NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Batas yang Samar

Malam itu, Maria bergerak seperti pencuri di rumahnya sendiri. Dia melangkah berjinjit melewati Bram, mendengarkan dengkur halus suaminya yang menandakan pria itu telah terlelap dalam kelelahan logikanya. Di kamar sebelah, Lauren sudah terbangun, menatap jendela dengan mata yang tidak lagi menunjukkan binar anak-anak.

"Ayo, Sayang. Kita harus pergi sekarang," bisik Maria sambil memakaikan jaket tebal pada putrinya.

Lauren tidak bertanya. Dia mengikuti ibunya menuju mobil di garasi. Saat mesin menyala, Maria merasa jantungnya hampir melompat keluar. Dia merasa sedang mengkhianati suaminya, namun saat dia melirik Lauren yang memeluk boneka kelinci dengan erat, rasa bersalah itu menguap, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang liar.

Perjalanan menuju pinggiran kota terasa sangat panjang. Kabut tipis mulai menyelimuti jalanan aspal yang sepi. Maria mengikuti petunjuk arah yang diberikan oleh suara berat di telepon siang tadi. Mereka berhenti di depan sebuah rumah kayu tua yang dikelilingi oleh pohon kamboja besar. Bau harum melati dan dupa yang terbakar menyambut mereka bahkan sebelum mereka turun dari mobil.

"Ma, tempat ini ramai sekali," bisik Lauren pelan. Tangannya yang mungil mencengkeram lengan Maria.

Maria menatap halaman rumah yang sepi. Hanya ada satu lampu neon kuning yang berkedip-kedip di teras.

"Ramai bagaimana, Nak? Tidak ada siapa-siapa di sini."

Lauren tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepala, enggan menatap ke arah bayangan pohon-pohon besar di halaman itu.

Pintu rumah terbuka sebelum Maria sempat mengetuk. Seorang pria tua dengan kain sarung dan kaos putih usang berdiri di sana. Rambutnya putih seluruhnya, namun matanya tajam dan jernih, seolah bisa menembus kulit Maria dan melihat apa yang tersembunyi di dalam sana.

"Masuk, Maria. Jangan biarkan mereka ikut masuk," kata pria itu. Suaranya serak namun berwibawa.

Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang hanya dialasi tikar pandan. Di sudut ruangan, sebuah tungku kecil berisi bara api mengeluarkan asap tipis yang berbau rempah. Pria itu, yang dikenal sebagai Mbah Minto, duduk bersila dan mempersilakan Maria serta Lauren duduk di hadapannya.

"Mbah, tolong anak saya," suara Maria bergetar. Dia tidak bisa lagi menahan air matanya.

"Tutup matanya. Hilangkan suaranya. Saya ingin dia menjadi anak normal."

Mbah Minto tidak langsung menjawab. Dia menatap Lauren lama sekali. Lauren, yang biasanya ketakutan, kali ini justru menatap balik pria tua itu dengan rasa ingin tahu.

"Apa yang kamu rasakan, Cah Ayu?" tanya Mbah Minto lembut.

Lauren mengulurkan telapak tangannya, mencoba mendekati lengan Mbah Minto tanpa menyentuhnya.

"Mbah... Mbah seperti radio. Ada suara nging yang kencang sekali di sekitar Mbah. Hangat, seperti duduk di depan kompor."

Maria tertegun. Lauren belum pernah mendeskripsikan sesuatu seperti itu sebelumnya. Dia biasanya hanya bicara tentang apa yang dia lihat atau dengar, bukan apa yang dia rasakan secara fisik dari orang lain.

"Itu adalah energi, Nduk," kata Mbah Minto pada Maria.

"Anakmu tidak hanya melihat yang mati. Dia mulai merasakan yang hidup. Dia adalah wadah yang sangat besar."

"Mbah bisa menutupnya, kan? Seperti pintu yang dikunci?" Maria memohon, telapak tangannya merapat di depan dada.

Mbah Minto menghela napas panjang. Dia mengambil segelas air putih dan membacakan sesuatu yang terdengar seperti doa-doa lama. Dia kemudian memercikkan air itu ke dahi Lauren. Namun, saat air itu menyentuh kulit Lauren, lampu di ruangan itu meledak. Pecahan kaca berserakan di lantai, dan suasana menjadi gelap gulita dalam sekejap.

Di tengah kegelapan, Maria mendengar suara geraman rendah yang bukan berasal dari manusia. Hawa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba menyergap ruangan itu.

"Nggak bisa, Ma," suara Lauren terdengar datar di tengah kegelapan.

"Mbahnya nggak kuat. Pintunya terlalu besar."

Mbah Minto menyalakan sebatang lilin dengan tangan yang gemetar. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah daripada saat mereka baru datang. Dia menyeka keringat dingin di dahinya dengan ujung sarung.

"Maafkan aku, Maria," bisik Mbah Minto.

"Ini bukan penyakit yang bisa disembuhkan. Ini bukan gangguan yang bisa diusir dengan doa sekali duduk. Kemampuan ini... ini adalah takdir yang sudah tertulis di tulang-tulangnya sejak dia belum dilahirkan."

"Maksud Mbah?"

"Anak ini adalah bagian dari jaring-jaring yang lebih besar. Jika aku mencoba menutup kekuatannya secara paksa, jiwanya yang akan hancur. Dia terlahir untuk menjadi perantara. Menolak hal itu sama saja dengan meminta air untuk tidak basah," jelas Mbah Minto dengan nada menyesal.

Maria merasa dunianya runtuh. Harapan terakhir yang dia gantungkan pada klenik dan orang pintar ternyata menemui jalan buntu. Dia menatap putrinya yang kini sedang menatap lilin dengan pandangan kosong. Kebenaran itu terasa lebih mengerikan daripada gangguan gaib mana pun: Lauren tidak akan pernah bisa menjadi anak normal.

"Lalu apa yang harus saya lakukan, Mbah? Saya tidak bisa membiarkan dia ketakutan selamanya," tanya Maria putus asa.

"Ajari dia untuk tidak takut. Hanya itu senjatanya. Kegelapan memakan rasa takut. Jika dia berani, kegelapan itu hanya akan menjadi bayangan yang lewat," jawab Mbah Minto. Dia memberikan sebuah kalung tali hitam dengan bandul kayu kecil pada Lauren.

"Ini hanya untuk membantu menenangkan pikirannya, bukan untuk menghilangkan apa yang dia lihat."

Maria bangkit berdiri dengan kaki lemas. Dia merogoh tasnya untuk mengambil amplop berisi uang, namun Mbah Minto menepisnya halus.

"Simpan uangmu. Gunakan untuk kebutuhan anakmu. Perjalanan kalian masih sangat jauh, Maria. Dan pria di rumahmu... suamimu... dia harus segera membuka matanya sebelum semuanya terlambat."

Maria mengangguk pelan, meski dia tidak tahu bagaimana cara meyakinkan Bram. Dia menuntun Lauren keluar dari rumah kayu itu. Udara malam di luar terasa lebih segar, namun beban di pundak Maria terasa berlipat ganda. Dia kini membawa pulang sebuah kepastian yang pahit.

Saat mereka berjalan menuju mobil melewati pohon-pohon kamboja yang rimbun, Lauren tiba-tiba berhenti. Dia menoleh ke belakang, menatap ke arah teras di mana Mbah Minto masih berdiri memperhatikan mereka.

"Ada apa, Lauren? Ayo cepat masuk mobil," ajak Maria cemas.

Lauren tidak bergerak. Dia menatap bayangan gelap di belakang Mbah Minto yang seolah-olah mulai bermunculan dari lantai dan dinding rumah.

"Ma," bisik Lauren, suaranya terdengar sangat kecil.

"Kenapa, Nak?"

"Mbah itu kasihan ya, Ma?"

Maria mengernyit. "Kasihan kenapa?"

Lauren menunjuk ke arah pintu rumah yang mulai tertutup perlahan.

"Temannya banyak sekali. Mereka semua berdiri di pundak dan kepala Mbah. Ada yang nggak punya leher, ada yang perutnya bolong. Mereka semua marah karena Mbah bicara sama kita."

Bulu kuduk Maria berdiri tegak. Dia segera menggendong Lauren dan masuk ke dalam mobil. Saat dia menyalakan mesin dan menginjak pedal gas, dia melirik ke arah spion tengah. Di sana, di depan rumah Mbah Minto yang semakin menjauh, dia melihat puluhan siluet hitam berdiri berjejer di halaman, menatap lurus ke arah mobil mereka.

Maria memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak berani menoleh lagi. Di sampingnya, Lauren mulai tertidur lelap, namun bibirnya masih bergumam kecil, menyebutkan nama-nama yang tidak dikenal.

Maria tahu, malam ini dia tidak hanya membawa pulang putrinya. Dia membawa pulang sebuah perang yang baru saja dimulai, dan dia sama sekali tidak memiliki senjata untuk memenangkannya.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!