Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Bubur Ayam
Setelah pagi yang penuh kemanisan di unit 1205, Nara merasa hidupnya sudah seperti di puncak klasemen Liga Cinta. Namun, hukum alam semesta tampaknya tidak membiarkan Nara bernapas lega terlalu lama. Jika Sandra adalah ancaman dari lini korporat, maka Raka adalah ancaman dari lini tetangga sebelah yang kurang kerjaan.
Baru saja Arga melangkah keluar pintu untuk berangkat kerja, bel apartemen kembali berbunyi.
"Aduh, Mas Arga ketinggalan dompet atau ketinggalan akal sehat lagi?"
gumam Nara sambil membukakan pintu dengan daster beruang kutubnya yang tadi katanya mau disita tapi Nara pakai lagi secara ilegal.
Begitu pintu terbuka, bukan wajah tampan Arga yang menyambut, melainkan wajah Raka yang sedang tersenyum lebar sambil mengangkat sebuah kantong plastik transparan berisi dua mangkuk bubur ayam.
"Pagi, Nara! Tadi aku lewat tukang bubur langganan kita dulu, terus kepikiran... eh, tangan aku refleks beli dua. Mubazir kalau dibuang, kan?" ujar Raka dengan nada sok santai.
Nara menatap bubur itu, lalu menatap Raka.
"Raka, kamu tahu nggak? Secara statistik, probabilitas kamu kebetulan beli bubur di jam segini itu sama kecilnya dengan kemungkinan aku balikan sama kamu. Yaitu nol persen."
Raka tidak menyerah, ia mencoba melongok ke dalam apartemen.
"Arga sudah berangkat? Wah, kasihan ya kamu ditinggal sendiri terus. Arga itu sibuk banget, beda sama aku yang kerjanya remote dan punya banyak waktu buat... nemenin tetangga."
"Temenin? Mending kamu temenin kucing oren di parkiran sana, Ka," sahut Nara ketus.
Tiba-tiba, suara deheman berat terdengar dari arah lift. Arga berdiri di sana, menatap Raka dengan tatapan yang sanggup mengaudit dosa-dosa masa lalu seseorang hanya dalam sekali kedip. Arga ternyata kembali karena memang ketinggalan kunci mobil atau mungkin insting Radar Istri-nya sedang menangkap sinyal bahaya.
Arga berjalan mendekat. Ia tidak lari, tapi langkah kakinya terdengar seperti vonis kebangkrutan bagi Raka.
"Ada masalah dengan ketersediaan pangan di unit 1208, Raka?" tanya Arga dingin.
Ia berdiri tepat di samping Nara, tangannya melingkar di bahu Nara seolah sedang memasang pagar berduri.
Raka tersenyum kecut.
"Enggak, cuma mau berbagi sarapan sama Nara. Mengingat dulu dia sering maag kalau telat makan."
Arga melirik kantong bubur itu dengan pandangan menghina.
"Terima kasih atas kepeduliannya. Namun, Nara sudah mengonsumsi sarapan dengan kadar nutrisi yang saya awasi sendiri. Dan secara higienitas, bubur ini mengandung variabel MSG yang tidak masuk dalam standar kesehatan keluarga kami. Silakan dibawa kembali untuk konsumsi pribadi."
"Santai, Ga. Cuma bubur," balas Raka mulai panas.
"Bagi kamu itu bubur. Bagi saya, itu adalah upaya intrusi ilegal terhadap kenyamanan domestik saya," sahut Arga lempeng.
"Nara, masuk ke dalam. Saya perlu memberikan instruksi keamanan tambahan."
Setelah Raka pergi dengan wajah masam, Nara duduk di sofa sambil memperhatikan Arga yang sedang mondar-mandir mengecek kunci pintu.
"Ga, kamu nggak usah se-tegang itu kali. Si Raka mah cuma mau caper," ujar Nara.
Arga berhenti, menatap Nara dengan serius.
"Nara, pria itu sedang melakukan strategi 'gerilya'. Dia mencoba masuk lewat celah-celah kecil seperti sarapan pagi. Jika dibiarkan, dia akan mencoba melakukan restrukturisasi pada ingatan masa lalumu. Saya tidak akan membiarkan ada audit ulang pada sejarah yang sudah ditutup."
Nara tertawa geli.
"Ya ampun, kamu beneran cemburu membabi buta ya? Tapi lucu juga sih lihat kamu debat sama tukang bubur KW kayak Raka."
"Saya tidak cemburu," bantah Arga, meskipun telinganya merah.
"Saya hanya sedang melakukan manajemen risiko. Dan sebagai tindakan preventif, hari ini kamu ikut saya ke kantor."
"Hah?! Kan aku bukan karyawan kamu!"
"Kamu adalah penasihat emosional utama saya. Kehadiranmu diperlukan untuk menjaga stabilitas mental saya agar tidak melakukan tindakan fisik pada mantanmu itu," ujar Arga sambil menarik tangan Nara untuk segera bersiap.
Sampai di kantor, Nara ditempatkan Arga di sofa ruang kerjanya. Namun, jiwa ubur-ubur Nara tidak bisa diam. Ia bosan melihat Arga yang fokus pada angka-angka. Nara memutuskan untuk pergi ke pantry untuk mencari camilan.
Di pantry, ia bertemu Dinda yang sedang menyeduh kopi.
"Oh, Nara. Masih setia jadi bayangan Arga?" sindir Dinda tanpa menoleh.
"Kudengar Raka mantanmu itu sekarang tinggal di depan unit kalian? Menarik. Sepertinya kalian berdua punya bakat mengoleksi masa lalu di tempat yang salah."
Nara mengambil sebungkus biskuit, lalu berbalik menatap Dinda.
"Mbak London, denger ya. Raka itu emang gangguan sinyal, tapi Mas Arga itu antenanya udah paten ke aku. Nggak kayak Mbak, yang antenanya udah patah tapi masih maksa nyari sinyal di suami orang."
Dinda tersenyum tipis.
"Kita lihat saja, Nara. Raka baru saja menghubungi tim humas firma ini untuk penawaran kerjasama digital. Dia akan sering berada di gedung ini. Bayangkan... Arga bekerja denganku, dan kamu akan sering berpapasan dengan Raka di lobi. Sangat tidak stabil untuk sebuah pernikahan, bukan?"
Nara terdiam sejenak. Raka masuk ke firma ini juga?! Wah, ini mah invasi besar-besaran!
Nara kembali ke ruangan Arga dengan wajah panik.
"GA! SIAGA SATU! Raka mau kerja bareng firma kamu! Dia mau ngepung kita dari segala arah!"
Arga yang sedang membaca dokumen langsung berdiri.
"Saya sudah tahu. Proposalnya baru saja masuk ke meja saya untuk disetujui."
"Terus? Kamu bakal setuju?!"
Arga berjalan mendekati Nara, memegang kedua pipinya yang gembul karena cemas.
"Tentu tidak. Secara finansial, proposalnya tidak kompetitif. Dan secara personal, saya tidak akan memberikan izin operasional pada pria yang mencoba menyuap istri saya dengan bubur ayam curah."
Nara merasa lega, tapi ia tetap cemberut.
"Tapi dia bakal makin nekat, Ga. Dia itu tipe yang kalau nggak dapet pintunya, dia bakal lewat genteng."
"Maka saya akan memasang listrik tegangan tinggi di gentengnya," balas Arga dengan nada datar yang mengerikan namun lucu.
Arga menarik Nara ke dalam pelukannya, menyandarkan dagunya di puncak kepala Nara. Di tengah kesibukan kantor yang penuh tekanan, pelukan Nara adalah satu-satunya tempat di mana Arga merasa audit-nya selesai dengan hasil sempurna.
"Ga, jangan kenceng-kenceng meluknya, nanti biskuit di tangan aku hancur!" protes Nara, meskipun ia membalas pelukan itu dengan erat.
"Biarkan saja hancur. Saya bisa membelikanmu pabrik biskuitnya, asal kamu berhenti terlihat cemas gara-gara pria itu," bisik Arga.
Nara mendongak, menatap Arga dengan mata berbinar.
"Beneran mau beliin pabrik biskuit? Bisa dapet stok seumur hidup dong?"
Arga terkekeh, lalu mencium bibir Nara dengan lembut di balik pintu ruang kerjanya yang terkunci.
"Fokuslah pada saya, Nara. Bukan pada bubur ayam, bukan pada Raka, dan bukan pada Dinda. Hanya saya."
Nara tersenyum, hatinya terasa penuh.
"Iya, Pak Bos Audit. Lagian mana ada yang lebih enak dari menu utama aku yang satu ini."
"Menu apa?" tanya Arga heran.
"Menu suami robot yang kalau cemburu jadi manis kayak martabak coklat keju!" sahut Nara sambil tertawa kencang.