NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Malam di Manhattan terasa lebih dingin dari biasanya. Angin musim gugur yang tajam menusuk hingga ke tulang, menerbangkan dedaunan kering di trotoar yang mulai sepi. Alana baru saja menyelesaikan urusan di butik ibunya, The Briana Collection, yang terletak di kawasan elit Madison Avenue. Ia masih mengenakan setelan kantor yang elegan, namun hatinya terasa berat tanpa alasan yang jelas.

Saat mobil limusin hitam miliknya melaju perlahan membelah keheningan jalanan, mata Alana menangkap sebuah pemandangan di sudut jalan yang gelap, tepat di bawah lampu merkuri yang berkedip-kedip.

Dua orang pria tampak sedang bersusah payah berdiri. Salah satunya terkulai lemas, sementara yang lain mencoba menopang tubuh temannya yang berat itu agar tidak jatuh ke aspal.

Alana memicingkan mata. Postur tubuh pria yang terkulai itu terasa sangat familiar. Tato di lehernya yang mengintip dari balik jaket kulit mahal yang terbuka... itu Azkara.

"Berhenti, Pak," perintah Alana pada supirnya.

Mobil itu berhenti dengan mulus di tepi jalan. Alana menarik napas panjang, sempat ragu sejenak, namun nurani yang diajarkan Briana padanya mengalahkan egonya. Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar, menembus udara dingin yang menggigit.

"Butuh bantuan?" tanya Alana dengan suara tenang namun tegas.

Pria yang sedang memapah Azkara, seorang pemuda berambut pirang bernama Frank, mendongak dengan wajah penuh peluh dan kecemasan. Ia tampak terkejut melihat wanita anggun berhijab berdiri di hadapannya di jam seperti ini.

"Oh, ya Tuhan... ya, Nona. Terima kasih," jawab Frank terengah-engah. "Teman saya ini mabuk berat. Dia benar-benar kacau malam ini. Kami tidak membawa kendaraan, dia meninggalkan mobilnya di parkiran klub malam karena dia bahkan tidak bisa memegang kunci dengan benar."

Alana menatap Azkara. Pria angkuh yang kemarin menyiramnya dengan lumpur dan tadi siang bersikap sangat profesional itu, kini tampak hancur. Wajahnya pucat, matanya terpejam erat, dan aroma alkohol yang kuat menguar dari tubuhnya.

"Bawa dia masuk ke mobilku. Aku akan mengantar kalian," ucap Alana singkat.

Frank tampak ragu sejenak melihat kemewahan mobil Alana, namun ia segera mengangguk. Dengan bantuan supir Alana, mereka menggotong Azkara ke kursi belakang yang luas. Alana duduk di kursi depan samping supir, memberikan ruang bagi Azkara dan Frank di belakang.

Mesin mobil menderu pelan saat mereka meluncur membelah jalanan New York yang temaram. Di kursi belakang, suasana menjadi sangat emosional. Azkara mulai meracau. Suaranya tidak lagi dingin atau angkuh, suaranya terdengar pecah, penuh luka, dan keputusasaan yang mendalam.

"Ahahaha... dia hamil, Frank... kau lihat tadi?" Azkara tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. "Dia hamil... aku melihatnya di mal tadi siang dengan perut besar itu. Bisa-bisanya dia melupakanku begitu saja?"

Alana terdiam, jemarinya meremas tas tangannya. Ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir pria itu.

"Oh shit... aku bahkan belum bisa melupakannya sedikit pun," racau Azkara lagi, kepalanya bersandar pada kaca jendela mobil. "Bisa-bisanya dia memberikan harapan sebesar itu padaku? Dia bahkan pernah membahas... kita akan memiliki tiga anak nanti setelah menikah. Dia bilang dia ingin anak-anak yang matanya mirip denganku."

Azkara menutup wajahnya dengan telapak tangan yang penuh tato, suaranya kini mulai terisak kecil. "Frank... apakah aku kurang perhatian padanya? Aku memberikan segalanya. Aku bekerja siang malam agar bisa membangun rumah untuknya. Tapi kurasa tidak cukup... dia benar-benar tidak menghargaiku."

Frank hanya bisa menepuk bahu Azkara dengan prihatin. "Sudahlah, Az. Dia sudah punya hidup baru."

"Hidup baru?!" Azkara berteriak pelan, namun penuh penekanan. "Dia membawa identitas Tuhan di kepalanya, Frank! Dia bicara soal surga dan kesetiaan padaku setiap malam! Tapi dia meninggalkanku demi pria kaya pilihan ayahnya saat aku baru saja merangkak dari bawah tanpa nama besar ayahku! Oh God... kepalaku rasanya akan pecah. Sakit sekali, Frank..."

Di kursi depan, Alana memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap kata yang diucapkan Azkara terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya. Ia teringat cerita Vea dan Maya siang tadi. Ternyata luka itu jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Pria ini bukan sekadar sombong, dia adalah seorang pejuang yang dikhianati oleh sosok yang mengenakan identitas yang sama dengan Alana, seorang berhijab.

Alana merasa sesak. Ia merasakan ironi yang luar biasa. Ayahnya, Adrian, dulu mencintai ibunya yang berhijab dengan tulus meski mereka berbeda latar belakang. Namun pria di belakangnya ini, mencintai wanita berhijab dan justru dihancurkan oleh janji-janji manis yang dibalut dengan alasan pilihan orang tua.

Ia melirik lewat spion tengah. Azkara tampak meringkuk, memegangi kepalanya yang sakit. Tato di tangannya tampak kontras dengan kerapuhan yang ia tunjukkan.

"Ke mana alamat tujuannya?" tanya Alana pelan pada Frank, suaranya sedikit bergetar.

Frank menyebutkan sebuah alamat apartemen di kawasan Chelsea. Sepanjang perjalanan sisa, Alana hanya terdiam. Ia tidak lagi melihat Azkara sebagai musuh yang menyiramnya dengan lumpur. Ia melihat seorang anak manusia yang sedang tersesat dalam kebencian karena tidak tahu cara menyembuhkan luka.

Sesampainya di depan apartemen Azkara, Frank dan supir Alana membantu pria itu keluar. Saat Azkara berdiri goyah di trotoar, ia sempat membuka matanya sejenak. Pandangannya yang kabur tertuju pada Alana yang berdiri di dekat pintu mobil.

Azkara menatap hijab Alana. Sesaat, kemarahan muncul di matanya, namun segera digantikan oleh tatapan kosong yang menyedihkan.

"Kau..." bisik Azkara serak. "Kenapa kalian semua terlihat sama? Kenapa kalian terlihat begitu suci tapi sangat pandai menghancurkan?"

Alana tidak menjawab dengan amarah. Ia melangkah maju sedikit, memastikan Azkara tidak terjatuh. "Tidak semua yang terlihat sama memiliki hati yang sama, Azkara. Pulanglah, kepalamu butuh istirahat, begitu juga hatimu."

Azkara hanya mendengus pahit sebelum dipapah masuk oleh Frank. Sebelum menghilang di balik pintu lobi, Frank menoleh pada Alana. "Terima kasih banyak, Nona. Dan maafkan dia. Dia bukan orang jahat, dia hanya pria yang terlalu lama menyimpan racun dalam hatinya."

Alana kembali masuk ke dalam mobilnya. New York di luar sana tampak semakin dingin. Ia menyentuh hijabnya sendiri, merenungkan bagaimana kain ini bisa menjadi simbol kedamaian bagi ayahnya, namun menjadi simbol pengkhianatan bagi Azkara.

"Ayah..." gumam Alana pelan, teringat pada Adrian. "Apa yang akan Ayah lakukan jika Ayah berada di posisiku?"

Alana menyadari satu hal. Azkara adalah kebalikan dari ayahnya. Jika Adrian adalah pria yang masuk ke kehidupan ibunya untuk menyelamatkan, Azkara adalah pria yang dihancurkan oleh seseorang yang mirip dengan ibunya.

"Manis? Romantis?" Alana mengingat kata-kata sahabatnya. Ia bisa melihat sisa-sisa pria romantis itu dalam rincian mimpi Azkara tentang tiga anak. Pria itu tidak benar-benar benci pada agama atau hijab, dia hanya merindukan wanita yang dulu menjanjikannya masa depan namun pergi meninggalkannya dalam kehampaan.

Malam itu, Alana Richard membuat sebuah janji dalam hatinya. Ia tidak akan membiarkan Azkara terus tenggelam dalam kebencian itu. Bukan karena ia jatuh cinta, tapi karena ia merasa perlu menunjukkan pada pria itu bahwa identitas yang ia kenakan tidak selamanya berarti luka.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!