Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Senin pagi di SMA Garuda mendadak terasa seperti panggung red carpet. Kabar tentang "Kapten Basket yang sudah resmi menaruh hati" menyebar lebih cepat daripada pengumuman remedial Kimia. Begitu aku turun dari motor Arkan di parkiran, suasana yang biasanya hanya berisi deru mesin berubah menjadi koor sorakan yang memekakkan telinga.
"WADUH! Ada yang bau-bau pajak jadian nih!" teriak Rian dari atas motornya, sengaja menggeber gas tipis-tipis.
Arkan turun dengan santai, melepaskan helmnya lalu dengan sengaja merapikan rambutku di depan semua orang—tindakan yang langsung disambut pekikan histeris dari siswi-siswi di koridor.
"Pagi, Tuan Putri. Siap menghadapi serangan 'macan' sekolah?" goda Arkan, matanya berkedip jenaka ke arah teman-temannya.
Kami berjalan beriringan menuju kelas. Di depan mading, gerombolan tim basket sudah berbaris rapi seperti pagar bagus. Dimas, si tukang lawak tim, tiba-tiba berlutut sambil membawa sebuah botol air mineral sisa latihan.
"Selamat ya, Capt! Akhirnya asuransinya cair juga! Nara, tolong ya, si Arkan ini kalau lagi tanding suka galak, tapi kalau udah denger nama lo langsung lembek kayak agar-agar!" seru Dimas yang langsung disambut tawa ledak seantero koridor.
"Berisik lo, Dim! Balik ke kelas sana, lo belum ngerjain tugas sejarah kan?" balas Arkan sambil tertawa, tangannya tanpa ragu merangkul pundakku, menunjukkan pada dunia bahwa 'Gadis Es' itu kini sudah memiliki penghangat permanen.
Sesampainya di depan kelasku, Tasya sudah berdiri dengan tangan bersedekap, matanya menatap tajam ke arah tautan tangan kami. "Wah, wah, wah. Jadi bener ya gosip di grup angkatan? Pameran arsitektur membuahkan hasil? Selamat ya, Nara! Akhirnya lo nggak perlu kencan sama buku paket Kimia lagi!"
Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku di balik lengan jaket varsity Arkan yang hari ini sengaja kupakai lagi. "Tas, pelan-pelan suaranya..."
"Nggak bisa pelan, Ra! Ini berita nasional SMA Garuda!" sahut Tasya sambil menarikku masuk ke kelas, memisahkan pertemuanku dengan Arkan.
Arkan hanya melambai santai dari ambang pintu. "Nanti istirahat gue jemput ya, Ra! Jangan kabur ke perpus, asuransi lo mau lapor perkembangan!"
Sepanjang pelajaran, aku tidak berhenti tersenyum. Ceng-cengan teman-teman yang biasanya membuatku ingin menghilang, kini terasa seperti musik latar yang menyenangkan. Aku menyentuh gantungan kunci Daisy di tasku, lalu melirik ban kapten di pergelangan tanganku.
Duniaku tidak lagi sepi. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak takut jika kebahagiaan ini diketahui semua orang.
Namun, keriuhan di koridor tadi ternyata hanyalah permulaan. Saat bel istirahat berbunyi, Arkan benar-benar muncul di depan kelasku, tapi dia tidak sendirian. Di belakangnya, seluruh anggota inti tim basket mengekor seperti rombongan sirkus, masing-masing membawa sekotak susu cokelat dan roti dari kantin.
"Pengumuman semuanya!" seru Rian sambil berdiri di atas kursi kosong di barisan depan. "Mulai hari ini, siapa pun yang bikin Nara sedih, berarti cari urusan sama seluruh tim basket SMA Garuda. Paham?!"
"PAHAM!" sahut yang lain serentak, membuat Bu Ratna yang kebetulan lewat di koridor hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
Arkan berjalan menghampiriku, mengabaikan sorakan teman-temannya. Ia meletakkan sebuah kotak bekal kecil di mejaku. "Bukan dari kantin. Nyokap gue yang bikin pas tahu gue mau jemput lo. Katanya, 'kasih ke calon menantu yang jago Kimia itu'."
Wajahku panas seketika. "Kan! Kamu bilang apa ke tante?"
"Cuma bilang kalau aku akhirnya nemuin alasan buat rajin belajar," jawabnya santai sambil menarik kursi untuk duduk di sampingku.