Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"Sial... kenapa sulit sekali berhenti berpikir?"
Queen menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran klasik khas Italia. Di luar, angin malam Milan berdesir pelan, namun di dalam kepalanya, badai pertanyaan berkecamuk.
Sejak Alena terbangun di tubuh Queen, ia belum sempat menarik napas untuk sekadar bertanya pada takdir.
"Jika aku, Alena Alexandria, berada di tubuh ini... lalu di mana Queen yang asli? Apakah jiwanya tertukar? Ataukah dia sudah pergi ke tempat yang seharusnya aku tuju saat peluru-peluru itu menembus tubuhku dulu?"
Queen memijat keningnya yang mungil. Ia merasa seperti sedang meretas sebuah sistem tanpa kode sumber. Jika tujuannya ke sini hanya untuk menjadi kunci bagi Sean Harley, maka takdir benar-benar sedang melucu.
Saat ia hampir saja menyerah pada rasa kantuk, sebuah suara aneh tertangkap oleh indra pendengarannya yang tajam.
"Argh..."
Suara itu halus terdengar penuh rasa sakit. Queen segera menoleh ke samping. Tempat tidur besar itu kosong di sisi kanan. Luca tidak ada di sana. Padahal, remaja keras kepala itu bersikeras agar Queen tidur di kamarnya dengan alasan pengawasan, meski Queen tahu itu hanya kedok agar Luca bisa menjaganya.
"Dimana dia?"
Queen menyibak selimut, menurunkan kakinya yang pendek ke lantai dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia melangkah perlahan menuju pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, menyisakan celah cahaya putih yang tipis.
Saat matanya mengintip ke dalam, Queen terpaku di tempat. Luca duduk di tepi bathtub dengan napas memburu. Kemeja hitamnya sudah dilepas dan teronggok di lantai dengan noda basah yang pekat.
Queen melihat pemandangan yang mengerikan. Lengan kiri Luca bersimbah darah, sebuah lubang kecil namun dalam menganga di sana. Peluru itu sepertinya masih tertanam di dalam dagingnya.
"Luca!"
Luca tersentak, bahunya menegang saat ia melihat sosok mungil berbaju pink berdiri di ambang pintu. "Keluar, Queen! Aku bilang jangan turun dari tempat tidur!"
"Luca terluka!" Queen berlari menghampiri, mengabaikan perintah Luca. Matanya tertuju pada darah yang terus mengalir membasahi lantai marmer.
"Kenapa tidak bilang kalau Luca tertembak? Bobby bilang semuanya aman?" tanya bocah itu dengan wajah panik.
"Ini hanya goresan kecil," desis Luca, rahangnya mengatup rapat menahan sakit. Ia mencoba menutupi lengannya dengan handuk, namun darah dengan cepat meresap ke kain putih itu. "Pergi tidur. Aku bisa mengurusnya sendiri."
"Hanya goresan? Luca, lenganmu berlubang!" suara Queen meninggi, campur aduk antara marah dan cemas. "Tunggu di sini, jangan banyak bergerak!"
Queen berlari keluar kamar mandi dengan langkah cepat yang dipaksakan. Ia menyeret kursi ke dekat nakas samping tempat tidur, memanjatnya dengan susah payah, dan menyambar kotak obat P3K yang tersimpan di sana.
Berat kotak itu hampir membuat tubuh kecilnya terjungkal, tapi ia berhasil membawanya kembali ke dalam kamar mandi.
Luca menatap bocah itu dengan pandangan tidak percaya. Selama ini, ia selalu berhasil menghindar dari setiap timah panas yang mengarah padanya. Ia adalah predator yang lincah.
Namun malam ini, fokusnya terbagi. Bayangan Sean Harley yang mengincar Queen membuatnya tidak tenang, konsentrasinya buyar hanya untuk sedetik dan sedetik itulah yang membuat peluru itu bersarang di lengannya.
"Hei, Bocah... apa yang kau lakukan?" tanya Luca saat Queen mulai membuka kotak obat dan mengeluarkan botol alkohol serta pinset bedah.
"Diam lah, Luca. Luca cerewet sekali saat terluka," sahut Queen mencoba menenangkan detak jantungnya. Tangannya yang mungil bergetar, bukan karena takut melihat darah.
Alena sudah melihat terlalu banyak kematian di kehidupan sebelumnya. Alena hanya takut motorik tubuh lima tahun ini akan mengacaukan operasinya.
"Kau bisa melakukannya?" Luca menatap mata Queen. Ia melihat sesuatu yang aneh. Tidak ada ketakutan anak kecil di mata itu. Yang ada hanyalah ketenangan dingin seorang ahli medis atau seorang profesional.
Queen mengangguk mantap. Ia mengambil sebuah sapu tangan bersih dari dalam kotak, lalu menyodorkannya ke arah mulut Luca.
"Kalau sakit, gigit ini. Jangan berteriak, nanti mama Ava bangun dan pingsan melihat Luca begini."
Luca menatap sapu tangan itu, lalu menatap Queen. Ia terpaksa menurut. Ia menyumpal bibirnya dengan sapu tangan itu, matanya menatap tajam ke arah dinding saat Queen mulai menuangkan alkohol ke atas lukanya.
Sssssst!
Otot lengan Luca menegang hebat. Keringat sebesar biji jagung jatuh dari pelipisnya. Queen memegang pinset itu dengan kedua tangannya, mencoba menstabilkan pegangannya.
"Tahan... sedikit lagi... Luca..." bisik Queen.
Ia bekerja dengan presisi yang menakutkan. Meskipun tangannya kecil, Queen tahu persis di mana letak arteri dan saraf. Ia mengorek perlahan, mencari logam panas yang bersarang di sana.
Suara logam kecil jatuh ke dalam baki stainless steel bergema di kamar mandi yang sunyi. Luca melepaskan sapu tangan dari mulutnya, napasnya keluar dengan lega yang luar biasa. Ia menatap peluru yang sudah dikeluarkan oleh bocah itu.
"Kau... dari mana kau belajar melakukan itu?" tanya Luca heran. Tak masuk akal untuk seorang bocah bisa melakukan ini semua.
Queen tidak menjawab. Ia sibuk membersihkan sisa darah dan membalut lengan Luca dengan perban dengan sangat rapi. Setelah selesai, ia menghela napas panjang dan duduk di lantai, merasa seluruh energinya terkuras habis.
"Internet," jawab Queen singkat, jawaban andalannya yang paling aman.
Luca menyandarkan kepalanya ke dinding, menatap Queen yang tampak kelelahan.
"Kenapa kau peduli padaku? Kau bisa saja membiarkanku mati kehabisan darah dan lari dari sini."
Queen mendongak, menatap Luca dengan mata bulatnya yang jujur. "Luca tertembak gara-gara memikirkan Queen, bukan? Queen tahu Luca hebat. Luca tidak akan kena peluru itu kalau Luca tidak sibuk memikirkan keselamatan Queen di mansion."
Luca terdiam. Tebakan bocah itu tepat sasaran. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, menyembunyikan rona tipis yang muncul karena tertangkap basah.
"Jangan percaya diri, Bocah. Aku tertembak karena Bobby menyetir seperti orang mabuk."
"Terserah kau saja, si Tuan Muda Gengsi," gumam Queen sambil mulai merapikan peralatan obat.
Malam itu, di dalam kamar mandi yang dingin, ada sebuah ikatan tak kasat mata yang terjalin semakin kuat. Alena menyadari bahwa meskipun ia tidak tahu mengapa ia masuk ke tubuh Queen, setidaknya ia tahu satu hal, ada seorang remaja mafia yang rela terluka demi melindunginya.
Dan baginya, itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
"Luca," panggil Queen saat mereka kembali ke tempat tidur.
"Apalagi, bocah?"
"Terima kasih karena tidak menyerahkan Queen pada paman jahat."
Luca hanya menggumam tidak jelas sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Queen. "Tidurlah. Besok kita masih punya banyak urusan."
ternyata Sean juga manusia biasa😌