Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Di dalam mobil Bentley hitamnya yang melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan di atas rata-rata, atmosfer di sekitar Dante Volkov terasa sangat panas. Ia mencengkeram kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinga. Rahangnya masih mengeras, sisa amarah dari perdebatan di kamar tadi belum sepenuhnya padam.
"Arisov," geram Dante saat panggilan tersambung. "Apakah masuk akal jika seorang wanita hamil menangis histeris hanya karena ingin makan ramen pedas? Apa itu semacam taktik manipulasi baru untuk membuatku gila?"
Di seberang telepon, Dr. Arisov berdehem pelan, mencoba menahan tawa yang bisa saja membuat kepalanya pindah ke lantai. "Itu disebut 'mengidam', Tuan Volkov. Perubahan hormonal yang drastis pada ibu hamil sering kali menciptakan keinginan yang sangat spesifik dan tidak rasional terhadap makanan tertentu. Itu sangat wajar."
"Wajar?" Dante mendengus, menyalip sebuah truk dengan manuver tajam. "Dia bersikap seolah dunianya akan kiamat jika tidak memakan mi instan murahan itu."
"Sebenarnya, jika keinginannya tidak dituruti, stresnya akan meningkat, dan itu buruk bagi kesehatan janin dan ibunya," jelas sang dokter dengan nada edukatif. "Selama tidak dikonsumsi berlebihan dan tingkat kepedasannya masih dalam batas wajar, itu tidak masalah. Anggap saja itu cara bayi Anda menyapa melalui selera makan ibunya."
Dante langsung memutuskan sambungan tanpa ucapan terima kasih. Bayi menyapa? Pikiran itu membuatnya muak sekaligus gelisah. Namun, kaki kanannya justru menginjak pedal gas lebih dalam. Ia segera menghubungi informannya untuk mencari restoran ramen paling otentik dan terbaik di kota, tempat di mana koki Jepang asli yang memasaknya, bukan sekadar makanan sampah pinggir jalan.
***
Sementara itu, di dalam kamar yang terkunci, Alana masih meringkuk di atas karpet bulu di samping ranjang. Bahunya terguncang hebat. Air mata dan ingus menyatu, merusak wajah cantiknya yang kini tampak sembab dan kacau.
"Kau jahat, Dante... kau iblis kejam!" rintihnya di sela-sela isak tangis. "Kau yang memaksaku setiap malam, kau yang menanam benih ini di rahimku, tapi kau memperlakukanku seperti sampah! Kau tidak punya hati... kau monster!"
Alana terus mengutuk, mengeluarkan semua rasa sakit hatinya. Ia merasa sangat kesepian di tengah kemewahan mansion ini. Baginya, janin di rahimnya adalah satu-satunya sekutu yang ia miliki, dan ayahnya sendiri adalah musuh terbesar mereka.
Cklek.
Pintu kamar terbuka. Alana tidak menoleh, ia mengira itu Arthur yang datang untuk mengambil nampan sarapannya yang utuh. "Pergilah, Arthur... aku tidak ingin makan apa pun," isaknya.
"Bahkan jika itu ramen yang kau tangisi seperti bayi?"
Suara bariton yang dingin dan berat itu membuat Alana tersentak. Ia menoleh dengan lambat. Dante berdiri di ambang pintu, masih dengan setelan jas mahalnya, namun tangannya menenteng sebuah bungkusan kertas premium dengan logo restoran Jepang ternama.
Dante melangkah masuk, menutup pintu dengan kakinya, lalu berdiri menjulang di depan Alana yang masih duduk di lantai dengan kondisi memprihatinkan. Dante menunduk, menatap istrinya dengan tatapan mengejek yang tajam.
"Luar biasa," dengus Dante. "Kau baru saja memakiku 'monster tidak berperikemanusiaan' saat aku tidak ada, dan lihat tampilanmu sekarang. Hidung merah, mata bengkak seperti disengat lebah, ingus yang keluar-masuk, dan rambut yang lebih mirip sarang singa daripada seorang Nyonya Volkov. Kau benar-benar menjijikkan pagi ini, Alana."
Biasanya, Alana akan merasa terhina atau takut mendengar ejekan tajam suaminya. Namun, indra penciumannya menangkap sesuatu yang jauh lebih penting daripada harga dirinya. Aroma kaldu tulang yang gurih, sedikit aroma bawang putih goreng, dan sensasi pedas yang menyengat dari cabai pilihan mulai memenuhi ruangan.
Mata Alana yang bengkak langsung tertuju pada bungkusan di tangan Dante. Ia menelan ludah, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja mengutuk pria itu sampai ke neraka terdalam.
"Itu... itu ramen?" tanya Alana dengan suara serak, bahkan ia sempat menarik ingusnya dengan bunyi yang tidak estetis sama sekali.
Dante mendecih, merasa geli sekaligus tak percaya melihat bagaimana harga diri Alana runtuh hanya demi aroma makanan. "Duduklah di meja. Sebelum aku berubah pikiran dan membuang sampah pedas ini ke kolam renang."
Tanpa diperintah dua kali, Alana bangkit dengan cepat. Meski tubuhnya masih sedikit lemas, keinginan mengidamnya memberinya energi instan. Ia duduk di kursi kecil dekat jendela, menatap penuh damba saat Dante meletakkan wadah keramik berisi ramen panas itu di depannya.
Dante membuka tutupnya, dan uap panas yang mengepul membawa aroma yang begitu menggugah selera hingga perut Alana berbunyi nyaring. Di sana ada mi yang kenyal, irisan daging chashu yang lembut, telur setengah matang dengan kuning yang lumer, dan kuah merah yang menggoda.
"Habiskan. Dan berhenti menangis, kau membuat telingaku sakit," kata Dante dingin, meskipun ia tetap berdiri di sana, memperhatikan Alana yang mulai menyambar sumpit dengan tangan gemetar karena antusias.
Alana tidak peduli lagi pada ejekan Dante tentang tampilannya yang berantakan. Baginya, saat ini Dante—meskipun masih monster yang jahat—adalah monster yang baru saja membawakannya "surga" di dalam mangkuk.
Sama klau bisa request yg dominan cewenyabdongggg
kecewa😔😔😔