Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 [Warning 18+]
Ritme yang tadinya lambat kini berubah drastis. Leon mulai membawa suasana semakin intens, memberikan dorongan yang lebih kuat dalam setiap penyatuan mereka. Keheningan kamar yang temaram itu kini hanya dipenuhi oleh napas yang saling memburu, menciptakan harmoni yang memabukkan.
Eiryn terkesiap, suaranya pecah di antara tarikan napasnya yang pendek. Matanya berkaca-kaca, menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang sayu. Tangannya kini mencengkeram bahu Leon seiring dengan debaran jantungnya yang semakin liar.
Leon tidak memberi ampun. Ia terus membawa Eiryn hanyut, merasakan betapa gadis itu telah sepenuhnya menyerahkan diri padanya dalam kehangatan yang luar biasa.
"Tuan... aku... aku tidak kuat lagi..." rintih Eiryn pelan.
Eiryn tersentak hebat. Tubuhnya menegang, dan jarinya mencengkeram sprei dengan kuat. Pada titik puncak itu, Leon merasakan getaran hebat dari batin Eiryn, menandakan bahwa gadis itu telah mencapai batas kesadarannya. Leon pun membiarkan dirinya tenggelam dalam puncak kebahagiaan yang sama.
Sesaat kemudian, Leon melepaskan dekapannya. Keduanya jatuh kembali ke kasur dengan napas yang masih tersengal-sengal. Eiryn terlihat lemas, matanya terpejam dengan sisa gelombang kenikmatan yang masih menyengat di sarafnya.
Tubuh Eiryn terasa ringan dan tak bertenaga, seolah seluruh jiwanya baru saja dibawa terbang ke awan.
...[ 2/3 ]...
Melihat notifikasi itu, Leon menyeringai. Ia belum puas. Leon mencondongkan tubuhnya kembali, menatap wajah Eiryn yang masih terbuai dalam suasana itu.
Tanpa berkata apa-apa, Leon menyambar bibir Eiryn lagi. Kali ini, tidak ada lagi keraguan. Eiryn yang sudah sepenuhnya terbuai oleh perasaan membalas ciuman itu dengan penuh hasrat. Mereka kembali bertautan dalam ciuman yang dalam dan penuh kehangatan.
Eiryn merangkul leher Leon, menarik kepala tuannya itu seolah tidak ingin ada jarak lagi di antara mereka. Ia benar-benar telah tenggelam dalam pesona Leon, lupa akan segalanya. Yang ia inginkan hanyalah Leon yang terus berada di sisinya
Leon melepaskan pagutan bibirnya yang basah, menatap Eiryn yang terengah dengan wajah merona. Tanpa membuang waktu, ia membawa Eiryn ke dalam dekapan yang lebih intens.
"Ikuti aku," perintah Leon dengan nada rendah yang tidak bisa dibantah.
Eiryn menurut dalam kondisi yang sudah sepenuhnya terbuai gairah. Dalam posisi yang baru, Leon memberikan tekanan yang lebih dalam, membuat Eiryn terkesiap merasakan kehadiran sang tuan yang begitu dominan.
Leon menarik kedua tangan Eiryn dengan lembut, mendekapnya dari belakang sementara ia kembali menyatukan raga mereka. Eiryn merintih pelan; posisi ini membuat setiap sentuhan Leon terasa jauh lebih bermakna dan mencapai sanubarinya.
Leon membisikkan kata-kata tepat di telinga Eiryn. "Panggil namaku, Eiryn. Sebut namaku dengan jelas."
"Le... Leon... Tuan Leon..." rintihnya dengan suara yang pecah karena luapan rasa yang begitu hebat.
Mendengar namanya disebut, adrenalin Leon seolah meledak. Ia membawa irama yang lebih cepat dan bertenaga. Setiap pergerakan Leon membuat tubuh Eiryn bergetar hebat dalam harmoni penyatuan mereka.
Eiryn tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia memejamkan mata setiap kali Leon menyentuh titik kelemahannya. Keringat membasahi punggung mulusnya, berkilau di bawah cahaya lampu yang temaram.
Leon semakin terbawa suasana, ia hanya ingin menyelesaikan misi ini dengan cara yang paling berkesan. Rangka tempat tidur kayu itu berderit seiring dengan ritme yang semakin meningkat. Pandangan Eiryn mulai mengabur, dunianya hanya berisi kehangatan yang terus dipompa oleh Leon.
"Leon... Leon... aku..."
"Bersama, Eiryn!" potong Leon di detik-detik terakhir.
Gejolak hebat itu mencapai puncaknya. Leon memberikan dorongan terakhirnya yang paling dalam, sementara Eiryn tertegun dengan tubuh yang menegang kaku menikmati puncak kebahagiaan yang luar biasa. Seluruh perasaan mereka meledak bersamaan, menyatu dalam sebuah kepuasan yang tiada tara.
...[Misi Spesial Selesai!]...
Namun, bara gairah yang menyala seolah enggan padam begitu saja. Leon membalikkan tubuh Eiryn, menatap matanya yang sayu dan penuh kasih. Kali ini, Eiryn yang bergerak dengan sisa tenaga yang ada, ia merengkuh tubuh Leon, membiarkan dirinya berada di atas kendali.
"Tuan... biarkan aku yang melakukannya kali ini..." bisik Eiryn malu-malu.
Meski terlihat ragu, Eiryn mencoba membalas semua kehangatan yang diberikan Leon. Gerakannya yang polos justru membuat Leon semakin terpesona. Waktu seolah berhenti di kamar itu. Jam demi jam berlalu, hanya ada suara napas dan kehangatan yang memenuhi ruangan, menandakan malam yang masih sangat panjang bagi mereka.
Beberapa jam kemudian, suasana berangsur tenang. Eiryn sudah tertidur lelap di atas dada bidang Leon.
Wajah cantiknya terlihat sangat damai meski sisa air mata dan keringat masih membekas. Ia benar-benar kelelahan setelah pertempuran panjang tadi.