawa masuk kang ojek tersebut. "Bang tunggu ya aku ada urusan bentar," ucap Ara sambil turun dari motor tersebut.

Ia pun mulai melangkah melihat jajaran rumah warga yang terlihat begitu padat hampir tidak ada celah sedikitpun, ia pun melewati rumah ini dengan sedikit memiringkan tubuhnya, karena sebagian perabotan dapur milik warga di taruh di tepi jalan gang tersebut.

Semua orang mulai melihatnya, dan Ara pun mencoba untuk bertanya kepasa warga tersebut. "Ibu punten ya, saya mau tanya?"

"Iya Neng tanya saja," sahut seorang pria paruh baya.

"Pak, rumah Ibu Sita dimana ya?" tanya Ara.

"Itu Nak, yang cat biru," sahut pria itu sambil menatap khawatir. "Kamu mau apa, di rumah itu setiap harinya selalu dibuat mabok-mabokan oleh anak Ibu Sita," ujar pria itu terdengar memperingati.

"Oh begitu ya Pak, aku sebenarnya hanya ingin tanya mengenai Naira," ucap Ara.

"Ada perlu apa dengan Naira?" tanya Bapak Hasan.

"Oh itu Pak, mau beli tisu, dan juga mau tanya-tanya apa Bapak tahu hal banyak tentang Naira," sahut Ara.

"Oh Naira," ucapnya. "Anak itu sepertinya tidak terlihat, palingan ada di jalanan jualan tisu, anak itu kasihan dari kecil hidupnya sengsara, karena selalu mendapatkan prilaku yang kurang baik dari Sita," imbuh Pak Hasan.

"Kasihan sekali ya Pak, tapi kenapa kok ibunya tega sama anaknya?"

Pak Hasan hanya menatap nanar seperti ada rahasia dibalik semua itu, namun ia sulit untuk mengungkapkan. "Entahlah ...," ucapnya berat.

"Memang kenapa Pak?" tanya Ara kembali.

Belum sempat Bapak itu menjawab, suara gadu dari rumah Ibu Sita terdengar jelas, hingga membuat warga berlari mendatangi rumah itu.

"Ada apa itu Pak?" tanya Ara.

"Gak tahu Neng sepertinya gaduh ayo kita kesana," ajak Pak Hasan.

Para warga sudah mulai berdatangan mekerai pertengkaran itu dan ternyata benar, si Doni marah kepada Sita kerena tidak diberi uang untuk membeli rokok dan minuman seperti biasanya. "Hah .... dasar gak guna, apalagi si anak pungut sialan itu, kenapa dia harus tertabrak sih!" geram Doni sambil mencekik leher ibunya.

"Don ... lepasin Ibu Nak ... lepasin sakit ...," mohon Sita yang tak di gubris.

"Gak mau, pokoknya secepatnya Ibu bawa uang untukku dan teman-temanku!" teriaknya terdengar sampai ke luar rumah.

Para warga mulai bertindak mendobrak pintu rumah Sita, dan begitu berhasil Doni terkejut,namun bukannya melepas ia semakin menjadi seolah hal itu sudah bias.

"Doni lepaskan!" tegur salah satu warga.

"Kalau gak mau kenapa, lagian salah dia sendiri, punya anak ditukar dengan orang kaya, bukannya dapat untung malah buntung," ujar Doni yang masih mencekik ibunya.

"Tapi itu ibumu," teriak yang lainnya,

Para warga pun mulai melerai dan berusaha keras untuk memisahkan tangan Doni, dari leher ibunya meskipun awalnya sulit namun usaha warga membuahkan hasil, dan tanpa di sadari sedari tadi Ara menyalakan alat perekam suara sebagai bukti meskipun hatinya sempat terkejut.

"Astaga! Begitu kejamnya orang-orang ini terhadap Naira," gumam Ara.

Bersambung ....

1
Saya Sayekti
bagus thooor
ros
kenapa ara x belajar seni bela diri ya
Sumirah Mira
terimakasih kasih kak ... happy ending 🥰
Sumirah Mira
Ara.. keren
Sumirah Mira
Ika... tunggu ya kebohongan mu gak lama lagi akan terbongkar
Sumirah Mira
ara sama Naira itu saudara kandung kah...
ros
naira anaknya Ika sama dirga yg ditukar sama anak org lain
Sumirah Mira
apa Naira anak Dirga sama Ika ..sedang Arjuna cuma anak pengganti 🤔
Sumirah Mira
emang bener omongan Tante Lidia... tunggu karmanya aja mudah mudahan datang nya cepet
Lala lala
waktu pindah kan tdk lama dr rumah besar ke rumah kecil pasti bajunya dirga bagus², jam tangan bagus2, pasti banyak, kan big boss, masa auto gembel..dibilang jaket lusuh.. itu sih ga msk akal 🙏😄 jam mahal bs dijual .. aku sk penasaran alur bgtu .. krna sodaraku tu mantan boss meski sdh tdk kaya lagi tp bajunya msh keren² dan msh kinclong..masih ada sisa jam tangan mewah bbrpa biji..msh ada emas batangan dikit hak pribadi, bs lah bertahan, msh ada asuransi swasta 👍
Lala lala
big boss meski bagi aset tdk lah menddk kere..aset hrs bagi 2 adil..dan lebihkan utk anak sdikit. itu pembagian yg betul dlm agama dan hukum.. bkn semua diserahkan semua..yg kerja besarkan persh ttp suami..emg perushaannya apa kbr, siapa yg jalani..tdk dijelaskan
Lala lala
dasar bapak ganjen..mau pelakor kelas rendahan pun diladeni
Lala lala
Naura bukan anak syah jd bukan nasab si dirga, nasabnya binti Ika
Lala lala
iya bener ara..namanya anak kecil klo udh ga suka ya benci.
anak sodaraku bencii bgt sm ayahnya yg penghianat..cmn lerlu duitnya aja..mau gmn lg balak nya contohin yg buruk trus
Lala lala
kenapa ya novel dibuat konyol..istri kabur cmn bawa barang milik sendiri..
kalo aku sih bw semua harta benda dan surat2 mobil, rumah..yg cerdas dong itu kan milik istri dan anak..j😄
Danny Muliawati
ambil aza Naira itu anak nya Ika biar tambah nyesel hidup nya dasar perempuan ga tau diri gemes jd nya
Danny Muliawati
kasian deh lo karin ... knp sih jelang hr bahagia sena ada aza ulet bulu datang
Danny Muliawati
karin kemana aza atuh kok br skrg pengen ngilshingin yg mengganjal di hati 10 thn lo rafli nunggu sena
Danny Muliawati
ya ampun propokator ada aza yah ika jg sdh du sel msh aza yah bkn nya mawas diri d tobat
Danny Muliawati
sena blm jadi nikah dg dr Rafli
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!