Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Ujung Napas
Suara itu hanya terdengar sekilas tertutup oleh bunyi pintu yang terbuka perlahan dan langkah kaki yang berhati-hati menyusuri lantai marmer. Seseorang masuk ke ruangan Stefani. Langkahnya pelan, terukur, semakin dekat… semakin dekat ke arah ranjang tempat Stefani terbaring setengah sadar.
Lampu kamar redup.
“Tit… tit… tit…”Monitor jantung berbunyi stabil
Rhea berdiri di sisi tempat tidur. Tatapannya tajam, tak lagi menyisakan kepolosan yang selama ini ia perlihatkan di hadapan semua orang. Ia menunduk, wajahnya mendekati Stefani.
“Stefani,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
“Kamu harus tetap tidur untuk menjaga rahasia ini.” Tangannya meluncur cepat mencengkeram leher Stefani. Jari-jarinya menekan kuat, tanpa ragu.
Stefani yang masih setengah sadar merasakan tekanan itu. Napasnya tersendat. Tubuhnya yang lemah berusaha bergerak, tetapi kekuatan itu terlalu kecil dibandingkan genggaman penuh kebencian.
Dalam kesadarannya yang samar, bayangan-bayangan lama bermunculan.
Malam itu. Lorong lantai dua yang sepi. Suara Rhea yang berbisik penuh emosi.
Dorongan.
Lantai yang semakin mendekat. Sebelum itu tangan yang sama mencekiknya, tamparan bertubi-tubi, ancaman agar ia diam.
Kenangan itu menyeruak kembali seperti kilatan petir di tengah gelap. Namun Rhea tidak menyadari bahwa kesadaran Stefani mulai merangkai potongan-potongan masa lalu.
Rhea menatap tajam, memperkuat tekanannya.
“Tit… tit… tit… tit…” Monitor jantung mulai berbunyi lebih cepat.
“Apa yang kamu lakukan?” Suara itu membuat Rhea membeku.
Aresha berdiri di belakangnya. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala penuh kemarahan.
Dalam sepersekian detik, ekspresi Rhea berubah. Tangannya melepas leher Stefani dan ia berbalik, wajahnya dipenuhi air mata palsu.
“Kak Aresha, aku minta maaf. Jika aku tidak mendorong Nona Stefani, kakak tidak akan menderita seperti ini.”
Aresha terdiam sesaat. Kalimat itu terasa seperti jebakan.
“Tapi Nona Stefani akan segera bangun. Aku tahu aku tidak bisa melarikan diri. Asal kakak memaafkanku…” Rhea berhenti sejenak, lalu menatap Aresha dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan.
“Aku bersedia masuk penjara." Tatapan itu menghina. Seolah-olah ia sedang mempermainkan rasa sakit empat tahun yang pernah Aresha alami.
“Hah, jika kamu benar-benar tahu caranya menyesal, kenapa kamu tidak melakukannya saat semua orang ada dengan jelas?” tawa Aresha sinis, lalu ia menyingkirkan Rhea dari samping tempat tidur.
Aresha mendekat pada Stefani.
“Hah, kenapa?” Ucap Aresha kaget.
Wajah Stefani membiru. Bibirnya pucat.
Aresha meletakkan tangannya di bawah hidung Stefani untuk mengecek napas. Hampir tak terasa.
“Ini pasti kamu!” Aresha berbalik dan berteriak ke arah Rhea.
Rhea mundur selangkah, lalu tiba-tiba berteriak nyaring.
“Hah, oh tolong! Kak Aresha membunuh Nona Stefani!” Senyum jahat sekilas melintas di wajahnya sebelum ia berpura-pura panik dan berlari keluar kamar.
Aresha terbelalak. Dadanya naik turun. Ia menatap Stefani yang terbaring tak berdaya, lalu ke arah pintu yang kini terbuka lebar.
“Rhea!” teriaknya, tetapi langkah gadis itu sudah menjauh.
Di balkon lantai atas, Reno sedang menelepon seseorang. Angin berembus dingin, menggoyangkan tirai tipis di sampingnya.
“Bantu aku menyelidiki apa yang dialami Aresha di penjara. Tak peduli informasi sekecil apa pun, laporkan,” ucap Reno tegas.
“Reno, tapi kamu harus kuat mental mendengar kebenaran yang akan terungkap,” jawab suara di seberang telepon.
“Baiklah, cepat katakan.” Reno mengernyitkan alisnya.
“Sejak Aresha masuk penjara, dia dipukuli setiap hari. Tamparan yang tak terhitung jumlahnya. Dipaksa minum air toilet. Tidak dibiarkan tidur.” Ucap seseorang di dalam telefon.
Napas Reno tercekat.
“Hah… lanjutkan.” Tangannya mencengkeram pagar balkon.
“Pukulan paling parah diterimanya menggunakan benda tumpul yang sangat besar. Kakinya patah. Tidak ada penanganan medis. Dibiarkan sembuh dengan sendirinya.” jawab sesorang di dari telefon.
Dunia Reno seperti berhenti.
Tiba-tiba ia teringat malam pesta itu. Ia memaksa Aresha berlutut di hadapan semua orang. Ia menendang kaki Aresha yang pincang. Ia menggenggam tangannya kasar ketika gadis itu menjerit menahan sakit dan ia hanya menganggapnya berlebihan.
“Siapa dalang di balik semuanya?” suara Reno meninggi, hampir gemetar.
“Dalang semuanya adalah—” Belum sempat kalimat itu selesai, teriakan Rhea menggema dari dalam rumah.
“Hah, oh tolong! Kak Aresha membunuh Nona Stefani!” Teriak Rhea.
Telepon di tangan Reno terjatuh tanpa sadar. Layar ponselnya retak saat menghantam lantai balkon.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju ruang Stefani.
Di koridor, orang-orang mulai panik. Mama Lin berlari dengan wajah pura-pura terkejut. Delon menyusul dengan langkah cepat. Samba yang mendengar kegaduhan langsung keluar dari ruang kerja sementara.
“Apa yang terjadi?” teriaknya.
Rhea terisak, menunjuk ke arah kamar.
“Kak Aresha… dia marah… dia...dia mencekik Nona Stefani…” Tunjuk Rhea kearah kamar.
Semua mata tertuju pada pintu kamar yang setengah terbuka.
Samba masuk lebih dulu. Pengawal sudah berjejer di luar pintu kamar.
Di dalam, Aresha berdiri di samping tempat tidur, tangannya masih berada di dekat wajah Stefani.
“Menjauh, Plak! !” Reno mendorong dan menampar Aresha ketika ia tiba.
Aresha hampir terjatuh jika tidak menahan meja di sampingnya.
“Aku tidak melakukannya!” suaranya serak.
“Tit! Tit! Tit! Tit!” Monitor jantung berbunyi kacau.
“Semua tenang !” Dokter dengan sigap masuk dengan tergesa.
Perawat berlarian.
Samba menatap Aresha dengan wajah sulit ditebak.
“Aresha… apa yang terjadi?” tanyanya berat.
“Aku melihat Rhea mencekiknya!” jawab Aresha tanpa ragu.
"Aresha, jika kamu di bully di penjara, bukan seperti ini caramu membalasnya." Sahut Reno dengan kasar.
"Jika aku tahu semuanya akan seperti ini, aku tidak akan memohon pada nenek Samba untuk membebaskanmu." Tambah Reno.
"Dia belum meninggal, 45 detik setelah meninggal pasti akan lemas, Samba aku bisa menyelamatkanya." Ucap Aresha di tengah dokter yang masih berusaha yang terbaik.
Semua menatap Aresha tidak yakin dan tidak masuk akal.
"Mohon ijinkan aku mencobanya." Mohon Aresha.
"Kamu bilang kamu bisa menyelamatkanya?" Tanya Samba
"Aku tahu, cara" penaganan darurat, dan aku sudah mempraktikanya saat aku bertahan hidup di penjara." Jawab Aresha.
"Tidak ada waktu." Teriak Aresha panik.
"Kak, jika kamu melakukanya dengan salah, akan berakibat fatal dokter sudah ada disini." Sahut Rhea berusaha menghalangi.
"Kamu hanya punya satu kesempatan." Jawab Samba
Rhea terbelalak mendengar jawaban Samba.
Aresha mendekati Stefani mengangka kepalanya memiringkan ke kiri, kemudian berlutut disamping Stefani, menekan denyut nadinya berulang kali. Rhea dan mama saling berpegangan tangan dengan panik.
"Kak,didepan banyak orang kamu masih berani menyakiti Nona Stefani."Teriak Rhea berusaha mencari cara menghalangi Aresha.
"Stefani. Sudahlah jangan keras kepala." Sahut Delon membela Rhea.
Aresha tidak mendengarkan semuanya, terus fokus dengan tangan Stefani. Samba juga fokus melihat Aresha yang masih berjuang, dokter semuanya memberikan kesempatan karena memang harapanya sudah sangat tipis untuk hidup.
Rhea langsung menangis lebih keras.
“Kakak masih menyalahkanku? Aku bahkan sudah mengaku akan masuk penjara…” Delon memegang bahu Rhea, seolah melindunginya.
“Cukup, Aresha. Jangan tambah kekacauan.” Reno terdiam.
Kata-kata dari telepon tadi terus terngiang di kepalanya.
Dipukuli setiap hari.
Kakinya patah.
Tidak ada penanganan.
"Dan dalangnya adalah,Siapa?"
Aresha masih terus berusaha tidak menghiaraukan apa yang mereka bicarakan.
Tiba-tiba suara dari dalam kamar membuat semua terdiam.
“Dokter! Detaknya kembali stabil!” Teriak perawat
“Tit… tit… tit…” Monitor berubah ritmenya.
Lebih teratur.
Dokter mengangkat wajahnya.
“Dia bereaksi terhadap rangsangan. Sepertinya kesadarannya kembali meningkat.”
Semua menahan napas.
“Stefani… kamu dengar aku?” Samba mendekat ke sisi ranjang.
Kelopak mata Stefani bergerak pelan.
Sangat pelan.
Rhea mundur setapak.
Mama Lin mencengkeram terat tangan Rhea.
Aresha berdiri kaku, menahan air mata, perlahan, mata Stefani terbuka.
Pandangan itu kosong beberapa detik, lalu bergerak… mencari seseorang.
"Cukup Aresha kamu mencekik Stefani, sampai kritis dan menyelamatkanya di depan kami, sangat terlihat dibuat - buat." Ucap Reno masih tidak percaya dengan Aresha.
"Sampai sekarang, kamu masih berfikir aku mencekiknya sampai tidak sadarkan diri?" Aresha berdiri dan berbalik kerah Reno, tatapanya tajam dan muak.
"Rhea Jelas satu- satunya orang diruangan saat itu." Tambah Aresha menunjuk ke arah Rhea.
Samba berlari ke arah Stefani yang mencoba untuk duduk, tangannya terangkat sedikit, semua menunggu.
Bibirnya bergerak.
"Stefani siapa yang mencekikmu sampai seperti ini , dan siapa pembunuhmu saat itu." Tanya Samba.
Suara itu serak, hampir tak terdengar.
"Sebut nama atau aku sebut namanya jika dia kamu cukup mengedipkan mata dua kali." Ucap Samba melihat adiknya tidak mampu berbicara.
"Kamu mengerti?" Tanya samba.
Stefani mengedipkan matanya dua kali, tanya dia mengerti.
Rhea membeku.
Reno menahan napas. Aresha merasakan jantungnya hampir berhenti.
"Nyonya lin?." Tunjuk samba.
***