NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: KETEGANGAN MALAM HARI

​Keesokan Paginya

​Valerie terbangun oleh sinar matahari yang menembus jendela kamar. Ia melihat ke samping, ranjang itu sudah kosong, namun ia menemukan sebuah catatan kecil di atas bantal.

​"Aku sedang menyiapkan sarapan di teras. Pakailah jaket tebalmu, udaranya sedang sangat segar. – Revan"

Valerie tersenyum lebar. Ia merasa seperti sedang berada dalam mimpi indah. Namun, saat ia melangkah menuju teras, ia melihat Revan sedang berbicara serius di telepon dengan wajah yang kembali mengeras.

​"Apa? Julian menghilang dari apartemennya dan tidak bisa dihubungi?" suara Revan terdengar tajam. "Cari dia. Aku tidak mau dia melakukan sesuatu yang nekat hanya karena merasa terpojok."

​Senyum Valerie perlahan memudar. Ternyata, meski mereka sedang bersembunyi di surga kecil ini, bayang-bayang masa lalu masih berusaha mengejar.

Valerie mematung di ambang pintu geser teras, jemarinya meremas pinggiran jaket tebal yang ia kenakan. Kehangatan yang ia rasakan beberapa menit lalu seolah tersapu oleh angin gunung yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.

​Revan membelakangi Valerie, tubuhnya yang tegap tampak tegang. "Aku tidak peduli bagaimana caranya, temukan dia sebelum dia melakukan sesuatu yang akan ia sesali seumur hidup. Kabari aku setiap tiga puluh menit!"

​Begitu Revan mematikan sambungan telepon, ia menghela napas panjang dan memijat pangkal hidungnya. Namun, instingnya sebagai seorang pria yang selalu waspada membuatnya menyadari kehadiran seseorang. Ia berbalik, dan ekspresi keras di wajahnya seketika melunak saat melihat Valerie berdiri di sana dengan tatapan cemas.

​"Sejak kapan kau di situ, Erie?" tanya Revan lembut, melangkah mendekat untuk merapikan kerah jaket Valerie agar menutupi lehernya dari angin.

​"Baru saja. Mas... apa Pak Julian benar-benar menghilang?"

Revan terdiam sejenak, mencoba menimbang seberapa banyak yang harus ia katakan. Ia tidak ingin merusak liburan ini, tapi ia juga tidak bisa membohongi Valerie lagi. "Dia tidak ada di apartemennya sejak semalam. Ponselnya mati. Dia meninggalkan surat pengunduran diri, tapi secara mental, dia sedang tidak stabil."

​"Dia mungkin saja datang ke sini, kan?" suara Valerie sedikit bergetar.

​Revan meraih kedua tangan Valerie, menggenggamnya erat untuk menyalurkan kekuatan. "Aku sudah memperketat penjagaan di gerbang depan vila. Kau aman bersamaku. Jangan biarkan dia mencuri kebahagiaanmu pagi ini, mengerti?"

Meski Revan berusaha bersikap biasa saja sepanjang hari, bahkan sempat menemani Valerie membuat sketsa di pinggir danau, suasana mencekam itu benar-benar memuncak saat malam tiba. Hujan deras mengguyur pegunungan, disertai suara petir yang menggelegar.

​Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dipaksa mendaki jalanan setapak vila, disusul suara decit rem yang tajam. Revan langsung berdiri dari sofa, matanya berkilat waspada.

​"Tetap di ruang tengah, Erie. Jangan mendekat ke jendela," perintah Revan dengan nada yang tidak bisa dibantah.

​Di luar, di bawah guyuran hujan badai, sebuah mobil berhenti tepat di depan teras kaca. Julian keluar dari sana tanpa payung, tubuhnya basah kuyup, wajahnya pucat pasi tertimpa cahaya lampu teras. Ia tampak seperti pria yang sudah kehilangan segalanya.

​"REVAN! KELUAR!" teriak Julian histeris. "AKU TAHU KAU DI DALAM! AKU HANYA INGIN BICARA PADA VALERIE!"

​Revan membuka pintu kaca dengan kasar, melangkah keluar ke teras yang terlindung atap, namun hawa dingin langsung menyeruak masuk. "Pergi dari sini, Julian! Kau sudah melanggar batas!"

​"Aku tidak akan pergi!" Julian tertawa miris, air hujan mengalir di wajahnya. "Kau menghancurkanku, Revan! Kau mengambil karierku, namaku... dan sekarang kau mengambil dia! Aku punya bukti baru!" Julian mengangkat sebuah map plastik yang ia dekap di dadanya. "Adrian... si brengsek itu ingin menjebakmu juga! Aku membawa rekaman asli rencana kita malam itu. Ambil ini, tapi tolong... jangan penjarakan aku!"

​Valerie, yang tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya, melangkah maju hingga berdiri di belakang pintu kaca. Melihat Julian yang begitu hancur, ia tidak merasakan takut, melainkan rasa iba yang bercampur dengan kemuakan.

​"Pak Julian!" suara Valerie meninggi, menembus suara hujan. Ia membuka pintu kaca, berdiri tepat di samping Revan.

​"Erie, masuk!" tegur Revan protektif.

​"Tidak, Mas. Biar aku yang bicara," Valerie menatap Julian dengan tatapan yang sangat teguh. "Pak Julian, lihat dirimu. Kau adalah seorang dosen, seorang intelektual. Mengapa kau merendahkan dirimu hingga seperti ini?"

​"Valerie... aku melakukannya karena aku mencintaimu! Aku ingin menyelamatkanmu dari dia!" Julian menunjuk Revan dengan tangan gemetar.

​"Itu bukan cinta," potong Valerie tajam. "Itu obsesi dan ego yang terluka. Jika kau mencintaiku, kau tidak akan pernah menyebarkan foto-foto itu dan mempermalukanku di depan satu kampus. Pria yang benar-benar mencintaiku adalah pria yang saat ini berdiri di sampingku, pria yang mencintaiku sejak aku bukan siapa-siapa, dan pria yang berani mempertaruhkan segalanya untuk membersihkan namaku."

​Valerie menggandeng lengan Revan erat, menunjukkan posisinya. "Ambil map itu, Mas. Itu adalah hak kita sebagai barang bukti. Dan setelah itu, biarkan dia pergi."

​Revan menatap Valerie, terkesima dengan keberanian istrinya. Ia kemudian menatap Julian dengan dingin. "Letakkan map itu di kursi teras. Lalu pergi. Jika kau tidak ingin aku melaporkan ini sebagai percobaan penculikan atau ancaman fisik, pergi dari kota ini malam ini juga. Ini adalah belas kasihan terakhir yang bisa kuberikan."

​Julian terdiam, tangisnya pecah di tengah hujan. Ia meletakkan map itu dengan tangan gemetar, lalu kembali ke mobilnya tanpa kata-kata lagi. Ia baru menyadari bahwa ia tidak hanya kalah secara hukum, tapi ia kalah secara telak di hati Valerie.

​Setelah Badai Mereda

​Revan menutup pintu kaca dan menguncinya. Ia segera meraih handuk kering untuk menyeka pundak Valerie yang sedikit terkena percikan air hujan.

​"Kau berani sekali tadi," bisik Revan, suaranya mengandung rasa bangga yang luar biasa.

​Valerie menatap Revan, lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Aku hanya ingin dia tahu bahwa dia tidak punya celah sedikit pun. Aku tidak ingin dia merasa bahwa dia masih punya hak untuk mengganggumu."

Revan menarik napas panjang, lalu memeluk Valerie sangat erat. "Terima kasih, Erie. Terima kasih sudah memilihku."

​"Mas..." Valerie mendongak. "Tadi kau bilang... kau sudah mencintaiku sejak lama? Sejak kau masih di paviliun?"

​Revan tersenyum tipis, "Ya. Dan sekarang, setelah badai ini benar-benar lewat, aku tidak akan membiarkanmu meragukan itu lagi.

Malam itu, detak jantung Valerie terasa jauh lebih keras daripada suara rintik hujan yang masih tersisa di luar. Di dalam ruang tengah yang hanya diterangi pendar hangat perapian, jarak di antara mereka seolah terkikis habis. Tidak ada lagi status paman dan keponakan, tidak ada lagi kontrak hukum, yang ada hanyalah seorang pria dan seorang wanita yang telah lama saling mendamba dalam diam.

Revan masih menangkup wajah Valerie dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi Valerie, menatap istrinya dengan tatapan yang begitu intens, campuran antara pemujaan yang dalam dan keinginan yang selama belasan tahun ini ia kekang dengan paksa.

"Erie," bisik Revan, suaranya kini terdengar lebih rendah dan serak. "Selama ini aku selalu menjaga jarak karena aku takut merusakmu. Aku takut perasaan egoisku justru menjadi beban bagimu."

1
Lilik Juhariah
waduh , Erri harus kasih tau tu kelakuan nadia
Lilik Juhariah
gak gitu juga kali Revan , Erie bukan manekin
Lilik Juhariah
aduhh Revan jangan sampe makan minum apapun ntar dimasukin obat perangsang, aku yakin author GK buat alur sprt kebanyakan novel
Lilik Juhariah
seru kalau fokus sama Hoby , kayak makan ikan asin nasi hangat sama Pete wkkw
Lilik Juhariah
ya karena Nadia selalu deketin Revan makanya Revan bilang gak mau terikat emosional buat nolak kamu Nad
Lilik Juhariah
astagaaa Nadia, bagus Lo ceritanya ,
Lilik Juhariah
gak Eri gak seperti yg kamu bayangkan
Lilik Juhariah
untung ada Revan , ini produk ambisi orang tua,
Lilik Juhariah
om Revan keren tegas
Lilik Juhariah
karya author bagus banget , setiap kata demi kata bikin aku terpukau
Lilik Juhariah
ceritanya bagus banget , thor , aku suka ,
Lilik Juhariah
gak ada bukti , kekerasan mana
Lilik Juhariah
aduuuh cepet datang revan
sweet chil
wah.. mantab Thor aku otw, tapi tunggu baca 2 bab lagi yah 🤭
My: Siap, aku selalu menunggumu 🥰🤭
total 1 replies
sweet chil
wah .. ada gila-gila nya ini si Adrian
My: hehehe.. 🤭
total 1 replies
putri
wahh.. emak macem apa ini?
sweet chil
gak kebayang sih kalo jdi Valerie.. untungnya masih ada Revan
sweet chil
Revan sweet banget yah
sweet chil
baru buka lagi .. ternyata bab nya udah banyak
wahh mantap Thor.. updatenya dobel-dobel 👍
My: wahh.. selamat datang kembali 🥰
total 1 replies
Lilik Juhariah
keren banget thor tiap part aku sampe terpaku bacanya
My: Terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!