NovelToon NovelToon
Immortal Emperor: Dao Abadi

Immortal Emperor: Dao Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2: Gua Giok Abadi

Malam itu, hujan turun.

Bukan hujan badai, melainkan gerimis dingin yang seolah-olah langit sedang menangisi nasib Desa Sungai Jernih. Air hujan membasuh darah yang menggenang di tanah, mencampurnya dengan lumpur, menghilangkan jejak pembantaian secara perlahan namun pasti.

Li Wei terbangun dengan rasa sakit yang menyengat di sekujur tubuh.

"Uhuk..."

Ia memuntahkan gumpalan darah hitam. Tulang rusuknya terasa seperti ditusuk jarum panas setiap kali ia menarik napas. Namun, rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan kekosongan di hatinya saat matanya menyapu sekeliling.

Mayat. Mayat di mana-mana.

Ia melihat tubuh ibunya yang kaku, wajahnya pucat pasi tertimpa cahaya bulan yang samar. Li Wei ingin menangis, ingin berteriak memanggil nama mereka, tapi tenggorokannya kering dan tersumbat. Tidak ada air mata yang tersisa.

Aku harus mengubur mereka, pikirnya lemah.

Namun, saat ia mencoba bangkit, kakinya tidak menuruti perintah. Tubuhnya terlalu rusak. Serangan pemimpin bandit itu telah menghancurkan sebagian besar organ dalamnya. Tanpa pertolongan tabib segera, Li Wei tahu ia akan mati sebelum fajar menyingsing.

Apakah aku akan mati di sini? Menjadi makanan anjing liar bersama orang tuaku?

Keputusasaan mulai merayap, dingin dan gelap. Namun, tiba-tiba, saku dadanya terasa panas.

Batu hitam yang terkena darahnya tadi.

Benda itu bergetar. Sebuah dengungan rendah, seperti suara lebah, terdengar dari saku bajunya. Li Wei dengan tangan gemetar merogoh saku dan mengeluarkan batu itu.

Batu itu tidak lagi hitam. Lapisan luarnya yang kusam telah retak, memperlihatkan inti yang bersinar dengan cahaya hijau zamrud yang lembut namun menghipnotis. Itu bukan batu biasa. Itu adalah giok (jade).

Wuuung...

Cahaya hijau itu berdenyut, seirama dengan detak jantung Li Wei. Tiba-tiba, seberkas sinar melesat dari giok itu, menunjuk ke arah hutan di lereng gunung utara wilayah yang dilarang oleh tetua desa karena banyaknya binatang buas.

"Kau... ingin aku ke sana?" bisik Li Wei serak.

Logika menyuruhnya diam di tempat. Tapi instingnya atau mungkin darahnya yang mendidih karena dendam menyuruhnya mengikuti cahaya itu. Jika ia tetap di sini, ia mati. Jika ia pergi, mungkin ada kesempatan.

Dengan sisa tenaga terakhir, Li Wei menyeret tubuhnya. Ia merangkak melewati mayat tetangganya, meninggalkan jejak darah panjang di lumpur, menuju kegelapan hutan.

Perjalanan itu adalah siksaan.

Setiap inci pergerakan membakar sarafnya. Li Wei merangkak selama berjam-jam, didorong oleh tekad gila dan cahaya hijau yang terus memandunya. Anehnya, tidak ada binatang buas yang mendekat. Setiap kali serigala atau harimau hutan mengintai dari balik semak, cahaya giok itu akan berkilau tajam, dan hewan-hewan itu akan lari ketakutan, seolah merasakan kehadiran predator puncak.

Akhirnya, di celah sempit antara dua tebing batu granit yang tertutup lumut tebal, Li Wei menemukannya.

Sebuah gua kecil. Mulut gua itu tertutup tanaman merambat yang layu, hampir tak terlihat oleh mata telanjang.

Li Wei menyeret tubuhnya masuk. Udara di dalam gua terasa berbeda—kering, hangat, dan berbau... tua. Seperti aroma perpustakaan kuno yang tidak tersentuh selama ribuan tahun.

Di tengah gua yang sempit itu, terdapat sebuah podium batu sederhana. Tidak ada harta emas, tidak ada senjata pusaka. Hanya sebuah cekungan kecil di atas podium itu.

Giok di tangan Li Wei bergetar hebat, menarik tangannya ke arah cekungan itu.

Klakk.

Begitu Li Wei meletakkan giok itu ke dalam cekungan, seluruh gua bergetar.

Simbol-simbol bercahaya mulai menyala di dinding gua. Aksara kuno yang rumit, berputar-putar seperti ikan yang berenang dalam air. Cahaya hijau memenuhi ruangan, begitu terang hingga Li Wei harus memejamkan mata.

Sebuah suara bergema di dalam kepalanya. Bukan suara telinga, melainkan resonansi jiwa. Suara itu purba, dan penuh wibawa.

"Darah keturunan fana telah membuka segel. Hati yang penuh dendam memanggil Dao."

"Giok Dao Abadi mengakui tuan baru."

Sebelum Li Wei sempat memproses kata-kata itu, giok di podium meleleh menjadi cairan hijau bercahaya. Cairan itu melayang di udara, lalu dengan kecepatan kilat, melesat dan menembus tepat di tengah dahi Li Wei di antara kedua alisnya.

"AAAAARGH!"

Li Wei menjerit. Rasanya seperti besi cair dituangkan langsung ke dalam otaknya.

Informasi membanjiri pikirannya. Gambar-gambar, simbol, dan pemahaman tentang alam semesta yang terlalu luas untuk otak manusia biasa. Ia melihat bintang-bintang meledak, benua-benua terbelah, dan sosok raksasa yang bermeditasi di atas matahari.

Bersamaan dengan rasa sakit itu, arus hangat yang lembut mulai mengalir dari dahinya ke seluruh tubuh.

Arus itu Qi murni dari giok bergerak seperti sungai yang menerjang bendungan. Ia menghantam tulang rusuk Li Wei yang patah, menyambungkannya kembali dengan bunyi krak yang menyakitkan namun melegakan. Ia menjahit organ dalamnya yang robek, membersihkan darah beku, dan memperkuat otot-ototnya yang lemah.

Namun, proses itu tidak berhenti di penyembuhan.

Arus itu terus memaksa masuk, menembus jalur-jalur tak terlihat di dalam tubuh Li Wei. Jalur Meridian. Bagi manusia biasa, jalur ini tertutup kotoran dan endapan makanan duniawi. Tapi Qi dari giok itu membakarnya, membuka paksa jalan bagi energi langit dan bumi.

Keringat hitam berbau busuk mulai keluar dari pori-pori kulit Li Wei. Ini adalah Penyucian Tulang dan Sumsum—proses membuang kotoran fana.

Li Wei menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan rasa sakit. Ia tahu, jika ia pingsan sekarang, ia mungkin akan mati karena syok.

"Tahan..." batinnya menjerit. "Aku harus hidup... untuk mereka!"

Bayangan kepala ayahnya yang terpenggal dan senyum ibunya melintas di benaknya. Kebencian menjadi bahan bakar, mengubah rasa sakit menjadi fokus.

Satu jam berlalu.

Perlahan, rasa sakit itu mereda, digantikan oleh sensasi kesejukan yang luar biasa. Li Wei merasa ringan, seolah-olah beban gravitasi telah diangkat dari bahunya.

Ia membuka mata.

Dunia tampak berbeda.

Meskipun gua itu gelap, ia bisa melihat tekstur lumut di dinding dengan jelas. Ia bisa mendengar suara tetesan air yang jauh, bahkan suara serangga yang berjalan di luar gua.

Sebuah teks melayang di benaknya, sebuah teknik kultivasi yang tertanam oleh giok itu

[Sutra Hati Dao Abadi – Bab Pembukaan]

Li Wei duduk bersila, secara naluriah mengikuti instruksi yang ada di kepalanya. Ia menarik napas.

Bukan udara biasa yang ia hirup. Ia merasakan partikel-partikel kecil bercahaya di udara Qi Alam. Ia menariknya masuk ke hidung, mengalirkannya melalui meridian yang baru terbuka, dan menyimpannya di pusarnya (Dantian).

Hangat. Kuat.

Bum.

Sebuah ledakan kecil terjadi di dalam perut bawahnya. Kabut putih tipis terbentuk di Dantian-nya.

Li Wei mengepalkan tangannya. Ia memukul udara kosong.

Wusss!

Angin kecil tercipta dari pukulannya. Tenaganya kini setara dengan dua orang dewasa yang kuat.

Li Wei menatap tangannya yang kini bersih dari luka, kulitnya sedikit lebih putih dan halus seperti giok.

"Qi Condensation... Lapis Pertama," gumamnya, mengenali tingkatan ini dari cerita para tetua desa.

Ia bukan lagi manusia fana. Ia telah melangkah ke dunia para dewa dan iblis. Dunia yang sama dengan bandit yang membunuh keluarganya.

Li Wei berdiri, lututnya kokoh. Ia membungkuk hormat tiga kali ke arah podium batu yang kini kosong.

"Terima kasih atas warisan ini," katanya dingin. "Aku akan menggunakannya untuk menagih hutang darah."

Ia melangkah keluar gua. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, menyinari hutan dengan cahaya keemasan.

Li Wei tidak langsung pergi mencari bandit itu. Ia tidak bodoh. Ia tahu Lapis Pertama hanyalah awal. Pemimpin bandit itu setidaknya berada di Lapis Kelima atau Keenam. Melawan sekarang sama saja bunuh diri.

"Aku butuh waktu," pikirnya. "Aku akan berlatih di hutan ini. Memakan daging binatang spiritual, meminum embun pagi, dan berkultivasi sampai aku siap."

Li Wei berbalik menatap arah desanya untuk terakhir kalinya.

"Ayah, Ibu... Tunggu aku. Perjalanan anakmu baru saja dimulai."

Dengan tatapan tajam, Li Wei menghilang ke dalam rimbunnya hutan purba, meninggalkan kehidupan lamanya sebagai pemuda desa yang naif selamanya.

1
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💪🏻💪🏻💪🏻Ⓜ️
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💥💥💥Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Sahrul Akbar
keren
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😵‍💫😵‍💫😵‍💫Ⓜ️
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very very very nice Thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!