"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Kehancuran Mental Alana
Bab 30: Kehancuran Mental Alana
Keheningan di dalam safe room bawah tanah itu terasa lebih mencekik daripada riuh rendah amukan massa di atas sana. Cahaya lampu neon darurat yang berkedip memberikan rona pucat pada wajah Alana. Gadis itu duduk meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya erat-alih-alih menangis histeris, ia hanya menatap kosong ke lantai beton yang dingin.
Dunia Alana telah hancur. Bukan secara perlahan, melainkan dalam satu ledakan sistematis yang dipicu oleh pria yang kini duduk beberapa meter darinya.
Kenzi membersihkan luka gores di lengannya dengan alkohol medis dari kotak P3K. Ekspresinya tetap datar, namun secara internal, sistem kognitifnya sedang memproses anomali data.
> Status Subjek (Alana): Tekanan psikologis tingkat akut. Detak jantung tidak teratur (takikardia ringan). Penurunan respon verbal sebesar 95%.
> Penyebab Utama: Kehilangan status sosial, keamanan finansial, dan stabilitas emosional secara simultan.
> Kesimpulan Logis: Objek sedang mengalami fase 'shattered reality'.
>
Kenzi tahu bahwa kehancuran mental Alana adalah produk sampingan dari misinya. Menghancurkan Wijaya berarti menghancurkan Alana. Secara objektif, ini adalah efisiensi operasional. Namun, melihat gadis yang biasanya angkuh dan ceria itu kini menyerupai cangkang kosong, ada sesuatu yang bergeser dalam struktur logika Kenzi. Sebuah residu perasaan yang ia labeli sebagai "kesalahan sistem."
"Nona Alana," Kenzi memanggil, suaranya rendah namun tajam. Tidak ada jawaban. Alana tetap bergeming, napasnya pendek dan dangkal.
Kenzi berdiri, melangkah mendekat. Ia berjongkok di depan Alana, memaksa gadis itu untuk melihat ke arahnya. "Anda harus makan. Tubuh Anda membutuhkan glukosa untuk mempertahankan fungsi kognitif."
Alana mengangkat kepalanya perlahan. Matanya yang sembab menatap Kenzi, namun tidak ada kemarahan di sana—hanya kekosongan yang mengerikan. "Kenapa, Kenzi?"
"Kenapa apa?"
"Kenapa kau membiarkanku hidup?" suara Alana nyaris hilang. "Kau mengambil rumahku. Kau mengambil masa depanku. Kau membuat ayahku menjadi mayat hidup yang ketakutan di sudut sana. Kenapa kau tidak membiarkan massa itu membunuhku saja?"
Kenzi terdiam sejenak. "Kematian Anda tidak ada dalam parameter misi saya."
Alana tertawa sumbang, sebuah tawa kering yang terdengar menyakitkan. "Parameter misi... Kau benar-benar monster, ya? Kau menyelamatkanku dari bom, kau melindungiku dari batu, tapi kaulah
yang sebenarnya menarik pelatuk ke kepalaku."
"Dunia ini tidak mengenal belas kasihan, Alana. Saya hanya agen yang mempercepat realitas yang tertunda," Kenzi mencoba mempertahankan nada dinginnya. "Ayah Anda membangun kekayaannya dari penderitaan orang lain. Saya hanya melakukan penyesuaian saldo."
"Termasuk penderitaanku?" tantang Alana, setetes air mata akhirnya jatuh. "Apakah penderitaanku juga bagian dari 'penyesuaian saldo' itu?"
Kenzi merasakan sengatan di dadanya—sebuah reaksi biologis yang seharusnya tidak ada bagi seorang pembunuh bayaran elite. Ia tahu, secara teknis, Alana tidak bersalah. Namun dalam perang ini, tidak ada tempat bagi orang yang berdiri di tengah.
Kenzi berdiri kembali saat tablet di pergelangan tangannya bergetar. Sebuah sinyal enkripsi tingkat tinggi masuk. Itu bukan dari pusat komando organisasi, melainkan sebuah sinyal jarak dekat.
Peringatan: Perangkat aktif terdeteksi dalam radius 50 meter. Otorisasi: 'Eraser' Unit 002.
Otot-otot Kenzi menegang. Unit 002. Vero.
Pimpinan organisasi benar-benar tidak sabar. Mereka mengirim Vero untuk memastikan "pembersihan" dilakukan hingga tuntas. Kenzi melihat ke arah pintu baja rubanah. Ia tahu bahwa meskipun pintu ini kuat, itu tidak akan mampu menahan ahli demolisi seperti Vero untuk waktu yang lama.
"Kita harus segera pergi," ujar Kenzi ketat. Ia
menarik paksa lengan Alana agar berdiri.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau pergi kemana-mana denganku!" Alana berontak, namun tenaganya tidak sebanding dengan cengkeraman besi Kenzi.
"Dengarkan baik-baik, Alana," Kenzi memegang kedua bahu gadis itu, memaksa matanya terkunci pada tatapannya yang tajam. "Jika Anda tetap di sini, Anda akan mati. Bukan oleh massa, tapi oleh orang-orang yang mengirim saya. Mereka tidak menginginkan saksi. Jika Anda ingin membalas dendam pada saya, lakukanlah saat Anda masih bernapas. Sekarang, ikut saya atau saya akan membius Anda."
Ketakutan murni kembali muncul di mata Alana, mengalahkan depresi sesaatnya. Logika bertahan hidup adalah insting yang paling kuat. Alana mengangguk pelan, meski tubuhnya masih gemetar hebat.
Kenzi menoleh ke arah Tuan Wijaya yang masih tampak linglung. "Tuan, ada jalur evakuasi manual di balik panel generator. Bergerak sekarang, atau Anda akan berakhir di dalam kubur yang Anda gali sendiri."
Kenzi memimpin mereka melalui lorong sempit yang lembap di bawah tanah, jalur tikus yang ia siapkan sejak minggu pertama bekerja di sana.
Namun, saat mereka mencapai pintu keluar di area taman belakang yang tersembunyi, Kenzi tiba-tiba berhenti.
Ia mencium aroma yang sangat spesifik. Bau rokok kretek dan minyak senjata.
Di bawah naungan pohon beringin besar, seorang pria berdiri dengan santai, bersandar pada pilar pagar. Ia mengenakan seragam pengemudi baru keluarga Wijaya yang tampak terlalu rapi untuk situasi kacau seperti ini. Pria itu menoleh, tersenyum tipis yang tidak mencapai matanya.
"Kerja yang bagus dengan sabotase finansialnya, 097," ujar pria itu, suaranya halus namun mematikan. "Tapi kau agak lambat dalam mengeliminasi sisa asetnya."
Kenzi menempatkan Alana di belakang tubuhnya, tangannya bergerak ke arah holster senjata. "Vero."
"Jangan tegang begitu, kawan lama," Vero melangkah maju, tangannya memegang sebuah pisau lipat taktis yang diputar-putar dengan mahir.
"Pusat mengirimku karena mereka merasa kau mulai memiliki 'gangguan fungsi'. Dan melihatmu melindungi gadis kecil ini... sepertinya diagnosa mereka benar."
Alana mencengkeram kemeja Kenzi, merasakan ketegangan luar biasa dari tubuh pria di depannya.
Di hadapan mereka berdiri Vero—sang pengawas yang akan memastikan bahwa kehancuran Alana tidak hanya secara finansial, tapi juga secara fisik.
Badai yang sesungguhnya telah tiba.