NovelToon NovelToon
Gue Jadi Figuran?

Gue Jadi Figuran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Wanita
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.

Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.

Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Seyra menoleh ke arah Arthur, dia menaik turunkan kedua alisnya menggoda pemuda itu. "Mau tau aja, atau mau tau banget?"

Tingkah Seyra itu membuat wajah Arthur memerah hingga ke telinganya. Tanpa permisi Arthur meraih pinggang Seyra, dan mendekatkan wajah mereka hingga Arthur bisa menghirup aroma vanila dari gadis itu.

"Lo selalu bikin gue penasaran, Sey." Bisik Arthur, suara beratnya membuat Seyra terdiam sejenak.

Jiwa playgirl yang sudah melekat kuat, membuat Seyra dengan jail terus menggoda Arthur. Dia mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Arthur yang memerah.

"Masa sih? Berarti gue kayak puzzle dong," katanya mengedipkan sebelah matanya.

Arthur terdiam sejenak, merasakan sentuhan lembut Seyra di pipinya. Rasa hangat itu menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya semakin sulit untuk berpikir jernih. Seyra dengan senyum nakalnya, seolah tahu betul efek dari tingkah laku ini pada dirinya.

"Lo... Terlalu misterius buat gue."

"Jelas, karena pesona gue tiada tara. Wajar kalo lo nggak menganggap gue misterius," " Jawab Seyra sambil cengengesan, membuat Arthur tak bisa menyembunyikan senyuman tulus di wajahnya.

Berbeda dengan Samuel dan Agha yang sudah tertawa terbahak-bahak, hingga membuat atensi murid di sekitarnya menatap ke arah mereka.

"Haha, Agha. Kayaknya kita perlu bawa Seyra ke rumah pak ustad deh." Seru Samuel heboh.

"Benar, dia perlu di ruqiyah. Kayaknya dia ketempelan hantu waktu di Paris!" sahut Agha di sela-sela tawanya.

Mereka menistakan Seyra dengan begitu heboh, hingga secara tiba-tiba telinga mereka di tarik oleh gadis itu. "Bagus, terus aja ngatain gue."

"Eh, kok ngamuk? baperan amat, Sey. Lagi dapet, ya?" ledek Samuel.

Seyra menarik napas kasar, dia melepaskan jepitan di telinga Samuel dan Agha. "Berisik lo, mau ke kantin nggak?"

"Boleh, ayo." Ajak Samuel yang langsung menggandeng lengan Seyra.

Seketika Arthur langsung menarik kerah baju belakang milik Samuel, "Jangan pegang-pegang cewek gue."

Seyra menoleh dengan ekspresi campur aduk antara kesal dan geli. "Udah deh, jangan berebut mulu. Gue bukan barang dagangan kali, santai aja, dong! Kita bisa ke kantin barengan."

Arthur masih terlihat serius, meski senyum tipis tak bisa disembunyikannya. "Ya, ya. Tapi lo harus tahu diri, Sey. Jangan terlalu dekat sama mereka. Gue nggak suka."

Arthur menjawab sambil melirik Samuel dan Agha yang sudah saling berpandangan, berusaha menahan tawa.

"Cie... cie pawangnya cemburu," seru kedua sahabat Seyra bersamaan.

"Yah, terserah deh. Yang penting, kita ke kantin dulu gue laper banget," Seyra mengalah, melangkah lebih cepat meninggalkan ketiga pemuda yang saling melempar pandangan sinis.

Samuel dan Agha mengikuti di belakang, masih bercanda satu sama lain. Di luar kelas, suasana berubah menjadi lebih ceria. Matahari bersinar cerah, dan suara riuh siswa-siswi memenuhi koridor.

Seyra melirik ke arah Arthur yang berjalan di sampingnya. "Lo ngapain sih terlalu protektif? gue kan bisa jaga diri. Lagian mereka sahabat dekat gue kalo lo lupa."

Arthur mengangkat bahu, "Gue cuma nggak mau ada yang salah paham. Lagi pula, lo itu spesial buat gue."

Seyra terdiam sejenak, merasa geli dengan ucapan Arthur yang di anggapnya modus.

"Spesial? maksud lo spesial sebagai bahan taruhan?" tanyanya, berusaha terdengar santai.

Seketika Arthur terdiam kaku, dia menatap Seyra yang terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun padanya.

"Taruhan? mana mungkin lo jadi bahan taruhan, Sey." Jawab Arthur tak suka dengan sebutan itu.

Sebelum Seyra bisa menjawab, Samuel dan Agha sudah lebih dulu memecah suasana dengan teriakan.

"Kantinnya udah di depan, ayo siapa yang terakhir sampai harus traktir makanan!" seru Samuel membuat Seyra merasa tertantang.

"Oke, siapa takut." Jawab Agha, mereka bertiga lari sekuat tenaga mengabaikan Arthur di belakangnya.

Sedangkan Arthur yang merasa cemas, jika selama ini Seyra sudah mengetahui alasan di balik dia menyatakan perasaannya dulu. Tapi sekarang, perasaannya terhadap Seyra semakin dalam dan ketakutan mulai merambat ke dalam dirinya.

'Dia nggak mungkin bakal benci sama gue, kan?' batinnya merasa tak yakin.

***

Selepas dari kantin, Arthur pergi ke kamar mandi. Dia tidak sendiri melainkan bersama Jazi, Galen, dan Raga. Sedangkan Ozil tidak ikut, pemuda itu entah pergi kemana mereka pun tidak tahu.

Arthur merendam tangannya di wastafel, darah dari buku-buku jarinya membuat air di dalam wastafel berubah menjadi merah muda. Ujung bibirnya sedikit sobek, lebam keunguan bertengger di pipinya yang tirus.

"Tiap hari ada aja luka di tubuh lo, nggak bosen apa, Ar?" cetus Jazi seraya menyodorkan tisu pada pemuda itu.

Arthur menipiskan bibirnya, pandangan pemuda itu fokus pada sosok pemuda lain yang baru saja melangkah memasuki toilet. Pemuda berandalan yang memiliki luka memanjang di sekitar alisnya, serta lebam keunguan di sudut bibirnya. Dia, Max.

"Kenapa lo pacarin cewek itu heh?" Max mendekat dan menarik kerah baju Arthur. "Lo tahu, dia cewek yang gue suka!"

Arthur menyeringai tajam. Tatapannya begitu dingin dan menusuk, seperti tombak yang siap menusuk bola mata pemuda itu.

"Suka? nggak malu lo ngomong kayak gitu, bukannya lo yang nolak dia di depan semua murid beberapa tahun yang lalu?" ejek Arthur, dia mengingatkan kembali kejadian ketika mereka masih duduk di bangku SMP.

Max, merupakan pemuda yang mendapat pengakuan cinta dari Seyra. Namun, sayang pemuda itu justru mempermalukan gadis itu di depan umum seakan menganggap Seyra gadis murahan karena menyatakan perasaan pada laki-laki lebih dulu.

Di luar dugaan, Max bergerak meninju tulang rusuk Arthur. Membuat pemuda itu terhuyung ke belakang, dan menabrak tubuh Raga.

Arthur mengatur napas, dan balas melayangkan tinjunya rendah hingga mengenai area pusar Max. Tinju Arthur melesak masuk dan membuat tubuh Max tersentak mundur.

Ketiga sahabat Arthur yang menyaksikan perkelahian itu hanya menatap malas, sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mereka sudah sering menyaksikan keduanya berkelahi, tak jarang Max masuk rumah sakit akibat ulah Arthur tapi pemuda itu masih saja bebal dan terus mencari masalah dengan Arthur.

"Pukul lagi, Ar. Biar tahu rasa si Maxsimal." Seru Jazi mengompori.

1
CaH KangKung,
👣👣
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut Thor, seru and Semangat 💪
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut Thor, seru and semangat 💪
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut thor, and semangat
Wahyuningsih
q mampir thor, mga2 critanya bagus bla perlu dot bonus ruang dimensi atau sistem buar mkin sru
Zee✨: bsk deh kalo udah bisa wkwk harus belajar cara nulisnya dulu klo sistem kak wkwk
total 1 replies
Aria Sabila
hadir
Mey Abimanyu
sering typo penyebutan nama ya kak .. Nino jadi nini😂
Zee✨: wkwk iya kak, padahal udh bolak balik revisi masih aja typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!