Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan para pengkhianat
Pesawat tempur siluman milik Raka membelah awan Kalimantan yang pekat. Di bawah mereka, hutan hujan tropis yang tampak tenang sebenarnya adalah labirin maut yang menyembunyikan fasilitas tercanggih The Founders. Kompleks itu tidak terlihat dari radar; ia terkubur di bawah kanopi hijau, sebuah benteng yang dijuluki "The Nest".
"Tiga menit menuju titik terjun," suara Raka bergema melalui intercom. Ia berada di kokpit, sementara Bhanu, Selena, dan Dahayu bersiap di kabin belakang.
Selena memeriksa senjatanya, sebuah pistol taktis pemberian Bhanu. Namun, fokusnya bukan pada peluru, melainkan pada denyutan di pangkal lehernya. Sejak mendengar rekaman suara ibunya, sistem biometrik Selena bereaksi tidak stabil—seolah-olah ada kunci kedua yang baru saja terpicu oleh frekuensi suara sang ibu.
"Selena," Bhanu memegang tangannya, menghentikan gerakan gelisah Selena. "Jangan biarkan emosimu menjadi umpan mereka. Ayahmu mengharapkanmu marah. Dia butuh lonjakan adrenalinmu untuk membuka kunci terakhir."
"Dia menyekap ibuku, Bhanu," desis Selena. "Dia membohongiku selama dua puluh tahun tentang kematiannya. Aku tidak hanya akan marah; aku akan menghancurkan setiap batu di gedung itu."
"Gunakan amarah itu sebagai bahan bakar, bukan sebagai buta," Dahayu menimpali sambil memasang alat pendeteksi panas di kacamata taktisnya. "Ingat, tujuan kita adalah pemancar pusat. Jika kita gagal membelokkan satelit itu dalam tujuh menit, Jakarta akan menjadi sejarah."
Mereka terjun menggunakan high-altitude low-opening (HALO) jump untuk menghindari deteksi sensor bawah. Mereka mendarat dengan senyap di antara pepohonan raksasa. Hutan itu tidak alami; Selena bisa merasakan getaran mesin di bawah tanah melalui telapak kakinya.
"Pintu masuk ada di balik air terjun buatan itu," bisik Dahayu, menunjuk ke arah tebing yang dialiri air jernih namun berbau bahan kimia.
Saat mereka mendekat, gerombolan tentara The Founders yang mengenakan baju zirah exoskeleton muncul dari balik tanah. Pertempuran pecah seketika. Raka yang baru saja mendarat dengan parasutnya langsung merangsek maju dengan senapan mesin, membuka jalan bagi mereka.
"Bhanu! Bawa Selena ke ruang transmisi! Biar aku dan Dahayu yang menahan para robot ini!" teriak Raka di tengah desingan peluru.
Bhanu menarik Selena, berlari menembus koridor baja yang tersembunyi di balik dinding batu. Mereka melewati laboratorium yang dipenuhi tabung-tabung berisi embrio manusia—proyek kloning yang diceritakan Raka. Selena memalingkan wajah, mual melihat kekejian ayahnya.
Di ujung koridor, mereka sampai di sebuah pintu besar berbahan titanium. Selena meletakkan telapak tangannya di pemindai.
“Biometric Confirmed: Selena Arunika. Welcome home, Project Phoenix.”
Pintu terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan berbentuk kubah kaca raksasa yang menghadap ke arah menara pemancar. Di tengah ruangan, duduk Bapak Arunika, dan di sampingnya, seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Selena namun tampak pucat dan lemah, terikat pada kursi medis. Ibunya.
"Mama!" teriak Selena.
Wanita itu mendongak, matanya yang sayu bergetar melihat putrinya. "Selena... lari... ini jebakan..."
Bapak Arunika berdiri, bertepuk tangan pelan. "Tepat waktu. Empat menit sebelum satelit meledak. Selena, kau harus memilih sekarang. Gunakan akses biometrikmu untuk membelokkan satelit dan menyelamatkan Jakarta, atau gunakan untuk memutus aliran oksigen di kursi medismu ini agar ibumu bisa bernapas tanpa alat kontrol kami."
Bhanu mengarahkan pistolnya ke arah Bapak Arunika. "Lepaskan mereka, atau aku akan mengakhiri ini sekarang."
"Tembak saja, Bhanu," tantang Bapak Arunika dengan tenang. "Darahku adalah trigger cadangan. Jika jantungku berhenti, satelit itu akan meledak saat ini juga. Tidak ada waktu untuk negosiasi."
Selena berdiri di depan konsol utama. Layar besar menampilkan satelit yang mulai memasuki atmosfer. Getaran di lehernya semakin kuat. Ia menyadari sesuatu yang tidak diketahui ayahnya: satelit itu tidak hanya mengirim data, tapi juga menerima perintah dari denyut emosinya.
"Kau ingin aku menjadi dewi, Ayah?" ucap Selena, suaranya kini berubah menjadi sangat dalam, seolah-olah beresonansi dengan mesin di ruangan itu. "Baiklah. Aku akan memberikanmu keadilan para dewa."
Selena tidak memilih satelit maupun ibunya. Ia menutup matanya, membiarkan kesadarannya merambat masuk ke dalam jaringan kabel di bawah kakinya. Ia menggunakan dirinya sendiri sebagai jembatan arus listrik.
"Selena, apa yang kau lakukan?!" Bhanu berteriak saat melihat percikan listrik mulai keluar dari tubuh Selena.
"Aku tidak membelokkan satelitnya, Bhanu," bisik Selena, darah mulai mengalir dari hidungnya. "Aku mengambil alih kendali seluruh kompleks ini. Aku adalah pemilik gemboknya, ingat?"
Seketika, seluruh sistem di "The Nest" berbalik arah. Senjata otomatis yang tadinya mengincar Bhanu kini berputar dan membidik Bapak Arunika. Pintu-pintu terkunci, dan pemancar satelit mulai mengirimkan sinyal penghancur diri ke satelit itu sendiri di luar angkasa.
BOOM!
Di atas langit Kalimantan, sebuah kilatan cahaya terang muncul. Satelit itu hancur berkeping-keping sebelum sempat meledakkan EMP-nya. Jakarta selamat.
Namun, harganya mahal. Kompleks itu mulai mengalami overload energi.
"Bhanu! Bawa Mama pergi!" perintah Selena, tubuhnya mulai melemah.
"Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Pergi! Aku harus menahan sistem ini agar pintunya tetap terbuka untuk kalian!" Selena berteriak, air mata mengalir melewati darah di pipinya.
Tepat saat itu, Raka dan Dahayu masuk, menyeret Renggana yang tertangkap. Melihat situasi yang kacau, Raka segera menggendong ibu Selena.
"Bhanu, bawa dia! Tempat ini akan meledak dalam enam puluh detik!" teriak Raka.
Bhanu menatap Selena, sebuah tatapan yang penuh duka namun juga penuh janji. Ia memeluk Selena sekilas, mencium keningnya. "Aku akan menunggumu di luar. Jangan berani-berani mati, CEO-ku."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...