NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Perang Dingin Dua Pangeran

Pasar Beringharjo siang itu ramai seperti biasanya.

Aroma rempah, ikan asin, dan dupa kemenyan berbaur menjadi satu. Sawitri melangkah pelan di antara deretan kios, matanya sesekali memindai tumpukan jahe merah dan kunyit yang dipajang.

Ndari mengikuti di belakang, memegang daftar belanjaan dari Nyi Inggit.

“Ndara, kita sudah beli jahe. Sekarang ke penjual cengkeh?”

Sawitri mengangguk. “Sebelah sana.”

“Ndara Tabib! Kebetulan sekali.”

Tiba-tiba, sebuah suara hangat menyapa dari samping.

Sawitri menoleh.

Raden Mas Jatmiko berdiri di samping kios kain. Surjan biru mudanya rapi, senyumnya mengembang. Di tangannya, seikat jajanan pasar terbungkus daun pisang.

“Raden Jatmiko.” Sawitri menatapnya datar. “Berburu di pasar?”

Jatmiko tertawa. “Hari ini kulo memutuskan untuk berburu jajanan daripada rusa. Ini jadah bakar favoritku.” Ia mengangkat bungkusannya.

“Kau mau? Kulo traktir.”

“Kulo sedang bekerja, Raden.”

“Ah, sebentar saja. Lihat, di pojokan sana ada kedai kecil yang menjual wedang uwuh terbaik di Mataram. Temani kulo minum?”

Sawitri mengamati pemuda itu. Postur santai, tapi matanya tajam. Ini bukan kebetulan.

“Kulo...”

“Ndara Tabib!”

Suara lain memotong.

Cakrawirya muncul dari balik kerumunan. Langkahnya cepat. Wajahnya datar. Di tangannya, selembar gulungan lontar.

“Ada kabar dari Ki Lurah Wirapati. Kasus baru.”

Sawitri menatapnya. “Sekarang?”

“Sekarang.” Cakrawirya melirik Jatmiko sekilas. “Jatmiko, masih di pasar? Kupikir kau sudah berburu ke alas selatan.”

Jatmiko tersenyum lebar. “Rencana berubah, Kakang. Aku menemukan pemandangan yang lebih menarik di sini.”

Matanya melirik Sawitri.

Cakrawirya tidak bereaksi. Atau setidaknya, berusaha tidak bereaksi.

“Kalau begitu, silakan nikmati pasarmu. Sawitri, ayo.”

Sawitri melangkah mengikuti Cakrawirya.

Di belakangnya, Jatmiko berseru, “Sampai jumpa nanti sore, Ndara Tabib! Kulo akan ke pesanggrahanmu untuk periksa bahu!”

Cakrawirya menghentikan langkah. Hanya sedetik. Lalu melanjutkan berjalan.

Sawitri melihatnya. Otot trapezius Cakrawirya menegang. Respons fisiologis terhadap iritasi.

Menarik.

Sore harinya, Sawitri baru saja selesai meracik minyak urut di pendopo kecil pesanggrahan.

Ndari masuk dengan wajah cemas.

“Ndara... Raden Mas Jatmiko datang. Beliau di luar.”

Sawitri menghela napas. “Suruh masuk.”

Jatmiko melangkah masuk dengan senyum cerah. Kali ini ia membawa serta dua abdi dalem yang membawa berbagai bingkisan.

“Selamat sore, Ndara Tabib. Aku datang tepat waktu.”

Sawitri menunjuk kursi kayu di pendopo. “Duduk. Tangan kanan di atas meja.”

Jatmiko menurut. Matanya mengamati ruangan sederhana itu.

“Kau tinggal di sini? Sendirian?”

“Dengan Nyi Inggit dan Ndari.” Sawitri membuka toples minyak. “Buka surjanmu. Bahu perlu dioles langsung.”

Jatmiko membuka surjannya, memperlihatkan bahu kanan yang bidang. Sawitri mengoleskan minyak dengan gerakan presisi, menekan titik-titik tertentu.

“Kau kuat menahan sakit?”

“Untukmu, apa pun aku tahan.”

Sawitri tidak menanggapi. Tangannya terus bekerja.

Di tengah pijatan, suara langkah kaki terdengar dari luar.

Cakrawirya muncul di ambang pintu. Wajahnya datar. Matanya menyapu ruangan.

“Oh, maaf. Kulo mengganggu.”

Jatmiko tersenyum. “Tidak mengganggu, Kakang. Aku sedang dirawat. Silakan duduk kalau mau.”

Cakrawirya tidak duduk. Ia bersandar di tiang pintu, melipat tangan.

“Sawitri, kalo sudah selesai, kulo perlu bicara. Ada informasi baru tentang prajurit yang kita tahan.”

“Setengah jam lagi,” jawab Sawitri tanpa menoleh.

Cakrawirya mengangguk. Tapi tidak pergi. Ia tetap di sana, mengawasi.

Jatmiko terkekeh pelan. “Kakang, kau tidak percaya padaku?”

“Kulo percaya pada fakta. Dan fakta mengatakan kau seharusnya sudah di alas selatan dua jam lalu.”

“Rencana berubah.” Jatmiko menatap Sawitri. “Ada yang lebih menarik di sini.”

Cakrawirya diam. Tapi jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan.

Sawitri menyelesaikan pijatan. Menutup toples minyak.

“Selesai. Lakukan sendiri setiap malam selama seminggu.”

Jatmiko merapikan surjannya. “Terima kasih, Sawitri. Kau benar-benar ahli.”

Ia berdiri, melirik Cakrawirya. “Kakang, jangan terlalu keras menjaganya. Dia bukan tawanan perang.”

Cakrawirya tersenyum tipis. “Dia aset penting Kadipaten. Tugas kulo menjaganya.”

“Dari apa? Dari pangeran tampan seperti aku?” Jatmiko tertawa.

“Sampai jumpa besok, Sawitri. Kulo akan kembali untuk pemeriksaan lanjutan.”

Ia melangkah keluar.

Cakrawirya menatap kepergiannya. Lalu menatap Sawitri.

“Dia akan kembali besok?”

“Katanya begitu.”

“Kau akan menerimanya?”

Sawitri menatapnya. “Dia pasien. Kulo tidak menolak pasien.”

Cakrawirya menghela napas. “Jatmiko bukan pasien biasa. Dia punya agenda.”

“Semua orang punya agenda.” Sawitri merapikan peralatannya.

“Termasuk kau.”

Cakrawirya diam.

“Informasi apa yang kau bawa?” tanya Sawitri.

Cakrawirya mendekat. “Prajurit yang kita tahan mulai bicara. Dia mengaku Komandan Sarkati menyuruhnya membuang mayat Wartinah, tapi dia tidak tahu soal rambut.”

“Rambut itu bukti kunci. Kita perlu mencocokkannya dengan seseorang.”

“Kau punya ide siapa?”

Sawitri mengangkat wajah. “Seseorang yang dekat dengan Sukmawati. Mungkin dayang kepercayaannya. Atau...”

Ia berhenti.

“Atau?”

“Atau Sukmawati sendiri.”

Cakrawirya mengerutkan kening. “Rambut sepanjang itu? Sukmawati rambutnya sebahu.”

“Rambut palsu.” Sawitri menatapnya. “Sanggul. Atau sambungan. Teknik merias rambut sudah ada sejak dulu.”

Cakrawirya terdiam memproses.

“Kau perlu memeriksa rambut Sukmawati secara langsung?”

“Atau menemukan tempat dia membeli rambut palsu.” Sawitri menutup tasnya.

“Tapi itu nanti. Sekarang kulo perlu ke kamar mayat. Ada mayat baru?”

Cakrawirya menggeleng. “Belum ada laporan.”

“Bagus. Berarti kulo bisa istirahat.”

Sawitri beranjak menuju kamarnya. Cakrawirya mengikuti.

“Kau tidak akan istirahat. Kau akan membaca laporan lama lagi.”

Sawitri berhenti. Menoleh.

“Kau mengenalku baik, Cakrawirya.”

“Kulo mencoba.”

Mereka berpandangan. Sawitri melihat sesuatu di mata pemuda itu. Bukan hanya kekesalan pada Jatmiko, tapi juga... kehangatan?

Atau hanya bias cahaya pelita?

“Selamat malam, Cakrawirya.”

“Selamat malam, Sawitri.”

Keesokan harinya, Sawitri pergi ke pasar lagi.

Kali ini untuk membeli perlengkapan medis: pisau baru dan jarum perak.

Di kios pandai besi, ia sibuk memilih ketika suara familiar kembali menyapa.

“Kebetulan lagi, Ndara Tabib.”

Jatmiko berdiri di sampingnya. Kali ini tanpa abdi dalem.

“Raden Jatmiko. Kebutuhan berburu lagi?”

“Kebutuhan membeli hadiah untuk seseorang.” Ia mengambil sebilah keris kecil dari etalase.

“Untuk seorang wanita yang sulit didekati. Kau tahu wanita seperti itu?”

Sawitri tidak menjawab. Ia kembali memilih pisau.

Jatmiko mendekat. “Kau suka pisau? Aku bisa membelikan yang terbaik.”

“Kulo bisa membeli sendiri.”

“Tawaran itu tidak akan pernah berubah.”

“Kulo juga tidak akan pernah menerima.”

Jatmiko tertawa. “Kau konsisten. Aku suka itu.”

Dari kejauhan, Cakrawirya muncul.

Ia berjalan langsung ke arah mereka, tanpa basa-basi duduk di bangku kosong di samping kios.

“Cakrawirya?” Jatmiko mengerutkan kening. “Kau mengikuti kami?”

“Kulo membeli tembakau.” Cakrawirya menunjuk kios sebelah.

“Kebetulan.”

Jatmiko tersenyum sinis. “Kebetulan yang sangat sering terjadi.”

Cakrawirya tidak menjawab. Ia mengambil kantong tembakau dari pedagang, lalu duduk diam, mengamati.

Sawitri menyelesaikan pembeliannya. Ia menoleh pada kedua pangeran itu.

“Kalian berdua punya banyak waktu luang.”

Jatmiko tertawa. “Hanya untukmu, Sawitri.”

Cakrawirya diam. Tapi matanya menatap Jatmiko dengan intensitas yang tak perlu kata-kata.

Sawitri mengamati keduanya.

Cakrawirya: denyut nadi normal, tapi pupil sedikit melebar. Fokus pada Jatmiko.

Jatmiko: senyum mengembang, tapi tangan kanannya meraba gagang keris kecil yang baru dibeli. Respons defensif.

Dua pejantan memperebutkan wilayah.

Sayangnya, wilayah itu adalah dirinya.

Menarik, tapi tidak efisien.

“Kulo pulang.” Sawitri berbalik.

Jatmiko melangkah mengikuti. “Aku antar.”

Bersamaan.

“Kulo antar.” Cakrawirya bangkit.

Mereka berdua memandang Sawitri.

Sawitri menatap mereka bergantian. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia melangkah pergi sendirian.

Meninggalkan dua pangeran yang saling berpandangan.

Malam harinya, Sawitri duduk di kamarnya, menulis catatan.

Ndari masuk dengan wajah gelisah.

“Ndara, ada dua orang di luar. Raden Cakrawirya dan Raden Jatmiko. Mereka berdua datang dan... mereka duduk di pendopo. Diam-diaman.”

Sawitri menghela napas.

“Biarkan mereka.”

“Tapi Ndara...”

“Mereka bukan pasien. Mereka tidak butuh apa-apa. Kalo mereka mau duduk di pendopo semalaman, biarkan.”

Ndari mengangguk ragu, lalu keluar.

Sawitri kembali menulis.

Di pendopo, dua pangeran duduk berseberangan.

Cakrawirya membaca lontar. Jatmiko memainkan keris kecilnya.

Diam.

Tapi udara di antara mereka bergetar.

Sawitri mendengar keheningan itu dari kamarnya.

Ia tersenyum tipis. Hanya sedikit.

“Perang dingin,” gumamnya.

Lalu kembali menulis.

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!