Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
Puncak Asura - Halaman Belakang.
Matahari terbenam, mewarnai langit dengan semburat ungu yang serasi dengan kabut di Puncak Asura. Di bawah naungan Pohon Dunia Bawah yang hitam legam, Shen Yu berdiri memandang lubang yang baru saja digali oleh akar-akar pohon itu.
Di dalam lubang itu, tergeletak mayat tanpa kepala milik Patriark Serigala Besi. Meskipun sudah mati, tubuh seorang Nascent Soul tetap mengandung energi spiritual yang masif yang tidak akan membusuk selama ratusan tahun.
"Sayang jika disia-siakan," gumam Shen Yu.
Shen Yu menempelkan telapak tangannya ke batang pohon hitam itu.
"Makan."
KRESEK...
Akar-akar pohon itu bergerak hidup seperti ular piton. Mereka membelit mayat itu, menyeretnya masuk ke dalam tanah. Suara tulang yang diremukkan dan daging yang dihisap terdengar samar dari dalam perut bumi.
Pohon itu bergetar hebat. Daun-daun ungunya bersinar terang.
Energi dari seorang Nascent Soul dimurnikan seketika, dialirkan ke dahan tertinggi.
Di sana, sebuah kuncup bunga hitam mekar, lalu layu, dan digantikan oleh sebuah buah seukuran kepalan tangan. Buah itu berwarna merah darah, berbentuk menyerupai jantung bayi yang berdenyut.
Buah Bayi Iblis (Demon Infant Fruit). Khasiat: Meningkatkan kekuatan fisik dan jiwa secara brutal, namun berisiko membuat pemakannya gila jika tekadnya lemah.
Aroma manis dan amis darah menyebar ke seluruh puncak gunung.
"Baunya enak!"
Dua bayangan melesat bersamaan ke arah dahan pohon itu.
Long Tu melompat dengan kekuatan otot kakinya, lidahnya menjulur lapar. Insting naganya menjerit bahwa buah itu bisa memurnikan darahnya. Feng Jiu terbang dengan sayap api, matanya berbinar. Api jiwanya membutuhkan bahan bakar tingkat tinggi.
"Itu milikku, Burung Bakar!" raung Long Tu, mencakar ke arah Feng Jiu. "Mimpi! Naga Cacing, minggir!" Feng Jiu menyemburkan bola api.
BAM!
Bentrokan terjadi di udara. Keduanya sama-sama menginginkan buah itu.
"Turun."
Satu kata dari Shen Yu.
Aura Ketiadaan menekan mereka berdua jatuh ke tanah. Buah itu melayang pelan, jatuh ke telapak tangan Shen Yu.
Shen Yu menatap kedua bawahannya yang cemberut.
"Kalian berebut makanan seperti anjing liar," tegur Shen Yu dingin.
"Buah ini sifatnya Yin-Darah. Feng Jiu, kau elemen Api-Yang, jika kau memakannya, meridianmu akan meledak. Long Tu, kau baru saja menyerap Tulang Naga, fondasimu belum stabil. Jika kau makan ini, kau akan meledak jadi naga gila tanpa akal."
Shen Yu menyimpan buah itu ke dalam cincinnya.
"Buah ini akan kuberikan pada Cang Wu nanti, saat dia mencapai batas Pembentukan Pondasi. Tubuh Tulang Iblis-nya yang paling cocok."
Long Tu dan Feng Jiu menunduk, tidak berani membantah.
"Kembali berlatih. Jangan memalukan nama Sekte."
Mereka berdua bubar, menyisakan Shen Yu sendirian di bawah pohon.
Malam Hari - Teras Istana Batu.
Angin malam di puncak gunung sangat dingin, namun Shen Yu tidak merasakannya. Dia berdiri di tepi tebing, memandang ke bawah, ke arah ribuan lampu obor di kaki gunung di mana para budak baru sedang membangun tembok pertahanan sekte.
Sebuah jubah hangat disampirkan ke bahu Shen Yu dari belakang.
Shen Yu tidak menoleh. Dia tahu aroma ini. Aroma bunga Lotus Malam yang lembut.
"Kau belum istirahat, Su Ling?" suara Shen Yu berubah.
Hilang sudah nada dingin dan otoriter yang dia gunakan pada Long Tu atau Cang Wu. Suaranya menjadi rendah dan lembut, seperti air yang tenang.
Su Ling berdiri di sampingnya, memandang pemandangan yang sama.
"Bagaimana aku bisa istirahat saat Patriark-ku masih terjaga mengawasi dunia?" goda Su Ling lembut.
Shen Yu tersenyum tipis. Dia meraih tangan Su Ling, menggenggam jari-jarinya yang dingin.
"Dunia ini kejam, Su Ling. Aku harus memastikan tidak ada pisau yang tersembunyi dalam gelap yang bisa melukaimu."
Su Ling menatap wajah samping Shen Yu. Dia melihat kelelahan yang tersembunyi di balik topeng "Raja Iblis" itu. Hanya di depannya, Shen Yu mengizinkan dirinya menjadi manusia biasa.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri," bisik Su Ling, menyandarkan kepalanya di bahu Shen Yu. "Kau menanggung karma dari Jantung Iblis itu sendirian. Kau menanggung nyawa kami semua."
Shen Yu membelai rambut Su Ling.
"Selama kau ada di sisiku... neraka pun terasa seperti taman bunga."
"Berjanjilah satu hal, Shen Yu," kata Su Ling, menatap mata Shen Yu dalam-dalam dengan mata ungu dan hitam nya.
"Apa itu?"
"Jangan biarkan kegelapan itu memakan hatimu sepenuhnya. Sisakan sedikit ruang untukku."
Shen Yu mengecup kening Su Ling.
"Hatiku milikmu. Kegelapan hanya alatku."
Momen hening dan hangat itu menyelimuti mereka. Di tengah dunia yang penuh pembunuhan dan intrik, hanya di sisi satu sama lain mereka menemukan kedamaian.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
SWUSH!
Sebuah kilatan cahaya biru membelah langit malam, datang dari arah Utara dengan kecepatan tinggi.
Ekspresi Shen Yu kembali dingin dalam sekejap. Dia melepaskan pelukannya, menempatkan Su Ling di belakang punggungnya.
"Ada tamu," kata Shen Yu datar.
Ye Qing, yang sedang tidur di atap, langsung melompat bangun, pedangnya terhunus setengah.
Cahaya biru itu mendarat di pelataran utama.
Pedang terbang raksasa itu menghilang, memperlihatkan sosok pemuda tampan berjubah biru dengan tujuh pedang di punggungnya.
Xiao Lang (Pangeran Pedang).
Dia datang sendirian. Tanpa pasukan.
Xiao Lang melihat sekeliling, pada bangunan sekte yang masih setengah jadi, pada Pohon Dunia Bawah yang mengerikan, lalu tatapannya berhenti pada Shen Yu dan Ye Qing.
"Jadi di sini rupanya," Xiao Lang tersenyum miring, tapi tidak ada niat membunuh di matanya.
"Gu Yan... atau siapapun namamu. Kau benar-benar penipu ulung. Kau membuatku bertarung mati-matian melawan Biksu Botak itu demi sebuah kotak kosong berisi racun."
"Dan kau masih hidup," jawab Shen Yu tenang. "Berarti kau cukup hebat."
"Tentu saja aku masih hidup," Xiao Lang mendengus. "Tapi aku tidak datang untuk menagih hutang itu. Itu kebodohanku sendiri karena tertipu."
Xiao Lang menatap Ye Qing. Tatapannya menajam, penuh semangat tempur.
"Aku melacak jejak pedangmu, Ye Qing. Aku datang untuk memberikan ini."
Xiao Lang melempar sebuah gulungan emas. Ye Qing menangkapnya.
Undangan Turnamen Naga & Harimau Wilayah Selatan.
"Tiga bulan lagi," kata Xiao Lang. "Di Ibukota Kekaisaran Awan Selatan. Seluruh sekte di wilayah ini akan mengirimkan wakil terbaik mereka."
"Ini bukan sekadar pertarungan. Ini adalah perebutan kuota untuk masuk ke Alam Rahasia Kuno (Ancient Secret Realm) yang baru ditemukan. Hadiah utamanya adalah Air Suci Nirwana."
"Aku tahu kalian adalah sekte baru yang belum terdaftar. Tanpa undangan ini, kalian tidak akan dianggap."
Ye Qing membuka gulungan itu, membacanya sekilas, lalu menyeringai. "Kau memberiku jalan pintas? Kenapa?"
"Karena aku ingin mengalahkanmu di depan seluruh dunia," jawab Xiao Lang jujur dan arogan. "Kekalahanku di halaman Klan Mu itu tidak resmi. Di panggung turnamen nanti, aku akan mematahkan pedangmu."
Xiao Lang berbalik, melompat kembali ke pedang terbangnya.
"Jangan mati sebelum sampai di sana, Ye Qing. Dan kau, Patriark Penipu... hati-hati. Lembah Ratusan Racun sudah mengeluarkan perintah buronan untuk kepala 'Gu Yan'. Mereka akan datang."
Dengan itu, Xiao Lang melesat pergi, meninggalkan jejak cahaya biru di langit.
Shen Yu menatap gulungan di tangan Ye Qing.
"Turnamen..." gumam Shen Yu.
"Kesempatan bagus," kata Su Ling, kembali berdiri di samping Shen Yu. "Jika kita memenangkan turnamen itu, Sekte Asura akan diakui secara resmi. Dan Air Suci Nirwana... Feng Jiu membutuhkannya untuk menyempurnakan garis darah Phoenix nya."
Shen Yu mengangguk. Matanya berkilat ambisius.
"Kalau begitu kita akan pergi."
"Bukan hanya untuk berpartisipasi. Tapi untuk mendominasi."
"Ye Qing, latih pedangmu. Tiga bulan lagi, kau harus memenggal kepala semua jenius Selatan."
"Siap, Bos," Ye Qing menyeringai, memeluk peti pedangnya.
10 bab sehari kek pelit bener