~Silahkan baca karya sebelumnya "Tiba-tiba Jadi Istri Pak Guru" supaya paham alurnya.
"Aku suka sama kamu"
"Tapi aku sudah menikah"
"Aku tunggu jandamu"
"Silakan saja"
Tidak ada yang menyangka, wanita yang menjadi dambaannya sejak lama ternyata istri dari sahabat nya sendiri.
Namun tidak ada yang mustahil di dunia ini, jodoh pasti bertemu.
Rafasya Dimas Anggara sejak lama mengagumi Tisya Andini, berulang kali dia menyatakan cinta pada Tisya namun Tisya selalu menolaknya. Tapi Dimas tidak menyerah begitu saja, setiap malam ia selalu meminta pada Tuhan untuk mempersatukan mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ssabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
❤️❤️❤️❤️❤️ HAPPY READING ❤️❤️❤️❤️❤️
Para pegawai cafe dan pengunjung cafe yang berada di teras langsung lari menghampiri Tisya.
"Kecelakaan kecelakaan"
"Kejar pelakunya."
"Cepet tolongin mbaknya"
"Pak mas tolongin"
Seorang pria mengendarai motor mengejar mobil yang menabrak Tisya, namun sayangnya mobil itu langsung masuk ke dalam tol sehingga motor itu tidak bisa mengejarnya.
Stefi tengah asik membicarakan planing pemasaran berikutnya, ia tidak menggubris orang-orang yang teriak-teriak di depan cafe. Sebenarnya beberapa teman Stefi menyadari adanya keributan di luar namun Stefi meminta mereka untuk tetap fokus.
"Harap fokus konsentrasi, kalian yang memilih untuk meeting di luar kantor jadi kalian harus terima konsekuensinya kalau suasananya tidak kondusif." Ucap Stefi.
"Oke oke kita fokus." Jawab mereka.
Stefi memutar laptopnya dan menunjukkan beberapa bagan di layar laptopnya.
"Jadi kita harus berusaha semaksimal mungkin agar penjualan kita bulan ini bisa mencapai target, rencananya bulan ini kita akan ikut di event...." Ucapan Stefi terputus karena tiba-tiba ada seorang wanita menghampirinya.
"Mbak, mbak pemilik mobil putih itu?" Tanyanya dengan raut wajah terlihat panik.
"Iya, iya bu ada apa?" Tanya Stefi kebingungan.
"Tolongin mbak ada korban tabrak lari."
"Tabrak lari." Ucap Stefi bersama beberapa temannya.
Stefi dan teman-temannya langsung lari keluar meninggalkan barang-barangnya di dalam.
Motor sco**y putih yang sudah remuk terparkir di depan cafe.
"Kaya kenal motornya." Ucap Teman Stefi
Stefi membuka pintu mobilnya kemudian tak lama seorang pria datang membopong korban kecelakaan itu.
"Bu Tisya." Ucap Stefi dan teman-temannya bersamaan.
"Kalian kenal?" Tanya warga di sana.
"Iya pak ini istri bos saya." Jawab Stefi.
"Baguslah kalau gitu, saya pasrahkan mbak ini pada kalian."
"Baik pak, terimakasih semuanya." Ucap Stefi.
Stefi dan satu temannya masuk ke dalam mobil dan segera membawa Tisya ke rumah sakit terdekat. Sedangkan teman Stefi yang lainnya membereskan semua barang-barangnya kemudian mereka kembali ke kantor untuk menyampaikan informasi ini kepada Dimas.
[Kenapa ga telpon aja ya? Ya namanya panik mana mikir sampek situ]
Mereka masuk ke dalam taksi yang sudah mereka pesan kemudian kembali ke kantor.
"Ran kamu tepuk-tepuk tubuh Bu Tisya biar sadar." Perintah Stefi yang tengah mengemudi mobilnya.
"Bu, Bu Tisya." Panggil Rania namun tetap tidak ada sahutan dari Tisya.
Rania menepuk-nepuk kembali pipi Tisya namun tetap saja dia tidak sadar.
Rania melepas cardigan yang ia pakai untuk menutupi lengan baju Tisya yang robek. Terlihat ada luka yang cukup dalam di lengan Tisya.
"Stef kok darah di kakinya ngalir terus ya." Ucap Rania.
"Coba kamu lihat." Perintah Stefi.
"Ga berani, tapi keliatannya lukanya di paha deh soalnya celana bagian atasnya basah kena darah." Ucap Rania.
"Stef cepat Stef kalau Bu Tisya kehabisan darah gimana gue takut." Ucap Rania.
"Iya iya tenang aja lo ga usah cemas gitu, ntar malah kita ikut celaka." Ucap Stefi.
Stefi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sebab jalanan kota yang mereka lalui sedang ada perbaikan, dan mengakibatkan kemacetan.
Ke dua teman Stefi yang lainnya telah tiba di kantor. Mereka langsung berlari masuk menuju ruangan Dimas.
"Hei kalian kenapa?" Ucap temannya saat melihat mereka berlari.
"Urgent." Jawabnya.
Mereka berdua masuk ke dalam pintu lift yang terbuka kemudian menekan tombol. Mereka merasa liftnya kali ini bergerak sangat lambat.
'Ting'
Saat pintu lift terbuka mereka langsung masuk ke dalam ruangan Dimas tanpa mengetuknya.
'Brukk'
Dimas yang tengah makan siang pun hampir tersedak karena kaget dengan kedatangan mereka.
"Pak Pak Dimas Bu Tisya."
"Kenapa istri saya?" Tanya Dimas dengan wajah cemas.
"Istri bapak kecelakaan." Jawab mereka.
'Degh'
Dimas langsung mengambil jas dan kunci mobilnya, ia bergegas untuk menemui istrinya dan meninggalkan makan siangnya yang baru ia makan sesuap.
"Dimana istri saya sekarang?" Tanya Dimas.
"Eee....."
'Klunting'
Mereka menerima pesan dari Stefi.
"Rumah Sakit Harapan Bunda pak." Jawabnya.
Dimas berlari ke parkiran kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sepanjang perjalanan pikiran Dimas tidak tenang, ia cemas memikirkan keadaan istri dan calon anaknya.
Waktu mobilnya berhenti di lampu merah, Dimas membuka ponselnya dan melihat ada banyak telepon tak terjawab dari Stefi. Namun Dimas tidak menghiraukan itu, ia membuka aplikasi pelacak lokasi yang sudah ia sambungkan dengan ponselnya istrinya.
"Lokasinya di rumah, berarti dia ga bawa hp." Ucap Dimas.
Selain itu Dimas juga membuka rekaman CCTV di ponselnya.
"Kenapa semua CCTVnya mati." Ucap Dimas.
'Tin tin tin'
Beberapa mobil di belakang Dimas sudah menyalakan klakson, Dimas menyimpan kembali ponselnya kemudian melanjutkan perjalanannya.
Sepuluh menit kemudian mobil Dimas berhenti di parkiran dan ia langsung masuk ke dalam rumah sakit.
Dimas menghubungi Stefi dan bertanya di mana tempat istrinya di periksa.
Dimas berjalan sesuai arahan Stefi dari telepon, hingga akhirnya mereka bertemu.
"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Dimas panik.
"Masih ditangani dokter pak." Jawab Stefi.
Dimas bertanya tentang bagaimana kronologi kecelakaan yang menimpa istrinya, karena saat itu Stefi tidak menyaksikannya langsung Stefi hanya menyampaikan sesuai ucapan para saksi di sana.
"Berhubung Pak Dimas sudah di sini, kita pamit kembali ke kantor dulu melanjutkan pekerjaan kita." Ucap Stefi.
"Iya kalian hati-hati, terimakasih sudah menyelamatkan istri saya."
"Baik pak sama-sama."
"Permisi." Ucap Stefi dan Rania bersamaan.
Setelah Stefi dan Rania pergi Dimas berjalan ke arah jendela ruangan itu. Ia mengintip dari celah gorden yang sedikit terbuka dan melihat dokter bersama beberapa suster sedang mengerumuni istrinya.
Sembari menunggu dokter keluar Dimas membuka ponselnya lagi dan melihat rekaman CCTV sebelum CCTVnya mati.
Terlihat Tisya berjalan mengenakan handuk keluar dari kamar setelah itu semua CCTVnya mati.
Karena penasaran Dimas langsung menghubungi security komplek tersebut dan memintanya untuk mengecek CCTV di rumahnya.
"Kuncinya ada di bawah pot bunga, kamu langsung masuk aja" Ucap Dimas lewat sambungan video call.
Tiga puluh menit kemudian dokter yang memeriksa Tisya keluar bersama beberapa suster.
Dimas berdiri dan menghampiri mereka.
"Suami pasien?" Tanya dokter itu.
"Iya dok, saya." Jawab Dimas.
Dokter itu menepuk pundak Dimas membuat Dimas kebingungan.
"Kami mohon maaf sebelumnya sebab..." Ucap dokter itu terputus.
TBC
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️Jangan lupa LIKE dan VOTE ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️
Terima kasih semuanya sudah mampir di novel kakak, love you sekebon guys ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️