NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pagi itu, kampus terasa lebih ramai dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Pricillia yang semakin peka terhadap setiap gerak-gerik Danesha.

Dia menyaksikan dari kejauhan—tak jauh, karena mereka bertiga selalu berada dalam satu lingkaran yang sama, bagaimana Danesha menghampiri Evangeline di depan gedung fakultas. Di tangan Danesha, ada buket mawar putih yang kemarin Pricillia bantu pilih.

Pricillia melihat Evangeline tersenyum malu-malu saat Danesha berbicara kepadanya. Beberapa detik terasa seperti jam. Lalu, Evangeline mengangguk, dan senyum lebar merekah di wajah Danesha.

"Dia bilang iya, Pris! Dia bilang iya!"

Bukan Evangeline yang pertama dipeluk Danesha. Dengan langkah panjang, Danesha berlari menghampiri Pricillia yang berdiri tak jauh, dan tanpa ragu, dia memeluk Pricillia erat-erat.

Kaki Pricillia bahkan sedikit terangkat dari tanah saking kuatnya pelukan itu. Danesha tertawa bahagia, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Pricillia, napasnya hangat dan penuh euforia.

Bagi mahasiswa lain yang lewat, pemandangan itu sudah biasa. Pricillia dan Danesha memang sepasang sahabat yang tidak tahu batas. Mereka sering terlihat berpelukan, saling merangkul, atau bahkan tertidur dengan kepala saling bersandar di perpustakaan. Itu sudah menjadi ciri khas mereka.

Namun, kali ini berbeda. Evangeline, yang berjalan mendekat dengan senyum di bibirnya, melihat adegan itu dengan tatapan yang sedikit berbeda.

Senyumnya memudar.

Danesha akhirnya melepaskan pelukan dari Pricillia, matanya masih berbinar cerah. "Pris, gue diterima! Gue jadian sama Evangeline!" Dia berbisik penuh kemenangan, seolah Pricillia adalah satu-satunya orang yang paling mengerti perasaannya.

"Selamat, Dan," jawab Pricillia, berusaha menjaga agar suaranya tidak terdengar bergetar. Dia melirik Evangeline yang kini berdiri di samping mereka.

"Danesha," panggil Evangeline, suaranya sedikit tegang.

"Bisa kita bicara sebentar?" Matanya beralih ke Pricillia, kemudian kembali ke Danesha, menuntut penjelasan yang tak terucapkan.

Danesha tampaknya tidak menyadari sedikit pun ketegangan di udara. "Oh, iya, baby!" katanya riang, lalu menoleh pada Pricillia. "Pris, gue duluan ya. Nanti malam gue ceritain detailnya pas lo nginep!"

Pricillia hanya bisa mengangguk, melihat Danesha meraih tangan Evangeline.

Saat mereka beranjak pergi, Pricillia bisa mendengar percakapan mereka, meskipun samar.

"Dia siapa, Dan?" tanya Evangeline, nada suaranya lebih tegas dari sebelumnya.

"Oh, dia Pricillia. Sahabat gue dari orok. Santai aja, dia memang gitu. Kami sudah kayak saudara," Danesha menjawab dengan enteng, seolah menjelaskan hal paling sepele di dunia.

Pricillia menunduk, tangannya mengepal erat. "Sahabat dari orok." Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, sebuah label yang seolah mengunci dirinya selamanya di tempat itu, di luar jangkauan hati Danesha.

Malam itu, atmosfer di kamar Pricillia terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Danesha baru saja kembali dari kencannya yang sukses besar.

Dia langsung merebahkan diri di samping Pricillia, masih mengenakan jaket yang sama, masih membawa aroma parfum yang bercampur dengan bau samar parfum wanita lain, parfum Evangeline.

Danesha menatap langit-langit dengan mata menerawang, seolah sedang memutar ulang setiap detik kejadian tadi sore di kepalanya.

"Pris... lo nggak bakal percaya seseru apa tadi," gumam Danesha, suaranya terdengar serak dan penuh gairah yang tak tertahankan.

Pricillia tetap fokus pada layar laptopnya, meski matanya tidak benar-benar membaca baris-baris hukum perdata di depannya.

"Oh ya? Cerita aja, kayak biasanya kan?"

Danesha berbalik, menyangga kepalanya dengan tangan, menatap Pricillia dengan antusiasme yang jujur, kejujuran yang membunuh Pricillia perlahan.

"Kita ciuman di mobil, Pris. Dan gila... Evangeline itu pro banget. Gue kira dia bakal malu-malu, ternyata dia agresif. Caranya mainin lidah, caranya narik tengkuk gue..." Danesha terkekeh pelan, wajahnya memerah.

Pricillia merasakan perutnya mulas, seolah ada batu besar yang baru saja dijatuhkan ke sana. Namun, Danesha belum selesai.

"Sumpah ya, Pris, gue hampir nggak bisa kontrol diri. Junior gue... lo tahu kan, dia hampir menegang parah cuma karena ciuman itu. Evangeline bener-bener ahli, dia tahu banget gimana cara bikin gue lemas tapi keras di saat yang sama. Gue hampir khilaf kalau nggak inget kita masih di parkiran kampus."

Pricillia menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. Dia mencoba mengatur napasnya agar tetap stabil. Detail itu terlalu banyak. Mendengar bagaimana tubuh Danesha bereaksi terhadap wanita lain adalah jenis siksaan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

"Dan, itu... detail banget," suara Pricillia bergetar tipis.

Danesha tertawa, lalu dengan santainya dia menarik guling dan memeluknya, menatap Pricillia dengan tatapan tak berdosa. "Ya kan kita emang nggak ada rahasia, Pris. Gue cuma bisa cerita hal sedetail ini sama lo. Lo doang yang nggak bakal judge gue."

Pricillia memaksakan sebuah senyum tipis.

Dia bangkit dari kursi belajar dan naik ke tempat tidur, berbaring membelakangi Danesha.

"Gue ngantuk, Dan. Capek habis kelas tadi," dustanya.

Di balik kegelapan kamar, Pricillia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar isakannya tidak pecah.

Sementara di belakangnya, Danesha masih sibuk mengetik pesan, mungkin untuk Evangeline, tanpa menyadari bahwa sahabat terbaiknya sedang hancur berkeping-keping tepat di sampingnya.

.

.

Karakteristik:

Pricillia, Setia, cerdas, pandai menyembunyikan emosi. Sang Sahabat (POV Utama)

Danesha, Terbuka, impulsif, tidak peka terhadap perasaan sekitar.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!