NovelToon NovelToon
Hello Tenggara

Hello Tenggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

KEADILAN AKHIRNYA DATANG

Hari Senin pagi, halaman sekolah SMAN 3 Makassar tampak rapi dan teratur dengan siswa-siswinya yang berdiri lurus dalam barisan untuk mengikuti upacara bendera. Khatulistiwa berdiri di barisan kelima bersama teman-temannya Safira dan Rina, mengenakan seragam putih dan merah yang selalu dijaga kebersihannya. Udara pagi masih segar, namun dia merasa sedikit gelisah setelah melihat Jesika dan kedua temannya berdiri beberapa barisan di belakangnya.

Setelah upacara resmi selesai dan kepala sekolah mulai memberikan sambutan, Khatulistiwa merasa ada orang yang menarik rambutnya dengan kuat dari belakang. Dia menoleh dengan cepat dan melihat Jesika yang sedang menatapnya dengan wajah penuh kemarahan.

"Kamu akan membayar untuk membuatku malu di depan teman-teman dan membawa orang asing untuk menggangguku!" bisik Jesika dengan suara yang rendah namun penuh ancaman.

"Jangan lakukan hal bodoh lagi, Jesika," jawab Khatulistiwa dengan tenang. "Kita sudah bicara tentang ini dan kamu harus belajar untuk menghormati orang lain."

Tanpa diduga, Jesika tiba-tiba menarik lengan Khatulistiwa dengan keras sehingga dia hampir kehilangan keseimbangan. Saat mencoba untuk tetap berdiri, dahinya terkena sudut tiang bendera yang berada di dekat barisan mereka dengan cukup kuat. Rasanya sangat sakit dan segera setelah dia menyentuh bagian dahinya, tangannya tertutup darah.

"Aduh! Khatu!" teriak Safira dengan suara khawatir, segera menolong Khatulistiwa agar tidak jatuh. Rina langsung berlari mencari guru untuk meminta bantuan. Beberapa siswa mulai berlarian kesana-kemari, dan suasana yang tadinya tenang menjadi kacau.

Kepala sekolah dan beberapa guru segera datang ke lokasi kejadian. Mereka melihat Khatulistiwa yang sedang duduk dengan tangan menekan dahinya yang berdarah, dan Jesika yang berdiri dengan wajah yang mulai menunjukkan rasa takut setelah menyadari apa yang telah dia lakukan.

"Jesika, apa yang telah kamu lakukan?!" tanya Kepala Sekolah Ibu Yuniarti dengan suara yang tegas dan penuh kemarahan. "Kamu sudah diberi peringatan berkali-kali tentang perilaku mu yang tidak baik, namun kamu terus saja menyakiti teman sekelasmu!"

Lina dan Maya, teman Jesika, mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena merasa tidak tega melihat Khatulistiwa terluka. "Ibu, sebenarnya Jesika yang pertama kali menyerang Kakak Khatulistiwa," ucap Lina dengan suara gemetar. "Kakak Khatulistiwa tidak melakukan apa-apa selain mencoba menghindari masalah."

Dengan cepat, Khatulistiwa dibawa ke ruang perawat sekolah untuk mendapatkan pertolongan pertama. Dokter perawat membersihkan luka di dahinya dan memasang perban dengan hati-hati. Setelah diperiksa, luka tidak terlalu dalam namun membutuhkan beberapa jahitan dan perawatan yang benar agar tidak meninggalkan bekas luka.

Setelah kondisi Khatulistiwa sedikit membaik, Kepala Sekolah mengadakan rapat darurat dengan guru kelas dan bagian tata usaha untuk mengambil tindakan tegas terhadap Jesika. Berdasarkan bukti dari saksi mata dan riwayat perilaku Jesika yang sudah sering melakukan pembullyan terhadap teman-temannya, keputusan diambil dengan cepat.

"Saya dengan tegas memberlakukan hukuman skors bagi kamu, Jesika," ucap Ibu Yuniarti di depan Jesika dan orang tuanya yang telah dihubungi dengan cepat. "Selama tiga bulan ke depan, kamu tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apapun, harus mengikuti program pembinaan perilaku, dan harus memberikan permintaan maaf yang sungguh-sungguh kepada Khatulistiwa serta orang tuanya."

Jesika mulai menangis pelan setelah menyadari kesalahan besar yang telah dia lakukan. Orang tuanya juga merasa sangat malu dan segera meminta maaf kepada pihak sekolah dan keluarga Khatulistiwa. Mereka juga berjanji akan mendampingi Jesika untuk mengikuti konseling agar bisa memperbaiki perilakunya.

Sore hari, Jesika datang ke rumah Khatulistiwa bersama orang tuanya. Dia berdiri dengan kepala membungkuk di depan Khatulistiwa dan orang tuanya. "Maafkan saya, Khatulistiwa," ucapnya dengan suara bergetar. "Saya sangat menyesal telah menyakitimu berkali-kali. Saya tidak punya alasan untuk melakukan hal itu dan saya berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi."

Khatulistiwa yang masih berbaring di sofa dengan perban di dahinya melihat Jesika dengan hati yang sudah mulai lega. "Aku menerima permintaan maafmu, Jesika," jawabnya dengan lembut. "Semoga kamu benar-benar bisa berubah menjadi orang yang lebih baik dan bisa menghormati orang lain dengan benar."

Orang tua Jesika kemudian memberikan beberapa buah dan uang untuk biaya pengobatan, meskipun keluarga Khatulistiwa menolak uang tersebut dengan sopan. Mereka hanya berharap Jesika bisa benar-benar belajar dari kesalahannya dan menjadi siswa yang baik.

Setelah mereka pergi, Ayah Arif menepuk bahu Khatulistiwa dengan penuh cinta. "Kamu sudah melakukan hal yang benar, sayang. Memberi kesempatan kepada orang lain untuk berubah adalah tanda dari hati yang besar."

Khatulistiwa mengangguk dan melihat ke arah jendela. Dia berharap bahwa dengan hukuman skors yang diterima Jesika, masalah pembullyan di sekolahnya bisa berakhir dan semua siswa bisa hidup damai serta saling menghormati satu sama lain. Meskipun dahinya masih terasa sakit, dia merasa lega karena akhirnya keadilan telah datang dan ada kesempatan bagi Jesika untuk menjadi orang yang lebih ba

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!