NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:880
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kursi Hijau dan Harapan di Usia Empat Tahun

Waktu terus merayap, namun roda nasib seolah tertahan di titik terendah. Bulan demi bulan berganti, tetapi ekonomi keluarga kami bukannya membaik, malah terasa semakin merosot tajam. Harga-harga kebutuhan pokok mulai naik, sementara kayu bakar dari Gunung Prau tak selalu laku dengan harga yang layak.

Orang-orang di luar sana tetap dengan kacamata kudanya. Mereka hanya melihat Ibu yang mengirim uang, lalu dengan mudahnya menghakimi Ayah sebagai lelaki yang hanya berpangku tangan. Mereka tidak tahu betapa Ayah benci hanya menunggu. Ia punya harga diri yang setinggi puncak gunung, dan ia membuktikannya dengan terus memeras keringat sebelum uang kiriman itu sampai ke tangan kami.

Malam itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan. Suara derit pintu kayu terdengar, disusul langkah kaki yang terasa sangat berat. Ayah pulang. Wajahnya legam, nyaris menyatu dengan kegelapan malam. Tanpa banyak bicara, ia duduk di kursi plastik berwarna hijau di sudut ruangan.

Ia melepas jaket tebalnya yang sudah berbau asap hutan dan tanah basah. Hah... Ayah menghela napas panjang. Sebuah desahan yang sangat berat, seolah beban kayu yang dipikulnya seharian tadi belum benar-benar turun dari pundaknya. Beban itu kini berubah menjadi beban pikiran.

Aku yang masih terjaga, duduk di atas tikar sambil memeluk Pipit dan Rabbit, menatapnya lurus-lurus. Ayah sadar aku memperhatikannya. Ia segera mengubah raut wajahnya, mencoba menghapus guratan lelah itu demi aku.

"Belum tidur, Sayang?" tanyanya lembut, suaranya parau. Ia menghampiriku, mengusap kepalaku dengan tangannya yang masih terasa dingin oleh udara malam. "Ayo, sudah malam. Pipit dan Rabbit juga sudah mengantuk, kan? Mari kita tidur."

Ayah membimbingku ke tempat tidur, menyelimutiku, dan menungguku sampai benar-benar terlelap. Namun, malam itu aku tidak benar-benar tidur. Aku memejamkan mata, tapi telingaku tetap terjaga. Aku mendengar langkah kaki Ayah kembali ke depan rumah.

Dari celah dinding, aku melihat siluet Ayah duduk di teras sendirian. Ia menatap langit malam yang kelam, mencari udara segar untuk mendinginkan kepalanya yang mungkin sedang mendidih memikirkan cara agar kami bisa makan besok. Di tengah kesunyian itu, aku tahu Ayah sedang berdialog dengan dirinya sendiri, meyakinkan hatinya yang rapuh bahwa hari esok adalah harapan baru, bahwa badai ini pasti akan berlalu seiring waktu.

Melihat punggungnya yang kesepian di bawah cahaya bulan, hatiku terasa seperti diremas.

"Aku punya tekad, aku punya ambisi, aku ingin sekali membantumu, Yah," bisikku dalam hati.

Namun, seketika itu pula aku tersadar akan kenyataan yang pahit. Aku hanyalah seorang anak kecil yang usianya bahkan belum genap lima tahun. Tanganku masih terlalu mungil untuk memikul kayu. Kakiku masih terlalu pendek untuk mendaki terjalnya bukit. Dalam usiaku yang sekecil ini, aku bisa apa? Aku hanya bisa menangis saat rindu, bermain dengan boneka, dan menjadi penonton bagi perjuangan hebat Ayah.

Ketidakberdayaan itu terasa sangat menyakitkan. Aku ingin sekali berlari ke luar, memeluk pinggang Ayah, dan bilang bahwa aku akan melakukan apa saja untuknya. Tapi yang bisa kulakukan hanyalah berbaring diam, memeluk Rabbit erat-erat, dan mendoakan agar matahari besok terbit sedikit lebih cerah untuk Ayah.

Malam semakin larut, namun mataku tetap terjaga. Dari balik selimut yang sedikit apek, aku mengamati bayangan Ayah yang memanjang di lantai tanah. Ia tidak segera masuk ke kamar. Aku mendengar suara korek api yang dipantik berkali-kali, disusul aroma tembakau murah yang terbawa angin masuk melalui ventilasi.

Aku memberanikan diri menyibak selimut, berjalan berjinjit mendekati pintu depan yang sedikit terbuka. Di sana, Ayah masih duduk tegak, memunggungi pintu.

"Ayah belum ngantuk?" bisikku pelan.

Ayah tersentak kecil. Ia menoleh, matanya yang kemerahan karena kurang tidur menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia segera mematikan lintingan rokoknya di asbak seng.

"Kenapa bangun lagi, Nak? Takut?" tanya Ayah sembari merentangkan tangan, memintaku mendekat.

Aku menggeleng, lalu duduk di pangkuannya. Di kursi plastik hijau itu, aku bisa merasakan detak jantung Ayah yang tenang namun berat.

"Aku mau temani Ayah. Ayah lagi mikirin apa?" tanyaku dengan kepolosan khas anak empat tahun, meski hatiku sebenarnya tahu jawabannya.

Ayah terdiam sejenak. Ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya yang kasar dan pecah-pecah di bagian pinggirnya. "Ayah cuma lagi lihat bintang. Kata orang, kalau kita lihat bintang yang paling terang, kita bisa minta harapan."

"Ayah minta apa?"

"Ayah minta supaya besok di kasih kesehatan dan rezeki yang banyak disini, supaya Ibu di sana nggak perlu khawatir lagi sama kita, dan agar Ibu cepat pulang," suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat.

Aku memeluk lehernya erat-erat. Wajahku terbenam di pundaknya yang masih terasa keras karena otot yang tegang. Kurasakan tubuh Ayah sedikit menegang. Ia menarik napas panjang, lalu mengecup keningku lama sekali. Ada keheningan yang panjang di antara kami, hanya suara jangkrik di luar rumah yang mengisi udara.

"Ayah nggak capek, Nak. Selama ada kamu di sini, Ayah selalu punya tenaga baru," bohongnya. Aku tahu itu bohong, tapi aku pura-pura percaya.

Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara gemuruh kayu yang ditumpuk di samping rumah. Ayah sudah bersiap dengan ikat kepalanya yang luntur. Di atas meja kayu, hanya ada segelas teh tawar dan sepotong singkong rebus sisa kemarin sore dan juga makanan sederhana beserta lauk yang sudah di siapkan Ayah.

Aku menghampirinya saat ia sedang mengikat tumpukan kayu terakhir. Aku ingin sekali meraih ujung tali itu, menariknya kuat-kuat agar ikatannya kencang, atau membantu mengangkat satu bilah kayu saja. Tapi saat aku mencoba memegang kayu itu, beratnya bahkan tidak sanggup kugeser seinci pun.

Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang hanya cukup besar untuk memeluk boneka. Di dalam dada ini, ada ambisi untuk meruntuhkan gunung agar Ayah tak perlu mendakinya lagi, ada tekad untuk mencetak uang sendiri agar Ibu segera pulang. Namun, kenyataan memaksaku kembali ke sudut kamar, memeluk Rabbit, dan memulai hari sebagai "si kecil yang tidak bisa apa-apa".

"Sabar ya, Yah," bisikku dalam hati sambil menatap jalanan kosong. Tunggu aku tumbuh sedikit lagi. Aku janji, pundakmu tidak akan selamanya seberat ini.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!