NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akar Kehidupan

Bangunan utama The Dendra Foundation telah berdiri tegak, kokoh namun anggun dengan sentuhan kayu dan kaca yang merefleksikan keindahan lembah. Sebagai bentuk syukur atas selesainya tahap pembangunan utama, Isaac dan Luna mengundang seluruh warga desa untuk makan siang bersama di selasar luas yang menghadap ke halaman belakang.

"Bapak dan Ibu sekalian," ujar Isaac, berdiri di tengah kerumunan warga yang duduk lesehan di atas tikar pandan. "Terima kasih telah menjaga kami dan bangunan ini. Tanpa bantuan kalian, mimpi ini mungkin masih terkubur di bawah tanah."

Luna menyambung dengan senyum tulus, tangannya menggenggam jemari seorang ibu tua di sampingnya. "Namun, rumah ini belum lengkap tanpa 'nyawa' hijau di belakangnya. Kami berencana membuat kebun kecil di halaman belakang—bukan hanya untuk keindahan, tapi sebagai sumber pangan mandiri bagi anak-anak yang akan tinggal di sini nanti."

Luna menoleh ke arah lahan kosong yang luas di belakang asrama. "Jika ada di antara Bapak atau Ibu yang berkenan membagikan ilmunya tentang cara menanam sayuran atau buah yang cocok di tanah ini, kami akan sangat berterima kasih."

Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, seorang pemuda desa bernama Galih berdiri. "Nyonya Luna, jangan sungkan. Kami para pemuda sudah menyiapkan bibit cabai dan tomat unggulan. Kami siap membantu mencangkul sore ini juga!"

Kakek Arka tertawa sembari menepuk pundak Galih. "Lihatlah semangat mereka, Nak Luna. Di desa ini, jika kau menanam kebaikan, kau akan memanen persaudaraan."

Seketika, suasana menjadi sibuk dengan kegembiraan. Pesta kecil itu berubah menjadi gotong royong massal. Kaum pria, dipimpin oleh Isaac dan Galih, mulai membagi lahan belakang menjadi petak-petak teratur. Mereka membuat bedengan untuk sayur-mayur, sementara kaum wanita membantu Luna menyiapkan area tanaman obat dan bumbu dapur.

Isaac tampak canggung namun tekun saat belajar memegang cangkul yang benar dari seorang petani senior. "Begini, Pak Isaac," ujar petani itu sembari terkekeh. "Ayunkannya harus searah dengan napas, jangan dipaksa, nanti pinggang Anda protes!"

Di sudut lain, Luna sedang berjongkok bersama beberapa ibu-ibu, menanam bibit kangkung dan bayam. "Ibu Luna, tanah di bagian sini sangat subur untuk umbi-umbian," saran salah satu warga. "Nanti kalau panen, anak-anak asuh di sini tidak akan kekurangan karbohidrat yang sehat."

Sembari bekerja, percakapan mengalir tanpa sekat formalitas yang kaku. Luna mendengarkan cerita tentang sejarah desa, sementara warga bertanya tentang bagaimana kehidupan di kota besar. Keheningan yang dulu dirasakan Luna saat pertama kali menginjakkan kaki di lahan ini, kini telah digantikan oleh rasa kekeluargaan yang kental.

Menjelang sore, halaman belakang yang tadinya gersang kini telah berubah menjadi calon kebun yang tertata rapi. Bedengan-bedengan tanah yang baru diolah tampak menjanjikan kehidupan.

"Ini adalah 'Jantung' kedua bagi yayasan ini," bisik Isaac kepada Luna saat mereka berdiri di tepi kebun, menatap warga yang perlahan mulai berpamitan untuk pulang.

Luna menyandarkan kepalanya di bahu Isaac, tangannya yang sedikit kotor karena tanah justru membuatnya merasa sangat bahagia. "Dulu Ayah ingin membangun istana ilmu pengetahuan, Isaac. Tapi hari ini, warga desa membantu kita membangun 'Meja Makan' yang abadi untuk anak-anak itu. Aku bisa merasakan Ayah tersenyum melihat tanah ini tidak lagi sepi."

Kakek Arka berjalan mendekati mereka, menatap kebun yang baru dibuat. "Dendra dulu selalu bilang dia ingin punya kebun tapi tangannya terlalu 'kota' untuk mencangkul. Kau sudah menyempurnakan mimpinya, Luna."

Kegiatan hari itu diakhiri dengan perasaan lega yang mendalam. Mereka tidak hanya merayakan selesainya sebuah bangunan, tetapi juga merayakan tumbuhnya akar-akar baru yang akan mengikat yayasan ini dengan hati penduduk desa selamanya.

Sore itu, suasana di halaman belakang panti asuhan berubah menjadi sebuah perjamuan alam. Matahari yang mulai turun ke ufuk barat membiaskan cahaya keemasan, menembus celah-celah daun yang baru saja ditanam. Harum tanah basah yang subur menyeruak, memberikan janji akan kehidupan yang rimbun di masa depan.

Luna berdiri di tengah petak-petak kebun yang telah tertata rapi. Di satu sisi, barisan sayur-mayur seperti sawi hijau, kangkung, dan bayam mulai menampakkan pucuk-pucuknya yang segar. Di sisi lain, beberapa warga desa membantu Isaac memindahkan bibit-bibit pohon buah yang telah mereka siapkan dalam polybag besar.

"Hati-hati, Isaac. Akarnya jangan sampai tertekuk," ujar Luna lembut sembari memperhatikan suaminya yang sedang menurunkan bibit pohon persik.

Pohon persik—bunga dan buah favorit mendiang Dendra—menjadi primadona di kebun ini. Luna memilih varietas yang cocok dengan iklim perbukitan yang sejuk. Selain persik, mereka juga menanam pohon jeruk nipis, jambu air, dan beberapa pohon mangga di sepanjang pagar pembatas.

"Aku ingin anak-anak di sini nanti tidak hanya belajar dari buku," kata Luna sembari memadatkan tanah di sekeliling batang bibit persik yang baru ditanam. "Aku ingin mereka bisa memetik buah langsung dari pohonnya, merasakan manisnya hasil jerih payah mereka sendiri, dan melihat bagaimana daun-daun hijau ini melindungi rumah mereka."

Isaac menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan yang kotor oleh tanah. Ia menatap deretan pohon yang kini berdiri tegak. "Ini akan menjadi kanopi alami, Luna. Dalam beberapa tahun, asrama ini tidak akan memerlukan pendingin ruangan karena pepohonan ini akan memberikan keteduhan yang luar biasa."

Kakek Arka, yang duduk di sebuah dipan kayu di bawah pohon beringin tua yang memang sudah ada sejak dulu, mengangguk-angguk setuju. "Pilihan yang cerdas, Nak. Pohon buah itu memberi manfaat dua kali; sekali untuk mata dengan hijaunya, dan sekali untuk perut dengan buahnya. Dendra pasti akan tertawa melihatmu jadi 'petani' dadakan seperti ini."

Warga desa pun tak kalah antusias. Mereka memberikan tips-tips tradisional agar pohon buah tersebut cepat berbakti. Salah seorang warga bahkan membawakan pupuk kompos alami hasil olahan desa untuk memastikan tanaman-tanaman tersebut tumbuh optimal.

"Nanti kalau musim panen tiba, panti asuhan ini akan menjadi tempat yang paling harum di seluruh desa ini," ujar salah satu ibu warga desa sembari menyiram barisan tanaman tomat yang sudah mulai berbunga kuning kecil.

Luna menatap hamparan hijau itu dengan rasa haru yang mendalam. Bayangannya terbang ke masa depan, di mana anak-anak berlarian di bawah rindangnya pohon persik, memetik buah yang ranum, dan belajar tentang siklus kehidupan melalui sayur-mayur yang mereka tanam.

Halaman panti asuhan yang tadinya hanyalah lahan konstruksi yang gersang, kini telah bertransformasi menjadi oase kehidupan. Daun-daun hijau yang melambai ditiup angin sore seolah menjadi saksi bahwa kasih sayang Dendra kini telah berakar kuat di tanah ini, tumbuh menjadi pelindung bagi mereka yang akan datang mencari perlindungan.

"Matahari ini benar-benar telah terbit, Isaac," bisik Luna, menggenggam tangan suaminya di tengah kebun yang asri itu.

"Dan ia tidak akan pernah tenggelam lagi di hati anak-anak ini nanti," jawab Isaac mantap.

Pekerjaan kasar telah usai, kini saatnya memberikan sentuhan batin pada setiap sudut ruangan. Luna dan Isaac memahami bahwa bagi anak-anak yang telah kehilangan pegangan hidup, sebuah kamar bukan sekadar tempat tidur, melainkan sebuah benteng perlindungan dan ruang untuk bermimpi kembali.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!