NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Beli Mobil Mewah

#

Hari Kamis siang. Zidan lagi nyetir mobil Pak Rahmat pulang dari meeting. Di perempatan lampu merah, matanya nangkep showroom mobil besar. Di depannya parkir Toyota Fortuner warna hitam metalik. Mengkilap kena sinar matahari.

Dia berhenti sebentar. Ngeliatin mobil itu lama.

"Bagus banget. Gagah. Cocok buat aku."

Tanpa pikir panjang, dia belok masuk ke showroom. Parkir mobil Pak Rahmat terus masuk ke dalam.

Sales langsung sambut ramah. "Selamat siang Pak. Ada yang bisa saya bantu?"

"Fortuner hitam yang di depan itu masih ready?"

"Ready Pak. Mau test drive?"

"Nggak usah. Harganya berapa?"

"Lima ratus lima puluh juta Pak. Sudah termasuk pajak."

"Oke. Saya ambil. Cash."

Sales itu melotot. "Eh... maksud Bapak... cash? Langsung?"

"Iya. Masalah? Saya nggak bisa bayar cash?"

"Bukan begitu Pak. Cuma... biasanya pembeli kredit. Jarang yang cash langsung."

"Ya saya beda. Saya punya uang. Mau urus sekarang."

Sales itu langsung manggil supervisor. Mereka proses cepet. Zidan transfer lima ratus lima puluh juta dari rekening dia. Uang hasil transaksi terakhir yang tiga ratus juta plus tabungan sebelumnya.

Dua jam kemudian, mobil resmi jadi milik dia. Lengkap dengan STNK atas nama Zidan.

Dia langsung nyetir mobilnya keluar dari showroom. Pegang setir sambil senyum lebar.

"Akhirnya. Mobil sendiri. Mobil mewah. Fortuner. Harga setengah miliar. Siapa yang nyangka aku yang dulu cuma sopir angkot sekarang bisa beli mobil kayak gini?"

Dia ngebut di jalan raya. Pegang setir dengan satu tangan. Tangan satunya di jendela. Kayak orang yang lagi pamer.

Di lampu merah, mobil di sebelahnya pada ngeliatin. Ada yang kagum. Ada yang iri.

Zidan makin sombong. Dia bunyiin klakson lama waktu lampu ijo. Mobil di depannya agak lambat jalannya.

"Dasar mobil tua! Jalannya kayak siput!"

Dia nyalip dari kiri sambil bunyiin klakson keras. Sopir mobil itu kaget sampe hampir nabrak pembatas.

Zidan ketawa. "Dasar sopir kampungan!"

Dia lanjut ngebut. Di pinggiran jalan, dia liat ada ibu ibu lagi nyebrang. Bukan sembarang ibu ibu. Ini ibu ibu yang dulu ngejek dia waktu dia masih miskin. Ibu Sari. Yang pernah bilang Naura kasian nikah sama orang miskin.

Zidan langsung injak rem mendadak. Mobilnya berhenti dengan suara decitan ban yang keras. Ibu ibu yang lagi nyebrang kaget setengah mati. Hampir jatuh.

Zidan buka kaca mobil. Keluarin kepalanya. Teriak keras.

"HEH! EMAK EMAK REMPONG LO SEMUA UDAH BOSEN HIDUP YA? MINGGIR LAH! KETABRAK GUE JUGA YANG DISALAHIN!"

Ibu Sari melotot ngeliat Zidan. "Zidan? Ini kamu?"

"Iya gue! Kenapa? Kaget ya liat gue naik mobil mewah? Dulu lo bilang gue miskin kan? Dulu lo bilang Naura kasian kan? Sekarang gimana? Masih kasian?"

"Zidan, kamu... kamu kok ngomongnya kayak gitu?"

"Emang kenapa? Lo pikir gue masih Zidan yang dulu? Yang bisa lo hina sesuka lo? Sekarang gue udah beda! Gue punya uang! Gue punya mobil! Lo mau apa?"

Ibu Sari mundur sedikit. Takut.

"Terus lo sekarang masih jalan kaki ya? Masih naik angkot? Kasian banget. Suami lo yang katanya manajer itu kemana? Kok nggak beliin lo mobil?"

"Zidan, jangan kayak gitu. Kamu berubah. Kamu jadi..."

"Jadi apa? Sombong? Iya emang! Gue sombong! Karena gue pantes sombong! Gue sukses! Lo? Lo apa?"

Zidan langsung gas mobilnya. Meninggalkan Ibu Sari yang berdiri di pinggir jalan dengan wajah shock.

Sepanjang jalan, Zidan senyum senyum sendiri. Puas banget bisa balesin dendam ke orang yang dulu ngehina dia.

"Rasain lo. Dulu lo hina gue. Sekarang gue yang hina lo. Puas gue."

Jam empat sore, dia sampe rumah. Parkir Fortuner di garasi. Mobil itu pas banget masuk. Mengkilap di bawah lampu garasi.

Dia masuk rumah dengan senyum lebar. Naura lagi masak di dapur. Faris lagi main di ruang tamu.

"Naura! Keluar sebentar!"

Naura keluar dari dapur sambil lap tangan pake serbet. "Ada apa Mas?"

"Lihat di garasi."

Naura jalan ke garasi sambil bingung. Begitu liat mobil hitam gede di sana, dia berhenti. Mulutnya menganga.

"Mas... ini... ini mobil siapa?"

"Mobil kita sayang. Kamu suka kan?" Nada suaranya dingin. Nggak ada kehangatan kayak dulu.

"Mobil kita? Maksudnya Mas beli mobil ini?"

"Iya. Fortuner. Baru. Lima ratus lima puluh juta. Bagus kan?"

Naura masih shock. "Lima ratus lima puluh juta? Mas beli pake uang dari mana?"

"Uang gue. Hasil kerja gue."

"Tapi Mas... kenapa Mas nggak bilang bilang dulu? Kenapa Mas beli sendiri tanpa ngomong sama aku?"

Zidan mulai kesel. "Emang harus? Emang lo yang cari uangnya? Gue yang kerja! Gue yang cape! Gue yang punya uang! Gue mau beli apa juga terserah gue!"

"Bukan gitu Mas. Aku cuma... aku cuma pikir harusnya kita musyawarah dulu. Itu uang banyak banget. Harusnya kita pikirin baik baik mau dipake buat apa."

"Udah dipikirin! Dan gue mutusin buat beli mobil! Emang kenapa? Lo mau naik angkot terus? Malu gue!"

Naura terdiam. Hatinya sakit dengerin kata kata suaminya.

"Mas... aku nggak pernah minta mobil. Aku nggak pernah bilang malu naik angkot. Kenapa Mas bilang kayak gitu?"

"Ya karena emang gue yang malu! Gue sekarang udah punya uang banyak! Tapi tiap kemana mana masih naik motor butut! Malu gue kalau ketemu temen temen bisnis gue!"

"Mas... mobil ini lima ratus lima puluh juta. Itu uang banyak banget. Harusnya kita bisa pake buat hal lain. Buat sedekah. Buat tabungan Faris. Buat masa depan."

Zidan jalan deket ke Naura. Wajahnya merah. Matanya melotot.

"DENGERIN YA! GUE UDAH CAPE KERJA KERAS! GUE PANTES BELI MOBIL! LO PIKIR GUE HARUS SEDEKAH TERUS? HARUS NABUNG TERUS? KAPAN GUE NIKMATIN HASIL KERJA GUE?"

"Mas jangan teriak. Faris nanti takut."

"GUE NGGAK PEDULI! INI RUMAH GUE! GUE MAU TERIAK JUGA HAK GUE!"

Faris di ruang tamu langsung nangis keras. Ketakutan dengerin Ayahnya teriak.

Naura langsung masuk ambil Faris. Gendong sambil goyang goyang. "Ssshh Faris, nggak apa apa sayang."

Zidan masih berdiri di garasi sambil ngeliatin mobilnya dengan bangga. Nggak peduli anaknya nangis. Nggak peduli istrinya sedih.

Naura bawa Faris ke kamar. Duduk di kasur sambil nangis pelan. Faris masih terisak di pelukannya.

"Maafin Ibu ya Nak. Ayah kamu... Ayah kamu udah berubah. Ayah kamu udah nggak kayak dulu lagi. Ibu nggak tau harus gimana."

Malam itu mereka makan dengan sunyi. Zidan makan dengan lahap sambil main handphone. Naura makan sedikit. Nggak ada nafsu.

"Besok kita pake mobil baru ya. Kita jalan jalan. Biar tetangga tetangga pada liat," kata Zidan tanpa liat Naura.

"Mas... Ibu kondisinya lagi drop. Aku harus ke rumah sakit besok. Aku mau jenguk."

"Ya pake mobil baru. Biar keren."

"Tapi Mas..."

"Udah! Jangan banyak bacot! Besok pake mobil baru! Titik!"

Naura diem. Nggak berani ngelawan lagi.

Malamnya, waktu Zidan tidur, Naura duduk di ruang tamu sendirian. Ngeliatin garasi dari jendela. Mobil hitam itu kelihatan mengkilap di bawah lampu.

"Lima ratus lima puluh juta. Uang sebanyak itu harusnya bisa buat bantu banyak orang. Bisa buat renovasi masjid. Bisa buat sekolahin anak yatim. Tapi dipake buat beli mobil. Buat pamer."

Air matanya jatuh.

"Ya Allah... suamiku makin jauh dari janji janjinya. Janji di sajadah waktu itu. Janji mau sedekah. Janji mau bantu orang susah. Janji nggak akan sombong. Sekarang semua janji itu hilang. Semua dilupakan."

Dia sujud di ruang tamu sambil nangis.

"Ya Allah, tolong kembalikan suamiku. Kembalikan Zidan yang dulu. Yang lembut. Yang taat. Yang nggak sombong. Aku nggak kuat liat dia kayak gini terus. Tolong ya Allah. Aku mohon."

Tapi doanya kayak nggak kedengaran.

Karena besoknya, Zidan makin sombong.

Dia ajak Naura dan Faris naik mobil barunya keliling komplek. Dengan sengaja dia klakson keras waktu lewat depan rumah Ibu Rita dan Ibu Dewi.

Mereka keluar liat. Melotot.

Zidan buka kaca. Lambaikan tangan sambil senyum sinis. "Gimana? Bagus kan mobilnya? Lima ratus lima puluh juta lho! Kalian kapan beli?"

Ibu Rita cuma bisa melongo. Ibu Dewi bisik bisik sama tetangga yang lain.

Zidan ketawa puas. Terus ngebut keluar komplek.

Naura duduk di sebelahnya sambil gendong Faris. Hatinya remuk. Malu banget liat tingkah suaminya yang kayak anak kecil lagi pamer mainan baru.

"Mas... nggak usah kayak tadi. Malu aku."

"Malu kenapa? Gue cuma mau nunjukin kalau gue udah sukses. Salah?"

"Tapi Mas... itu nggak sopan. Mereka tetangga kita."

"Tetangga yang dulu hina kita! Lupa lo? Mereka yang bilang kita pake pesugihan! Bilang kita ngutang! Sekarang gue balesin! Puas gue!"

Naura nggak bisa ngomong apa apa lagi.

Mereka sampai rumah sakit buat jenguk Ibu Siti. Parkir di tempat parkir khusus. Mobil Fortuner hitam mengkilap di antara mobil mobil lain.

Zidan turun sambil senyum bangga. Ngeliatin orang orang yang pada ngeliatin mobilnya.

"Iya. Liat liat aja. Ini mobil gue. Fortuner. Baru. Mahal."

Naura turun sambil gendong Faris. Jalan di belakang suaminya dengan kepala tertunduk. Malu.

Di ruang rawat, Ibu Siti terbaring lemah. Kondisinya membaik sedikit tapi masih lumpuh sebelah. Dia senyum liat Naura dan Faris.

"Mmm... Nau...ra..." suaranya masih pelo.

"Iya Bu. Ini aku. Ini Faris. Faris udah gede Bu. Udah bisa jalan."

Ibu Siti usap kepala Faris dengan tangan kirinya yang masih bisa gerak sedikit.

Zidan berdiri di pojok sambil main handphone. Nggak ngomong apa apa ke Ibu Siti.

Naura notice. "Mas, salam sama Ibu. Ibu kan ibu mertua Mas."

"Iya iya. Assalamualaikum." Nada suaranya datar. Nggak ada kehangatan.

Ibu Siti ngeliatin Zidan dengan tatapan sedih. Dia tau. Dia lihat. Menantunya udah berubah.

Setelah setengah jam, mereka pulang. Di perjalanan, Naura coba ngomong lagi.

"Mas, kenapa Mas nggak ngobrol sama Ibu tadi? Ibu kan kangen sama Mas."

"Gue sibuk. Ada kerjaan di handphone."

"Tapi Mas... Ibu itu... Ibu itu orang tua aku. Harusnya Mas hormatin."

Zidan ngerem mendadak. Mobil berhenti di pinggir jalan. Dia noleh ke Naura dengan wajah marah.

"LO MAU NGAJARIN GUE CARA HORMATIN ORANG TUA? GUE UDAH BAYAR SEMUA BIAYA RUMAH SAKIT IBU LO! JUTAAN! BELASAN JUTA! ITU BELUM CUKUP BUAT BUKTIIN GUE HORMATIN DIA?"

"Mas aku nggak bilang kayak gitu. Aku cuma..."

"CUMA APA? CUMA MAU NGOMEL NGOMEL LAGI? CAPEK GUE DENGERIN LO NGOMEL MULU!"

Faris nangis keras di pelukan Naura. Ketakutan.

Zidan gas mobilnya lagi. Ngebut dengan kecepatan tinggi. Naura pegang Faris erat sambil nangis diam diam.

"Ya Allah... kenapa jadi kayak gini? Kenapa suamiku berubah sebanyak ini? Tolong ya Allah. Aku nggak kuat."

Sampe rumah, Zidan langsung masuk kamar. Banting pintu.

Naura duduk di ruang tamu sambil gendong Faris yang masih terisak. Dia nangis sambil peluk anaknya erat.

"Maafin Ibu ya Nak. Maafin Ibu nggak bisa kasih kamu keluarga yang harmonis. Ayah kamu... Ayah kamu udah bukan Ayah yang dulu lagi."

Dan malam itu, jarak di antara mereka makin lebar.

Jarak yang dulunya cuma sejengkal.

Sekarang udah sejutaan mil.

Dan nggak ada yang bisa nyambutin.

Nggak ada yang bisa balikin.

Karena Zidan udah terlalu jauh.

Terlalu sombong.

Terlalu angkuh.

Terlalu lupa siapa dia dulu.

Dan dia nggak peduli.

Yang dia peduliin cuma uang.

Harta.

Status.

Pamer.

Dan itu semua pelan pelan membunuhnya.

Membunuh hatinya.

Membunuh keluarganya.

Membunuh masa depannya.

Tapi dia nggak sadar.

Atau mungkin dia sadar.

Tapi dia nggak peduli.

1
Risnawati
lanjut.jngan lama2.nanti lupa
Risnawati
lanjut lagi seru
Risnawati
lanjut.
Hj Nursidah
lanjutt
Hj Nursidah
lanjut dek
Siti Yatmi
itu mah bodoh namanya ...
Umi Musringah: yg bikin ceritanya bodoh bikin di bodo tetap bertahan oon namanya
total 1 replies
Risnawati
lanjut kak
aa ge _ Andri Author Geje: ditunggu ya 😊
total 1 replies
Anonymous
Lanjut kk
aa ge _ Andri Author Geje: di tunggu ya😊
total 1 replies
Risnawati
masih lanjut ya.penasaran
aa ge _ Andri Author Geje: masih kak
total 1 replies
Risnawati
lanjutan nya mno
Anonymous
Lanjut
checangel_
Wassalam sudah /Facepalm/
checangel_
Istighfar Author dan Reader ... maaf ya Kak dua Bab cerita Kakak aku skip cepat /Pray/
aa ge _ Andri Author Geje: oke siap kembali ke mode awal
dari mode sugiono
total 5 replies
checangel_
Definisi setia yang bukan sebenarnya 🤣
checangel_
Begitulah perasaan sebagai seorang anak 🤧/Sob/
checangel_
Bentak aja terus/Drowsy/
Siti Yatmi
detik2 kehancuran Zidan..kayanya...dehhhh..syg amat dikasih harta banyak di sia siain
aa ge _ Andri Author Geje: itu lah orang kak baru di kasih mereka dikit lupa cangkang
total 1 replies
Siti Yatmi
ya Allah.. emang terkadang kekayaan itu malah menghancurkan, jarang ada yg bener2 bisa membuat keluarga tentram,, godaan kekayaan emang banyak,,salah satunya kaya Zidan,,belum lagi tergoda wanita,,,hemmmm
aa ge _ Andri Author Geje: real kak... itulah ujian allah
total 1 replies
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 🙏👍 teruntuk Author dan kisahnya
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
checangel_
Maka dari itu, terkadang ada baiknya harus seleksi dulu sebelum masuk ke tahap pembukuan perjalanan hidup yang sebenarnya 🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!