Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — Berpasangan —
Aku tidak ingin melakukan ini.
Sadar bahwa tindakan impulsifku agak keterlaluan, aku refleks melepaskan kedua tangan Miyazaki.
Untungnya, dia tampak tidak keberatan. Dan sangat disayangkan, aku tetap tidak tahu perasaannya yang sebenarnya.
Tepat setelah seringai tipisnya muncul, wajahnya kembali ke setelan pabrik. Maksudku minim ekspresi.
"Kau tahu cara mendaftar, kan?"
"Ya, beberapa instruksi di aula tadi cukup membantu."
"Baiklah, kita lakukan sekarang."
Miyazaki mendekatkan jam tangannya ke tempat di mana jam tanganku terpasang. Kemudian, kami melakukan tos agar jam tangannya bersentuhan.
TING!
Tak lama kemudian, layar hologram muncul di hadapan kami berdua. Jam tanganku otomatis memindai keberadaan kami yang duduk bersebelahan.
[Konfirmasi Berpasangan!]
[Laki-laki: Naruse Takashi (094-A)
Peringkat Keseluruhan Individu: S]
[Perempuan: Elena Miyazaki (088-B)
Peringkat Keseluruhan Individu: A]
[Memerlukan Persetujuan!]
[Setuju / Tidak Setuju]
"Tentu saja setuju."
"Ya, aku juga."
Tanpa pikir panjang, kami sama-sama menekan bagian Setuju.
[Pasangan Dikonfirmasi: 094-A (Naruse Takashi) & 088-B (Elena Miyazaki)]
[Sinkronisasi Awal: 3%]
[Status: Terdaftar]
[Nomor Pasangan: 9]
Jadi, kami adalah pasangan kesembilan yang terdaftar? Kupikir ini cukup cepat.
Di bagian status, sesuatu tertulis tebal. Saat itu juga, profil kami berubah.
[Berpasangan]
"Naruse Takashi-kun, kau ini Peringkat S. Makanya aku bilang kalau aku tidak layak."
"Kau lihat statusku sebelumnya?"
"Saat kau hampir ambruk, jam tangan kita sempat bersentuhan."
"Oh, jadi begitu."
Mendengar kata-katanya sebelumnya, aku jadi mengerti kenapa Miyazaki begitu merendah di hadapanku.
Dia merasa tidak cocok karena perbedaan peringkat. Padahal, aku sama sekali tidak berniat mencapai puncak. Dan juga, menurutku dia lumayan hebat karena ada di peringkat A.
Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana sistem menilai peringkat kami, tapi yang jelas, akan ada kasta sosial yang terbentuk nantinya.
Mataku kini terfokus pada layar hologram di depan, dan aku bisa melihat status milik Miyazaki.
"Kukira aku hanya bisa melihat statusku sendiri."
"Memang begitu, kan? Kita baru bisa melihat yang lain kalau jam tangannya bersentuhan."
"Mungkin kau ada benarnya."
Kami berhasil melalui langkah pertama dengan berpasangan.
Itu berarti, aku tidak akan tidur di Zona Transisi. Entah bagaimana isi asramanya nanti, tapi setidaknya akan lebih baik dari itu.
"Hei, Takashi-kun. Tulisannya berubah."
Belum sempat merasa senang sepenuhnya, tulisan layar hologram di hadapan kami berubah.
[Misi Baru Pasangan!]
[Pergi ke Lantai 2 Asrama Kelas 1, Buka Pintu Kamar Nomor 25!]
[Hadiah: 500 Poin Pasangan]
[Catatan: Jika tidak bisa membuka, hadiah hangus! Tunggu sampai semua murid berpasangan resmi agar otomatis terbuka!]
"Eh? Sebentar..."
"Kamar kita di lantai dua."
"Tidak, bukan itu maksudku."
"Lalu kenapa?"
"Membuka pintu kamar kita pasti tidak semudah itu, terlebih lagi... kita akan tidur di Zona Transisi jika tidak mampu melakukannya."
Ah, sial.
Baru saja aku merasa terbebas dari beban Zona Transisi, malah ada beban baru lagi yang harus diemban. Dan parahnya, kali ini bersama dengan pasanganku.
"Hah..."
Aku pun menarik napas panjang. Tubuhku bersender kaku di bangku taman, lalu aku menghabiskan minuman yang diberikan Miyazaki sebelumnya.
Setelah itu, aku berdiri. Kemudian sedikit melakukan peregangan, dan berhasil membuat Miyazaki mengangkat alis.
"Kau ngapain?"
"Tidak ada, hanya bersiap-siap."
"Bersiap ke asrama kelas satu?"
"Itu juga termasuk. Tapi, aku ingin beli sesuatu dulu."
"Kau masih haus?"
"Bukan itu. Yah, lihatlah."
Aku mengembalikan layar hologram ke halaman utama, tempat statusku terlihat baik oleh diriku sendiri maupun Miyazaki.
[Nama: Naruse Takashi]
[Nomor Registrasi: 094-A]
[Poin Pribadi: 250 Poin]
[Poin Pasangan: 0 Poin]
[Status: Berpasangan]
[Nama Pasangan: Elena Miyazaki]
[Sinkronisasi Pasangan: 3%]
[Peringkat Individu: S]
[Peringkat Pasangan: E]
[Menu:
Aturan
Belanja Teknis
Misi
Peta
Terkunci.]
Aku menekan opsi Belanja Teknis.
[Belanja Teknis:
Penyamar Peringkat — 100 Poin Pribadi
Terkunci.
Terkunci.
Terkunci.
Terkunci.
Catatan: Selesaikan misi lebih banyak untuk membuka!]
"Takashi-kun, kau mau apa?"
"Akan kujelaskan nanti."
Jariku bergerak memilih satu-satunya opsi yang ada di Belanja Teknis.
[Beli Penyamar Peringkat?]
[Ya / Tidak]
[Harga: 100 Poin Pribadi]
Tidak ada keraguan, aku menekan bagian Ya untuk membeli.
[Selamat, Penyamar Peringkat telah dibeli!]
[Sisa Poin Pribadi: 150 Poin]
[Instruksi Penggunaan ada di bagian Peringkat Individu!]
"Baiklah, sampai sini dulu."
Layar hologram mati sepenuhnya. Tidak ada lagi yang menghalangi pandangan kami.
Aku yakin kalau Miyazaki punya banyak pertanyaan di benaknya, tapi sulit sekali membaca ekspresinya.
"Jadi, kau menghabiskan seratus Poin Pribadi hanya untuk menyembunyikan peringkat?"
"Untuk berjaga-jaga lebih tepatnya."
"Berjaga?"
"Ya, aku tidak ingin merepotkanmu karena peringkat S milikku."
"Justru itu kata-kataku. Aku hanya peringkat A dan jelas aku akan membebanimu."
"Tidak juga. Yang lebih penting, kita harus bergegas menuju asrama kelas satu."
"Aku mengerti."
Pada akhirnya, kami pergi meninggalkan taman yang sudah menjadi saksi bisu atas pertemuan kami. Tubuhku juga sudah baikan berkat gadis ini.
Aku harus memakai fitur peta agar tidak tersesat lagi. Rasanya memalukan jika Miyazaki ikut terbawa kecerobohanku.
Kami berjalan sejajar sambil membicarakan topik ringan, mengikuti layar hologram yang menampilkan petunjuk berupa tanda panah kecil.
"Ternyata ada peta juga dari jam tangan ini."
"Kau tidak perlu membelinya lagi, cukup gunakan milikku saja."
"Jadi, kau membeli ini juga?"
"Kalau kau menanyakan itu, sepertinya kau tidak menjelajahi fitur jam tangannya."
"Ya, aku malas."
Mendengar Miyazaki mengatakan itu dengan penuh apatis, aku terkekeh pelan.
Apa yang dikatakannya memang tepat sasaran. Seandainya aku tidak tersesat, aku pasti juga malas untuk mengotak-atiknya.
Tanpa terasa, kami hampir sampai di gedung asrama kelas satu. Bunyi langkah sepatu kami terdengar serasi sebelum masuk ke dalam.
Isi gedung ini tidak buruk. Cahaya dari panel-panel di dinding mengalir lembut, tapi terasa dingin di kulit. Desainnya minimalis, hanya ada pintu di sisi kiri dan sisi kanan yang bersebrangan.
Lorongnya lumayan ramai. Kami disambut oleh banyak murid baru yang sudah berpasangan, dan mereka sedang berdiri di depan pintu. Sepertinya mereka tertahan karena tidak bisa membuka pintunya.
"Kenapa tidak bisa dibuka?"
"Kuncinya mana, sih?"
"Kami tidur di mana kalau begini?"
"Woi, bukalah!"
Berbanding terbalik dengan desainnya yang menyejukkan, suasananya malah terasa panas.
Ada suara ketidakpuasan dan frustasi melengking di telingaku. Bahkan beberapa mulai mendobrak pintu secara paksa.
Aku tidak tahu apakah itu bisa berujung dihukum atau tidak, dan tentunya aku tidak ingin melakukannya.
"Ayo pergi, Miyazaki-san. Kamar kita di lantai dua."
"Ya, mereka berisik sekali."
"Aku yakin di lantai dua juga begitu."
Kami memutuskan untuk mengabaikan mereka semua, lalu fokus ke kamar kami sendiri.
Tidak ada lift di sini, jadi kami menaiki tangga. Anaknya tidak banyak, tapi tetap saja melelahkan. Energi kami seolah tersedot oleh kerusuhan di bawah.
Begitu sampai di lantai dua, keadaan tidak jauh berbeda. Beberapa murid yang berpasangan tertahan di depan pintu kamar mereka.
Saat kami hendak berjalan menelusuri seisi lorong untuk mencari Kamar Nomor 25, aku meraih tangan Miyazaki. Langkahnya pun terhenti, sebelum akhirnya menoleh ke arahku.
"Ada apa, Takashi-kun?"
"Diam sebentar. Ada yang mau kupastikan."
Tepat sekali, aku menyadari adanya pola. Sebuah pola yang agak merepotkan. Dan ini memang harus dipastikan.